Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Kesepuluh]


17. Boleh memberi salam kepada orang yang sedang membaca Al-Qur’an dan wajib untuk menjawabnya.           

Memberi salam kepada orang yang sedang disibukan dengan membaca Al-Qur’an sebagian ulama melarangnya dan sebagian yang lain membolehkannya. Yang benar adalah pendapat yang membolehkannya. Karena tidak ada dalil yang dapat mengeluarkan seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an dari keumuman nash-nash syara’ yang menganjurkan untuk menyebar salam dan yang menunjukkan wajibnya membalas salam.

Seseorang yang sedang menyibukkan dirinya dengan dzikir yang paling tinggi nilainya yakni membaca Al-Qur’an, bukan  penghalang baginya untuk tidak diberi salam dan kewajiban membalas salam tersebut juga tetap wajib waginya

Al-Lajnah Ad-Daimah menyatakan dalam salah satu fatwa pada sebuah pertanyaan: Bolehnya seorang yang membaca Al-Qur’an untuk memulai salam dan wajib baginya untuk menjawab salam. Dikarenakan  tidak ada satupun dalil syar’i yang shahih yang melarang hal itu. Dan hukum asalnya adalah berpegang dengan keumuman dalil yang mensyariatkan memulai salam dan wajibnya membalas salam kepada seseorang yang mengucapkan salam hingga ada dalil yang mengkhususkan hal itu [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyath wal Iftaa (4/83)]

18. Makruh mengucapkan salam kepada orang yang sedang berada dalam WC.

Dalil yang menunjukkan larangan ini adalah hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasannya seorang melalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang kencing, lalu orang tersebut mengucapkan salam kepada beliau dan beliau tidak menjawabnya. [HR.Muslim no.370]

Berdasarkan dalil ini ulama telah bersepakat [Lihat Syarah Muslim karya An-Nawawi ( jilid 2  4 / 55 )] atas makruhnya menjawab salam bagi orang yang sedang berada dalam wc, baik sedang kencing atau sedang menunaikan hajat (buang air besar). Dan disukai bagi orang yang diberikan salam sementara dia masih berada di wc untuk terus menyelesaikan hajatnya dan menjawab salam tersebut setelah berwudhu`sebagai bentuk keteladanan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Muhajir bin Qunfudz radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa beliau mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang kencing, kemudian dia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi Rasulullah tidak menjawab salamnya sampai beliau berwudhu, lalu beliau meminta udzur kepadanya, dan mengatakan :

إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طهر أو قال : على طهارة

“Sesungguhnya aku tidak suka untuk berzikir kepada Allah ‘azza wajalla kecuali dalam keadaan suci”. Atau beliau mengatakan, “kecuali dengan bersuci”.[HR. Abu Daud dan lafazh ini lafazh riwayat  beliau, Asy-Syaikh Al-Albaniy berkata hadist ini shahih, dan berkata Ibnu Muflih pada salah satu jalan, “Isnadnya jayyid”, Al-Adab Asy-Syar’iyah (1/355), Ahmad (18555), An-An-Nasaa`i (38), Ibnu Majah (351) dan Ad-Darimi (2641)]

19. Disunnahkan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.

Apabila rumah dalam keadaan kosong, sebagian ulama dari generasi sahabat dan selainnya berpendapat sunnahnya seseorang mengucapkan salam kepada dirinya sendiri jikalau rumah tersebut dalam keadaan kosong. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

إذا دخل البيت غير المسكون فليقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

“Apabila seseorang masuk kerumah yang tidak ditinggali, hendaklah ia mengucapkan: “Assalaamu’alaina wa ‘ala ibaadillahi shaalihin”.[Al-Adab Al-Mufrad oleh Al-Bukhari (1055) dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar  “sanadnya hasan” (Fathul Baari 11/22) demikian juga Asy-Syaikh Al-Albaniy mengatakan sanadnya hasan pada Shahih Al-Adab Al-Mufrad.]

Diriwayatkan dalil yang serupa dengan hadits diatas dari Mujahid dan selain keduanya. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/305) Cetakan Daar Ad-Da’wah]

Ibnu Hajar berkata: “ Termasuk kedalam keumuman hadits yang mengajurkan untuk menyebarkan salam adalah mengucapkan salam kepada dirinya sendiri ketika ia masuk kedalam rumahnya yang tidak ada seorangpun didalamnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala :

فإذا دخلتم بيوتاً فسلموا على أنفسكم

“ Dan apabila kalian masuk kedalam rumah, maka ucapkanlah salam kepada diri kalian “ ( An-Nuur :61) [Fathul Baari (11/22)]

Begitu juga jika ia masuk kedalam rumahnya yang tidak ada orang lain didalam rumah kecuali keluarganya, maka disunnahkan bagi anda untuk mengucapkan salam kepada mereka juga. Diriwayatkan dari Abi Az-Zubair bahwa ia mendengar Jabir berkata,

إذا دخلت على أهلك فسلم عليهم تحية من عند الله مباركة طيبة

“Jika engkau masuk kedalam rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu untuk mengaharap keberkahan dan kebaikan dari sisi Allah ta’ala”. [Al-Adab Al-Mufrad (1095) Al-Albani mengatakan:  hadits ini shahih.]

Mengucapkan salam ketika masuk kerumah ini bukanlah merupakan kewajiban. Ibnu Juraij berkata, “Aku berkata kepada Atha’, “Apakah wajib mengucapkan salam ketika masuk atau keluar rumah?” Beliau menjawab, “Tidak, karena tidak satupun atsar yang menyebutkan tentang wajib ucapan salam tersebut, akan tetapi disukai jika dilakukan dan hendaklah tidak melupakannya”. [Tafsir Ibnu Katsir (305/3)]

Demikianlah bahwa tidak ada dalil tentang hal itu, akan tetapi untuk mencari keutamaan, sepantasnyalah bagi seorang muslim yang telah mengetahui keutamaanya untuk melakukannya. Dan diantara keutamaannya adalah tercantum pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثلاثة كلهم ضامن على الله إن عاش كُفي، وإن مات دخل الجنة: من دخل بيته بسلام فهو ضامن على الله عزوجل. ومن خرج إلى المسجد فهو ضامن على الله . ومن خرج في سبيل الله فهو ضامن على الله

Tiga orang yang seluruhnya dijamin oleh Allah hidupnnya dan jika mati dijamin oleh Allah masuk surga, yaitu orang yang jika masuk kedalam rumah dengan mengucapkan salam, maka Allah ta’ala menjamin orang tersebut. Dan barang siapa yang keluar untuk pergi ke masjid maka Allah t’aala menjamin orang tersebut. Dan seseorang yang keluar dijalan Allah, maka Allah menjamin orang tersebut”. [Adabul Mufrad (1094) Asy-Syaikh Al-Albani berkata hadits ini Shahih.]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s