Penjelasan Qowa’idul Arba’ | Tanda Kebahagian Seorang Hamba


Syaikh berkata dalam muqaddimah risalahnya ini :

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة، أن يجعلك مباركا أينما كنت، وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.

Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabbnya ‘arsy yang agung untuk menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.

Penjelasan:

Penulis -rahimahullah- memulai dengan berdo’a dan memohon kepada Alah Yang Maha Pemurah, Rabb ‘Arsy Yang Agung, untuk menjadikan orang-orang yang membaca risalah ini sebagai wali-Nya, di dunia ini dan di akhirat nanti.

Perkataan Penulis : أن يتولاك في الدنيا والآخرة [menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia dan akherat], maksudnya bahwa dia Dia mengambilmu sebagai wali melalui cinta-Nya, menganugerahkan keberhasilan dan petunjuk kepadamu.

Maksudnya adalah semoga Allah mencintaimu, menunjukimu dan mengarahkanmu kepada kebenaran, serta menolongmu dalam segala urusan di dunia. Dan semoga Allah menjadikanmu sebagai wali di akhirat adalah dengan merahmatimu dan mengampuni segala kesalahanmu, melindungimu dari api neraka, dan memasukkanmu ke dalam surga.

Jika Allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu di dunia dan akhirat maka tidak ada jalan bagi kejelekan untuk sampai kepadamu, tidak pada agamamu dan tidak pula pada duniamu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir pelindungnya adalah syaitan.” [Al Baqarah : 257]

Apabila Allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu, maka Dia akan mengeluarkanmu dari kegelapan, yakni kegelapan syirik dan kekufuran, keragu-raguan, serta penyimpangan menuju cahaya iman dan ilmu yang bermanfaat, serta amalan shalih.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.” [Muhammad : 11]

Jika Allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu dengan pemeliharaan, taufiq, serta petunjukNya di dunia dan di akherat, maka kamu akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tiada celaka selamanya. Di dunia Dia akan menolongmu dengan hidayah taufiq, serta berjalan diatas manhaj yang selamat. Diakherat Dia akan menolongmu dengan memasukkanmu kedalam surga-Nya dan kekal di dalamnya, dimana tiada rasa takut, sakit, celaka dan tua serta ketidakenakan. Ini merupakan pertolongn Allah -subhanahu wa ta’ala- kepada hambaNya yang beriman di dunia dan di akherat.

Kemudian Syaikh -rahimahullah- juga berdo’a agar kamu diberkahi dimana saja kamu berada, dengan ucapannya : أن يجعلك مباركا أينما كنت [semoga Allah menjadikanmu diberkahi di mana pun kamu berada]

Secara bahasa, kata Barakah memiliki arti tetapnya sesuatu; atau bisa juga bermakna terus tumbuh berkembang dan betambah. At-Tabriik adalah mendo’akan keberkahan untuk seseorang atau sesuatu.

Bila Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, maka ini adalah puncak yang dicari oleh para hamba. Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikan berkah pada usia, rezeki, ilmu, amal, serta keturunanmu. Dimanapun kamu berada dan menghadap, berkah senantiasa menyertaimu, maka ini adalah kebaikan yang besar dan keutamaan dari Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Kemudian diantara do’a Syaikh -rahimahullah- untuk kamu adalah agar Allah menjadikan kamu termasuk orang yang memenuhi arti penghambaan, demikian juga tempat-tempat persinggahannya, yang terdri dari tiga kondisi : bersyukur atas nikmatNya, bersabar menhadapi ujianNya, bertaubat dari apabila jatuh dalam perbuatan dosa. Inilah kondisi yang seroang hamba tidak akan pernah lepas dari ketiganya. Jika engkau diberi taufiq untuk mampu mengisi tiga keadaan ini dengan ibadah yang sesuai maka sungguh engkau telah dibimbing untuk memenuhi arti penghambaan, mewujudkan penghambaan sebenar-benarnya kepada Allah.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :  وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر [Dan menjadikanmu termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur]

Inilah kondisi yang Pertama: Bersyukur atas nikmat-Nya, yaitu ketika Dia memberikan kenikmatan untuk si hamba, sebagaimana Allah berfirman:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur.” (QS Saba [34] : 13] Dan Allah berfirman:

وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu;” (Az-Zumar : 7). Dan Alah berfirman:

وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah : 152)

Mensyukuri nikmat-nikmat Alah ditunjukkan melalui hati dengan cara menetapkan, mengakui dan menunjukkan rasa syukur. Dan hal ini ditunjukkan melalui lisan dengan berbicara mengenai nikmat itu dan memujinya. Dan ditunjukkan oleh anggota badan dengan berbuat sesuai dengan apa yang Allah ridhai.

