Pengantar Ilmu Bahasa Arab


Diktat Ilmu Sharaf

Diktat Ilmu Sharaf

Ilmu Bahasa Arab memiliki beberapa cabang ilmu diantaranya ilmu nahwu, ilmu manthiq, ilmu balaghoh dan ilmu ‘arudh dan lain-lain. Namun di antara sekian banyak cabang ilmu bahasa arab, ada 2 ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pemula yakni ilmu nahwu & ilmu shorof.

Dengan mempelajari ilmu nahwu & ilmu shorof insya Allah kita bisa membuat kalimat dalam bahasa arab yang benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab. Adapun ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu manthiq, ilmu balaghoh dan ilmu ‘arutd, ini sudah tidak lagi membicarakan bagaimana cara membuat kalimat yang benar dalam bahasa arab tetapi sudah sampai level bagaimana membuat kalimat yang indah, baik susunannya maupun maknanya. Jadi kita sebagai pemula, wajib untuk menguasai ilmu nahwu & ilmu shorof.

Pada dasarnya ilmu shorof adalah bagian dari ilmu nahwu. Lalu apa bedanya antara ilmu nahwu dengan ilmu shorof?

Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kedudukan kata dalam sebuah kalimat, sedang ilmu shorof adalah ilmu mempelajari perubahan kata dari suatu bentuk ke bentuk yang lain. Secara sederhana kita bisa mengatakan bahwasanya ilmu shorof itu menyediakan kata-katanya, sedangkan ilmu nahwu itu memberikan kita kaidah bagaimana cara menyusun kalimat yang benar dengan kata-kata tersebut. Termasuk di dalamnya (ilmu nahwu) bagaimana memberikan harokat yang benar karena di dalam bahasa arab perbedaan harokat bisa menyebabkan perbedaan makna.

Baiklah. Untuk kita bisa lebih memahami perbedaan antara ilmu nahwu & ilmu shorof silahkan dibuka diktat halaman 1 dari diktat Ilmu Sharaf Untuk Pemula. Di situ kita bisa mengambil contoh kalimat:

جَلَسَ زَيْدٌ

Zaid telah duduk.

Kalau kita perhatikan kalimat ini maka kita bisa melihat bagaimana peran ilmu shorof & peran ilmu nahwu dalam menyusun kalimat ini.

Ada alasan kenapa kata kerja yang dipilih adalah جَلَسَ dan adapula alasan kenapa زَيْدٌ itu memiliki harokat dhommahtain, tidak جَلَسَ زَيْدًا atau جَلَسَ زَيْدٍ.

Ada alasan juga kenapa kata جَلَسَ lebih didahulukan dari kata zaidun, bukan زَيْدٌ جَلَسَ.

Nah, yang kita bahas disini adalah nahwu karna kita mempelajari susunan kalimat, bagaimana cara kita menempatkan suatu kata dalam suatu kalimat.

Adapun ilmu shorof dalam susunan kalimat ini (جَلَسَ زَيْدٌ) memberikan peran dalam kata جَلَسَ ini.

Kenapa yang dipilih adalah جَلَسَ, padahal kata جَلَسَ itu memiliki 14 bentuk, ada bentuk جَلَسْتُ (saya telah duduk),ada جَلَسْتَ (kamu telah duduk), sedangkan جَلَسَ itu adalah kata kerja orang ketiga tunggal laki-laki.

Nah, kita mempelajari perubahan bentuk jalasa جَلَسَ menjadi jalasta جَلَسْتَ,menjadi jalastu جَلَسْتُ atau bentuk lainnya dalam ilmu shorof.

Contoh ke 2, untuk kita lebih memahami perbedaan ilmu nahwu dengan shorof, kita gunakan kata  ألـْحَمْدُ sebagai contoh. Di dalam AlQur’an kita kadang menjumpai ألـْحَمْدُ dibaca dengan dhomah (alhamdu) yaitu pada Alfatihah الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin).

Namun di kesempatan lain kata ini dibaca dengan الحَمْدَ (`lhamda), kita sering mendengar para khatib membuka khutbahnya dengan إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ (innal hamda lillahi). Kita perhatikan bahwa dalam kata alhamd pada kalimat pembuka khutbah ini dibaca dengan harokat fathah, bukan dhommah sebagaimana yang di Alfatihah.

Di lain kesempatan kita melihat seorang ulama, Al Imam Baiquni (pengarang kitab hadits), beliau memulai kitabnya dengan mengatakan أَبْدَأُ بِالْحَمْدِ (abda-u bil hamdi), beliau membaca alhamd dengan kasroh.

