Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Kesembilan]


15. Bolehnya memberikan salam dengan isyarat karena udzur

Pada asalnya memberikan salam dengan isyarat adalah terlarang, dikarenakan hal itu termasuk kebiasaan dari ahlul kitab. Sedangkan kita telah diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan tidak bertasyabuh – menyerupai- dengan mereka. At-Tirmidzi telah mengeluarkan sebuah riwayat hadits tentang larangan memberi salam hanya dengan isyarat, karena itu merupakan syiar dari ahlul Kitab. At-Tirmidzi menghukumi hadits ini sebagai hadits yang gharib. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata pula tentang hadits ini, “pada sanadnya terdapat kelemahan, akan tetapi an-Nasaa`i meriwayat sebuah hadits dengan sanad yang jayyid dari Jabir secara marfu’ :

لا تسلموا تسيلم اليهود، فإن تسليمهم بالرءوس والأكف والإشارة

“Janganlah kalian memberikan salam dengan caranya orang Yahudi, dikarenakan salam mereka dengan isyarat kepala dan telapak tangan serta dengan isyarat”.[Fathul Baari ( 11/16 )]

Namun hadits ini terbantahkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asma’ binti Yaziid, beliau berkata:

ألوى النبي صلى الله عليه وسلم بيده إلى النساء بالسلام

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melambaikan tangannya kepada wanita sambil menyampaikan salam”.[HR. At-Tirmidzi (2697) dan lafazh  ini adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad (27014) dan Ibnu Majah (3701), Ad-Darimi (2637), dan Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (1003, 1047) dan Al-Albaniy berkata: hadits shahih.]

Akan tetapi hadits ini dipahami bahwa lambaian tangan beliau sambil pengucapan salam. An-Nawawi mengatakan, setelah menyebutkan hadits At-Tirmidzi: “ Hadits ini kemungkinannya, bahwa Nbai Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyatukan antara lafazh salam dengan isyarat beliau dengan tangan. Dan yang menguatkan hal ini , riwayat Abu Dawud pada hadits ini, dan beliau mengatakan pada riwayatnya: [فسلم علينا] ‘Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengucapkan salam kepada kami'[HR. Abu Daud ( 5204 )]”. [Al-Adzkar hal. 356]

Al-Hafidz mengatakan : “Larangan mengucapkan salam dengan memakai isyarat berlaku kusus bagi yang mampu untuk melafazhkan salam secara indera dan syara’. Jika tidak maka mengucapkan salam dengan isyarat disyariatkan bagi seseorang yang sibuk  dengan suatu kesibukan yang menghalanginya dari pengucapan lafazh jawaban salam, seperti seorang yang tengah shalat, seorang yang jauh ataukah seseorang yang busi demikian pula bagi seseorang yang tuli “[Fathul Baari ( 11 / 16 )]

16. Bolehnya mengucapkan salam kepada seseorang yang sedang shalat dan bolehnya menjawab salam –bagi yang shalat– dengan isyarat.

Suatu yang diperbolehkan diantaranya mengucapkan salam kepada seseorang yang sedang shalat. Hal ini shahih dari pembenaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bagi para sahabat beliau. Dimana mereka – para sahabat – emngucapkan salam kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  sementara beliau sedang mengerjakan shalat, dan beliau tidak mengingkari hal itu. Pembenaran beliau ini menunjukkan bolehnya amalan tersebut.

