Sirah Nabawiyah | Dakwah Islam Diluar Kota Makkah

Dakwah Islam Diluar Kota Makkah

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam Di Kota Thaif

Pada bulan Syawwal tahun ke-10 dari kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau Juni tahun 619 M Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Thaif yang letaknya sekitar 60 mil dari kota Mekkah. Beliau datang dan pergi kesana dengan berjalan kaki, didampingi budak beliau (ketika itu), Zaid bin Hâritsah. Setiap melewati perkampungan sebuah kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam namun tidak satupun yang memberikan responsnya. Tatkala tiba di Thaif, beliau mendekati tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka kabilah Tsaqîf. Mereka masing-masing bernama ‘Abd Yalail, Mas’ud dan Habib. Ayah mereka bernama ‘Amru bin ‘Umair at-Tsaqafiy. Beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam duduk-duduk bersama mereka sembari mengajak mereka kepada Allah Ta’ala dan membela Islam. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Faktor-Faktor Kesabaran dan Ketegaran Kaum Muslimin

Seorang yang berhati lembut akan berdiri tercenung dan para cendikiawan akan saling bertanya diantara mereka: “Apa sebenarnya sebab-sebab dan faktor-faktor yang telah membawa kaum Muslimin mencapai puncak dan batas tak tertandingi dalam ketegarannya?”, “Bagaimana mungkin mereka bisa bersabar menghadapi penindasan demi penindasan yang membuat bulu roma merinding dan hati gemetar begitu mendengarnya?”.

Melihat fenomena yang menggoncangkan jiwa ini, kami menganggap perlunya menyinggung sebagian dari faktor-faktor dan sebab-sebab tersebut secara ringkas dan singkat:

1. Keimanan kepada Allah

Sebab dan faktor paling utama adalah keimanan kepada Allah Ta’ala semata dan ma’rifah kepada-Nya dengan sebenar-benar ma’rifah. Keimanan yang tegas bila telah menyelinap ke sanubari dapat menimbang gunung dan tidak akan goyang. Orang yang memiliki keimanan dan keyakinan seperti ini akan memandang kesulitan duniawi sebesar, sebanyak dan serumit apapun seperti lumut-lumut yang diapungkan oleh air bah lantas menghancurkan bendungan kuat dan benteng perkasa. Orang yang kondisinya seperti ini, tidak mempedulikan rintangan apapun lagi karena telah mengenyam manisnya iman, segarnya keta’atan serta cerianya keyakinan. Allah berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ‏

“Adapun buih itu akan hilang sebagia sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”. (Ar-Ra’d: 17) Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Tahun Kesedihan : Wafatnya Khadijah dan Kesedihan yang Datang Silih Berganti

Khadijah Berpulang ke Rahmatullah

Setelah dua bulan atau tiga bulan dari wafatnya, Abu Thâlib, Ummul Mukminin, Khadijah al-Kubra radhiallaahu ‘anha pun wafat. Tepatnya, pada bulan Ramadhan tahun 10 H dari kenabian dalam usia 65 tahun sedangkan Rasulullah ketika itu berusia 50 tahun.

Sosok Khadijah merupakan nikmat Allah yang paling agung bagi Rasulullah. Selama seperempat abad hidup bersamanya, dia senantiasa menghibur disaat beliau cemas, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalahnya, ikut serta bersama beliau dalam rintangan yang menghadang jihad dan selalu membela beliau baik dengan jiwa maupun hartanya.

Untuk mengenang itu, Rasulullah bertutur:

‏آمنت بى حين كفر بى الناس، وصدقتنى حين كذبني الناس، وأشركتنى في مالها حين حرمنى الناس، ورزقنى الله ولدها وحرم ولد غيرها‏

“Dia telah beriman kepadaku saat manusia tidak ada yang beriman, dia membenarkanku di saat manusia mendustakan, dia memodaliku dengan hartanya di saat manusia tidak menahannya, Allah mengkaruniaiku anak darinya sementara Dia Ta’ala tidak memberikannya dari isteri yang lainnya.” Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Tahun Kesedihan : Wafatnya Abu Thalib

Abu Thâlib wafat

Sakit yang dialami oleh Abu Thâlib semakin payah, maka tak lama dari itu dia menemui ajalnya, yaitu pada bulan Rajab tahun 16 H dari kenabian setelah enam bulan keluar dari syi’b nya. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa dia wafat pada bulan Ramadhan, tiga hari sebelum Khadijah radhiallaahu ‘anha wafat.

