Aqidah Empat Imam Madzhab : Sikap Imam Asy-Syafi’i Terhadap Ilmu Kalam

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

E. Larangan Imam Syafi’i terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama.

أخرج الهروي عن الربيع بن سليمان قال: «سمعت الشافعي يقول: … لو أن رجلاً أوصى بكتبه من العلم لآخر، وكان فيها كتب الكلام، لم تدخل في الوصية لأنه ليس من العلم»

Imam al-Harawi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, saya mendengar Imam Syafi’i berkata: “Seandainya ada orang berwasiat kepada orang lain untuk mengambil kitab-kitabnya yang berisi ilmu-ilmu keislaman, sementara di antara kitab-kitab itu ada kitab-kitab Kalam, maka kitab-kitab Kalam ini tidak masuk di dalam wasiat, karena Kalam itu tidak termasuk ilmu-ilmu keislaman.” [Siyar A’lam an-Nubala’, X/30. Dzamm al-Kalam, lembar 213] Baca lebih lanjut

Iklan

KITAB TAUHID | BAB 15: Tidak Ada yang Berhak Disembah Selain Allah

BAB 15
TIDAK SATUPUN YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

أيشركون ما لا يخلق شيئا وهم يخلقون ولا يستطيعون لهم نصرا ولا أنفسهم ينصرون

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun ? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang, dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS. Al A’raf, 191-192).

]والذين تدعون من دونه ما يملكون من قطمير إن تدعوهم لا يسمعوا دعاءكم ولو سمعوا ما استجابوا لكم ويوم القيامة يكفرون بشرككم ولا ينبئك مثل خبير[

“Dan sesembahan-sesembahan yang kalian mohon selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu, kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat meraka akan mengingkari kemusyrikanmu, dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir 13-14). Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Shahabat Nabi

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

D. Pendapat Imam Syafi’i tentang Shahabat

أورد البيهقي عن الشافعي أنه قال: «أثنى الله تبارك وتعالى على أصحاب رسول الله في القرآن والتوراة والإنجيل وسبق لهم لسان رسول الله من الفضل ما ليس لأحد بعدهم، فرحمهم الله، وهنأهم بما أتاهم من ذلك ببلوغ أعلى منازل الصديقين والشهداء والصالحين، فهم أدوا إلينا سُنن رسول الله ، وشاهدوه والوحي ينزل عليه، فعلموا ما أراد رسول الله r عامًّا وخاصًّا وعزمًا وإرشادًا، وعرفوا من سُنته ما عرفنا وجهلنا، وهم فوقنا في كل علم واجتهاد، وورع وعقل، وأمر استدرك به علم واستنبط به وآراؤهم لنا أحمد وأولى بنا من آرائنا عندنا لأنفسنا والله أعلم»

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwasanya beliau berkata, “Allah telah memuji para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam al-Qur’an, Taurat dan Injil. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memuji keluhuran mereka, sementara untuk yang lain tidak disebutkan. Maka semoga Allah merahmati mereka, dan menyambut mereka dengan memberikan kedudukan yang paling tinggi sebagai shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Iman

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

C. Pendapat Imam Syafi’i Tentang Iman

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Imam ar-Rabi’, katanya, saya mendengar Imam Syafi’i berkata: Iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan (i’tiqad) di dalam hati. Tahukah kamu firman Allah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

“Allah tidak menyia-nyiakan iman kamu.” (Al-Baqarah: 143)

Maksud kata “Imanakum” (iman kamu) adalah shalatmu ketika menghadap ke Baitul Maqdis. Allah menamakan shalat itu iman, dan shalat adalah ucapan, perbuatan dan i’tiqad. [al-Intiqa’ hal. 81] Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 14: Berdo’a Kepada Selain Allah Adalah Kesyirikan

BAB 14
BERDO’A KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك، فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين

“Dan janganlah kamu memohon/berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat hal itu maka sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang dzolim (musyrik)” (QS. Yunus, 106).

وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم

“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang” (QS. Yunus, 107). Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 13: Meminta Perlindungan (Isti’adzah) Kepada Selain Allah adalah Syirik

BAB 13
MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا

“Bahwa ada beberapa orang laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu hanya menambah dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin : 6).*

Khaulah binti Hakim menuturkan : aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“من نزل منـزلا فقال : أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، لم يضره شيء حتى يرحل من منـزله ذلك “. رواه مسلم

“Barang siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia berdo’a :

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

(aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) maka tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu” (HR. Muslim).

Kandungan bab ini :

  1. Penjelasan tentang maksud ayat yang ada dalam surat Al Jin*.
  2. Meminta perlindungan kepada selain Allah (jin) adalah syirik.
  3. Hadits tersebut di atas, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, merupakan dalil bahwa kalam Allah itu bukan makhluk, karena minta perlindungan kepada makhluk itu syirik.
  4. Keutamaan doa ini walaupun sangat singkat.
  5. Sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia, baik dengan menolak kejahatan atau mendatangkan keberuntungan tidak berarti sesuatu itu tidak termasuk syirik.

*) Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa ada di antara manusia yang meminta perlindungan kepada jin agar merasa aman dari apa yang mereka khawatirkan, akan tetapi jin itu justru menambah dosa dan rasa khawatir bagi mereka, karena mereka tidak meminta perlindungan kepada Allah. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa isti’adzah (meminta perlindungan) kepada selain Allah adalah termasuk syirik dan terlarang.

SIMAK!

Penjelasan Bab Ini Oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr
Diterjemahkan oleh Ustadz Firanda Andirja

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Taqdir

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

B. Pendapat Imam Syafi’i tentang Taqdir

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i pernah ditanya tentang taqdir, jawaban beliau :

Apa yang Engkau kehendaki terjadi
Meskipun aku tidak menghendaki
Apa yang aku kehendaki tidak terjadi
Apabila Engkau tidak menghendaki

Engkau ciptakan hamba-hamba
Sesuai apa yang Engkau ketahui
Maka dalam ilmu-Mu
Pemuda dan kakek berjalan
Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

A. Pendapat Imam Syafi’i Tentang Tauhid

1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam Manaaqib Asy-Syaafi’i (1/405) dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barangsiapa yang bersumpah dengan menyebutkan selain Allah, misalnya, “Demi Ka’bah”, “Demi ayahku” dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.” …. Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “Demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan menyebut selain Allah adalah haram, dan dilarang berdasarkan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

«إن الله عزّ وجل نهاكم أن تحلفوا بآبائكم، فمن كان حالفًا فليحلف بالله أو ليسكت»

“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kalian. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma Allah, atau lebih baik diam saja.” [Shahih al-Bukhari, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530 Shahih Muslim, III/266. Manaqib asy-Syafi’i, I/405] Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 12: Nadzar Untuk Selain Allah Adalah Termasuk Kesyirikan

BAB 12
BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا]

“Mereka menepati nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan, 7)

[وما أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه]

“Dan apapun yang kalian nafkahkan, dan apapun yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Al Baqarah, 270). Baca lebih lanjut

KITAB TAUHID | BAB 11: Dilarang Menyembelih Binatang Karena Allah Di Tempat Penyembelihan Yang Bukan Karena Allah

BAB 11

DILARANG MENYEMBELIH BINATANG KARENA ALLAH 
DI TEMPAT PENYEMBELIHAN YANG BUKAN KARENA ALLAH

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[والذين اتخذوا مسجدا ضرارا وكفرا وتفريقا بين المؤمنين وإرصادا لمن حارب الله ورسوله من قبل وليحلفن إن أردنا إلا الحسنى والله يشهد إنهم لكذبون لا تقم فيه أبدا لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه فيه رجال يحبون أن يتطهروا والله يحب المتطهرين]

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharotan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu). Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadikan saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu dirikan sholat di masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (QS. At Taubah, 107 –108) Baca lebih lanjut