Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Kedudukan Ash-Shiddiq Di Sisi Rasulullah ﷺ

Kedudukan Ash Shiddiq di Sisi Rasulullah ﷺ

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku sedang duduk bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba Abu Bakar datang tergopoh-gopoh sambil memegang ujung kainnya sehingga lututnya terlihat. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sahabat kalian menghadapi masalah penting.’

Maka Abu Bakar mengucapkan salam lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, antara aku dengan Ibnul Khaththab telah terjadi sesuatu. Aku terlanjur menghinanya, kemudian aku menyesal. Aku memintanya untuk memaafkanku namun dia tidak berkenan. Maka aku datang kesini.’

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar.’ Baca lebih lanjut

Iklan

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Sebagian Dari Keutamaan Ash-Shiddiq

Sebagian Dari Keutamaan & Keunggulan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu

Demi Allah, sesungguhnya aku mendapati diriku sebagai seorang yang tidak mampu untuk menyebutkan berbagai keutamaan itu, akan tetapi cukuplah kiranya jika kita menyebutkan sedikit diantaranya, dan yang sedikit yang kita sebutkan disini pun telah banyak dan sangat banyak.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang khalil (kekasih) selain Rabb-ku, niscaya aku mengangkat Abu Bakar (sebagai khalil), akan tetapi (yang ada adalah) persaudaraan Islam dan kasih sayangnya. Tidak boleh tersisa sebuah pintu di masjid kecuali ia harus ditutup selain pintu Abu Bakar.” [HR.Bukhari & Muslim] Baca lebih lanjut

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Lebih Utama Dari Keluarga Fir’aun Yang Beriman

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang keutamaan–keutamaan ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, “Dia lebih baik dari seorang laki-laki yang beriman dari keluarga Fir’aun; karena laki-laki itu menyembunyikan imannya, sedangkan Abu Bakar menampakkan keimanannya. Abu Bakar juga lebih baik daripada seorang laki-laki yang beriman dari keluarga Yasin; karena laki-laki itu hanya berjihad beberapa saat, sedangkan Abu Bakar berjihad bertahun-tahun.”

Dia mengamati burung kemiskinan berputar-putar di atas biji-biji itsar sambil berseru, “Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik.?!” (QS.AL Baqarah 245) Maka dia pun bersegera melemparkan koin-koin dirham di atas kebun keridha’an (untuk menyambut seruan itu), sedangkan dia sendiri rela berbaring di atas ranjang kemiskinan. Burung itu pun membawa biji-biji tersebut ke dalam kantong pelipatgandaan. Kemudian ia terbang ke dahan-dahan pohon kebenaran melagukan berbagai macam pujian kemudian dia berdiri di mihrab-mihrab Islam sambil membaca, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, (yaitu) orang yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,” (QS.Al Lail : 17-18) Baca lebih lanjut

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Masuk Islam dan Digelari ‘Atiiq

Abu Bakar Masuk Islam

Dari Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Abu bakar berkata, ‘Bukankah aku lebih berhak atasnya? –maksudnya adalah khilafah- Bukankah aku adalah orang pertama yang masuk Islam? Bukankah aku adalah pemilik ini, bukankah aku adalah pemilik ini?’” [HR.Tirmidzi no.3667 dari Abu Sa’id al Khudry radhiyallahu ‘anhu. Dishahiihkan oelh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no.2898]

Imam as Suyuthi rahimahullah berkata, “Ada yang berkata bahwa orang pertama yang masuk Islam adalah Ali, yang lain mengatakan: Khadijah. Pendapat-pendapat ini bisa digabungkan dengan mengatakan Abu Bakar adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki dewasa, Ali (bin Abi Thalib -ed) dari kalangan anak muda, dan Khadijah dari kalangan kaum wanita. Orang pertama yang melakukan penggabungan ini adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah.’”[Tariikh Al Khulafaa’ hal.34] Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Menawarkan Islam Kepada Kabilah-Kabilah

Pada bulan Dzulqa’dah tahun 10 dari kenabian bertepatan dengan akhir bulan Juni atau permulaan bulan Juli tahun 619 M, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kembali ke Mekkah untuk mulai menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah dan individu-individu.