Di antaranya pada hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعثني لحاجة. ثم أدركته وهو يسير(قال قتيبة: يصلي) فسلمت عليه. فأشار إلي. فلما فرغ دعاني فقال:(إنك سلمت آنفا وأنا أصلي) وهو موجه حيئذ قبل المشرق

“Rasulullah sekali waktu menyuruhku untuk suatu keperluan, lalau ketika saya kembali, saya menjumpai beliau  tengah beribadah – Qutaibah –yaitu Ibnu Sa’id, pent –mengatakan: Sedang shalat -, lalu saya mengucapkan salam kepada beliau. Dan beliau memberi isyaratkan kepadaku. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya beliau memanggilku dna mengatakan: “ Sesungguhnya engkau memberi salam kepadaku namun saya tengah dalam keadaan shalat “. Dan beliau waktu itu menghadap kearah timur. [HR. Muslim ( 540 )]

Hadits lainnya: Hadits Shuhaib, beliau mengatakan:

مررت برسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو يصلي، فسلمت عليه، فرد إشارة. قال: ولا أعلمه إلا قال: إشارة بأصبعه

“Saya melewati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disaat beliau sedang mengerjakan shalat, maka saya mengucapkan salam kepada beliau, dan beliau membalas salamku dengan isyarat. Beliau berkata: Saya tidak mengetahui kecuali beliau mengisyaratkan hanya dengan jari beliau. [HR. Abu Daud ( 925 ). Al-Albani mengatakan: Shahih. Shahih Abu Daud ( 818 )]

Hadits-hadits ini dan juga hadits lainnya menunjukkan bolehnya mengucapkan salam kepada seseorang yang tengah mengerjakan shalat, dan dia membalasnya hanya dengan isyarat.

Pertanyaan : Bagaimana sifat/cara menjawab salam ketika dalam shalat?

Jawab : Tidak ada pembatasan cara dan sifat ketika kita menjawab salam dengan isyarat ketika dalam shalat. Apabila kita kembalikan kepada perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka caranya bermacam-macam, terkadang beliau berisyarat dengan jari berdasarkan hadits dari Suhaib yang telah lalu. Terkadang juga beliau berisyarat dengan tangannya sebagaimana hadist Jabir. [HR. Abu Daud (926) ini adalah hadits Muslim yang telah lalu (540)  dan telah dijelaskan riwayat Abu Daud yakni padanya terdapat penjelasan bahwa menjawab salam ketika sedang shalat itu dengan tangan.]

Terkadang juga beliau berisyarat dengan telapak tangan sebagaimana hadist dari Abdullah bin Umar, dimana beliau berkata,

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى قباء يصلي فيه، قال: فجاءته الأنصار، فسلموا عليه، وهو يصلي، قال: فقلت لبلال: كيف رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يرد عليهم حين كانوا يسلمون عليه وهو يصلي؟ قال يقول هكذا، وبسط كفه، وبسط جعفر بن عون كفه وجعل بطنه أسفل وجعل ظهره إلى فوق

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk pergi ke Masjid Quba’ kemudian beliau shalat didalamnya, lalu datanglah beberapa orang dari kalangan Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau, lalu aku berkata kepada Bilal, “Bagaimana cara Rasulullah menjawab salam mereka sedangkan beliau sedang shalat? Bilal menjawab: “Beliau mengatakan begini, dan beliau meluruskan telapak tangannya. Kemudian Ja’far bin Aun meluruskan telapak tangannya dan menjadikan telapak tangan berada dibawah dan punggung tangan berada diatas”. [HR. Abu Daud (927) Al-Albaniy mengatakan:  hadist Hasan Shahih, Shahih Abi Daud no.820.]

Di dalam ‘Aun Al-Ma’bud disebutkan: “Ketahuilah bahwa menjawab salam dengan isyarat pada hadits ini adalah dengan cara telapak tangan, sedangkan dari hadits Jabir dengan tangan, dari pada hadits Ibnu Umar dari Suhaib dengan jari telunjuk. Dan didalam hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dengan lafazh bahwa beliau menganggukkan kepalanya, dan dalam riwayat lain dengan menolak mempergunakan kepalanya. Riwayat-riwayat ini jika diselarskan, menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesekali mengamalkan yang ini dan sekali waktu dengan yang lainnya, sehingga semua amalan itu diperbolehkan. Wallahu a’lam. [‘Aun al-Ma’bud , syarah sunan Abu Daud (jilid 12 juz 3 hal.128) terbitan Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s