Rukun Kedua : Shalat | Sujud Sahwi


SUJUD SAHWI

Sujud sahwi ialah sujud yang dilakukan orang yang shalat sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat yang disebabkan lupa.

Sebab-sebab sujud sahwi ada tiga: karena kelebihan, karena kurang, dan karena ragu-ragu. Keterangannya sebagai berikut:

a. Sujud Sahwi Karena Kelebihan.
Barangsiapa kelupaan dalam shalatnya kemudian dia menambah ruku’, atau sujud, maka dia harus sujud dua kali sesudah menyelesaikan shalatnya (setelah salam). Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عن ابن مسعود -رضي الله عنه- أنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم صلّى الظهر خمسا فقيل له : أزيد في الصلاة؟ فقال: وما ذاك؟ قالوا: صليت خمسا، فسجد سجدتين بعد ما سلم. و في رواية: فثنى رجليه واستقبل القبلة وسجد سجدتين ثم سلم

“Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shalat Zhuhur lima rakaat, kemudian beliau ditanya, ‘Apakah shalat Zhuhur ditambah raka’atnya?’ Beliau balik bertanya: ‘Apa itu?‘ Para sahabat menjelaskan, ‘Anda shalat lima rakaat. Kemudian beliau pun sujud dua kali setelah salam. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat kemudian sujud dua kali, kemudian salam. ” (Muttafaq ‘alaih, lafazh di atas milik Al-Bukhari)

Salam sebelum shalat selesai berarti termasuk kelebihan dalam shalat, sebab ia telah menambah salam di pertengahan pelaksanaan shalat. Barangsiapa mengalami hal itu dalam keadaan lupa, lalu dia ingat beberapa saat setelahnya, maka dia harus menyempurnakan shalatnya kemudian salam, setelah itu dia sujud sahwi, kemudian salam lagi. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah:

عن أبي هريرة أنّ النّبيّ صلّى بهم الظهر أو العصر فسلّم من ركعتين فخرج السرعان من أبواب المسجد يقولون : قصرت الصلاة، و قام النّبيّ إلى خشبة فاتكأ عليها كأنّه غضبان، فقام رجل فقال: يا رسول الله أنسيت أم قصرت الصلاة؟ فقال النّبيّ: لم أنس و لم تقصر فقال الرجل: بلى قد نسيت. فقال النّبيّ للصحابة: أحقّ ما يقول؟ قالوا: نعم. فتقدم النبي فصلى ما بقي من صلاته ثمّ سلّم ثمّ سجد سجدتين ثمّ سلّم

“Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shalat Zhuhur atau Ashar bersama para sahabat. Beliau salam setelah shalat dua raka’at, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjad berkata, ‘Shalat telah diqashar (dikurangi)?’ Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau memang shalat telah diqashar?’. Nabi berkata, ‘Aku tidak lupa dan shalat pun tidak diqashar.’ Laki-laki itu kembali berkata, ‘Kalau begitu Anda memang lupa wahai Rasuluilah.’ Nabi bertanya kepada para sahabat, ‘Benarkah apa yang dikatakannya? Mereka pun mengatakan, ‘Benar.’ Maka majulah Nabi selanjutnya beliau shalat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali, dan salam lagi.”(Muttafaq ‘alaih)

b. Sujud Sahwi Karena Kekurangan.
Barangsiapa kelupaan dalam shalatnya, kemudian ia meninggalkan salah satu sunnah muakkadah (yaitu yang termasuk katagori hal-hal wajib dalam shalat), maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, seperti misalnya kelupaan melakukan tasyahhud awal dan dia tidak ingat sama sekali, atau dia ingat setelah berdiri tegak dengan sempuma, maka dia tidak perlu duduk kembali, cukup baginya sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya ialah hadits berikut:

عن عبد الله بن بحينة أنّ النّبيّ صلّى بهم الظهر فقام في الركعتين الأوليين و لم يجلس، فقام الناس معه حتّى إذا قضى صلاته و انتظر الناس تسليمه كبر و هو جالس فسجد سجدتين قبل أن يسلّم ثمّ سلّم

“Dari Abdullah bin Buhainah, bahwa Rasulullah shalat Zhuhur bersama mereka, beliau langsung berdiri setelah dua rakaat pertama dan tidak duduk. Para jama ‘ah pun tetap mengikuti beliau sampai beliau selesai menyempurnakan shalat, orang-orang pun menunggu salam beliau, akan tetapi beliau malah bertakbir padahal beliau dalam keadaan duduk (tasyahhud akhir), kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu salam. ” (Muttafaq ‘alaih)

c. Sujud Sahwi Karena Ragu-ragu.
Yaitu ragu-ragu antara dua hal, yang mana yang terjadi. Keraguraguan terdapat dalam dua hal, yaitu antara kelebihan atau kurang. Umpamanya seseorang ragu apakah dia sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat. Keraguan ini ada dua macam:

