Penjelasan Qowa’idul Arba’ | Hakikat Agama Nabi Ibrahim


اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين كما قال تعالى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ } (الذاريات آية 56. )

Ketahuilah! Semoga Alloh -subhanahu wa ta’ala- membimbingmu untuk taat kepadaNya. Sesungguhnya al hanifiyyah millah (agama) Ibrahim itu adalah kamu beribadah kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-, mengikhlaskan agama untukNya, sebagaimana Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyat : 56)

Perkataan Penulis : اعلم أرشدك الله لطاعته  [Ketahuilah! Semoga Allah -subhanahu wa ta’ala- membimbingmu]

Ini adalah do’a yang kedua dari syaikh -rahimahullah-, demikianlah hendaknya seorang pengajar itu senantiasa mendo’akan murid-muridnya.  Ar Rusyd (لرُّشْدُ) artinya amal yang benar, lawannya adalah Al Ghayy (الغي) , yaitu amal keburukan (Lihat Ighatsatul Lahfaan, 2/168)

Maksud dari do’a ini adalah semoga engkau senantiasa diberikan bimbingan oleh Allah untuk dapat melakukan amalan-amalan keta’atan kepada Allah dan selamat dari amalan keburukan.

Ta’at kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- itu artinya mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Makna Al-Hanifiyyah, Agama Nabi Ibrahim

Perkataan Penulis : أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين [Sesungguhnya al hanifiyyah millah (agama) Ibrahim itu adalah kamu beribadah kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-, mengikhlaskan agama untukNya]

Kata al-hanif adalah diambil dari kata al-hanaf, yaitu kecondongan. Maka orang yang hanif adalah :

  • Orang yang berpaling dari kesyirikan dan melangkah menuju tauhid.
  • Orang yang istiqamah dan berpegang teguh pada ajaran Islam,
  • Orang yang membenarkan Allah dan mengingkari semua sesembahan selain-Nya, dan
  • Orang yang hanif adalah siapa saja yang berada di atas agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullah menjelaskan : Al-Hanifiyyah adalah jalan dan syari’at Nabi Ibrahim dan seluruh Nabi ‘alaihimussalam, yaitu sebagaimana yang telah disebutkan oleh penulis : “engkau beribadah kepada Alloh dengan ikhlas kepada-Nya dalam menjalankan agama”. Inilah hakikat agama Nabi Ibrahim, beribadah kepada Alloh dengan ikhlas. Dan maksud ikhlas dalam beribadah kepada Allah adalah cinta kepada Allah dan berharap wajah-Nya, beribadah kepada Allah dengan ikhlas serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. [Hasyiah Tsalatsatil Ushul hal. 22]

Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alaihis salam. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (An Nahl : 23)

Al Hanifiyyah adalah agamanya al hanif yaitu Ibrahim ‘Alaihis salam. Sedangkan al hanif adalah menghadap kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan hatinya, amalan-amalannya, niat, serta tujuannya, semuanya untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan berpaling dari yang selainNya. Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alahis salam

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Al Hajj : 78)

Dan millahnya Ibahim adalah kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- mengikhlaskan agama untukNya.

Ini adalah al Hanifiyyah. Syaikh -rahimahullah- tidak hanya berkata “Kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-”, bahkan menyatakan, Kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, mengikhlaskan agama untukNya” yaitu jauhilah syirik, karena ibadah itu jika dicapuri kesyirikan, maka akan batal. Tidak akan menjadi ibadah, kecuali jika selamat dari syirik baik besar maupun kecil. Sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala-

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Al Bayyinah : 5)

Hunafaa’ adalah bentuk jamak dari hanif yaitu ikhlas untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-. Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan seluruh mahluk dengan ibadah ini, sebagaimana Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku” (Adz Dzariyat : 56)

Makna “menyembahKu” adalah “mengesakanKu dalam ibadah”. Dan hikmah dari penciptaan mahluk adalah agar mereka beribadah hanya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan mengikhlaskan agama untukNya. Tapi, diantara mereka ada yang mengerjakannya, dan ada pula yang tidak mengerjakannya, akan tetapi hikmah dari penciptaan mereka adalah ini. Sehingga orang yang beribadah kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah menyelisihi hikmah penciptaan makhluk, menyelisihi perintah dan syariat.

Siapakah Ibrahim ?

Ibrahim -‘alaihissalam- adalah bapaknya para Nabi yang datang setelahnya, seluruh (para nabi) berasal dari keturunannya. Oleh sebab itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman

وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

“Dan Kami jadikan kenabian dan alKitab pada keturunannya.” (al ankabut : 27)

Mereka -para Nabi- seluruhnya berasal dari Bani Israil, anak cucu Ibrahim -‘alaihissalam- dari keturunan Ishaq –‘alaihissalam-, kecuali Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-, beliau berasal dari keturunan Ismail -‘alaihissalam-. Isma’il dan Ishaq adalah anak Ibrahim maka seluruh para Nabi berasal dari anak-anaknya Ibrahim –‘alaihissalam-, sebagai penghormatan baginya. Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikan Ibrahim sebagai “Imam” bagi manusia yaitu “contoh” (bagi mereka). Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً

“sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia” (Al baqarah : 124), maknanya yaitu panutan.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan” (An Nahl : 120) Yaitu imam yang diteladani dalam memurnikan ibadah kepada Allah dan berlepas diri dari syirik.

Dengan hal (Tauhid) itu  pula Allah -subhanahu wa ta’ala- perintahkan seluruh mahluk, sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala-

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz Dzariyat : 56)

Maka Ibrahim -‘alaihissalam- mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- sebagaimana Nabi-Nabi selainnya. Seluruh Nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala-

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” (An Nahl : 36)

Adapun syariat-syariat yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, halam dan haram, maka hal itu berbeda pada masing-masing ummat sesuai dengan berbedanya kebutuhan. Allah -subhanahu wa ta’ala- mensyariatkan suatu syariat lalu menghapuskannya dengan syariat yang lain sampai datangnya syariat Islam. Kemudian syariat Islam itu menghapus seluruh syariat (sebelumnya), dan tetaplah syariat Islam itu sampai hari kiamat.

Sedangkan inti agamanya para nabi yakni tauhid, maka ini belum dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna “Ikhlas untuk Allah dengan Tauhid”. Adapun Syariat-syariat (lain) yang berbeda-beda dihapus, akan tetapi tauhid dan aqidah dari Adam -‘alaihissalam- sampai Nabi yang terakhir, semuanya mengajak kepada tauhid dan beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah mentaatiNya pada setiap waktu dengan perkara yang diperintahkan dari syariat-syariat. Maka beramal dengan syariat yang menghapus adalah ibadah dan beramal dengan syariat yang telah dihapus bukanlah termasuk ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.Com

Sumber :

  • Mengapa Islam Membenci Syirik? (Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan)
  • Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumayyis dari Maktabah Raudhatul Muhibbin
  • Hasyiah Tsalatsatil Ushul Syaikh Abdurrahman bin Qasim An-Najdi

Baca juga : Mendulang Hikmah Dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s