Aqidah Empat Imam Madzhab : Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Shahabat

D. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Sahabat .

1. Imam Abu Hanifah berkata:

ولا نذكر أحدًا من صحابة رسول الله إلا بخير

“Kita tidak boleh menyebutkan seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dengan sebutan yang baik.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 304]

2. Kata beliau juga :

ولا نتبرأ من أحد من أصحاب رسول الله ، ولا نوالي أحدًا دون أحد

“Kita juga tidak boleh berlepas diri dari salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak boleh pula mencintai yang satu dan mengesampingkan yang lain.” [al-Fiqh al-Absath, hal. 40] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Iman

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

C. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Pengertian Iman.

1. Beliau berkata:

والإيمان هو الإقرار والتصديق

“Imam itu iqrar (pengakuan) dan tashdiq (pembenaran).” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 304]

2. Kata beliau lagi:

الإيمان إقرار باللسان وتصديق بالجنان والإقرار وحده لا يكون إيمانًا

“Iman itu adalah iqrar dengan lisan dan tashdiq dengan hati. Iqrar saja belum disebut iman.” [Kitab al-Washiyyah bersama Syarhnya, hal. 2] Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 8 : Penjelasan Tentang Ruqyah dan Tamimah

BAB 8
Penjelasan Tentang Ruqyah dan Tamimah

في الصحيح عن أبي بشير الأنصاري رضي الله عنه “أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أسفاره ; فأرسل رسولا أن لا يبقين في رقبة بعير قلادة من وتر، أو قلادة إلا قطعت”

Diriwayatkan dalam shohih Bukhori dan Muslim bahwa Abu Basyir Al Anshori Radhiallahu’anhu bahwa dia pernah bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan : “Supaya tidak terdapat lagi dileher onta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun harus diputuskan.”

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إن الرقى والتمائم والتولة شرك” رواه أحمد وأبو داود.

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu menuturkan : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud) Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Qadar

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

B. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Qadar

1. Seorang datang kepada Imam Abu Hanifah dan mendebat beliau tentang masalah qadar.

«أما علمت أن الناظر في القدر كالناظر في عيني الشمس كلما ازداد نظرًا ازداد تحيرًا»

Kata beliau: “Tahukah Anda, bahwa orang yang berdebat dalam masalah qadar seperti orang yang memperdebatkan keberadaan matahari, semakin lama ia berdebat, ia makin bingung.” [Qalaid ‘Uqud al-Aqyan, lembar 77-A]

2. Beliau berkata:

«وكان الله تعالى عالمًا في الأزل بالأشياء قبل كونها»

“Allah telah mengetahui segala sesuatu sejak masa azali, sebelum segala sesuatu itu terwujud.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302-303] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Sifat-Sifat Allah

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

A. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid.

Kedua : Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Penetapan Sifat-Sifat Allah dan Bantahan terhadap Firqah (Golongan) Jahmiyah.

4. Imam Abu Hanifah berkata:

«لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السُّنَّة والجماعة وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته ورضاه ثوابه، ونصفه كما وصف نفسه أحدٌ صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوًا أحد، حيٌّ قادر سميع بصير عالم، يد الله فوق أيديهم ليست كأيدي خلقه ووجهه ليس كوجوه خلقه»

Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan ridha Allah adalah dua sifat dari sifat-sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan, bahwa murka Allah itu adalah siksa-Nya dan ridha-Nya itu pahala-Nya. Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

A. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid.

Pertama : Aqidah beliau tentang tauhid (pengesaan Allah) dan tentang tawassul syar’i serta kebatilan tawassul bid’i .

1. Imam Abu Hanifah berkata:

«لا ينبغي لأحد أن يدعو الله إلا به والدعاء المأذون فيه المأمور به ما استفيد من قوله تعالى: (وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) [الأعراف: 180] …»

“Tidak pantas bagi seseorang untuk berdo’a kepada Allah kecuali dengan asma’ Allah. Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) #02 | Kesamaan Aqidah Empat Imam Madzhab

KESAMAAN AQIDAH EMPAT IMAM MADZHAB

Aqidah Imam Empat -Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad- adalah yang dituturkan oleh al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sesuai dengan apa yang menjadi pegangan para Shahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Dan di antara para Imam iniAlhamdulillah– tidak ada perselisihan dalam masalah ushuluddin. Bahkan mereka justru sepakat untuk beriman kepada sifat-sifat Allah, dan sepakat untuk beriman bahwasanya al-Qur’an itu adalah Kalam Allah bukan makhluk, dan sepakat bahwasanya iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan, dan mereka juga sepakat untuk mengingkari para ahli kalam, seperti kelompok Jahmiyah dan selainnya yang terpengaruh dengan filsafat Yunani dan aliran-aliran kalam. Baca lebih lanjut

Kitab Tauhid | BAB 7 : Termasuk Syirik, Memakai Gelang dan Sejenisnya Untuk Menangkal Bahaya

BAB 7
TERMASUK SYIRIK, MEMAKAI GELANG DAN SEJENISNYA
UNTUK MENANGKAL BAHAYA

[Dimulai dengan bab ini, penulis hendak menerangkan lebih lanjut tentang pengertian tauhid dan syahadat “La Ilaha Illallah”, dengan menyebutkan hal-hal yang bertentangan dengannya, yaitu : syirik dan macam-macamnya, baik yang akbar maupun yang ashghor, karena dengan mengenal syirik sebagai lawan tauhid akan jelas sekali pengertian yang sebenarnya dari tauhid dan syahadat “La Ilah Illah”.]

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

قل أفرأيتم ما تدعون من دون الله إن أرادني الله بضر هل هن كاشفات ضره أو أرادني برحمة هل هن ممسكات رحمته قل حسبي الله عليه يتوكل المتوكلون

“Katakanlah (hai Muhammad kepada orang-orang musyrik) : terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharotan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan kemudharotan itu ?, atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmatNya ?, katakanlah : cukuplah Allah bagiku, hanya kepadaNyalah orang orang yang berserah diri bertawakkal.” (QS. Az zumar, 38) Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) #01

MUQADDIMAH

Segala puji bagi Allah. Kepada-Nya kita memuji, meminta pertolongan, petunjuk, dan ampunan. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ‏

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan jangan sekali-kali mati kecuali sebagai muslim.” (Ali Imran : 102) Baca lebih lanjut

Kitab Tauhid | BAB 6 : PENJELASAN TENTANG MAKNA TAUHID DAN SYAHADAT ” لا إله إلا الله “

BAB 6
PENJELASAN TENTANG MAKNA TAUHID
DAN SYAHADAT “LA ILAHA ILLALLAH”

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmatNya serta takut akan siksaNya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’, 57) Baca lebih lanjut