Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Penjelasan Rukun Iman


وأركانُهُ سِتَّةٌُ : أَنْ تُؤْمنَ باللهِ وملائكتِهِ وكُتُبِهِ ورسلِهِ واليومِ الآخرِ وبالقَدَرِ خَيْرِهِ وشَرِّهِ .

Rukun iman ada enam: beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Perkataan penulis: [وأركانُهُ سِتَّةٌُ] rukunnya ada enam, tidak saling bertentangan antara rukun iman dan cabang-cabang iman. Karena yang dimaksud dengan iman dalam makna keyakinan (i’tiqad) adalah rukun iman yang enam, karena rukun iman yang enam itu semuanya menyangkut keyakinan (i’tiqad). Namun jika yang dimaksud adalah macam atau jenis amalan, maka iman mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang. Maka dari sini kita ketahui bahwa hadits rukun iman maksudnya adalah perkara yang berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan) yang merupakan landasan iman, adapun hadits bidh’u wa sab’in syu’bah maksudnya untuk menjelaskan bentuk-bentuk kebaikan yang berkaitan dengan amal.

Perkataan penulis: [أَنْ تُؤْمنَ باللهِ] kamu beriman kepada Allah. Ini adalah rukun yang pertama. Beriman kepada Allah mengandung empat perkara: Mengimani adanya Allah Ta’ala, mengimani rububiyah-Nya, mengimani uluhiyah-Nya, penjelasan tentang tiga hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

Dan yang keempat mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah. Maknanya: menetapkan apa yang telah ditetapkan Allah Ta’ala atas diri-Nya baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Rasulullah dari nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang sesuai dengan kemulian dan kegungan-Nya, tanpa menafikan (ta’thil), menetapkan kaifiyat (takyif) dan menyerupakannya dengan makhluk (tamtsil). Allah’ berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [As-Syura’ : 11]

Perkataan penulis: [وملائكتِهِ] dan beriman kepada para malaikat-Nya. Ini adalah rukun iman yang kedua yaitu beriman dengan malaikat-malaikat-Nya. Malaikat ialah: makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya yang senantiasa menyembah Allah, tidak pernah mendurhakai apa yang diperintahkan Allah kepada mereka serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka selain Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri.” [Al-Muddatsir : 31]

Di antara dalil yang menunjukkan banyaknya bilangan malaikat dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah adalah sebuah hadits shahih yang berkaitan dengan baitul ma’mur, bahwa Rasulullah bersabda:

إن البيت المعمور في السماء السابعة حيال الكعبة يزوره كل يوم سبعون ألف ملك لا يعودون إليه

“Sesungguhnya baitul ma’mur berada di langit yang ketujuh setentang dengan Ka’bah di bumi, setiap hari dikunjungi sebanyak tujuh puluh ribu malaikat kemudian (yang telah masuk) tidak akan kembali lagi.” [Hadits riwayat Al-Bukhary (3036). Muslim (162/259).]

Beriman kepada malaikat tidak akan sempurna kecuali dengan empat perkara:

Pertama, mengimani keberadaan mereka sebagai makhluk yang senantiasa menyembah Allah dan melaksanakan apapun yang diperintahkan kepada mereka.

Kedua, mengimani nama mereka yang telah kita ketahui, sedangkan malaikat yang tidak diketahui namanya wajib kita imani secara global. Dan beberapa nash Al-Qur’an dan sunnah telah diketahui sebahagian nama malaikat tersebut, seperti Jibril bertugas menyampaikan wahyu, Mikail bertugas mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan, Israfil bertugas meniup sangkakala, Malakul maut bertugas sebagai pencabut nyawa. Mereka adalah malaikat yang kita ketahui nama-namanya dan kita mengimaninya. Adapun malaikat lain yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara global.