وفي الصحيح عن المسيب‏:‏ أن أبا طالب لما حضرته الوفاة دخل عليه النبي صلى الله عليه وسلم وعنده أبو جهل، فقال‏:‏ ‏(‏أي عم، قل‏:‏ لا إله إلا الله ، كلمة أحاج لك بها عند الله ‏)‏ فقال أبو جهل وعبد الله بن أبي أمية‏:‏ يا أبا طالب، ترغب عن ملة عبد المطلب‏؟‏ فلم يزالا يكلماه حتى قال آخر شيء كلمهم به‏:‏ على ملة عبد المطلب، فقال النبي صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏(‏لأستغفرن لك ما لم أنه عنـه‏)‏، فـنزلت‏:‏‏{‏ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ‏}‏ ‏[‏التوبة‏:‏113‏]‏ ونزلت‏:‏ ‏{‏إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ‏}‏ ‏[‏القصص‏:‏ 56‏]

Dalam kitab ash-Shahîh dari (Sa’id) bin al-Musayyib disebutkan bahwa ketika Abu Thâlib dalam keadaan sekarat, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengunjunginya sementara disisinya sudah berada Abu Jahl. Beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam bertutur kepadanya: “Wahai pamandaku! Katakanlah: Lâ ilâha illallâh, kalimat ini akan aku jadikan hujjah untukmu di sisi Allah”. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Delegasi Terakhir Quraisy yang Mengunjungi Abu Thalib

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam keluar dari Syi’b (kediaman pamannya, Abu Thâlib) dan melakukan aktivitasnya seperti biasa, sementara kaum Quraisy masih tetap melakukan intimidasi terhadap kaum muslimin dan menghadang jalan Allah meskipun sudah tidak lagi melakukan pemboikotan.

Di sisi yang lain, Abu Thâlib masih tetap melindungi keponakannya, akan tetapi usianya sudah melebihi 80 tahun. Penderitaan-penderitaan dan peristiwa-peristiwa yang begitu besar dan silih berganti sejak beberapa tahun, khususnya pada saat terjadinya pengepungan dan pemboikotan terhadap kediamannya, telah membuat persendiannya lemah dan tulang rusuknyapun patah.

Baru beberapa bulan setelah keluar dari syi’bnya, Abu Thâlib dirundung sakit yang agak payah dan kondisi ini membuat kaum musyrikun cemas kalau-kalau nama besar mereka cacat di mata bangsa Arab andai mereka hanya datang saat kematiannya karena tidak menyukai keponakannya. Untuk itulah mereka sekali lagi mengadakan perundingan dengan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam di sisi Abu Thâlib dan berani memberikan sebagian dari hal yang sebelumnya tidak sudi mereka berikan. Mereka melakukan wifâdah (kunjungan) kepada Abu Thâlib, yang merupakan untuk terakhir kalinya. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Pembatalan Terhadap Shahifah Perjanjian

Pembatalan Terhadap Shahifah Perjanjian

Pemboikotan tersebut berlangsung selama dua atau tiga tahun penuh. Barulah pada bulan Muharram tahun ke-10 dari kenabian terjadi pembatalan terhadap shahifah dan perobekan perjanjian tersebut. Hal ini dilakukan karena tidak semua kaum Quraisy menyetujui perjanjian tersebut, diantara mereka ada yang pro dan ada yang kontra, maka pihak yang kontra ini akhirnya berusaha untuk membatalkan shahifah tersebut.