Semakin dekat datangnya musim haji, maka orang-orang yang datang ke Mekkahpun semakin banyak, baik dengan berjalan kaki maupun mengendarai unta yang kurus dari seluruh penjuru yang jauh guna melaksanakan ibadah haji dan menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka serta menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.

Rasulullah menggunakan kesempatan baik ini dengan mendatangi kabilah demi kabilah dan menawarkan Islam kepada mereka serta mengajak mereka masuk ke dalam Islam sebagaimana yang pernah beliau lakukan semenjak tahun ke-4 dari kenabian. Pada tahun ke-10 ini beliau mulai meminta kepada mereka agar menampung, menolong serta melindunginya hingga beliau dapat menyampaikan wahyu Allah. Baca lebih lanjut

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Teladan Sejak Masa Jahiliyyah

Siapakah Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu?

Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Quraisy At Taimi, Abu Bakar ash Shiddiq bin Abi Quhafah. [Thabaqaat Ibni Sa’ad (III/125-126), Al Isti’aab (III/963), dan Al Ishaabah (II/417)]

Dia dilahirkan di Mina, nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Murrah.

Di masa Jahiliyyah dia menikah dengan dua wanita: Qutailah binti Abdil Uzza dan Ummu Ruman binti Amir.

Dan dimasa Islam dia menikah dengan dua wanita: Asma’ binti Umais dan Habibah binti Kharijah bin Zaid. Baca lebih lanjut

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Pengantar

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu

“Tidak seorang pun yang mempunyai jasa baik kepada kami melainkan kami telah membalasnya kecuali Abu Bakar, sesungguhnya dia mempunyai jasa mulia, Allah yang akan membalasnnya di hari Kiamat. Aku tidak mengambil manfaat dari harta seseorang seperti aku mengambil manfaat dari harta Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang khalil niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.” [Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam]

Dia seorang laki-laki berkedudukan agung, berderajat tinggi, beribadah kepada Allah dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad di jalan Allah, dan memberikan seluruh hartanya di jalan Allah.

Dia menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat orang-oorang mengabaikan beliau, beriman kepada beliau pada saat orang-orang ingkar kepada beliau, dan membenarkan pada saat orang-orang mendustakan beliau. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Nabi Kembali Ke Makkah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Kembali ke Makkah

Berkat adanya kemenangan dan kabar-kabar gembira tersebut, gumpalan awan kegetiran, kesedihan dan keputusasaan yang semula mengungkung beliau sejak keluar dari Thaif karena diusir dan ditolak menjadi sirna sudah sehingga beliau membulatkan tekad untuk kembali ke Mekkah guna memulai langkah baru di dalam menawarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah yang abadi dengan spirit baru, heroik dan penuh vitalitas.

Ketika itu, Zaid bin Hâritsah berkata kepada beliau: “Bagaimana mungkin engkau menemui mereka kembali sedangkan mereka (kaum Quraisy) telah mengusirmu?”.

Beliau menjawab: “Wahai Zaid! Sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang engkau lihat sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sesungguhnya Allah akan menolong dien-Nya dan akan memenangkan nabi-Nya”. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Berimannya Segolongan Jin Kepada Rasulullah

Selama masa berdiam disana, Allah mengutus kepada beliau segolongan jin yang kisahnya diabadikan di dalam al-Qur’an pada dua tempat, yaitu di dalam surat al-Ahqâf sebagaimana firman-Nya:

( 29 ) وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ ( 30 ) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ ( 31 ) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih”. [al-Ahqâf/ 46 : 29-31] Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Dakwah Islam Diluar Kota Makkah

Dakwah Islam Diluar Kota Makkah

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam Di Kota Thaif

Pada bulan Syawwal tahun ke-10 dari kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau Juni tahun 619 M Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Thaif yang letaknya sekitar 60 mil dari kota Mekkah. Beliau datang dan pergi kesana dengan berjalan kaki, didampingi budak beliau (ketika itu), Zaid bin Hâritsah. Setiap melewati perkampungan sebuah kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam namun tidak satupun yang memberikan responsnya. Tatkala tiba di Thaif, beliau mendekati tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka kabilah Tsaqîf. Mereka masing-masing bernama ‘Abd Yalail, Mas’ud dan Habib. Ayah mereka bernama ‘Amru bin ‘Umair at-Tsaqafiy. Beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam duduk-duduk bersama mereka sembari mengajak mereka kepada Allah Ta’ala dan membela Islam. Baca lebih lanjut