Sirah Nabawiyah | Berdakwah Secara Terang-Terangan #6


Bentuk-Bentuk Pelecehan mereka terhadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Kaum Quraisy membatalkan sikap pengagungan dan penghormatan yang dulu pernah mereka tampakkan terhadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam semenjak munculnya dakwah Islamiyyah di lapangan. Memang, sungguh sulit merubah sikap yang terbiasa dengan kebengisan dan kesombongan untuk berlama-lama sabar, maka dari itu, mereka mulai mengulurkan tangan permusuhan terhadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Sebagai implementasinya, mereka melakukan berbagai bentuk ejekan, hinaan, pencemaran nama baik, pengaburan, keusilan dan lain sebagainya.

Tentunya, sudah lumrah bila yang pertama-tama menjadi ujung tombaknya adalah Abu Lahab sebab dia adalah seorang kepala suku Bani Hasyim. Dia tidak pernah memikirkan pertimbangan apapun sebagaimana yang selalu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Dia adalah musuh bebuyutan Islam dan para pemeluknya.

Sejak pertama, dia sudah menghadang Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sebelum kaum Quraisy berkeinginan melakukan hal itu. Kita telah membahas bagaimana prilaku mereka terhadap Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam di majlis Bani Hasyim dan di bukit Shafa.

Sebelum beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam diutus, Abu Lahab telah mengawinkan kedua anaknya; ‘Utbah dan ‘Utaibah dengan kedua putri Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam; Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Namun tatkala beliau diutus menjadi Rasul, dia memerintahkan kedua anaknya tersebut agar menceraikan kedua putri beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan cara yang kasar dan keras, hingga akhirnya terjadilah perceraian itu.

Ketika ‘Abdullah, putra kedua Rasulullah wafat, Abu Lahab amat gembira dan menyampiri semua kaum Musyrikin untuk memberitakan perihal Muhammad yang sudah menjadi Abtar (orang yang terputus/buntung). Terhadapnya Allah Ta’ala menurunkan ayat 3, surat al-Kautsar –red.

Sebagaimana dalam bahasan terdahulu, bahwa Abu Lahab selalu menguntit di belakang Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam saat musim haji dan di pasar-pasar sebagai upaya mendustakannya. Dalam hal ini, Thariq bin ‘Abdullah al-Muhariby meriwayatkan suatu berita yang intinya bahwa yang dilakukannya tidak sekedar mendustakan Rasulullah, akan tetapi lebih dari itu, dia juga memukul beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan batu hingga kedua tumit beliau berdarah.

Isteri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan, tidak kalah frekuensi permusuhannya terhadap Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dibanding sang suami. Dia pernah membawa dedurian dan menebarkannya di jalan yang dilalui oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bahkan juga, di depan pintu rumah beliau pada malam harinya. Dia adalah sosok perempuan yang judes. Lisannya selalu dijulurkan untuk mencaci beliau, mengarang berita dusta dan berbagai isu, menyulutkan api fitnah serta mengobarkan perang membabibuta terhadap Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itulah, al-Qur’an menyifatinya dengan Hammaalatal Hathab (wanita pembawa kayu bakar).

Ketika dia mendengar ayat al-Qur’an yang turun mengenainya dan suaminya, dia langsung mendatangi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang sedang duduk-duduk bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia telah membawa segenggam batu ditangannya, namun ketika dia berdiri di hadapan keduanya, Allah membutakan pandangannya dari beliau sehingga dia tidak melihat selain Abu Bakar, lantas dia berkata: “Wahai Abu Bakar! Mana shahabatmu itu? Aku mendapat berita bahwa dia telah mengejekku. Demi Allah! andai aku menemuinya niscaya akan aku tampar mulutnya dengan segenggam batu ini. Demi Allah! Bukankah sesungguhnya aku ini seorang Penyair?“. Kemudian dia menguntai bait berikut (artinya):

مُذَمَّما عصينا * وأمره أبينا * ودينه قَلَيْنا

Si tercela yang kami tentang, Urusannya yang kami tolak, Diennya yang kami benci

Kemudian dia berlalu. Setelah kepergiannya, Abu Bakar lantas berkata: “Wahai Rasulullah! Adakah engkau melihatnya dapat melihatmu?“. Beliau menjawab: “Dia tidak dapat melihatku. Sungguh! Allah telah membutakan pandangannya dariku“.

Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan kisah diatas. Di dalamnya disebutkan bahwa ketika dia berdiri di hadapan Abu Bakar, dia berkata: “Wahai Abu Bakar! Shahabatmu itu telah mengejek kami“. Abu Bakar menjawab: “Tidak, demi Rabb bangunan ini (Ka’bah)! Dia tidak pernah berbicara dengan memakai sya’ir ataupun melantunkannya“. Dia menjawab: “Sungguh! apa yang engkau ucapkan memang benar“.