Sesungguhnya mensyukuri nikmat adalah termasuk salah satu ibadah yang agung dan merupakan sebab kebahagiaan seorang hamba. Karena mayoritas manusia jika diberi nikmat mereka mengkufuri, mengingkari dan memalingkan pada selain ketaatan kepada Allah –‘Azza wa Jalla-, sehingga hal itu menjadi sebab kesengsaraannya. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambahnya :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu menyatakan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (Ibrahim : 7)

Allah -subhanahu wa ta’ala- akan menambah keutamaan serta kebaikanNya kepada orang yang bersyukur. Jika engkau ingin kenikmatan yang terus bertambah maka syukurilah sekecil apapun kenikmatan yang engkau terima, dan jika engkau ingin hilang kenikmatanmu maka kufurilah.

Perkataan Penulis : وإذا ابتلي صبر [Jika mendapat ujian bersabar]

Kedua: Bersabar atas musibah, kesulitan dan hal-hal yang dibenci, yang merupakan ujian dan cobaan dari Alah kepada seseorang. Siapa yang bersabar atas semua itu maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah dan siapa mereka yang diuji mengeluh dan marah-marah serta putus asa dari Rahmat Allah -‘azza wa jalla-, maka orang yang demikian akan ditambah dengan cobaan demi cobaan, musibah demi musibah. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

إن الله إذا أحب قوم ابتلاهم ,فمن رضي فله الرضا,ومن سخط فله السخط. إن أشد الناس ابتلاء هم الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل

“sesungguhnya jika Allah -subhanahu wa ta’ala- mencintai suatu kaum, (maka Dia akan) menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan”. “Dan manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, setelah itu orang yang semisalnya.”

Maka yang wajib dalam menghadapi ujian dan cobaan adalah seseorang memliki kesabaran. Kesabaran berarti menahan hati agar tidak menjadi benci dan berputus asa, menahan lisan agar tidak berkeluh kesah, dan menahan anggota badan dari berbuat sesuatu yang mengingkari dan menyelisihi kesabaran. Alah berfirman:

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

“dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.” (Luqman : 17) Dan firman-Nya:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (Al-Baqarah : 155)

Allah -subhanahu wa ta’ala- senantiasa akan menguji hambaNya, menguji mereka dengan musibah, tipu daya, serta dengan musuh-musuh dari golongan orang-orang kafir dan munafiqin. Mereka membutuhkan kesabaran, tidak putus asa serta tidak putus harapan dari rahmat Allah -subhanahu wa ta’ala-. Mereka tetap diatas agamanya dan tidak menjauh bersama fitnah, atau menerima fitnah. Bahkan mereka tetap diatas agamanya dan bersabar atas apa yang dijalani dari kesusahan-kesusahan didalamnya.

Para Rasul, shiddiqin, dan syuhada’ serta hamba-hamba Allah -subhanahu wa ta’ala- yang mu’min diuji, akan tetapi mereka bersabar. Adapun orang-orang munafiq, sungguh Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentang mereka :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada ditepi” (Al Hajj : 11) Yang dimaksud tepi artinya ujung.

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia didunia dan diakherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al Hajj : 11)

Ingatlah! Dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia dan mendapat pertolongan. Allah -subhanahu wa ta’ala- menggilirkannya diantara para hambaNya. Para sahabat –yang merupakan ummat yang paling mulia- apa yang terjadi pada mereka dari ujian dan cobaan? Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (Ali Imran : 140)

Maka, hendaknya seorang hamba menenangkan jiwanya. Jika dia diuji, sesungguhnya hal ini tidak khusus baginya. Wali-wali Allah -subhanahu wa ta’ala- telah mendahului dengan hal tersebut. Hendaknya ia tenangkan jiwanya dan bersabar, serta menunggu jalan keluar dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan akhir/kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Perkataan Penulis : وإذا أذنب استغفر [Jika berbuat salah/dosa, memohon ampun]

