Rukun Keempat : Shiyam | Yang Dibolehkan Bagi Yang Berpuasa


HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN DALAM PUASA

Orang yang berpuasa dibolehkan melakukan berikut

1. Berendam atau menyelam dalam air atau menyiramkan air ke tubuh karena cuaca sangat panas. Berdasarkan ucapan Aisyah

أنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصبِحُ جُنُبًا وَ هُوَ صَائِمٌ ثُمَّ يَغتَسِلُ

“Bahwa Nabi di waktu Shubuh berada dalam keadaan junub sedang beliau berpuasa kemudian beliau mandi. “ (Muttafaq `alaih)

Begitu juga sebagaimana yang dilakukan Rasulullah

يَصُبُّ عَلَى رَأسِهِ الـمَاءَ وَ هُوَ صَائِمٌ مِنَ العَطَشِ أو مِنَ الحَرِّ

“Beliau mengguyurkan air ke atas kepalanya sewaktu ia berpuasa, disebabkan haus atau kepanasan” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan lain-lain. Hadits ini shahih)

2. Dibolehkan pada waktu Shubuh masih dalam keadaan junub (bersetubuh sebelum Shubuh dan ketika datang waktu Shubuh dia belum mandi, pen.). Berdasarkan hadits Aisyah di atas. Padahal kejadian tersebut pada puasa Ramadhan.

3. Makan, minum dan bersenggama pada malam hari sehingga terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi

إنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيلٍ فَكُلُوا وَ اشرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابنُ أُمِّ مَكتُوم

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada waktu malam, maka makan dan minumiah kamu sanpai terdengar adzan Ibnu Umi Maktum.” (Muttafaq `alaih)

4. Wanita-wanita yang haidh dan nifas jika darah mereka terhenti di waktu malam, boleh baginya menangguhkan mandi hingga waktu Subuh. Dan mulai pagi itu keduanya berpuasa, kemudian hendaknya keduanya mandi untuk melaksanakan shalat.

5. Bersiwak atau menggosok gigi baik pada pagi atau sore hari. Ini menurut jumhur para imam dan sahabat-sahabatnya. Bendasarkan keumuman dalil dalam hukum siwak yakni mustahab dan tidak adanya kekhususan untuk waktu tertentu.

Adapun hadits yang menyebutkan makruh bersiwak atau menggosok gigi bagi orang yang berpuasa setelah zawal (tergelincirnya matahari) pada ulama sepakat menyatakan hadits tersebut dhaif.

6. Bepergian untuk keperluan yang mubah. Meskipun perjalanannya itu memaksanya untuk berbuka.

7. Berobat dengan obat-obatan yang halal, dimana obat tersebut tidak dimasukkan ke dalam mulut, seperti suntikan yang tidak mengenyangkan.

8. Mengunyah dan mencicipi makanan dengan syarat tidak masuk ke dalam tenggorokan.

9. Memakai minyak wangi, asap pewangi dan mencium bau wangi-wangian.

Sumber : Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Lihat Juga :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s