Sirah Nabawiyah | Enam Bibit Unggul dari Yatsrib

Enam Bibit Unggul dari Penduduk Yatsrib
Pada musim Haji tahun ke-11 dari kenabian -bertepatan dengan Juli 620M- dakwah Islamiyyah menemukan bibit unggulnya, yang tumbuh begitu cepat menjadi pohon-pohon yang rindang. Kaum muslimin senantiasa berlindung di bawah naungannya yang rindang dari kezhaliman dan permusuhan. Hingga pada akhirnya segala sesuatu berubah dan alur sejarahpun berganti.

Diantara langkah cerdas yang ditempuh Rasulullah dalam menghadapi pendustaan yang beliau terima dari penduduk Makkah dan sikap penyelewengan mereka dari jalan Allah adalah beliau keluar menemui kabilah-kabilah pada malam hari, ditengah kegelapan malam. Hal ini menjadikan tidak seorang pun dari musyrikin Makkah yang menjadi penghalang dakwah antara beliau dan para kabilah itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Sirah Nabawiyah | Kisah Keislaman Dhimad Al-Azdiy

5. Dhimad Al-Azdi

Dia berasal dari suku Azd Syanu’ah yang tinggal di Yaman. Dia adalah seorang yang biasa meruqyah dari kesurupan atau gangguan jiwa. Tatkala ia datang ke Makkah, ia mendengar orang-orang bodoh di kota itu mengatakan bahwasanya Muhammad adalah seorang yang gila.

Dhimad berkata, “Aku akan mendatangi orang ini, semoga Allah menyembuhkannya melalui perantaraanku”. Dhimad pun berangkat menemui beliau.

Dhimad berkata,

يا محمد، إني أرقى من هذا الريح، فهل لك‏؟‏

“Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku bisa mengobati penyakit jiwa dengan ruqyah. Apakah kamu mau saya ruqyah?. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Kisah Keislaman Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi

4. Thufail bin ‘Amru Ad-Dausi

Dia adalah seorang yang terhormat, penyair yang cerdas, pemimpin kabilah Daus. Kabilahnya memiliki semacam pemerintahan di sebagian wilayah Yaman. Dia datang ke Makkah pada tahun ke 11 dari kenabian. Maka penduduk Makkah menyambutnya sebelum ia sampai ke kota itu, mereka menyambutnya dengan penuh penghormatan dan pemuliaan, dan mereka berkata kepadanya, ‘Wahai Thufail, sesungguhnya kamu datang ke negeri kami, sedangkan disini ada seorang laki-laki yang tengah menyusahkan kami dan telah memecah belah persatuan kami, mencerai-beraikan urusan kami. Kata-katanya bagaikan sihir yang sanggup menjadikan seseorang berpisah dengan ayahnya, dengan saudaranya, dan istrinya. Sungguh kami takut keburukan yang menimpa kami ini akan menimpamu atau kaummu, maka janganlah sekali-kali kamu berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan sesuatupun darinya.’ Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Kisah Keislaman Abu Dzar Al-Ghifariy

Diantara beberapa orang dari luar kota Makkah yang beriman kepada beliau adalah seorang shahabat yang mulia, Abu Dzar Al-Ghifariy…

Abu Dzarr al-Ghifary

Dia termasuk penduduk pinggiran Yatsrib. Tatkala kabar tentang diutusnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menyebar di Yatsrib yang dibawa oleh Suwaid bin Shamit dan Iyas bin Mu’adz, kabar inipun akhirnya juga sampai ke telinga Abu Dzarr, yang dari sinilah sebab keislamannya.

Imam Bukhary meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Abu Dzarr berkata: ‘Aku seorang laki-laki dari suku Ghifar. Berita tentang adanya seorang yang muncul di Mekkah mengaku sebagai Nabi telah sampai kepada kami. Lalu aku berkata kepada saudaraku: Berangkatlah menemui orang itu dan berbicaralah dengannya, lalu ceritakan kepadaku tentang beritanya’. Dia pun berangkat lalu bertemu dengan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam kemudian pulang kembali. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Menawarkan Islam Kepada Individu

Orang-orang Beriman Selain dari Penduduk Mekkah

Disamping Rasulullah menawarkan Islam kepada berbagai kabilah dan utusan, beliau juga menawarkannya kepada perorangan dan individu-individu. Diantara mereka ada yang menolaknya secara baik-baik dan ada pula beberapa orang yang beriman tak lama kemudian setelah musim haji, diantara mereka adalah:

Suwaid bin Shamit
Dia adalah seorang penyair yang cerdas, salah seorang penduduk Yatsrib (Madinah -ed). Dia dijuluki al-Kamil (orang yang sempurna) oleh kaumnya. Julukan ini diberikan karena faktor warna kulitnya, syai’rnya, kehormatan dan nasabnya. Dia datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Lalu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Menawarkan Islam Kepada Kabilah-Kabilah

Pada bulan Dzulqa’dah tahun 10 dari kenabian bertepatan dengan akhir bulan Juni atau permulaan bulan Juli tahun 619 M, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kembali ke Mekkah untuk mulai menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah dan individu-individu.