Ketiga: Memohon ampun setelah melakukan perbuatan dosa. Hal ini karena semua anak keturunan Adam adalah pendosa. Maka hal yang wajib bagi mereka setiap kali mereka jatuh ke dalam perbuatan dosa adalah mereka segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah, sebagaimana Alah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendri, mereka ingat akan Alah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Alah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran : 135)

Adapun orang yang jika berdosa tidak meminta ampun maka akan bertambah dosanya, maka celakalah dia –wal ‘iyadzu billah-, karena Allah berfirman

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً # وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (An Nisaa’ : 17-18)

Arti [جَهَالَةٍ] jahalah (kejahilan) itu bukanlah orang yang tidak berilmu, karena orang yang jahil (bodoh) tidak disiksa. Akan tetapi jahalah disini adalah lawan dari hilm (kesantunan/kesopanan). Maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dia adalah jahil, artinya kurang santunnya, kurang akalnya, dan kurang kemanusiaannya. Kadang-kadang ada orang yang alim (berilmu) akan tetapi jahil (bodoh) disisi yang lain, yaitu tidak memiliki kesantunan dan tidak benar dalam perkara tersebut.

[ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ] Kemudian mereka bertaubat dengan segera” artinya, setiap kali berbuat dosa mereka minta ampun. Tidak ada seorangpun yang maksum (terjaga) dari dosa (kecuali para Nabi dan Rasul), akan tetapi –alhamdulillah– Allah -subhanahu wa ta’ala- membuka pintu taubat. Maka jika seorang hamba berdosa wajib baginya untuk segera bertaubat.

Jika dia tidak bertaubat meminta ampun, maka ini adalah tanda-tanda kesengsaraan, bahkan kadang-kadang ada yang putus asa dari Rahmat Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya “Tidak ada taubat bagimu”.

Inilah tiga keadaan yang tidak akan mungkin seorang hamba lepas darinya. Inilah tiga keadaan yang dengannya seseorang akan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Bersyukur kepada Alah, bersabar terhadap cobaan, dan memohon ampun setelah melakukan perbuatan dosa.

Barangsiapa yang memenuhi ketiganya niscaya akan menjadi bagian dari mereka yang berbahagia dan barangsiapa yang terhalang darinya atau sebagiannya, maka dia akan sengsara (celaka). Bahkan, kebahagiaan lebih banyak dihubungkan kepada ketiga hal ini daripada yang lainnya. Semuanya mengandung makna Tauhid, kepasrahan, ketaatan, dan penerimaan dari Alah.

Ini adalah mukaddimah yang agung. Padanya ada beberapa pelajaran yang penting untuk diketahui :

  • Padanya ada penetapan Nama-nama dan Shifat-shifat bagi Allah dan ada salah satu bentuk tawassul yang disyari’atkan yaitu, bertawassul dengan Nama-nama dan Shifat-shifat Allah Ta’ala. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa Syaikh –rahimahullah– tidak mengharamkan tawassul secara mutlak, beliau hanya melarang tawassul yang mengandung kesyirikan, seperti tawassul kepada orang mati, jin atau malaikat.
  • Padanya ada do’a dari Syaikh -rahimahullah- bagi setiap pencari ilmu yang mempelajari aqidah dan menginginkan –dari hal tersebut- kebenaran, serta menjauhi kesesatan dan kesyirikan. Sesungguhnya dia pantas untuk mendapat pelindungan Allah -subhanahu wa ta’ala- di dunia dan akhirat.
  • Padanya juga ada peringatan penting bahwa ilmu dan dakwah dibangun di atas sifat saling merahmati, baik antara guru dan murid atau antara da’i dan mad’u. Sikap ini adalah diantara sebab diterimanya dakwah atau nasihat. Karena itu, Syaikh –rahimahullah– dalam kebanyakan tulisan beliau selalu memulainya dengan do’a untuk orang yang akan membacanya atau yang menerima surat dari beliau.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Sumber :

  • Mengapa Islam Membenci Syirik? (Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan)
  • Syarah Qawa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumayyis dari Maktabah Raudhatul Muhibbin
Iklan

One comment on “Penjelasan Qowa’idul Arba’ | Tanda Kebahagian Seorang Hamba

  1. Ping-balik: 7 Tanda Taubat Seseorang Diterima Allah | Fuh.My

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s