Sirah Nabawiyah | Berdakwah Secara Terang-Terangan #3


Berdakwah Secara Terang-Terangan #3

Metode-Metode yang digunakan dalam menghadapi Dakwah Islamiyyah

Manakala kaum Quraisy menyelesaikan rituil haji, mereka segera memikirkan metode-metode yang bakal digunakan dalam menghadapi dakwah Islamiyyah di tempat bertolaknya, lalu mereka memilih beberapa metode berikut:

1. Mengejek, menghina, merendahkan, mendustai dan menertawakan. Target mereka adalah menghinakan kaum Muslimin dan melemahkan semangat juang mereka. Mereka menuduh nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan tuduhan-tuduhan yang kerdil dan celaan-celaan yang nista; menjuluki beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam sebagai orang gila. Allah menceritakan hal ini dalam firmanNya:

 وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

“dan mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan kepadanya adz-Dzikr (al-Qur’an), sesungguhnya engkau adalah orang yang benar-benar gila”. (Q.S.15/ al-Hijr: 6).

Mereka juga menuduh beliau sebagai tukang sihir dan pendusta, sebagaimana Allah sebutkan dalam firmanNya:

 وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :”ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. (Q.S. 38/Shaad: 4).

Mereka mengunjungi dan menyambut beliau dengan penuh rasa dendam dan gemuruh kemarahan, Allah berfirman tentang mereka :

وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur’an dan mereka berkata:”Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS. 68/al-Qalam:51).

Bila beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam sedang duduk-duduk dan disekitarnya shabat-shahabat beliau yang terdiri dari al-Mustadh’afun (kaum-kaum lemah), mereka mengejek sembari berkata: “(semacam) mereka itulah teman-teman duduk (ngobrol) nya”, (Allah berfirman):

أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا ۗ

“orang-orang semacam itukah diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?”. (Q.S. 6/al-An’am: 53), lalu Allah membantah ucapan mereka tersebut:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Tidakkah Allah mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?”. (Q.S. 6/al-An’am: 53). Kondisi mereka sebenarnya persis sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah kepada kita, dalam firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ # وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ # وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ # وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ # وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang berdusta, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) mentertawakan orang-orang yang beriman (29). Dan apabila orangp-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya (30). Dan apabila ornag-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira (31). Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: ‘sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat (32). Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin (33)”. [Q.S. 83/al-Muththaffifiin: 29-33].

2. Menjelekkan citra ajaran-ajaran Rasulullah, menyebarkan syubhat-syubhat, mempublikasikan dakwaan-dakwaan dusta, menyiarkan statement-statement yang keliru seputar ajaran-ajaran, diri dan pribadi beliau serta membesar-besarkan tentang hal itu. Tindakan tersebut mereka maksudkan untuk tidak memberi kesempatan kepada orang-orang untuk merenungi apa yang didakwahkan oleh Rasulullah. Mereka selalu berkata tentang al-Qur’an sebagaimana yang Allah sebutkan dalam FirmanNya:

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang”.” (Q.S.25/al-Furqan: 5). Dan firmanNya:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ

“al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain…”. (Q.S. 25/al-Furqan: 4). Mereka sering berkata sebagaimana Allah kisahkan dalam firmanNya:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ

“sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. (Q.S. 16/an-Nahl: 103).

Mereka juga sering mengatakan tentang Rasululullah seperti yang Allah sebutkan dalam firmanNya:

قَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ

“mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?”. (Q.S.25/al-Furqan: 7). Di dalam al-Qur’an terdapat banyak contoh bantahan terhadap statement-statement mereka setelah menukilnya ataupun tanpa menukilnya.

3. Menghalangi orang-orang agar tidak dapat mendengarkan al-Qur’an dan mengimbanginya dengan dongengan-dongengan orang-orang dahulu serta membuat sibuk mereka dengan hal itu.

Mereka menyebutkan bahwa an-Nadhar bin al-Harits pergi ke Hirah. Disana dia belajar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, cerita-cerita tentang Rustum dan Asvandiar. Jika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sedang duduk-duduk di suatu majlis dalam rangka berwasiat kepada Allah dan mengingatkan manusia akan pembalasan-Nya, maka seusai beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu; an-Nadhar berbicara kepada orang-orang sembari berkata: “Demi Allah! ucapan Muhammad tersebut tidaklah lebih baik dari ucapanku ini”. Kemudian dia mengisahkan kepada mereka tentang cerita raja-raja Persia, Rustum dan Asvandiar. Setelah itu, dia berceloteh: “Kalau begitu, bagaimana bisa ucapan Muhammad lebih bagus dari ucapanku ini?”.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa an-Nadhar membeli seorang budak perempuan. Maka, setiap dia mendengarkan ada seseorang yang tertarik terhadap Islam, dia segera menggandengnya menuju budak perempuannya tersebut, lalu berkata (kepada budak perempuannya): “beri dia makan, minum dan penuhi kebutuhannya. Ini adalah lebih baik dari apa yang diajak oleh Muhammad kepadamu”. Maka turunlah ayat mengenai dirinya, Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah…”. (Q.S.31/Luqman: 6).

4. Berusaha mengadakan pendekatan untuk mempertemukan antara Islam dan Jahiliyah pada satu titik temu dengan cara, kaum musyrikin meninggalkan sebagian agama mereka demikian pula agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sebagian agamanya. Allah berfirman :

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). [Al-Qalam : 9]

Ibnu Jarir dan Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa kaum musyrikin menawarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau beribadah kepada tuhan-tuhan mereka selama satu tahun dan mereka akan beribadah kepada Allah selama setahun pula.

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid disebutkan bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika engkau mau mengakui tuhan-tuhan kami, maka kami akan beribadah kepada Tuhanmu”

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanadnya, bahwa Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin Abduluzza dan Al-Walid bin Al-Mughirah dan Umayyah bin Khalaf dan Al-‘Ash bin Wa’il As-Sahmiy -mereka ini termasuk pemuka pada kaumnya-, mereka berkata : Wahai Muhammad kemarilah, kami akan beribadah kepada yang kamu ibadahi, dan kamu pun beribadah kepada apa yang kami ibadahi, kita bersama-sama saja dalam urusan ini. Jika yang kamu ibadahi itu lebih baik daripada yang kami ibadahi maka kami telah mendapatkan bagian kebaikan dengan sebab kami mengibadahinya, dan jika yang kami ibadahi lebih baik daripada yang kamu ibadahi maka kamu pun telah mendapatkan kebaikan sebab ibadahmu kepadanya.” Maka Allah menurunkan surat Al-Kafirun secara sempurna.

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ # لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ # وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ # وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ # وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ # لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al-Kafirun : 1-6]

Allah memutus upaya perundingan mereka yang menggelikan tersebut dengan diturunkannya surat yang menjadi pemisah yang sangat jelas antara agama Islam dan agama Jahiliyah ini.

Kemungkinan perbedaan riwayat ini karena kaum jahiliyah berulang kali berusaha untuk mengadakan upaya pendekatan ini.

http://www.alsofwah.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s