Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Qadar


AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

B. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Qadar

1. Seorang datang kepada Imam Abu Hanifah dan mendebat beliau tentang masalah qadar.

«أما علمت أن الناظر في القدر كالناظر في عيني الشمس كلما ازداد نظرًا ازداد تحيرًا»

Kata beliau: “Tahukah Anda, bahwa orang yang berdebat dalam masalah qadar seperti orang yang memperdebatkan keberadaan matahari, semakin lama ia berdebat, ia makin bingung.” [Qalaid ‘Uqud al-Aqyan, lembar 77-A]

2. Beliau berkata:

«وكان الله تعالى عالمًا في الأزل بالأشياء قبل كونها»

“Allah telah mengetahui segala sesuatu sejak masa azali, sebelum segala sesuatu itu terwujud.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302-303]

3. Beliau juga berkata:

«يعلم الله تعالى المعدوم في حالة عدمه معدومًا ويعلم أنه كيف يكون إذا أوجده، ويعلم الله تعالى الموجود في حال وجوده موجودًا ويعلم كيف يكون فناؤه»

“Allah juga mengetahui sesuatu yang tidak ada ketika hal itu tidak ada, dan juga Allah mengetahui bagaimana hal itu akan ada apabila Allah mewujudkannya. Allah juga mengetahui sesuatu yang ada ketika hal itu ada, dan Allah juga mengetahui bagaimana kehancuran sesuatu itu.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302-303]

4. Imam Abu Hanifah berkata:

«وقدره في اللوح المحفوظ»

“Taqdir Allah adalah di Lauh Mahfuzh.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302]

5. Beliau juga berkata:

ونقر بأن الله تعالى أمر بالقلم أن يكتب فقال القلم، ماذا أكتب يا رب؟ فقال الله تعالى: اكتب ما هو كائن إلى يوم القيامة لقوله تعالى

“Kita menetapkan, bahwa Allah telah memerintahkan kepada al-Qalam dan ia berkata, “Apa yang akan saya tulis wahai Tuhanku?” Allah menjawab: “Tulislah apa yang ada dan terjadi sampai Hari Kiamat.” Hal ini berdasarkan firman Allah:

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

“Segala sesuatu yang mereka lakukan tertulis di dalam al-Kitab. Dan segala yang kecil dan besar tertulis.” (al-Qamar: 52-53) [al-Washiyah bersama Syarhnya, hal.21]

6. Beliau juga berkata:

«ولا يكون في الدنيا ولا في الآخرة شيء إلا بمشيئته»

“Tidak ada sesuatupun yang ada atau terjadi baik di dunia maupun di akhirat kecuali berdasarkan kehendak Allah.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302]

7. Kata beliau lagi:

«خلق الله الأشياء لا من شيء»

“Allah menciptakan segala sesuatu tanpa bahan apa-apa.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302]

8. Beliau juga berkata:

«وكان الله تعالى خالقًا قبل أن يخلق»

“Allah adalah Maha Pencipta sebelum Dia menciptakan.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 304]

9. Beliau juga berkata:

«نقر بأن العبد مع أعماله وإقراره ومعرفته مخلوق، فلما كان الفاعل مخلوقًا فأفعاله أولى أن تكون مخلوقة»

“Kita menetapkan bahwasanya hamba bersama amal-amalnya, penetapannya dan pengetahuannya adalah makhluk. Apabila yang berbuat disebut makhluk, maka perbuatan-perbuatannya lebih tepat untuk disebut makhluk.” [al-Washiyah bersama Syarhnya, hal. 14]

10. Beliau berkata lagi:

«جميع أفعال العباد من الحركة والسكون كسبهم والله تعالى خالقها وهي كلها بمشيئته وعلمه وقضائه وقدره»

“Semua perbuatan hamba, baik yang bergerak ataupun diam, merupakan usahanya, dan Allah yang menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak, pengetahuan, penetapan dan qadar Allah.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 303]

11. Beliau berkata:

«وجميع أفعال العباد من الحركة والسكون كسبهم على الحقيقة والله تعالى خلقها وهي كلها بمشيئته وعلمه وقضائه وقدره، والطاعات كلها كانت واجبة بأمر الله تعالى وبمحبته وبرضاه وعلمه ومشيئته وقضائه وتقديره، والمعاصي كلها بعلمه وقضائه وتقديره ومشيئته لا بمحبته ولا برضائه ولا بأمره»

