Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Taqdir

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

B. Pendapat Imam Syafi’i tentang Taqdir

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i pernah ditanya tentang taqdir, jawaban beliau :

Apa yang Engkau kehendaki terjadi
Meskipun aku tidak menghendaki
Apa yang aku kehendaki tidak terjadi
Apabila Engkau tidak menghendaki

Engkau ciptakan hamba-hamba
Sesuai apa yang Engkau ketahui
Maka dalam ilmu-Mu
Pemuda dan kakek berjalan
Baca lebih lanjut

Iklan

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I
-Naashirus Sunnah-

A. Pendapat Imam Syafi’i Tentang Tauhid

1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam Manaaqib Asy-Syaafi’i (1/405) dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barangsiapa yang bersumpah dengan menyebutkan selain Allah, misalnya, “Demi Ka’bah”, “Demi ayahku” dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.” …. Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “Demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan menyebut selain Allah adalah haram, dan dilarang berdasarkan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

«إن الله عزّ وجل نهاكم أن تحلفوا بآبائكم، فمن كان حالفًا فليحلف بالله أو ليسكت»

“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kalian. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma Allah, atau lebih baik diam saja.” [Shahih al-Bukhari, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530 Shahih Muslim, III/266. Manaqib asy-Syafi’i, I/405] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Ilmu Kalam

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS -Imam Daarul Hijrah-

E. Larangan Imam Malik Terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama.

أخرج ابن عبد البر عن مصعب بن عبد الله الزبيري ( ) قال: «كان مالك بن أنس يقول: الكلام في الدين أكرهه ولم يزل أهل بلدنا يكرهونه وينهون عنه، نحو الكلام في رأى جهم والقدر وكل ما أشبه ذلك، ولا يحب الكلام إلا فيما تحته عمل، فأما الكلام في دين الله وفي الله عزّ وجل فالسكوت أحب إلي لأني رأيت أهل بلدنا ينهون عن الكلام في الدين إلا فيما تحته عمل»

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush’ab bin Abdullah bin az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata: “Saya tidak menyukai Ilmu Kalam (permainan kata / perdebatan -ed) dalam masalah agama. Warga negeri (Madinah -ed) ini juga tidak menyukainya, dan melarang darinya, seperti memperbincangkan pemikiran Jahm bin Shafwan, memperbincangkan masalah qadar dan semua yang semisal dengan itu. Mereka tidak menyukai Kalam kecuali yang bisa menghasilkan amal. Adapun Ilmu Kalam di dalam agama dan tentang Allah azza wa jalla, maka diam darinya adalah lebih saya sukai. Karena saya melihat penduduk negeri kami (Madinah -ed) melarang dari ilmu kalam dalam masalah agama kecuali yang bisa menghasilkan amal.[Jami’ Bayan al-‘Ilm wa al-Fadhilah, hal. 415] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Para Shahabat

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS -Imam Daarul Hijrah-

D. Pendapat Imam Malik tentang Para Shahabat

أخرج أبو نعيم عن عبد الله العنبري  قال: «قال مالك بن أنس: من تنقص أحدًا من أصحاب رسول الله ، أو كان في قلبه عليهم غل، فليس له حق في فيء المسلمين، ثم تلا قوله تعالى: (وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا) [الحشر: 10]. فمن تنقصهم أو كان في قلبه عليهم غل، فليس له في الفيء حق».

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari*, katanya: “Imam Malik bin Anas menyatakan: “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam.Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Iman

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS
-Imam Daarul Hijrah (Madinah)-

C. Pendapat Imam Malik Tentang Iman

أخرج ابن عبد البر عن عبد الرزاق بن همام قال: «سمعت ابن جريج ( ) وسفيان الثوري ومعمر بن راشد وسفيان بن عيينة ومالك بن أنس يقولون: الإيمان قول وعمل يزيد وينقص»

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Abd ar-Razzaq bin Hammad, katanya: “Saya mendengar Ibn Juraij, Sufyan bin ‘Uyainah dan Anas bin Malik, mengatakan: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” [al-Intiqa’, hal. 34]

