Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Iman


المَرْتَبةُ الثَّانِيَةُ : الإيمانُ.

وهو بِضْعٌ وسبعونَ شُعْبَةً، فأعلاها قولُ لا إِله إلا اللهُ، وأَدْنَاهَا إِماطَةُ الأَذَى عن الطَّرِيقِ، والحياءُ شُعْبَةُ من الإِيمانِ .

Tingkatan Kedua : Iman memiliki tujupuluhan cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah. Dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Sedangkan malu adalah salah satu cabang dari iman.

Perkataan penulis : “Tingkatan yang kedua”, yaitu tingkatan kedua dalam agama “adalah (iman)”. Iman adalah pembenaran yang kuat terhadap semua perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah, yaitu pembenaran yang disertai dengan amal perbuatan, yang merupakan wujud dari Islam. Beriman berarti membenarkan semua printah-perintah Allah dengan mengamalkan rukun-rukun Islam. Insya Allah akan kami singgung perbedaan antara iman dan Islam ketika membicarakan hadits Jibril ‘alaihissalam yang bertanya kepada Rasulullah.

Perkataan penulis: dan iman mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang, kata [البضع] al-bidh’u dengan mengkasrahkan huruf ba’ adalah sebutan untuk nama bilangan antara tiga hingga sembilan.

Perkataan penulis: dan dia mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang. Yang tertinggi adalah ucapapan [لا إله إلا الله] laa ilaaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan ganguan dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dari iman. Ucapan ini diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, juga diriwayatkan oleh Al-Bukhary dengan lafadz “بضع وستون” (enam puluhan cabang lebih). Dalam riwayat Muslim terdapat keraguan antara “بضع وستون أو بضع وسبعون” (lebih dari eman puluh atau lebih dari tujuh puluh) [HR.  Al-Bukhary (1 /51-Fath), Muslim (57,58/35)] . Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Yang lebih diyakini kebenarannya adalah yang lebih kecil, yaitu lebih dari enam puluh cabang .” [Fathul Bary (1/52)]

Jika dikatakan: “Lafadz [بضع وسبعون] adalah tambahan dari perawi tsiqah, dan tambahan dari perawi tsiqah hukumnya diterima.” Dan jika dikatakan “Akan tetapi Rasulullah tidak memastikannya.” Maka kami katakan bahwa riwayat [بضع وستون] lebih rajih (kuat) namun yang menjadi masalah adalah Muslim meriwayatkan dengan dua riwayat, yang pertama beliau meriwayatkannya dengan tanpa keraguan [بضع وسبعون] dan yang kedua dengan keraguan [بضع وستون أو بضع وسبعون]. Oleh karena itu Al-Qadhi ‘Iyadh, Al-Imam Abu Abdullah Al-Halimy dan An-Nawawy merajihkan riwayat [بضع وسبعون].

Perkataan penulis [شعبة – syu’bah] artinya [خصلة – khashlah] bagian; asalnya dari kata [الشُّعبة – Asy-syu’bah] yang berarti [القطعة – qith’ah] sepotong.