Semakin dekat datangnya musim haji, maka orang-orang yang datang ke Mekkahpun semakin banyak, baik dengan berjalan kaki maupun mengendarai unta yang kurus dari seluruh penjuru yang jauh guna melaksanakan ibadah haji dan menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka serta menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.

Rasulullah menggunakan kesempatan baik ini dengan mendatangi kabilah demi kabilah dan menawarkan Islam kepada mereka serta mengajak mereka masuk ke dalam Islam sebagaimana yang pernah beliau lakukan semenjak tahun ke-4 dari kenabian. Pada tahun ke-10 ini beliau mulai meminta kepada mereka agar menampung, menolong serta melindunginya hingga beliau dapat menyampaikan wahyu Allah. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Nabi Kembali Ke Makkah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Kembali ke Makkah

Berkat adanya kemenangan dan kabar-kabar gembira tersebut, gumpalan awan kegetiran, kesedihan dan keputusasaan yang semula mengungkung beliau sejak keluar dari Thaif karena diusir dan ditolak menjadi sirna sudah sehingga beliau membulatkan tekad untuk kembali ke Mekkah guna memulai langkah baru di dalam menawarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah yang abadi dengan spirit baru, heroik dan penuh vitalitas.

Ketika itu, Zaid bin Hâritsah berkata kepada beliau: “Bagaimana mungkin engkau menemui mereka kembali sedangkan mereka (kaum Quraisy) telah mengusirmu?”.

Beliau menjawab: “Wahai Zaid! Sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang engkau lihat sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sesungguhnya Allah akan menolong dien-Nya dan akan memenangkan nabi-Nya”. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Berimannya Segolongan Jin Kepada Rasulullah

Selama masa berdiam disana, Allah mengutus kepada beliau segolongan jin yang kisahnya diabadikan di dalam al-Qur’an pada dua tempat, yaitu di dalam surat al-Ahqâf sebagaimana firman-Nya:

( 29 ) وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ ( 30 ) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ ( 31 ) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih”. [al-Ahqâf/ 46 : 29-31] Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Dakwah Islam Diluar Kota Makkah

Dakwah Islam Diluar Kota Makkah

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam Di Kota Thaif

Pada bulan Syawwal tahun ke-10 dari kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau Juni tahun 619 M Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Thaif yang letaknya sekitar 60 mil dari kota Mekkah. Beliau datang dan pergi kesana dengan berjalan kaki, didampingi budak beliau (ketika itu), Zaid bin Hâritsah. Setiap melewati perkampungan sebuah kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam namun tidak satupun yang memberikan responsnya. Tatkala tiba di Thaif, beliau mendekati tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka kabilah Tsaqîf. Mereka masing-masing bernama ‘Abd Yalail, Mas’ud dan Habib. Ayah mereka bernama ‘Amru bin ‘Umair at-Tsaqafiy. Beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam duduk-duduk bersama mereka sembari mengajak mereka kepada Allah Ta’ala dan membela Islam. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Faktor-Faktor Kesabaran dan Ketegaran Kaum Muslimin

Seorang yang berhati lembut akan berdiri tercenung dan para cendikiawan akan saling bertanya diantara mereka: “Apa sebenarnya sebab-sebab dan faktor-faktor yang telah membawa kaum Muslimin mencapai puncak dan batas tak tertandingi dalam ketegarannya?”, “Bagaimana mungkin mereka bisa bersabar menghadapi penindasan demi penindasan yang membuat bulu roma merinding dan hati gemetar begitu mendengarnya?”.

Melihat fenomena yang menggoncangkan jiwa ini, kami menganggap perlunya menyinggung sebagian dari faktor-faktor dan sebab-sebab tersebut secara ringkas dan singkat:

1. Keimanan kepada Allah

Sebab dan faktor paling utama adalah keimanan kepada Allah Ta’ala semata dan ma’rifah kepada-Nya dengan sebenar-benar ma’rifah. Keimanan yang tegas bila telah menyelinap ke sanubari dapat menimbang gunung dan tidak akan goyang. Orang yang memiliki keimanan dan keyakinan seperti ini akan memandang kesulitan duniawi sebesar, sebanyak dan serumit apapun seperti lumut-lumut yang diapungkan oleh air bah lantas menghancurkan bendungan kuat dan benteng perkasa. Orang yang kondisinya seperti ini, tidak mempedulikan rintangan apapun lagi karena telah mengenyam manisnya iman, segarnya keta’atan serta cerianya keyakinan. Allah berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ‏

“Adapun buih itu akan hilang sebagia sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”. (Ar-Ra’d: 17) Baca lebih lanjut