وأخرج أبو نعيم عن عبد الله بن نافع قال: «كان مالك بن أنس يقول: الإيمان قول وعمل»

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi’, katanya: “Imam Malik bin Anas pernah berkata: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan.” [al-Hilyah, VI/327] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Qadar

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS
-Imam Daarul Hijrah (Madinah)-

B. Pendapat Imam Malik tentang Qadar

أخرج أبو نعيم عن ابن وهب  قال: «سمعت مالكًا يقول لرجل: سألتني أمس عن القدر؟ قال: نعم، قال: إن الله تعالى يقول:وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ [السجدة: 13].
فلا بد أن يكون ما قال الله تعالى».

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Ibn Wahb, katanya: “Saya mendengar Imam Malik berkata kepada seseorang, “Kemarin kamu bertanya kepada saya tentang qadar, bukankah begitu?”. “Ya”, jawab orang itu. Imam Malik berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَآَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Sekiranya kamu menghendaki, kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi telah tetaplah keputusan-Ku, bahwa Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya.” (as-Sajdah: 13) Maka tidak boleh tidak, ketetapan Allah-lah yang berlaku.” [al-Hilyah, VI/396] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS
-Imam Daarul Hijrah (Madinah)-

A. Pendapat Imam Malik tentang Tauhid

أخرج الهروي عن الشافعي قال: سُئل مالك عن الكلام والتوحيد، فقال مالك: «محال أن يظن بالنبي, أنه علَّم أمته الاستنجاء ولم يعلمهم التوحيد، والتوحيد ما قاله النبي : «أُمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله» فما عصم به المال والدم حقيقة التوحيد»

Al-Harawi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang Ilmu Tauhid. Jawab beliau: “Sangat tidak mungkin bila ada orang menduga bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam mengajari umatnya tentang cara-cara bersuci tetapi tidak mengajari masalah tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, III/262. Imam Muslim, I/51. Imam an-Nasa’i, V/14, dan Imam Abu Daud, III/101.] Maka sesuatu yang dapat menyelamatkan harta dan nyawa (darah) maka hal itu adalah tauhid yang sebenarnya. [Dzam al-Kalam, lembar 210] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Larangan Abu Hanifah terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Masalah Agama

E. Larangan Abu Hanifah terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Masalah Agama.

1. Imam Abu Hanifah berkata:

أصحاب الأهواء في البصرة كثير، ودخلتها عشرين مرة ونيفًا وربما أقمت بها سنة أو أكثر أو أقل ظانًّا أن علم الكلام أجل العلوم

“Di kota Bashrah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu (selera) sangat banyak. Saya datang di Bashrah lebih dari dua puluh kali. Terkadang saya tinggal di bashrah lebih dari satu tahun, terkadang satu tahun, dan terkadang kurang dari satu tahun. Hal itu karena saya mengira bahwa Ilmu Kalam itu adalah ilmu yang paling mulia.” [al-Kurdi, Manaqib Abi Hanifah, hal. 137] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Shahabat

D. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Sahabat .

1. Imam Abu Hanifah berkata:

ولا نذكر أحدًا من صحابة رسول الله إلا بخير

“Kita tidak boleh menyebutkan seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dengan sebutan yang baik.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 304]

2. Kata beliau juga :

ولا نتبرأ من أحد من أصحاب رسول الله ، ولا نوالي أحدًا دون أحد

“Kita juga tidak boleh berlepas diri dari salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak boleh pula mencintai yang satu dan mengesampingkan yang lain.” [al-Fiqh al-Absath, hal. 40] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Iman

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

C. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Pengertian Iman.

1. Beliau berkata:

والإيمان هو الإقرار والتصديق

“Imam itu iqrar (pengakuan) dan tashdiq (pembenaran).” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 304]

2. Kata beliau lagi:

الإيمان إقرار باللسان وتصديق بالجنان والإقرار وحده لا يكون إيمانًا

“Iman itu adalah iqrar dengan lisan dan tashdiq dengan hati. Iqrar saja belum disebut iman.” [Kitab al-Washiyyah bersama Syarhnya, hal. 2] Baca lebih lanjut