Serial Pengenalan Kitab-Kitab Tafsir 04 : Al-Kasysyaaf (Tafsir Az-Zamakhsyari)

الكشافNama Mufassir
Beliau adalah Abu al-Qasim, Mahmud bin ‘Umar bin Muhammad al-Khawarizmi, al-Hanafi, penganut aliran Muktazilah, yang dijuluki Jaarullah.

Nama Kitab
Al-Kasysyaaf ‘An Haqaa’iq at-Tanziil Wa ‘Uyuun al-Aqaawiil Fii Wujuuh at-Ta’wiil.

Aqidahnya
Beliau termasuk tokoh aliran Muktazilah yang membela mati-matian madzhabnya. Ia memperkuatnya dengan kekuatan hujjah yang dimilikinya.

Dalam hal ini, imam adz-Dzahabi di dalam kitabnya “al-Miizaan” (IV:78) berkata, “Ia seorang yang layak (diambil) haditsnya, tetapi ia seorang penyeru kepada aliran muktazilah, semoga Allah melindungi kita. Karena itu, berhati-hatilah terhadap kitab Kasysyaaf karyanya.” Baca lebih lanjut

Iklan

KITAB TAUHID | BAB 11: Dilarang Menyembelih Binatang Karena Allah Di Tempat Penyembelihan Yang Bukan Karena Allah

BAB 11

DILARANG MENYEMBELIH BINATANG KARENA ALLAH 
DI TEMPAT PENYEMBELIHAN YANG BUKAN KARENA ALLAH

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[والذين اتخذوا مسجدا ضرارا وكفرا وتفريقا بين المؤمنين وإرصادا لمن حارب الله ورسوله من قبل وليحلفن إن أردنا إلا الحسنى والله يشهد إنهم لكذبون لا تقم فيه أبدا لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه فيه رجال يحبون أن يتطهروا والله يحب المتطهرين]

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharotan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu). Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadikan saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu dirikan sholat di masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (QS. At Taubah, 107 –108) Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Ilmu Kalam

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS -Imam Daarul Hijrah-

E. Larangan Imam Malik Terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama.

أخرج ابن عبد البر عن مصعب بن عبد الله الزبيري ( ) قال: «كان مالك بن أنس يقول: الكلام في الدين أكرهه ولم يزل أهل بلدنا يكرهونه وينهون عنه، نحو الكلام في رأى جهم والقدر وكل ما أشبه ذلك، ولا يحب الكلام إلا فيما تحته عمل، فأما الكلام في دين الله وفي الله عزّ وجل فالسكوت أحب إلي لأني رأيت أهل بلدنا ينهون عن الكلام في الدين إلا فيما تحته عمل»

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush’ab bin Abdullah bin az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata: “Saya tidak menyukai Ilmu Kalam (permainan kata / perdebatan -ed) dalam masalah agama. Warga negeri (Madinah -ed) ini juga tidak menyukainya, dan melarang darinya, seperti memperbincangkan pemikiran Jahm bin Shafwan, memperbincangkan masalah qadar dan semua yang semisal dengan itu. Mereka tidak menyukai Kalam kecuali yang bisa menghasilkan amal. Adapun Ilmu Kalam di dalam agama dan tentang Allah azza wa jalla, maka diam darinya adalah lebih saya sukai. Karena saya melihat penduduk negeri kami (Madinah -ed) melarang dari ilmu kalam dalam masalah agama kecuali yang bisa menghasilkan amal.[Jami’ Bayan al-‘Ilm wa al-Fadhilah, hal. 415] Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Malik bin Anas Tentang Para Shahabat

AQIDAH IMAM MALIK bin ANAS -Imam Daarul Hijrah-

D. Pendapat Imam Malik tentang Para Shahabat

أخرج أبو نعيم عن عبد الله العنبري  قال: «قال مالك بن أنس: من تنقص أحدًا من أصحاب رسول الله ، أو كان في قلبه عليهم غل، فليس له حق في فيء المسلمين، ثم تلا قوله تعالى: (وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا) [الحشر: 10]. فمن تنقصهم أو كان في قلبه عليهم غل، فليس له في الفيء حق».

