Rukun Keempat : Shiyam | Hal-hal Yang Membatalkan Puasa


HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Terdapat beberapa hal yang dapat membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha saja dan terdapat beberapa hal yang dapat membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha serta kafarat.

A. Hal-hal yang membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha saja.

1. Makan dan minum dengan sengaja. Jika ia makan atau minum karena lupa atau terpaksa maka ia tidak wajib qadha,  berdasarkan sabda Rasulullah:

مَن نَسِيَ وَ هُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أو شَرِبَ فَليُتِمَّ صَومَهُ فَإنَّمَا أطعَمَهُ اللهُ وَ سَقَاهُ

“Barangsiapa yang lupa padahal ia berpuasa lalu ia makan atau minum maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena ia diberi makan dan minum oleh Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Seseorang yang makan atau minum atau bersenggama, karena ia menduga bahwa matahari telah terbenam, kemudian ternyata dugaannya itu salah yaitu masih siang.

3. Sesuatu yang masuk ke dalam rongga karena berlebih-lebihan ketika berkumur dan istinsyak (memasukkan air ke dalam hidung) apabila padahal ia sadar kalau sedang berpuasa, dan begitu juga memasukkan makanan ke lubang atau rongga seperti infus yang dapat menyegarkan tubuh dan untuk memasukkan makanan.

4. Memasukkan sesuatu yang tidak biasa dijadikan makanan ke dalam rongga yang biasa digunakan yaitu mulut seperti memasukkan garam yang banyak.

5. Mengeluarkan air mani dalam keadaan sadar baik dengan onani, bersenggama, mencium atau memandang terus menerus (sehingga timbul syahwat). Adapun keluar mani karena mimpi maka tidak membatalkan puasa, karena tidak adanya  unsur kesengajaan dan orang yang berpuasa tersebut.

6. Muntah dengan sengaja, yaitu mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Adapun orang yang didesak muntah atau terpaksa muntah, hal ini tidak merusak puasanya, berdasarkan sabda Rasulullah:

مَن ذَرَعَهُ -أي غَلَبَهُ- القَيءُ وَ هُوَ صَائِمٌ فَلَيسَ عَلَيهِ قَضَاءٌ، وَ مَنِ استَقَاءَ فَليَقضِ

Barangsiapa didesak oleh muntah padahal ia sedang berpuasa, maka ia tidak wajib mengqadha dan barangsiapa menyengaja muntah hendaklah ia mengqadha.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan lain-lain. Hadits ini shahih)

7. Membatalkan niat berpuasa. Barangsiapa berniat berbuka padahal ia berpuasa, batallah puasanya meskipun ia tidak  mengerjakan hal-hal yang membatalkan.

8. Murtad atau keluar dari Islam, ia kembali ke agama semula. Berdasarkan firman Allah:

 وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.. ” (Az-Zumar: 65)

B. Hal-hal yang membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha serta kaffarat

Bersenggama dengan sengaja tanpa unsur paksaan. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah:

أن أبا هريرة رضي الله عنه قال بينما نحن جلوس عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ جاءه رجل فقال يا رسول الله هلكت قال ما لك قال وقعت على امرأتي وأنا صائم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هل تجد رقبة تعتقها قال لا قال فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا فقال فهل تجد إطعام ستين مسكينا قال لا قال فمكث النبي صلى الله عليه وسلم فبينا نحن على ذلك أتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيها تمر والعرق المكتل قال أين السائل فقال أنا قال خذها فتصدق به فقال الرجل أعلى أفقر مني يا رسول الله فوالله ما بين لابتيها يريد الحرتين أهل بيت أفقر من أهل بيتي فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه ثم قال أطعمه أهلك

Seorang laki-laki datang menemui Nabi dan berkata: ‘Celakalah saya wahai Rasulullah’. Nabi bertanya: ‘Apa yang mencelakakanmu?‘ la menjawab: ‘Saya mencampuri isiri saya pada bulan Ramadhan’. Maka Nabi bertanya: ‘Adakah padamu sesuatu untuk memerdekakan budak?‘ Laki-laki itu menjawab: ‘Tidak’. Nabi bertanya: Apakah kamu sangsup berpuasa dua bulan berturut-turut?‘. ‘Tidak’s, ujarnya. Nabi bertanya lagi:  ‘Adakah kamu mempunyai makanan untuk diberikan kepada 60 orang miskin?‘ Ia menjawab: ‘Tidak’. Laki-laki itupun duduk kemudian dibawa seseorang kepada Nabi satu bakul besar (± 15 sha) berisi kurma, Nabi bersabda:  ‘sedekahkanlah ini’. Laki-laki itu bertanya: ‘sedekah kepadaorang yang lebih miskin dari kami? Demi Allah, tidak ada di daerah yang terletak di antara tanah yang berbatu-batu hitam itu (antara ujung/pinggiran kota Madinah) keluarga yang lebih membutuhkannya dari kami’. Maka Nabi pun tertawa hingga kelihatan gerahamnya, kemudian bersabda: ‘Pergilah, berikanlah makanan ini kepada keluargamu‘. ” (Muttafaq ‘alaih)

Kaffarat adalah memerdekakan seorang budak yang beriman, kalau tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-huut, kalau tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin dari jenis makanan yang biasa diberikannya kepada keluarganya.

Kaffarat hendaknya dilakukan dengan menurut urutan seperti di atas, dan tidak boleh berganti atau memilih dari satu ke yang lain kecuali jika ia tidak mampu. Dan makanan yang diberikan kepada setiap orang miskin adalah sebanyak satu mud gandum atau sama sesuai dengan kemampuan. Dan banyaknya membayar kaffarat sesuai dengan jumlah penyimpangan yang dilakukan. Barangsiapa yang bersenggama dalam suatu hari dan ia belum membayar kaffarat kemudian berjima’ di hari lain pada bulan itu juga maka ia wajib membayar dua kali kaffarat. Namun pendapat yang paling mendekati adalah cukup dengan satu kali kaffarat.

Sumber : Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Lihat Juga :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s