Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Ketiga | Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad


وَبَعْدَ الْعَشْرِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفُرِضَتْ عَلَيْهِ الصَّلَواتُ الْخَمْسُ، وَصَلَّى فِي مَكَّةَ ثلاث سنين وبعدها أمر بالهجرة في الْمَدِينَةِ

Setalah sepuluh tahun berdakwah di Makakh, beliau di-mi’raj-kan ke langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat wajib yang lima waktu. Beliau menjalankan shalat tersebut selama tiga tahun di Makkah, setelah itu beliau diperintah untuk hijrah ke Madinah.

Perkataan penulis:

Sepuluh tahun kemudian beliau dinaikkan ke langit (di-mi’raj-kan).

Ketahuilah bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj merupakan perkara yang telah ditetapkan kebenarannya dalam syariat dan tidak ada sediktipun campur tangan akal di dalamnya. Semua ulama ahli hadits dan ulama ahli fikih menyatakan bahwa isra’ dan mi’raj terjadi pada satu malam dalam keadaan sadar serta dengan jasad dan ruh Rasulullah. Ini perlu ditekankan karena orang-orang Quraisy mendustai dan mengingkarinya. Kalaulah perkara tersebut terjadi dalam mimpi tentunya mereka tidak akan mengingkarinya. Karena mimpi tidak perlu diingkari.

Isra’ secara etimologi ialah [السير بالشخص ليلاً] perjalanan seseorang pada malam hari. Dalam istilah syari’at berarti [سير جبريل بالنبي من مكة إلى بيت المقدس] perjalanan Jibril bersama Nabi dari Makkah ke Baitul Maqdis seperti yang disebutkan dalam firman Allah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al-Israa’ : 1]

Mi’raj secara etimologi berarti [الآلة التي يعرج بها، وهي المصعد] alat yang digunakan untuk naik ke atas, yaitu tangga. Secara syar’i ialah [السلم الذي عرج به رسول الله من الأرض إلى السماء] tangga yang digunakan Rasulullah untuk naik dari bumi ke langit. Mi’raj ini telah dikukuhkan dalam Al-Qur’an:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى – مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى – وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى – إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى – عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى – ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى – وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى – ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى – فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى –  فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى – مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى – أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى – وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى – عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى – عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى – مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى – لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia (Jibril) berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia (Jibril) mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Dia menyampaikan (melalui Jibril) kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada jannah tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar. [An-Najm: 1-18]

Kesimpulan dari berbagai hadits shahih, bahwa Jibril diperintahkan Allah untuk membawa Rasulullah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Kemudian naik dari satu langit ke langit yang selanjutnya hingga mencapai tempat yang disana terdengar goresan pena. Kemudian Allah Ta’ala mewajibkan shalat yang lima waktu -sebagaimana akan datang pembahasannya-. Beliau melihat jannah dan neraka. Bertemu dengan para nabi yang mulia dan shalat mengimami mereka, kemudian kembali ke Makkah dan menceritakan kepada manusia tentang apa yang telah beliau lihat dalam perjalanan tersebut. Maka Orang-orang kafir pun mendustakannya, adapun orang-orang mukmin membenarkannya dan yang lain masih bimbang. [Lihat As-Sirah karya Ibnu Katsir (2/93). Fathul Bary (1/458), (7/96) dst . Syarah Lum’atul I’tiqad karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (hal 59).]

Perkataan Penulis :

Dan disyari’atkan kepada beliau shalat wajib yang lima waktu.

Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada hambaNya, Nabi Muhammad dan ummat beliau, pada malam Mi’raj awalnya sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam. Kemudian beliau senantiasa berbolak-balik antara Nabi Musa dan Rabbnya ‘azza wa jalla (untuk meminta keringanan jumlah shalat) hingga Allah jalla jalaaluhu menjadikannya hanya lima waktu shalat sehari-semalam. Dan Allah berfirman “Shalat itu lima waktu sebanding dengan lima puluh”

Perkataan Penulis :

Beliau menjalankan shalat tersebut selama tiga tahun di Makkah,

Artinya, peristiwa isra’ dan mi’raj terjadi tiga tahun sebelum hijrah. Pada awalnya, shalat yang empat rakaat (ruba’iyyah) hanya dikerjakan dengan dua rakaat hingga beliau hijrah ke Madinah (barulah dikerjakan dengan empat raka’at). Yang demikian itu berdasarkan sebuah atsar dari ‘Aisyah, ia berkata:

فرضت الصلاة ركعتين، ثم هاجر رسول الله ففرضت أربعًا، وتركت صلاة السفر على الأولى

“Pada awalnya shalat diwajibkan hanya dua rakaat kemudian setelah Rasulullah hijrah ke Madinah ditambah menjadi empat rakaat, dan shalat musafir masih tetap seperti semula.” [Hadits riwayat Al-Bukhary (7/267-Fath)]

Menurut riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya, atsar tersebut berbunyi:

فرضت صلاة السفر والحضر ركعتين، فلما أقام رسول الله e بالمدينة زيد في صلاة الحضر ركعتان ركعتان، وتركت صلاة الفجر لطول القراءة، وصلاة المغرب لأنها وتر النهار

“Pada mulanya diwajibkan shalat dua rakaat untuk orang musafir dan muqim. Setelah Rasulullah menetap di Madinah shalat orang yang mukim ditambah dua rakaat, shalat fajar tetap seperti biasa karena panjang bacaannya dan begitu juga shalat maghrib karena dilaksanakan pada penghujung hari.” [Hadits riwayat Ibnu Hibban (6/447) . Ibnu Khuzaimah (1/157). Lihat Fathul Bary (1/464)]

Perkataan Penulis :

Setelah itu beliau diperintah untuk hijrah ke Madinah.

Maksudnya, setelah tiga belas tahun dari pengangkatan beliau sebagai Nabi dan Rasul, beliau diperintahkan untuk hijrah ke Madinah. Yakni untuk memisahkan diri dari orang musyrik dan negeri mereka, agar beliau dapat dengan leluasa menyiarkan agama ini.

Dalil yang menunjukkan bahwa hijrah terjadi tiga belas tahun setelah beliau diutus adalah riwayat dari Abdullah Bin Abbas, ia berkata:

بعث رسول الله e لأربعين سنة فمكث بمكة ثلاث عشرة سنة يوحى إليه، ثم أمر بالهجرة فهاجر عشر سنين، ومات وهو ابن ثلاث وستين

“Rasulullah diutus pada usia empat puluh tahun, beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun dan wahyu tetap turun kepada beliau kemudian diperintahkan untuk hijrah dan menetap disana selama sepuluh tahun. Beliau wafat pada usia 63 tahun.” [HR. Al-Bukhary (7/227 – Fathul Bari)]

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s