Penjelasan Qowa’idul Arba’ | Kaidah 2 : Kaum Musyrikin Menginginkan Qurbah dan Syafa’at


القاعدة الثانية : أنهم يقولون: ما دعوناهم وتوجهنا إليهم إلا لطلب القربة والشفاعة.

فدليل القربة قوله تعالى: { وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ} (الزمر آية 3.)

ودليل الشفاعة قوله تعالى: { وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ } (يونس آية 18. )

والشفاعة شفاعتان: (1) شفاعة منفية. (2) وشفاعة مثبته.

فالشفاعة المنفية: ما كانت تطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلا الله. والدليل قوله تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ } (البقرة 254. )

والشفاعة المثبتة: هي التي تطلب من الله والشافع مكرم الشفاعة، والمشفوع له من قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: { مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ } (البقرة آية 255. )

Kaidah yang kedua : Bahwasanya mereka menyatakan : “Tidaklah kami berdo’a kepada mereka dan menghadap kepada mereka kecuali untuk mencari qurbah (kedekatan) dan syafa’at (di sisi Allah -ed). 

Dalil bahwasanya mereka menginginkan qurbah (kedekatan) adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala- : [وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ] Artinya : “dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata) : “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar : 3)

Dan dalil bahwasanya mereka menginginkan syafa’at adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala- : [وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ] Artinya : “Dan mereka menyembah selain dari Alloh apa yang tidak mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Alloh” (Yunus : 18)

Syafa’at itu ada dua, yakni syafaat manfiyyah dan syafaat mutsbitah.

  1. Syafaat manfiyyah (dinafikan/ditiadakan/ditolak) adalah syafaat yang diminta dari selain Alloh -subhanahu wa ta’ala- dalam perkara yang tidak mampu atasnya kecuali Alloh -subhanahu wa ta’ala-, dalilnya adalah firman Alloh -‘azza wa jalla- : [يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ] Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (dijalan Alloh) sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al Baqarah : 254)
  2. Syafaat mutsbitah (ditetapkan) adalah syafaat yang diminta dari Alloh -subhanahu wa ta’ala-, dan yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat, sementara yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Alloh -subhanahu wa ta’ala- baik ucapan maupun amalannya setelah (mendapat) izin, sebagaimana firman Alloh -subhanahu wa ta’ala- : [مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ] Artinya : “Tiada yang dapat memberi syafaat disisi Alloh tanpa seizin-Nya” (Al Baqarah : 255)

 


SYARAH :

Setelah sebelumnya Syaikh menjelaskan kaidah pertama dalam masalah tauhid dan syirik ini yang harus kita pahami dengan baik, yakni bahwasanya orang-orang musyrikin mengetahui dan meyakini bahwasanya Pencipta, Pengatur, Pemilik dan Penguasa alam semesta adalah Allah semata namun meskipun demikian mereka tetap didakwahi bahkan diperangi oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para Shahabatnya -radhiyallahu ‘anhum-. Hal tersebut karena mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada sesembahan  selain Allah disamping ibadah mereka kepada Allah.

Pada kaidah yang kedua ini Syaikh ingin menjelaskan bentuk ibadah dan tujuan dari ibadah yang mereka lakukan serta keyakinan mereka terhadap sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Dan pada kaidah selanjutnya (kaidah ketiga) -insya Allah- akan dijelaskan tentang siapakah yang dijadikan sesembahan oleh kaum musyrikin.

Kaidah yang kedua ini berisi penjelasan tentang keadaan orang-orang musyrikin dalam ibadah-ibadah yang mereka lakukan; Mereka beribadah kepada tuhan-tuhan lain bersamaan dengan Ibadah mereka kepada Allah. Apakah yang mereka maksudkan/inginkan dengan ibadah tersebut ? Apakah kaum musryikin menganggap bahwa sesembahan mereka itu adalah tuhan-tuhan yang berdiri sendiri ataukah sesembahan-sesembahan mereka itu hanya sebatas sebagai perantara?

Jawabannya telah disinggung pada penjelasan kaidah yang pertama. Ucapan mereka ketika bertalbiyah mengisyaratkan bahwa mereka meyakini bahwa para sesembahan mereka berada dibawah kekuasaan Allah. Allah berkuasa penuh atas para sesembahan itu. Hanya saja mereka beribadah kepada para sesembahan itu karena kaum musyrikin menganggap bahwa para sesembahan itu memiliki kedudukan disisi Allah, karena para sesembahan itu adalah orang yang shalih. Sehingga mereka meyakini -dengan keyakinan yang rusak- bahwa para sesembahan itu bisa menjadi perantara antara mereka dan Allah.

Syaikh mengatakan bahwa tujuan dari ibadah mereka itu hanya dua : mencari kedekatan kepada Allah (qurbah) dan mencari syafa’at di sisi Allah. Mereka menginginkan agar sesembahan mereka itu mengangkat derajat mereka dan mendekatkan mereka kepada Allah, serta meminta kepada sesembahan mereka agar memberikan syafa’at untuk mereka di sisi Allah. Inilah yang mereka inginkan dari ilah-ilah (sesembahan) mereka tersebut.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata) : “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar : 3]

Sesungguhnya orang-orang musyrik, mereka dinamakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- sebagai kaum musyrikin, dan Allah -subhanahu wa ta’ala- menghukumi mereka kekal di neraka, mereka ini tidak berbuat syirik dalam rububiyyah tetapi berbuat syirik dalam uluhiyyah (ibadah).