Diantara tokoh yang melakukan itu adalah Hisyâm bin ‘Amru dari suku Bani Amir bin Lu-ay – yang secara tersembunyi pada malam hari mengadakan kontak dengan Bani Hâsyim dan menyuplai bahan makanan -. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Pemboikotan Menyeluruh Terhadap Keluarga Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib

Sikap Abu Thalib dan Keluarganya

Demikianlah tindakan kaum Musyrikun secara umum, sedangkan Abu Thalib secara khusus menghadapi tuntutan kaum Quraisy agar menyerahkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam kepada mereka untuk dibunuh.

Abu Thalib mengamati gerak-gerik dan kasak-kusuk mereka dan mencium keinginan kuat mereka untuk benar-benar menghabisi beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, ‘Umar bin al-Khaththab (sebelum Islam-red) dan Abu Jahal.

Akhirnya, dia mengumpulkan seluruh keluarga Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib dan menghimbau mereka agar menjaga Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam . Mereka semua memenuhi imbauan itu, baik yang sudah masuk Islam maupun yang masih kafir sebagai bentuk fanatisme Arab. Mereka berikrar dan mengikat janji di Ka’bah selain saudaranya, Abu Lahab yang memilih untuk menentang mereka dan berada di pihak kaum Quraisy. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Musyrikin Quraisy Meminta Bantuan Rahib Yahudi

Kaum Quraisy Bingung, Mereka Menghubungi Orang-orang Yahudi

Setelah semua perundingan, negosiasi dan kompromi yang diajukan oleh kaum Musyrikun mengalami kegagalan, jalan-jalan yang ada dihadapan mereka seakan gelap gulita. Mereka bingung apa yang harus dilakukan hingga salah seorang dari syaithan mereka berdiri tegak, yaitu an-Nadlar bin al-Hârits sembari menasehati mereka:

Wahai kaum Quraisy! Demi Allah! sungguh urusan yang kalian hadapi saat ini tidak ada lagi jalan keluarnya.

Ketika masih kecilnya, Muhammad adalah orang yang paling kalian ridlai, paling kalian benarkan ucapannya, paling kalian agungkan amanatnya hingga akhirnya sekarang kalian melihat uban tumbuh di kedua alisnya dan membawa apa yang dibawanya kepada kalian. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Musyrikin Quraisy Menawarkan Negosiasi dan Kompromi Aqidah

Negosiasi dan Kompromi

Manakala kaum Quraisy gagal berunding dengan cara merayu, mengiming-iming serta mengultimatum, demikian juga, Abu Jahal gagal melampiaskan kedunguan dan niat jahatnya untuk menghabisi beliau; mereka seakan tersadar untuk merealisasikan keinginan lainnya dengan cara mencapai jalan tengah yang kiranya dapat menyelamatkan mereka.

Mereka sebenarnya, tidak menyatakan secara tegas bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam berjalan diatas kebathilan akan tetapi kondisi mereka hanyalah –sebagaimana disifatkan dalam firmanNya-

وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ

“sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap al-Qur’an” (Q.S.11/Hûd: 110). Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Nafsu Abu Jahal Untuk Menghabisi Rasulullah

Para Petinggi Quraisy Ingin Berunding dengan Rasulullah Sementara Abu Jahal Ingin Menghabisi Beliau

Harapan Quraisy untuk berunding tidak terhenti dengan jawaban dari beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena jawaban tersebut tidak secara terus terang menolak atau menerima. Untuk itu, mereka berurun rembug lalu berkumpul di depan Ka’bah setelah terbenamnya matahari.

Mereka mengirim utusan untuk menemui Rasulullah dan mengajaknya bertemu disana. Tatkala beliau datang ke sana, mereka kembali mengajukan tuntutan yang sama seperti yang diajukan oleh ‘Utbah.

Disini beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal itu sebab beliau sebagai Rasul, hanyalah menyampaikan risalah Rabbnya; jika mereka menerima maka mereka akan beruntung dunia dan akhirat dan jika tidak, beliau akan bersabar hingga Allah Yang akan memutuskannya. Baca lebih lanjut