Dalam beberapa atsar ada disebutkan bahwa malaikat maut bernama Izrail, namun atsar tersebut tidak shahih. Nama yang benar adalah Malakul Maut sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ

Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu”  [As Sajdah : 11]

Ketiga, Mengimani sifat dan bentuk yang telah diberitakan keptula kita. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh imam  Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah Bin Mas’ud, ia berkata:

رأى رسول الله e جبرئيل في صورته وله ستمائة جناح كل جناح منها قد سد الأفق، يسقط من جناحه من التهاويل والدرّ والياقوت ما الله به عليم

“Rasulullah pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya  yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayapnya dapat menutup ufuk, dari sayapnya berjatuhan berbagai warna, mutiara dan permata yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keindahannya.” [Al-Musnad (5/282) berkata Syeikh Ahmad Syakir sanad hadits ini shahih dan berkata Ibnu Katsir dalam Bidayah Wan Nihayah (1/44) sanad hadits ini bagus dan kuat.]Yang maksudnya dengan [التهاويل] at-tahaawiil adalah sesuatu yang terdiri dari berbagai warna.

Hal ini menunjukkan kekuasaan Pencipta dan memberitahukan bentuk Jibril ‘alahis salam yang mempunyai enam ratus sayap, setiap satu sayap dapat menutup ufuk. Tidak perlu mempersoalkan bagaimana Rasulullah dapat melihat enam ratus sayap dan bagaimana pula cara beliau menghitungnya? Padahal satu sayap saja dapat menutupi ufuk? Kita jawab: “Selagi hadits tersebut shahih dan para ulama menshahihkan sanadnya maka kita tidak membahas mengenai kaifiyat dan bagaimananya. Karena Allah Maha Kuasa untuk memperlihatkan kepada Nabi-Nya apa-apa yang tidak dapat dibayangkan dan dicerna oleh akal fikiran kita.

Keempat, suatu perkara yang perlu dalam beriman kepada malaikat yaitu mengimani apa yang kita ketahui dari tugas dan pekerjaan mereka sebagaimana yang sudah disebutkan dalam nash. Jibril bertugas menyampaikan wahyu, Malakul Maut bertugas mencabut nyawa, juga di sana ada malaikat lain yang ditugaskan untuk urusan janin yang ada dalam perut ibunya. Malaikat tersebut menulis rezeki dan ajalnya. Juga ada malaikat yang bertugas untuk mengawasi bani Adam. Firman-Nya:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” [Ar-Ra’du : 11]

Ada malaikat yang bertugas menulis nama-nama orang pada hari Jum’at sebelum khatib naik ke atas mimbarnya [Hadits riwayat A1-Bukhary (2/366),(6/304-Fath)] dan lain-lain yang telah diberitakan dalam nash.

Perkataan penulis: [وكُتُبِهِ] dan beriman kepada kitab-kitab-Nya, ini adalah rukun yang ketiga yaitu beriman dengan kitab-kitab. Yang dimaksud dengan kitab-kitab ialah kitab samawi yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada para rasul-Nya sebagai pentunjuk dan rahmat bagi manusia agar mereka mendapatkan kesejahteraan dunia dan akhirat.

Beriman kepada kitab-kitab tidak sempurna kecuali dengan empat perkara:

Pertama, mengimani bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar turun dari Allah.

Kedua, mengimani nama kitab yang telah kita ketahui, seperti Al-Qur’an, Taurat, Injil dan Zabur. Adapun yang tidak kita ketahui maka kita mengimaninya secara global.

Ketiga, membenarkan berita-berita yang shahih yang disebutkan di dalamnya. Seperti berita-berita yang ada dalam Al-Qur’an dan berita-berita yang belum diubah-ubah dalam kitab-kitab yang terdahulu, misalnya tentang hukum rajam yang merupakan satu perkara yang belum diubah yang didapati di dalam kitab Taurat.

Keempat, mengamalkan hukum-hukum yang belum dihapus, dan hal ini harus ditimbang dengan kitab suci Al-Qur’an. Berita-berita yang tidak mansukh (dihapus) dari berita kitab yang terdahulu seperti hukum  rajam. Karena hukum rajam telah ditetapkan dalam syariat kita, ini menunjukkan bahwa hukum tersebut tidak dihapus.

