Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Keduabelas]


23. Mendahulukan salam sebelum berbicara.

Adapun para As-Salaf Ash-Shaleh jika mereka saling bertemu, maka mereka mendahulukan salam sebelum bicara dan saling bertanya tentang keadaan mereka dan kebutuhan mereka. An-Nawawi berkata,

“Yang termasuk Sunnah, jika seorang muslim mengucapkan salam sebelum dia berbicara.

Hadist-hadits yang shahih serta amalan ulama Salaf dan ulama kontemporer sudah demikian populernya menyepakati hal itu. Inilah pendapat yang dijadikan acuan dalam pasal pembahasan ini. Adapun hadits, sebagaimana yang telah kami riwayatkan didalam kitab At-Tirmidzi dari Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ucapkan salam sebelum berbicara”. Akan tetapi hadits ini dha’if. At-Tirmidzi mengatakan: “ Hadits ini  hadits munkar”. [Al-Adzkar hal.312]

24. Salam kepada pelaku maksiat dan pelaku bid’ah

Adapun pelaku maksiat, maka hendaklah mengucapkan salam kepada mereka dan menjawab salamnya ketika mereka mengucapkan salam kepada kita. An-Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwasannya seorang muslim yang tidak terkenal sebagai pelaku kefasikan dan bid’ah, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya dan wajib menjawab salamnya.” [Al-Adzkar hal.364]

Akan tetapi jika dia telah dikenali sebagai seorang pelaku maksiat dan kefasikan serta pelaku bid’ah, apakah akan dikatakan untuk meninggalkan ucapan salam kepadanya ?

Maka kita jawab: “Apabila hal itu akan memberikan mashlahat kepada pelaku maksiat tersebut yaitu dia akan meninggalkan kemaksiatan, apabila tidak diberi salam ataukah dengan tidak menjawab salamnya. Apabila hal tersebut untuk suatu kemashlahatan maka salam dapat ditinggalkan dan tidak diucapkan kepadanya agar sipelaku maksiat berhenti dari perbuatannya. Adapun jikalau yang terjadi sebaliknya, dan besar kemungkinan dalam persepsi kita, bahwa kemasiatannya akan bertambah, maka kita tidak mengapa mengucapkan salam kepadanya dan menjawab salamnya untuk meminimalisir mafsadat. Karena tidak ada mashalat yang tercapai. Dan masalah ini dasarnya kembali kepada masalah pemboikotan – yaitu kepada pelaku maksiat dan bid’ah , pent –

Sedangkan kepada  pelaku bid’ah. Sesungguhnya bid’ah sendiri terbagi menjadi dua bagian. Ada bid’ah mukafirrah (yang menyebabkan pelakunya kafir) dan yang tidak menyebabkan pelakunya kafir. Maka bagi pelaku bid’ah mukaffirah, tidak diperbolehkan mengucapkan salam kepadanya dalam keadaan apapun. Dan bagi pelaku bid’ah yang tidak menyebabkan pelakunya kafir, maka hukumnya serupa dengan hukum bagi pelaku maksiat sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

Kami akan menyadur perkataan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin tentang masalah pemboikotan terhadap pelaku bid’ah. Penjelasan beliau ditujukan kepada masalah yang berkaitan dengan mengucapkan salam kepada pelaku bid’ah. Namun masalah tersebut tidak ada perbedaannya, karena masalah pemboikotan juga mencakup peninggalan ucapan salam dan menjawabnya.

Asy-Syaikh berkata: “Adapun memboikot mereka (pelaku bid’ah) , maka itu tergantung kepada kebid’ahannya, jika bid’ahnya itu mukaffirah, maka wajib untuk memboikotnya. Akan tetapi jika bukan merupakan bid’ah mukaffirah maka pemboikotan terhadapnya bergantung terhadap mashlahat yang tercapai, jika ada maka kita melakukannya dan jika tidak terdapat mashalahat dalam pemboikotan tersebut maka kita meninggalkannya. Hal tersebut dikarenakan asal pada seorang mukmin adalah pengharaman dalam memboikotnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak halal bagi seorang mukmin untuk tidak menegur saudaranya lebih dari tiga hari”. [Fatawa Al-Aqidah hal.614]

Dalil maslaah ini adalah hadits Ka’ab bin Malik radhialahu ‘anhu yang sangat panjang ketika beliau menyelisihi tidak ikut berjihad bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan taubat beliau kepada Allah. Pada hadits tersebut Ka’ab berkata:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum muslimin untuk berbicara kepada salah seorang dari tiga orang yang telah menyelisihi beliau, maka orang-orang pun meninggalkan kami dan mereka berubah sikap mereka kepada kami. Sehingga bumi ini terasa sempit bagi, tidaklah sebagaimana yang telah saya ketahui. Kamipun berada dalam keadaan demikian sleama lima puluh malam. Adapun kedua temanku, keduanya berdiam diri dan duduk dirumah mereka berdua menangis. Sedangkan saya, saya adalah yang paling muda dan paling gigih diantara mereka. Sayapun menghadiri shalat bersama kaum muslimin, dan berada dipasar, namun tidak seorangpun yang menyapaku. Dan saya mendatangi Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau masih berada ditempat duduk beliau selepas mengerjakan shalat. Maka saya bertanya kepada diriku: Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya menjawab salamku atau tidak ? [HR. Al-Bukhari no.4418]

25. Disunnahkan untuk mengucapkan salam ketika bubar dari majelis.

Sebagaimana disunnahkannya mengucapkan salam ketika hendak mendatangi suatu majlis maka begitu pula disunnahkan untuk menyampaikan salam ketika hendak meninggalkan majlis. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Jika seseorang mendatangi majlis, maka hendaklah ia mengucapkan salam ketika hendak berdiri maka hendaknya dia mengucapkan salam. Dan salam yang pertama tidaklah lebih utama dari salam yang terakhir “ [HR. At-Tirmidzi no.2861 dan beliau berkata, “Hadits ini hasan”. Dan diriwaytakan juga oleh Abu Daud (5208), Al-Albaniy berkata hadits hasan shahih, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (1008) Dan Ath-Thahawi dalam Musykil Al-Atsar (1351) penerbit Muasasah Ar-Risalah]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

One comment on “Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Keduabelas]

  1. Ping-balik: Adab-Adab Islami | Tiga Landasan Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s