Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

A. Pendapat Imam Syafi’i Tentang Tauhid

1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam Manaaqib Asy-Syaafi’i (1/405) dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barangsiapa yang bersumpah dengan menyebutkan selain Allah, misalnya, “Demi Ka’bah”, “Demi ayahku” dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.” …. Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “Demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan menyebut selain Allah adalah haram, dan dilarang berdasarkan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

«إن الله عزّ وجل نهاكم أن تحلفوا بآبائكم، فمن كان حالفًا فليحلف بالله أو ليسكت»

“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kalian. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma Allah, atau lebih baik diam saja.” [Shahih al-Bukhari, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530 Shahih Muslim, III/266. Manaqib asy-Syafi’i, I/405] Baca lebih lanjut

Iklan

KITAB TAUHID | BAB 12: Nadzar Untuk Selain Allah Adalah Termasuk Kesyirikan

BAB 12
BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا]

“Mereka menepati nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan, 7)

[وما أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه]

“Dan apapun yang kalian nafkahkan, dan apapun yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Al Baqarah, 270). Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 11: Dilarang Menyembelih Binatang Karena Allah Di Tempat Penyembelihan Yang Bukan Karena Allah

BAB 11

DILARANG MENYEMBELIH BINATANG KARENA ALLAH 
DI TEMPAT PENYEMBELIHAN YANG BUKAN KARENA ALLAH

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[والذين اتخذوا مسجدا ضرارا وكفرا وتفريقا بين المؤمنين وإرصادا لمن حارب الله ورسوله من قبل وليحلفن إن أردنا إلا الحسنى والله يشهد إنهم لكذبون لا تقم فيه أبدا لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه فيه رجال يحبون أن يتطهروا والله يحب المتطهرين]

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharotan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu). Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadikan saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu dirikan sholat di masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (QS. At Taubah, 107 –108) Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Ilmu Kalam

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS -Imam Daarul Hijrah-

E. Larangan Imam Malik Terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama.

أخرج ابن عبد البر عن مصعب بن عبد الله الزبيري ( ) قال: «كان مالك بن أنس يقول: الكلام في الدين أكرهه ولم يزل أهل بلدنا يكرهونه وينهون عنه، نحو الكلام في رأى جهم والقدر وكل ما أشبه ذلك، ولا يحب الكلام إلا فيما تحته عمل، فأما الكلام في دين الله وفي الله عزّ وجل فالسكوت أحب إلي لأني رأيت أهل بلدنا ينهون عن الكلام في الدين إلا فيما تحته عمل»

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush’ab bin Abdullah bin az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata: “Saya tidak menyukai Ilmu Kalam (permainan kata / perdebatan -ed) dalam masalah agama. Warga negeri (Madinah -ed) ini juga tidak menyukainya, dan melarang darinya, seperti memperbincangkan pemikiran Jahm bin Shafwan, memperbincangkan masalah qadar dan semua yang semisal dengan itu. Mereka tidak menyukai Kalam kecuali yang bisa menghasilkan amal. Adapun Ilmu Kalam di dalam agama dan tentang Allah azza wa jalla, maka diam darinya adalah lebih saya sukai. Karena saya melihat penduduk negeri kami (Madinah -ed) melarang dari ilmu kalam dalam masalah agama kecuali yang bisa menghasilkan amal.[Jami’ Bayan al-‘Ilm wa al-Fadhilah, hal. 415] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Para Shahabat

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS -Imam Daarul Hijrah-

D. Pendapat Imam Malik tentang Para Shahabat

أخرج أبو نعيم عن عبد الله العنبري  قال: «قال مالك بن أنس: من تنقص أحدًا من أصحاب رسول الله ، أو كان في قلبه عليهم غل، فليس له حق في فيء المسلمين، ثم تلا قوله تعالى: (وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا) [الحشر: 10]. فمن تنقصهم أو كان في قلبه عليهم غل، فليس له في الفيء حق».