Demikianlah yang dilakukan oleh Abu Lahab padahal beliau adalah paman beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam sekaligus tetangganya, rumahnya menempel dengan rumah beliau. Sama seperti tetangga-tetangga beliau yang lain yang selalu mengganggu beliau padahal beliau tengah berada di dalam rumah.

Ibnu Ishaq berkata: “Mereka yang selalu mengganggu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di rumah tersebut adalah Abu Lahab, al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, ‘Adiy bin Hamra’ ats-Tsaqafy dan Ibnu al-Ashda’ al-Hazaly. Semuanya adalah tetangga-tetangga beliau namun tak seorangpun diantara mereka yang masuk Islam kecuali al-Hakam bin Abi al-‘Ash. Salah seorang diantara mereka ada yang melempari beliau dengan rahim kambing saat beliau tengah melakukan shalat. Yang lain lagi, bila priuk milik beliau -yang terbuat dari batu- tengah dipanaskan, pernah memasukkan bangkai tersebut ke dalamnya. Hal ini, membuat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mamasang tabir agar dapat terlindungi dari mereka manakala beliau tengah melakukan shalat. Bila usai mereka melakukan hal itu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam membawanya keluar dan meletakkannya diatas sebatang ranting, kemudian berdiri di depan pintu rumahnya lalu berseru: “Wahai Bani ‘Abdi Manaf! Tetangga-tetangga model apa yang begini kelakuannya?“. Kemudian barang tersebut beliau lempar ke jalan.

‘Uqbah bin Abi Mu’ith malah melakukan hal yang lebih buruk dan busuk dari itu lagi. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu ‘anhu bahwa pernah suatu hari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di sisi Baitullah sedangkan Abu Jahal dan rekan-rekannya tengah duduk-duduk. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Siapa diantara kalian yang akan membawa kotoran onta Bani Fulan lalu menumpahkannya ke punggung Muhammad saat dia sedang sujud?“. Maka bangkitlah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, sosok yang paling sangar diantara mereka, membawa kotoran tersebut sembari memperhatikan gerak-gerik Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Tatkala beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam beranjak sujud kepada Allah, dia menumpahkan kotoran tersebut ke arah punggungnya diantara dua bahunya. Aku (Ibnu Mas’ud-red) memandangi hal itu dan ingin sekali melakukan sesuatu andai aku memiliki perlindungan (suaka). Lalu mereka tertawa sambil masing-masing saling mencolek dan memiringkan badan satu sama lainnya dengan penuh kesombongan dan keangkuhan sedangkan Rasulullah masih sujud. Beliau tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fathimah datang dan membuang kotoran tersebut dari punggung beliau, barulah beliau mengangkat kepala, kemudian berdoa: [‏اللهم عليك بقريش‏] ‘Ya Allah! berilah balasan (setimpal) kepada kaum Quraisy tersebut’. Beliau mengucapkannya tiga kali. Doa beliau ini menyesakkan hati mereka. Dia (Ibnu Mas’ud-red) bertutur lagi: ‘mereka menganggap bahwa berdoa di negeri itu (Mekkah) adalah mustajabah. Kemudian dalam doanya tersebut, beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama mereka satu per-satu: [‏اللهم عليك بأبي جهل، وعليك بعتبة بن ربيعة، وشيبة بن ربيعة، والوليد بن عتبة، وأمية بن خلف، وعقبة بن أبي معيط‏] ‘ Ya Allah! binasakanlah Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith – Ibnu Mas’ud menyebutkan yang ke tujuh namun tidak mengingat namanya – . Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya! Sungguh aku telah melihat orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tewas mengenaskan di al-Qalib , yaitu kuburan di Badar, Madinah”. Adapun nama orang yang ke tujuh tersebut adalah ‘Imarah bin al-Walid.

Lain lagi yang dilakukan oleh Ummayyah bin Khalaf; bila melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, dia langsung mengumpat dan mencelanya. Karenanya, turunlah terhadapnya ayat:

‏وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ‏

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat (al-Humazah) lagi pencela”. (Q.S. 104/al-Humazah: 1).

Ibnu Hisyam berkata: “kata al-Humazah maknanya adalah orang yang mencemooh seseorang secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling, memain-mainkan kedua matanya sambil mengerdipkannya, sedangkan kata al-Lumazah maknanya adalah orang yang mencela manusia secara sembunyi dan menyakiti hati mereka”.