Kaum musyrikin tidak menyatakan bahwa para sesembahan yang mereka sembah memberi rezeki bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, memberikan manfaat atau bahaya, dan mengatur (alam semesta ini-pent) bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, hanya saja mereka menjadikan tuhan-tuhan tersebut sebagai perantara antara mereka dan Allah.

Tentang tujuan mereka yang pertama, yaitu mereka menginginkan agar sesembahan mereka tersebut mendekatkan mereka kepada Allah, Syaikh rahimahullah berkata “Dalil yang menunjukkan bahwasanya mereka menginginkan kedekatan adalah firman Allah ta’ala :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

dan orang-orang yang mengambil wali-wali (pelindung) selain Alloh (berkata) : “kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar [Az-Zumar : 3]

Firman Allah, Dan orang-orang yang mengambil wali-wali selain Allah yang dimaksud wali-wali disini adalah tuhan-tuhan (akan datang penjelasannya pada kaidah ketiga, insya Allah). Kami tidak menyembah mereka, kecuali, maksudnya, mereka (kaum musyrikin) berkata tentang ibadah mereka itu : “Kami itdak menyembah tuhan-tuhan/wali-wali itu, kecuali…”, kata “kecuali” di sini adalah untuk pembatasan. Mereka berkata “Kami tidak menyembah tuhan/tuhan tersebut kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” maksudnya, tidaklah kami menyembah mereka itu karena tujuan-tujuan atau maksud-maksud tertentu, kami hanya menginginkan agar mereka dapat mendekatkan kami kepada Allah.

Maka mereka membatasi tujuan mereka pada usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, mereka menginginkan apa yang ada pada Allah (bukan apa yang ada pada tuhan-tuhan itu -pent). Hal ini karena mereka meyakini rububiyah Allah, kekuasaan Allah di alama semesta ini.

Maka yang sebenarnya terjadi tatkala mereka menghadap/beribadah kepada ilah-ilah (tuhan-tuhan) mereka yang bathil tersebut adalah mereka menginginkan apa yang ada di sisi Allah. Inilah yang sejatinya mereka inginkan. Mereka menjadikan ilah-ilah yang bathil tersebut sebagai perantara antara mereka dan Allah.

Yang mereka inginkan adalah kedekatan, terus mendekat dan semakin mendekat kepada Allah (melalui perantaraan ilah-ilah tersebut -pent). Allah berfirman tentang mereka : dan orang-orang yang mengambil wali-wali (pelindung) selain Alloh (berkata) : “kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.” maka jelaslah bahwa mereka dengan hal tersebut menginginkan kedekatan kepada Allah.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwasanya maksud dan keinginan yang mereka inginkan dari ibadah mereka kepada ilah-ilah yang bathil tersebut adalah mereka menginginkan agar ilah-ilah yang bathil tersebut menjadi pemberi syafa’at bagi mereka di hadapan Allah.  Syaikh -rahimahullah- berdalil dengan FirmanNya :

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami disisi Allah” (Yunus : 18)

Perhatikanlah firman Allah “..apa-apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan..”; Mereka mengetahui bahwa tuhan-tuhan mereka tidak dapat medatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi kemanfaatan.

Tapi kenapa mereka tetap menyembah dan mempersembahkan berbagai ibadah untuk ilah-ilah tersebut? Jawabannya, karena mereka menganggap bahwa tuhan-tuhan itu adalah sebagai pemberi syafa’at untuk mereka, yaitu perantara di sisi Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka menyembelih dan bernadzar untuk tuhan-tuhan tersebut. Hal itu mereka lakukan bukan karena meyakini ilah-ilah tersebut sebagai pencipta atau pemberi rezki, mampu mendatangkan kemanfaatan atau kemudharatan, namun mereka menjadikan sesembahannya itu sebagai perantara dan pemberi syafa’at bagi mereka disisi Allah -subhanahu wa ta’ala-,  inilah aqidah orang-orang musyrik.

Dan ketika engkau membantah kuburiyyun (penyembah kubur) saat ini, niscaya mereka akan menyatakan ucapan yang sama. Dia akan berkata Saya tahu bahwa wali atau orang shalih ini tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudharat, tetapi aku mengininkan darinya syafa’at bagiku di sisi Allah -subhanahu wa ta’ala-.”.  Allaahu Akbar!

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.Com

Sumber :

  • Mengapa Islam Membenci Syirik? (Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan)
  • Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumayyis dari Maktabah Raudhatul Muhibbin
  • Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh
  • Catatan Kajian Syarah Qawa’idul Arba’ – Ustadz Dzulqarnain
Iklan

One comment on “Penjelasan Qowa’idul Arba’ | Kaidah 2 : Kaum Musyrikin Menginginkan Qurbah dan Syafa’at

  1. Ping-balik: 4 Kaidah Untuk Memahami Tauhid dan Syirik [القواعد الأربع] | Tiga Landasan Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s