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari*, katanya: “Imam Malik bin Anas menyatakan: “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam.Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 10 : Menyembelih Hewan Bukan Karena Allah

BAB 10
Menyembelih Hewan Bukan Karena Allah

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لاشريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

“Katakanlah, bahwa sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. Al An’am, 162-163).

 فصل لربك وانحر

“Maka dirikanlah sholat untuk Rabbmu, dan sembelihlah korban(untukNya)” (QS. Al Kautsar, 2) Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Iman

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS
-Imam Daarul Hijrah (Madinah)-

C. Pendapat Imam Malik Tentang Iman

أخرج ابن عبد البر عن عبد الرزاق بن همام قال: «سمعت ابن جريج ( ) وسفيان الثوري ومعمر بن راشد وسفيان بن عيينة ومالك بن أنس يقولون: الإيمان قول وعمل يزيد وينقص»

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Abd ar-Razzaq bin Hammad, katanya: “Saya mendengar Ibn Juraij, Sufyan bin ‘Uyainah dan Anas bin Malik, mengatakan: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” [al-Intiqa’, hal. 34]

وأخرج أبو نعيم عن عبد الله بن نافع قال: «كان مالك بن أنس يقول: الإيمان قول وعمل»

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi’, katanya: “Imam Malik bin Anas pernah berkata: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan.” [al-Hilyah, VI/327] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Qadar

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS
-Imam Daarul Hijrah (Madinah)-

B. Pendapat Imam Malik tentang Qadar

أخرج أبو نعيم عن ابن وهب  قال: «سمعت مالكًا يقول لرجل: سألتني أمس عن القدر؟ قال: نعم، قال: إن الله تعالى يقول:وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ [السجدة: 13].
فلا بد أن يكون ما قال الله تعالى».

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Ibn Wahb, katanya: “Saya mendengar Imam Malik berkata kepada seseorang, “Kemarin kamu bertanya kepada saya tentang qadar, bukankah begitu?”. “Ya”, jawab orang itu. Imam Malik berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Sekiranya kamu menghendaki, kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi telah tetaplah keputusan-Ku, bahwa Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya.” (as-Sajdah: 13) Maka tidak boleh tidak, ketetapan Allah-lah yang berlaku.” [al-Hilyah, VI/396] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS
-Imam Daarul Hijrah (Madinah)-

A. Pendapat Imam Malik tentang Tauhid

أخرج الهروي عن الشافعي قال: سُئل مالك عن الكلام والتوحيد، فقال مالك: «محال أن يظن بالنبي, أنه علَّم أمته الاستنجاء ولم يعلمهم التوحيد، والتوحيد ما قاله النبي : «أُمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله» فما عصم به المال والدم حقيقة التوحيد»

Al-Harawi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang Ilmu Tauhid. Jawab beliau: “Sangat tidak mungkin bila ada orang menduga bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam mengajari umatnya tentang cara-cara bersuci tetapi tidak mengajari masalah tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, III/262. Imam Muslim, I/51. Imam an-Nasa’i, V/14, dan Imam Abu Daud, III/101.] Maka sesuatu yang dapat menyelamatkan harta dan nyawa (darah) maka hal itu adalah tauhid yang sebenarnya. [Dzam al-Kalam, lembar 210] Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 9 : Mengharapkan Berkah dari Pepohonan, Bebatuan atau yang Sejenisnya

BAB 9
Mengharapkan Berkah dari Pepohonan, Bebatuan atau yang Sejenisnya

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[أفرأيتم اللات والعزى ومناة الثالثة الأخرى ألكم الذكر وله الأنثى تلك إذا قسمة ضيزا إن هي إلا أسماء سميتموها أنتم وآباءكم ما أنزل الله بها من سلطان إن يتبعون إلا الظن وما تهوى الأنفس ولقد جاءهم من ربهم الهدى]

“Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al lata dan Al Uzza dan Manat yang ketiga 1). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan ? yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sesungguhnya tidak datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm, 19-23) Baca lebih lanjut