Kitab-kitab terdahulu semua mansukh (dihapus) dengan turunnya Al-Qur’an Al-‘Azhim yang Allah jamin keasliannya. Karena Al-Qur’an akan tetap menjadi hujjah bagi semua makhluk sampai hari Kiamat kelak. Dan sebagai konsekuensinya, tidak boleh berhukum dengan selain Al-Qur’an dalam kondisi apapun. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An Nisaa’ : 59]

Perkataan penulis: [ورسلِهِ] dan beriman kepada para rasul-Nya, ini adalah rukun yang keempat. [الرسل] Ar-Rusul adalah bentuk jamak dari [رسول] rasul. Definisinya adalah mereka yang diutus Allah kepada kaumnya dan menurunkan untuk mereka kitab atau tidak diturunkan untuknya kitab namun dia diberikan wahyu tentang hukum yang belum pernah diberikan kepada yang sebelumnya. Adapun nabi adalah seorang yang diperintahkan oleh Allah untuk menyeru kepada syariat yang sebelumnya, tanpa menurunkan wahyu baru atau tidak diwahyukan kepadanya hukum yang baru sebagai penghapus hukum yang sebelumnya. Dengan ini berarti setiap rasul itu nabi dan tidak setiap nabi itu rasul. Ada juga yang berpendapat bahwa rasul sama dengan nabi. Pendapat yang pertama adalah pendapat yang lebih shahih. [Lihat kitab An-Nubuwat karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (hal 172). Adhwaul Bayan (5/735). Al-Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (hal 6-7). Mudzakiratu Tauhid karya Syeikh Abdur Razzaq ‘Afify (45).]

Dalilnya adalah firman Allah:

إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُواْ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah.” [Al-Maidah 44]

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa para nabi Bani Israil berhukum dengan kitab Taurat padahal Taurat diturunkan kepada Nabi Bani Israil yang pertama yaitu Musa ‘Alaihi Shalaatu Was Salaam.

Beriman kepada para rasul mengandung empat perkara:

Pertama, mengimani bahwa kerasulan mereka benar-benar dari Allah dan tidak ada sedikitpun yang datang dan diri mereka. Sebagaimana Firman Allah tentang Nabi kita Muhammad :

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى

“Dia tidak berbicara dari hawa nafsunya.” [An-Najm : 3]

Kedua, mengimani para nabi dan rasul yang telah kita ketahui namanya. Ada sejumlah rasul yang tidak kita ketahui namanya namun juga harus kita imani secara global. Karena yang disebutkan namanya hanya sedikit.

Ketiga, membenarkan berita-berita yang shahih dari mereka.

Keempat, melaksanakan syariat rasul yang diutus kepada kita yaitu penutup sekalian nabi, Muhammad. [Lihat Nubdzah fi al-aqidah al- Islamiyah (hal 27 dan seterusnya)]

Perkataan penulis: [واليومِ الآخرِ] dan beriman kepada hari akhirat. Ini adalah rukun yang kelima, yaitu mengimani adanya hari akhirat. Maksudnya adalah hari kiamat yang pada hari itu Allah membangkitkan semua makhluk untuk dihisab dan diberi balasan. Dikatakan hari akhirat karena tidak ada lagi hari setelah hari tersebut, penduduk jannah sudah berada di dalam jannah dan penduduk neraka sudah berada di dalam neraka.

Mengimani adanya hari akhirat tidak sempurna kecuali dengan tiga perkara:

  1. Mengimani adanya hari berbangkit.
  2. Mengimani adanya hisab dan pembalasan.
  3. Mengimani adanya jannah (surga) dan neraka.

Dan insya Allah akan datang pembahasannya.

Perkataan penulis : [وبالقَدَرِ خَيْرِهِ وشَرِّهِ] dan mengimani takdir baik maupun buruk. Ini adalah rukun yang keenam. Yang dimaksud dengan takdir adalah ketetapan Allah terhadap sesuatu yang akan datang sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Beriman kepada takdir tidak sempurna kecuali dengan empat perkara:

  1. Mengimani ilmu Allah, bahwa Dia mengetahui apa yang telah, yang sedang dan yang akan terjadi.
  2. Mengimani adanya kitaabah (penulisan takdir), bahwa Allah telah menulis apa yang Dia ketahui dari segala sesuatu yang ada sampai hari Kiamat.
  3. Mengimani bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah.
  4. Mengimani bahwa Allah a telah menciptakan makhluk dan semua amal perbuatan mereka.

Seorang penyair berkata tentang perkara ini:

علـمٌ كتابةُ مولانا مشيئتُه ## وخلقُه وهو إيجادٌ وتكوين

Ilmu, penulisan, kehendak Allah serta penciptaan
Itulah yang merupakan pengadaan dan takwin

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s