Penjelasan Qowa’idul Arba’ | Tauhid, Syarat Sah Ibadah


فإذا عرفت أن الله خلقك لعبادته فاعلم أن العبادة لا تسمى عبادة إلا مع التوحيد، كما أن الصلاة لا تسمى صلاة إلا مع الطهارة فإذا دخل الشرك في العبادة فسدت، كالحدث إذا دخل في الطهارة.

Maka, jika kamu sudah mengetahui bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, Ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid, sebagaimana shalat itu tidak dinamakan dengan shalat kecuali jika disertai dengan thaharah (bersuci). Jika sebuah ibadah telah dicampuri dengan kesyirikan maka ibadah itu menjadi rusak/batal, sebagaimana hadats membatalkan thahharah.

Perkataan Penulis : -فإذا عرفت أن الله خلقك لعبادته- “Maka jika kamu sudah mengetahui bahwa allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya”.

Yaitu jika kamu mengetahui bahwa tujuan dari penciptaan dirimu adalah untuk beribadah kepada Allah, berdasarkan ayat ini :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (Adz Dzariyat : 56) karena kamu termasuk manusia yang dimaksud dalam ayat ini.

Kemudian, kamu pun mengetahui pula bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- tidaklah menciptakanmu dengan sia-sia dan tidaklah Dia menciptakanmu untuk sekedar makan dan minum saja, tidak pula untuk hidup didunia secara bebas dan gembira, tidaklah demikian.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al-Mu’minun : 115)

Akan tetapi Allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk suatu tujuan, yaitu untuk beribadah hanya kepadaNya. Tidaklah ditundukkan bagimu segala yang ada di bumi ini kecuali untuk membantumu dalam beribadah kepadaNya, karena engkau tidak akan mampu hidup kecuali dengannya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (Al-Baqarah : 29)

اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأَنْهَارَ # وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ  # وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim : 32-34)

Kamu tidak akan sampai untuk beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- kecuali dengan hal-hal tersebut. Allah -subhanahu wa ta’ala- menundukkannya bagimu agar engkau dapat beribadah kepadaNya, bukan agar kamu bergembira, bersukaria, bebas berbuat fasik dan cabul, serta makan dan minum sesukamu, karena ini adalah keadaan binatang.

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mu’min dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. (Muhammad : 47)

Adapun manusia, Allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakan mereka dengan tujuan yang besar dan hikmah yang agung, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezaki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Adz Dzariyat : 56-57)

Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak menciptakanmu agar kamu mencari rezeki untuk-Nya, bekerja dan mengumpulkan harta untuk-Nya sebagaimana dikerjakan oleh sebagian manusia dengan sebagian lainnya, yang menjadikan pekerja untuk mengumpulkan kekayaan bagi mereka. Sungguh, Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak butuh dengan itu, dan tidak membutuhkan alam semesta ini. Oleh karena itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan” (Adz Dzariyat : 57)

Allah -subhanahu wa ta’ala- memberi makan dan tidak diberi makan, serta tidak butuh pada makanan. Ketidak butuhan Allah -subhanahu wa ta’ala- itu (sesuai) sesuai dengan Dzat-Nya. Tidaklah Dia membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kufur, tidak akan berkurang kerajaan Allah -subhanahu wa ta’ala- sedikitpun. Akan tetapi kamulah yang butuh kepadaNya, yaitu butuh untuk beribadah kepada-Nya. Dan termasuk Rahmat-Nya adalah Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkanmu untuk beribadah kepadaNya demi kebaikanmu. Karena jika kamu mengibadahi-Nya, sesungguhnya Allah -subhanahu wa ta’ala- akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Dengan sebab itulah engkau dimuliakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- di dunia dan akherat. Maka siapakah yang mendapat faedah dari ibadah? Yang mendapat faedah dari ibadah adalah hamba sendiri. Adapun Allah -subhanahu wa ta’ala-, sesungguhnya Dia tidak butuh kepada mahluk-Nya.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ   مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya ‘Azza Wa Jalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir semuanya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (HR. Muslim)

Perkataan Penulis : -فاعلم أن العبادة لا تسمى عبادة إلا مع التوحيد، كما أن الصلاة لا تسمى صلاة إلا مع الطهارة فإذا دخل الشرك في العبادة فسدت، كالحدث إذا دخل في الطهارة.- Ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid, sebagaimana shalat itu tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah (bersuci). Jika sebuah ibadah telah dicampuri dengan kesyirikan maka ibadah itu menjadi rusak/batal, sebagaimana hadats membatalkan thahharah.

Jika kamu telah mengetahui bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka sesungguhnya ibadah itu tidak menjadi benar dan diridhai oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- kecuali jika terpenuhi dua syarat di dalamnya. Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak ada, maka batallah ibadahnya. Dua syarat itu adalah ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah.

قال فضيل بن عياض “أحسن عملاً” أخلصه وأصوبه. وقال: العمل لا يقبل حتى يكون خالصاً صواباً، الخالص: إذا كان لله، والصواب: إذا كان على السنة.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata tentang maksud dari “أحسن عملاً – Amalan yang paling baik” yaitu yang paling ikhlas dan paling benar/sesuai. Beliau menjelaskan : Sebuah amal tidak akan diterima hingga amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan benar. Amalan tersebut dikatakan telah dilakukan dengan ikhlas jika amalan tersebut hanya ditujukan kepada Allah. Dan dikatakan benar apabila amalan tersebut sesuai sunnah/petunjuk Rasulullah. [Tafsir Al-Baghawi, Surah Al-Mulk ; 2]

Syarat pertama : Menjadikan amalan tersebut ikhlas untuk melihat wajah Allah -subhanahu wa ta’ala-, sehingga tidak ada kesyirikan didalamnya. Jika dicampur dengan kesyirikan, maka batallah (amalan tersebut), sebagaimana halnya bersuci jika dicampur dengan hadats, maka akan batal. Demikian pula jika kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- kemudian menyekutukanNya, maka batallah ibadahmu.

Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah mencakup dua makna :

  • Ibadah itu ditujukan hanya kepada Allah karena ibadah hanyalah hak Allah semata. Jika dia menujukan ibadahnya kepada selain Allah, baik kepada Malaikat ataupun Nabi apalagi kepada yang lebih rendah kedudukannya dari keduanya.
  • Ibadah itu dikerjakan untuk mencari keridhaan Allah semata, bukan untuk tujuan-tujuan duniawi yang rendah.

Syaikh memberikan contoh permisalan untuk mendekatkan pemahaman tentang tauhid dan syirik dalam ibadah dengan permisalan antara thahharah dan hadats dalam shalat. Jika seseorang shalat dalam keadaan berhadats maka tidak akan sah shalatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits :

لا يقبل الله صلاة بغير طهور

“Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci.” (HR. Muslim)

Demikian pula, seseorang yang telah bersuci dari hadats kemudian dia mengerjakan shalat akan tetapi ditengah shalatnya dia berhadats, maka dengan hadats tersebut menjadi batallah shalatnya.

لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتّى يتوضأ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang di antaramu jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari)

Demikianlah permisalan tauhid terhadap ibadah. Ibadah seseorang tidak akan diterima hingga dia masuk Islam (bertauhid), sebaliknya ibadah seorang yang telah masuk Islam akan batal apabila dia melakukan kesyirikan.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ # بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنْ الشَّاكِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur” (Az-Zumar : 65-66)

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisaa’ : 48)

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al-Maaidah : 72)

Syarat kedua : Mengikuti Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Ibadah apapun yang tidak datang dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- maka ibadah tersebut batal dan tertolak, karena termasuk bid’ah dan khurafat. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallah bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka perbuatan itu tertolak”

Dalam riwayat yang lain disebutkan :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ

“Barangsiapa yang membuat hal yang baru dalam urusan (agama) kami, maka perbuatan itu tertolak”

Maka ibadah itu harus sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dan bukan dengan istihsanat (anggapan baik) manusia, niat, serta tujuan mereka. Selama ibadah tersebut tidak ada dalilnya dari syariat, maka hal itu adalah bid’ah dan tidak bermanfaat bagi pelakunya bahkan membahayakannya, karena merupakan kemaksiatan meskipun dia beranggapan dengan hal itu akan mendekatkan dirinya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Dalam ibadah harus ada dua syarat ini, yakni ikhlas dan mengikuti Rasul -shallallahu’alaihi wa sallam-. Sehingga jadilah ibadah tersebut benar dan bermanfaat bagi pelakunya. Jika kesyirikan masuk kedalamnya, maka batallah ibadah tersebut, dan jika ibadah itu telah menjadi bid’ah dimana tidak ada dalil atasnya, maka menjadi batal pula. Tanpa dua syarat ini, tidak ada faedahnya suatu ibadah, karena ibadah itu tidak di atas apa yang disyariatkan Allah -subhanahu wa ta’ala-. Dan Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak menerima, kecuali apa yang disyariatkan dalam kitab-Nya atau atas lisan Rasul-Nya -shallallahu’alaihi wa sallam-.

Tidak ada seorangpun dari mahluk Allah -subhanahu wa ta’ala- yang wajib kita ikuti kecuali rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Adapun selain Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- maka dia diikuti dan ditaati jika mengikuti beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-. Jika menyelisihi Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Ta’atilah Allah dan taatilah rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisaa’ : 59)

Ulil amri adalah para pemimpin dan para ulama. Jika mereka mentaati Allah -subhanahu wa ta’ala- maka wajib bagi kita mentaati dan mengikuti mereka. Adapun jika mereka menyelisihi perintah Allah -subhanahu wa ta’ala-, maka tidak boleh mentaati dan mengikuti penyimpangan mereka. Karena tidak ada seorangpun yang boleh ditaati secara mutlak dari mahluk yang ada ini kecuali Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Dan yang selain Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, maka dia diikuti dan ditaati jika mentaati beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-. Inilah ibadah yang benar.

Dari perkataan Penulis di atas dapat kita ketahui pengertian dari dua perkara penting yang akan dijelaskan dalam kitab ini, yaitu Tauhid dan Syirik. Tauhid adalah mengesakan Allah pada perkara-perkara yang merupakan kekhususan Allah subhanahu wa ta’ala. Yaitu kekhususan Allah dalam perkara Rububiyah, yaitu menciptakan, memberi rizki dan mengatur makhluk, dalam perkara ibadah (Uluhiyah) dan dalam Nama-nama dan Shifat-ShifatNya. Sebaliknya, kesyirikan adalah menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah dalam perkara-perkara yang merupakan kekhususan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

عن عبد الله بن مسعود – رضي الله عنه – قال: سألت النبي – صلى الله عليه وسلم – أي الذنب أعظم عند الله ؟ قال: ( أن تجعل لله ندّاً وهو خلقك، قلت: إن ذلك لعظيم .متفق عليه

Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- dia berkata : Saya bertanya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda : Engkau menjadikan tandingan/sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu. Aku berkata : Sungguh perbuatan itu sangat besar dosanya. (Muttafaq ‘Alaih)

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.Com

Sumber :

  • Mengapa Islam Membenci Syirik? (Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan)
  • Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumayyis dari Maktabah Raudhatul Muhibbin
  • Catatan Kajian Syarah Qawa’idul Arba’ – Ustadz Dzulqarnain
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s