Nah, perbedaan penyebutan harokat dari alhamdu, alhamda dan alhamdi pada 3 contoh yang sudah saya jelaskan tadi, ini dibahas dalam ilmu nahwu. Karna dalam ilmu nahwu harokat itu sangatlah penting bahkan perbedaan harokat bisa menyebabkan perbedaan makna, contohnya misalkan kalau kita membuat kalimat sebagai berikut :

ضَرَبَ زَيْدٌ بَكْرًا

Kalau kita membaca kalimat dengan dhoroba zaidun bakron maka maknanya adalah Zaid memukul Bakr, akan tetapi jika kita membacanya dengan:

ضَرَبَ زَيْدًا بَكْرٌ

maka ini maknanya adalah Bakr memukul Zaid.

Kita perhatikan bahwa perbedaan harokat bisa merubah pelaku menjadi korban atau objek.

Nah, pembahasan lebih detail tentang hal ini insyaAllah akan dibahas dalam ilmu nahwu. Ini adalah pengaplikasian ilmu nahwu.

Selanjutnya kita akan melihat pengaplikasian ilmu shorof. Kita masih menggunakan kata yang tersusun dari ha,min dan dal. Sering kita menjumpai banyak kata yang tersusun dari huruf ha,mim & dal dan semua kata ini memiliki akar makna yang sama yakni tidak jauh dari arti pujian.

Contoh pada Alfatihah:

ألْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

( Segala puji bagi Allah, rabb seluruh alam)

Kemudian kita sering mendengar istilah tahmid (تَحْمِيْدـ) kata ini yang tidak jauh maknanya dari kata pujian. Tahmid adalah bentuk istilah dzikir dari alhamdulilaah,

Kemudian nama Rasul kita adalah Muhammad مُحَمَّد, lihat… ada unsur ha, mim & dal dalam Muhammad yang artinya adalah orang yang dipuji/orang yang terpuji.

Kemudian Rasulullah dinamai dengan Ahmad أَحْمَدُ, lihat…ada unsur ha, mim & dal dalam kata tersebut, dan ahmad ini maknanya orang yang paling terpuji.

Kemudian kita sering melihat nama-nama islami yang digunakan kaum muslimin seperti contoh Hamid (حَامِدُ) dan maknanya orang yang memuji.

Kemudian kita sering mendengar nama Mahmud (مَحْمُوْدُ) adalah artinya orang yang dipuji.

Kita pernah mendengar nama Hamdi (حَمْديِ) dan maknanya adalah pujianku.

Kita bisa melihat bahwa huruf ha, mim dan dal punya banyak variasi kata. Inilah yang dibahas di dalam ilmu shorof.

Kesimpulannya,

Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari susunan kalimat baik harokatnya maupun letaknya.

Adapun ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk dari suatu kata ke bentuk yang lainnya.

Ilmu nahwu & ilmu shorof ini sering disebut para ulama dengan istilah ilmu alat karna memang ilmu ini adalah alat atau kunci membuka cakrawala islam, kunci mempelajari seluruh cabang ilmu islam. Tidak mungkin kita bisa mempelajari ilmu tafsir dengan baik kecuali setelah mempelajari bahasa arab, tidak mungkin kita bisa mempelajari hadits dengan baik kecuali setelah mempelajari bahasa arab, tidak mungkin kita bisa memahami lautan ilmu yang luas dari para ulama yang bisa kita jumpai pada kitab-kitab mereka kecuali setelah kita mempelajari bahasa arab.

Benarlah perkataan seorang penyair yang mengatakan:

أَلنَّحْوُ أَوْلَى أَوَّلًا أَنْ يُعْلَمَ * إِذِ الْكَلاَمُ دُوْنَهُ لَنْ يُفْهَمَ

Ilmu nahwu (yang mencakup ilmu shorof) adalah ilmu pertama yang paling utama untuk dipelajari karna perkataan (baik perkataan Allah dalam Alqur’an, perkataan Rasulullah dalam haditsnya, perkataan ulama dalam kitab-kitabnya, tidak dapat dipahami kecuali setelah kita memahami ilmu nahwu & ilmu shorof).

Oleh karna itu yaa ikhwah, marilah kita berdo’a kepada Allah supaya kita diberi kemudahan untuk mempelajari ilmu nahwu&ilmu shorof.

Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin
—-
Ini adalah versi tertulis dari audio dars 1 Kelas Sharaf Program BISA yang ditulis oleh Ukh Maya, Kelas 3 B Akhawat.. Jazaahallah khairal jazaa

Artikel http://www.programbisa.com dengan sedikit penyesuaian.

Mari Bergabung di Program BISA

Klik Untuk Mendaftar!

Iklan

2 comments on “Pengantar Ilmu Bahasa Arab

  1. Ping-balik: Belajar Bahasa Arab | Tiga Landasan Utama

  2. Ping-balik: Mengenal Jenis-Jenis Kata dalam Bahasa Arab | Tiga Landasan Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s