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari*, katanya: “Imam Malik bin Anas menyatakan: “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam.Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 20 Berlomba-lomba Meninggikan Bangunan

20. BERLOMBA-LOMBA MENINGGIKAN BANGUNAN

Ini adalah salah satu tanda Kiamat yang muncul dekat dengan masa kenabian. Setelah itu menyebar sehingga manusia berbangga-bangga membuat bangunan tinggi dan menghiasi rumah. Hal itu disebabkan karena dunia dibentangkan kepada kaum muslimin dan melimpahnya harta digenggaman mereka setelah banyaknya penaklukan. Demikianlah keadaannya dalam waktu yang lama hingga banyak dari mereka yang tunduk pada dunia, dan penyakit umat sebelum mereka menjalari mereka, yaitu berlomba-lomba mengumpulkan harta dan menggunakannya pada tempat yang tidak layak menurut pandangan agama, hingga orang-orang badui dan yang semisalnya dari kalangan orang-orang fakir dilapangkan untuk memperoleh dunia seperti yang lainnya. Mereka mulai mendirikan bangunan bertingkat dan berlomba-lomba di dalamnya.

Baca lebih lanjut

Gum Arabic Suplemen Prebiotik Terbaik Dari Getah Pohon Akasia

Mengenal Arabic Gum/Acacia Gum

Gum arabic is seen on an Acacia trees*Gum Arabic / Arabic Gum* dikenal sebagai makanan kesehatan atau serat makanan (_dietary fiber_), yang sering juga di sebut *Acacia Gum* atau *Acacia Fiber*, di dunia industri makanan atau farmaseutikal, nama Gum Arabic lebih di kenal sebagai emulsifier dengan kode *E414*. Tetapi orang Arab di Afrika dan semenanjung arab lebih mengenali produk ini sebagai Gum Arabic (atau _Samghu ‘Arabi_ dalam bahasa Arab). Mungkin sebagian besar orang Arab, kalau tidak semua, tidak tahu apa itu *Acacia Gum*.

*Gum Arab* dihasilkan dari *Getah Pohon Akasia* yang mengeras menjadi damar berupa kristal. Getah yang keras ini dipetik dari batang, dahan dan ranting pohon Acacia ini. Kualitas yang terbaik banyak terdapat di sebelah barat negara Sudan. Gum Arab berwarna jernih kepirangan, rapuh dan tidak mempunyai rasa yang kuat. Baca lebih lanjut

Rukun Kedua : Shalat | Syarat Wajib, Syarat Sah dan Tata Cara Shalat Jum’at

D. Syarat-syarat Kewajiban Shalat Jum’at

Shalat Jum’at diwajibkan atas setiap muslim laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadits Rasulullah :

الجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ فِي جَماعةٍ إلَّا أربَعَةٌ: عَبدٌ مَملُوكٌ أو امرَأةٌ أو صَبِيٌّ أو مَريضٌ

Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at, sebab Rasulullah pemah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan bertempur, namun tidak pemah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan shalat Jum’at. Baca lebih lanjut

Rukun Kedua : Shalat | Hal-Hal yang Disunnahkan Serta Beberapa Adab Hari Jum’at

C. Hal-Hal Yang Disunnahkan Serta Beberapa Adab Hari Jum’at

1. Mandi, berpakaian yang rapi, memakai wangi-wangian dan bersiwak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

غُسلُ الجمُعةِ واجبٌ على كلِّ محتلمٍ

Mandi hari Jum’at itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih)

Sabda Rasulullah

غُسلُ يوم الجمُعةِ على كلِّ محتلمٍ وسواك ويمسّ من الطيب ما قدر عليه

Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jum’at dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh. “(Muttafaq `alaih) Baca lebih lanjut

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Teladan Sejak Masa Jahiliyyah

Siapakah Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu?

Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Quraisy At Taimi, Abu Bakar ash Shiddiq bin Abi Quhafah. [Thabaqaat Ibni Sa’ad (III/125-126), Al Isti’aab (III/963), dan Al Ishaabah (II/417)]

Dia dilahirkan di Mina, nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Murrah.

Di masa Jahiliyyah dia menikah dengan dua wanita: Qutailah binti Abdil Uzza dan Ummu Ruman binti Amir.

Dan dimasa Islam dia menikah dengan dua wanita: Asma’ binti Umais dan Habibah binti Kharijah bin Zaid. Baca lebih lanjut

Biografi Shahabat | Abu Bakar Ash-Shiddiq | Pengantar

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu

“Tidak seorang pun yang mempunyai jasa baik kepada kami melainkan kami telah membalasnya kecuali Abu Bakar, sesungguhnya dia mempunyai jasa mulia, Allah yang akan membalasnnya di hari Kiamat. Aku tidak mengambil manfaat dari harta seseorang seperti aku mengambil manfaat dari harta Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang khalil niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.” [Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam]

Dia seorang laki-laki berkedudukan agung, berderajat tinggi, beribadah kepada Allah dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad di jalan Allah, dan memberikan seluruh hartanya di jalan Allah.

Dia menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat orang-oorang mengabaikan beliau, beriman kepada beliau pada saat orang-orang ingkar kepada beliau, dan membenarkan pada saat orang-orang mendustakan beliau. Baca lebih lanjut