“Semua perbuatan hamba, baik yang bergerak maupun diam, adalah betul-betul upaya mereka, dan Allah menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak, ilmu, penetapan, dan qadar Allah. Semua ketaatan adalah wajib berdasarkan perintah Allah, dan hal itu disukai, diridhai, diketahui, dikehendaki, ditetapkan, dan ditaqdirkan Allah. Sedangkan maksiat semuanya diketahui, ditetapkan, ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah, tetapi Allah tidak menyukai dan tidak meridhai hal itu, bahkan Allah juga tidak memerintahkannya.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 303]

12. Beliau juga berkata:

«خلق الله تعالى الخلق سليمًا من الكفر والإيمان(*) ثم خاطبهم وأمرهم ونهاهم، فكفر من كفر بفعله وإنكاره وجحوده الحق بخذلان الله تعالى إياه، وآمن من آمن بفعله وإقراره وتصديقه بتوفيق الله تعالى ونصرته له»

Allah menciptakan makhluk dalam keadaan bersih dari kekafiran dan keimanan*. Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk berbuat kebajikan dan melarang mereka dari berbuat yang tercela. Maka diantara mereka ada yang menjadi kafir dengan perbuatan kafirnya, pengingkarannya dan penentangannya terhadap kebenaran, itu disebabkan Allah menghinakan mereka. (Dan diantara merkea pula ada yang beriman dengan perbuatannya, dan pengakuannya dan pembenarannya dengan sebab taufiq dan pertolongan Allah untuk mereka.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302-303]

* Penulis (Syaikh Muhammad Al-Khumais) berkata : “Pernyataan yang benar adalah bahwasanya Allah ta’ala menciptakan makhlukNya di atas fitrah Islam, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Hanifah sendiri pada pernyataan berikutnya.”

13. Beliau juga berkata:

«وأخرج ذرية آدم من صلبه على صور الذر، فجعلهم عقلاء فخاطبهم وأمرهم بالإيمان ونهاهم عن الكفر، فأقروا له بالربوبية فكان ذلك منها إيمانًا فهم يولدون على تلك الفطرة، ومن كفر بعد ذلك فقد بدّل وغيّر، ومن آمن وصدق فقد ثبت عليه وداوم»

“Allah telah mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang punggungnya dalam bentuk sel-sel, kemudian Allah memberikan mereka akal, lalu Allah berbicara kepada mereka dan memerintahkan mereka untuk beriman dan melarang mereka melakukan kekafiran. Kemudian mereka mengakui ketuhanan (rububiyyah) Allah. Maka hal itu merupakan iman mereka. Kemudian mereka dilahirkan berdasarkan fithrah (iman) tersebut. Maka barangsiapa yang menjadi kafir di dunia ini sesungguhnya dia telah mengganti dan mengubah fitrahnya. Adapun mereka yang beriman dan membenarkan (perintah Allah) maka sungguh telah tetap dan langgeng keimanannya.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302]

14. Beliau juga berkata:

«وهو الذي قدر الأشياء وقضاها ولا يكون في الدنيا ولا في الآخرة شيء إلا بمشيئته وعلمه وقضائه وقدره، وكتبه في اللوح المحفوظ»

“Allah-lah yang menetapkan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di dunia dan akhirat kucuali atas kehendak, pengetahuan, dan qadha serta qadar Allah. Dan hal itu telah ditulis di lauh Mahfuzh.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 302]

15. Beliau juga berkata:

«لم يجبر أحدًا من خلقه على الكفر ولا على الإيمان، ولكن خلقهم أشخاصًا والإيمان والكفر فعل العباد، ويعلم تعالى من يكفر في حال كفره كافرًا، فإذا آمن بعد ذلك فإذا علمه مؤمنًا أحبه من غير أن يتغير علمه»

“Allah tidak memaksa seorang pun dari makhluk-Nya untuk menjadi kafir atau mukmin. Tetapi Allah menciptakan mereka menjadi orang-orang. Sementara beriman atau menjadi kafir itu adalah perbuatan hamba. Allah mengetahui orang yang kafir pada saat ia kafir. Manakala setelah itu ia beriman, Allah juga mengetahuinya dan dia akan dicintai Allah. Dan ilmu Allah tidak berubah.” [al-Fiqh al-Akbar, hal. 303]

Aqidah Imam Empat
Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais
http://www.alsofwah.or.id
dengan penyesuaian

Iklan

One comment on “Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Qadar

  1. Ping-balik: Aqidah Empat Imam Madzhab | Tiga Landasan Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s