Sama halnya dengan saudara laki-lakinya, Ubay bin Khalaf; mereka berdua seiring dan sejalan. Suatu ketika, ‘Uqbah duduk di majlis Nabi sembari mendengarkan dakwahnya, namun manakala berita tersebut sampai ke telinga Ubay; dia langsung mencaci dan mencemooh saudaranya tersebut serta memintanya agar meludah ke wajah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam , maka diapun melakukannya. Sementara Ubay sendiri juga tidak mau kalah, dia menumbuk tulang belulang yang ada hingga remuk redam lalu meniupkannya ke angin yang berhembus ke arah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Bentuk pelecehan lainnya adalah apa yang diperbuat oleh al-Akhnas bin Syuraiq at-Tsaqafy yang selalu mengerjai Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Untuk itu, al-Qur’an menyifatinya dengan sembilan sifat yang menyingkap perangainya, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ مَنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ‏

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (10). Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah (11). Yang enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa (12). Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya (13)”. (Q.S. 68/al-Qalam: 10-13).

Demikian pula dengan Abu Jahal, terkadang dia datang kepada Rasulullah dan mendengarkan al-Qur’an, kemudian berlalu namun hal itu tidak membuatnya beriman, tunduk, sopan apalagi takut. Bahkan dia menyakiti Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan perkataannya, menghadang jalan Allah, berlalu lalang dengan angkuh memproklamirkan apa yang diperbuatnya dan bangga dengan kejahatan yang dilakukannya tersebut seakan sesuatu yang enteng saja. Terhadapnya turunlah ayat:

‏فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى‏

“Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat… dst”. (QS. 75/al-Qiyaamah: 31- dst).

Dia selalu mencegah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat sejak pertama kali melihat beliau melakukannya di Masjid al-Haram. Suatu kali, dia melewati beliau yang sedang melakukan shalat di sisi Maqam (nabi Ibrahim ‘alaihissalaam-red), lalu berkata: “wahai Muhammad! Bukankah sudah aku larang engkau melakukan ini?“. Dia mengancam beliau, mengasari serta membentaknya. Dia berkata kepada beliau: “wahai Muhammad! Dengan apa engkau akan mengancamku?Demi Allah! bukankah sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak memanggil (berdoa) di lembah ini (Mekkah)”. Maka turunlah ayat:

‏فَلْيَدْعُ نَادِيَه سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ‏

“Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),[17]. kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,[18] “. (Q.S.96/al-‘Alaq: 17-18).

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mencengkeram lehernya dan menggoyang-goyangkannya sembari membacakan firman Allah:

‏أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى ثُمَّ أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى‏

“Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,[34]. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.[35]”. (Q.S. 75/al-Qiyaamah: 34-35).

Lantas musuh Allah itu berkata: “Engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi Allah! engkau dan TuhanMu tidak akan sanggup melakukan apapun. Sesungguhnya aku-lah seperkasa orang yang berjalan diantara dua gunung di Mekkah ini!”.

Sekalipun sudah membentak-bentak tersebut, Abu Jahal tidak pernah kapok dari kedunguannya bahkan semakin blingsatan saja. Berkaitan dengan ini, Imam Muslim mengeluarkan dari Abu Hurairah, dia berkata: “Abu Jahal berkata: ‘Apakah Muhammad sujud dan menempelkan jidatnya di tanah (shalat) di depan batang hidung kalian?“. Salah seorang menjawab: “ya, benar!“. Dia berkata lagi: “demi al-Laata dan al-‘Uzza! Sungguh aku akan menginjak-injak lehernya dan membenamkan mukanya ke tanah!“. Tak berapa lama, datanglah Rasulullah lalu melakukan shalat. Abu Jahal sebelumnya mendakwa akan menginjak-injak lehernya, namun sebaliknya, yang terjadi sungguh mengagetkan mereka; dia tidak jadi bergerak maju dan malah menutupi kedua tangannya untuk berlindung. Mereka lalu bertanya: “wahai Abu Jahal! Ada apa gerangan denganmu?“. Dia menjawab: “Sesungguhnya ada parit dari api, sesuatu yang menakutkan dan sayap-sayap yang mengantarai aku dan dia“. Kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata:  [‏لو دنا منى لاختطفته الملائكة عضوًا عضوًا] “andai dia sedikit lagi mendekat kepadaku, niscaya tubuhnya akan disambar malaikat dan terkoyak satu per-satu”.

Demikianlah gambaran yang amat mini sehubungan dengan bentuk-bentuk pelecehan dan penganiayaan yang dialami oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin dari para Thaghut kaum Musyrikin yang mendakwa bahwa mereka adalah Ahlullah (Kekasih Allah) dan penduduk tanah haramNya.

http://www.alsofwah.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s