1. Seseorang lebih cenderung kepada satu hal, balk kelebihan atau kurang, maka dia harus menurutkan mengambil sikap kepada yang lebih ia yakini, kemudian dia melakukan sujud sahwi setelah salam. Dalilnya hadits berikut:

إذا شكّ أحدكم في صلاته فليتحر الصواب فليتمّ عليه ثمّ ليسلم ثمّ ليسجد سجدتين

“Dari Abdullah lbnu Mas ‘ud, bahwasanya Nabi bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kamu ada yang ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah lebih memilih kepada yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan shalatnya, lalu melakukan salam, selanjutnya sujud dua kali’. “(Muttafaq ‘alaih)

2. Ragu-ragu antara dua hal, dan tidak condong pada salah satunya, tidak kepada kelebihan dalam pelaksanaan shalat dan tidak pula pada kekurangan. Maka dia harus mengambil sikap kepada hal yang sudah pasti akan kebenarannya, yaitu jumlah rakaat yang lebih sedikit. Kemudian menutupi kekurangan tersebut, Ialu sujud dua kali sebelum salam, ini berdasarkan hadits berikut:

عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدر كم صلى ثلاثا أم أربعا فليطرح الشك وليبن على ما استيقن ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم فإن كان صلى خمسا شفعن له صلاته وإن كان صلى إتماما لأربع كانتا ترغيما للشيطان

‘Dari Abu Sa ‘id Al-Khudri, bahwasanya Nabi bersabda, Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, dia tidak tabu berapa rakaat yang sudah ia lakukan, tigakah atau empat? Maka hendaknya ia meninggalkan keraguan ini dan mengambil apa yang ia yakini, kemudian ia sujud dua kali sebelum salam. Jika la telah shalat lima rakaat, maka hal ini menggenapkan pelaksanaan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna empat rakaat, maka hal merupakan penghinaan (pengecewaan) terhadap setan” (HR. Muslim)

Ringkasnya, bahwa sujud sahwi itu adakalanya sebelum salam dan adakalanya sesudah salam.

Adapun sujud sahwi yang dilakukan setelah salam ialah pada dua kondisi
– Apabila karena kelebihan (dalam pelaksanaan shalat).
– Apabila karena ragu antara dua kemungkinan, tapi ada kecondongan pada salah satunya.

Sedangkan sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam, juga pada dua kondisi:
– Apabila dikarenakan kurang (dalam pelaksanaan shalat).
– Apabila dikarenakan ragu antara dua kemungkinan dan tidak merasa lebih berat kepada salah satunya.

HAL-HAL PENTING BERKENAAN DENGAN SUJUD SAHWI

  1. Apabila seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat, dan  yang tertinggal itu adalah takbiratul ihram, maka shalatnya tidak terhitung (tidak sah), baik hal ini terjadi secara sengaja ataupun karena lupa, karena shalatnya tidak sah. Dan jika yang tertinggal ini selain takbiratul ihram, dan ditinggalkan secara sengaja, maka batallah shalatnya. Jika tertinggal secara tidak sengaja, dan dia sudah berada pada rukun yang ketinggalan tersebut pada rakaat kedua, maka rakaat yang ketinggalan rukunnya tadi itu dianggap tidak ada, dan dia ganti dengan rakaat yang berikutnya. Dan jika ia belum sampai pada rakaat kedua, maka ia wajib kembali kepada rukun yang ketinggalan tersebut, kemudian dia kerjakan rukun itu, begitu pula apa-apa yang setelah itu. Pada kedua hal ini, wajib dia melakukan sujud sahwi setelah salam atau sebelumnya.
  2. Apabila sujud sahwi dilakukan setelah salam, maka harus pula  melakukan salam sekali lagi.
  3. Apabila seseorang yang melakukan shalat meninggalkan sunnah muakkadah (hal-hal yang wajib dalam shalat) secara sengaja, maka batallah shalatnya. Jika ketinggalan karena lupa, kemudian dia ingat sebelum beranjak dari sunnah muakkadah tersebut, maka hendaklah dia melaksanakannya dan tidak ada konsekwensi apa-apa. Jika ia ingat setelah melewatinya tapi belum sampai kepada rukun berikutnya, maka hendaklah dia kembali untuk melaksanakan rukun tersebut. Kemudian dia sempurnakan shalatnya serta melakukan salam. Selanjutnya sujud sahwi kemudian salam lagi. Jika ia ingat setelah sampai kepada rukun yang berikutnya, maka sunnah (muakkadah) itu gugur dan dia tidak perlu kembali kepadanya untuk melakukannya, akan tetapi terus melaksanakan shalatnya kemudian sujud sahwi sebelum salam seperti kami sebutkan di atas pada masalah tasyahhud awal.

Sumber : Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Dapatkan E-Book dan Ceramah Tentang Shalat pada halaman ini.

Penjelasan Lebih Rinci Tentang Tatacara Shalat Dilengkapi dengan Video Tutorial Shalat dapat Anda simak di Carasholat.Com

Iklan

One comment on “Rukun Kedua : Shalat | Sujud Sahwi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s