Hadits ini menunjukkan bahwa iman mempunyai cabang yang bertingkat-tingkat, karena Rasulullah menyebutkan yang tertinggi dan juga yang terendah serta tidak menyebutkan yang ada di antara keduanya. Tidak disebutkan di dalam hadits  mengenai batasan bilangan dari cabang tersebut. Sebahagian ulama berusaha untuk mengumpulkan dan membatasinya. Di antaranya ada yang sudah mencapai bilangan ini (yaitu lebih dari tujuh puluh cabang) dengan mengumpulkan berbagai perintah syar’i, akhlak dan semua perbuatan baik hingga mencapai bilangan ini. Ada juga yang hampir mendekati bilangan ini. Dan cukuplah bagi kita bahwa semua kebaikan merupakan cabang daripada cabang-cabang keimanan. [Fathul Bary (1/52). Lihat Syarah An-Nawawy nomor yang sudah disebutkan. Lihat Fathul Bary karya Al-Hafizh Ibnu Rajab (1/30). Berkata Ibnu Shalah (Dalam Shiyanah Shahih Muslim hal. 197): “Kemudian pembahasan mengenai penentuan bilangan cabang iman ini terlalu panjang dan banyak seluk beluknya. Ada beberapa karangan yang membahas tentang permasalahan ini dan yang paling banyak faedahnya ialah kitab Al-Minhaj karya Abu Abdullah al-Haliimi imam orang-orang bermadzhab Syafi’i di daerah Bukhara. Beliau termasuk ualama yang terkemuka dan diikuti langkahnya oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqy, seperti yang tampak dalam kitabnya mengandung banyak faedah yaitu Syu’abul Iimaan.”  Lihat Shahih Ibnu Hibban — Al-Ihsan (1/387).]

Perkataan penulis: Yang tertinggi adalah ucapapan [لا إله إلا الله] laa ilaaha illallah. Ucapan ini adalah tingkatan yang paling tinggi, ini adalah kalimat ikhlas, kalimat Islam, kalimat taqwa dan juga dasar agama ini. Di  dalamnya terdapat dalil bagi yang berpendapat bahwa kalimat tersebut adalah kalimat yang terbaik secara mutlak bahkan lebih istimewa dari pada kalimat [الحمد لله رب العالمين] Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Dalam masalah ini banyak terjadi perselisihan pendapat yang telah dipaparkan dan dicantumkan dalil-dalilnya oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitabnya At-Tamhid. [Lihat Fathul Bary karya Ibnu Rajab (1/134) dan At-Tamhid (6/42).]

Perkataan penulis: dan yang terendah, yakni tingkatan yang terendah dari cabang-cabang iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalan yakni menyingkirkan gangguan dari jalan yang biasa dilalui manusia seperti batu, duri atau yang semisalnya. Jika menyingkirkan duri dari jalan termasuk cabang dari keimanan, maka tidak meletakkan gangguan tersebut di jalan juga termasuk cabang keimanan. Maka janganlah seseorang mengeluarkan dari rumahnya sesuatu yang dapat menggangu orang yang melintas, seperti bau busuk, batu, duri yang dapat melukai kaki, atau sebab terganggunya mereka dan yang semisalnya.

Perkataan penulis: dan malu adalah salah satu cabang dari iman. [ الحياء – Al-haya’] dengan membacanya panjang artinya akhlak mulia yang menimbulkan perbuatan baik dan menjauhi hal-hal yang jelek. Malu adalah akhlak yang paling tinggi dan yang paling berharga. Termasuk salah satu cabang dari keimanan karena iman melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, dan malu dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan maksiat. Yang demikian itu telah dijelaskan dalam hadits Rasulullah

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستحي فاصنع ما شئت

“Salah satu ucapan para nabi yang pertama didapati manusia adalah jika engkau tak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary (6/515), (10/527-Fath) dari hadits Abu Mas’ud Al-Anshary Al-Badry ucapannya [إذا لم تستحي] dengan menetapkan huruf ya dan huruf ha berbaris bawah, jazamnya dengan Menghapus huruf ya yang kedua asalnya adalah [استحيا]. Dikatakan [إذا لم تستح] dijazamkan dengan manghapus huruf ya dan mengkasrahkan huruf ha asalnya [استحى] sebagaimana yang dikatakan Al-Jardany dalan syarah arba’in (hal 146).]

Ini adalah kalimat perintah yang berisi ancaman dalam bentuk khabar (berita). Yakni siapa yang tak punya malu maka akan berbuat sesuka hati. Dikatakan bahwa perintah tersebut bermakna pembolehan yakni: Lihatlah kepada perbuatan yang akan kamu kerjakan, jika engkau tidak malu untuk mengerjakannya maka kerjakanlah. Akan tetapi pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pendapat mayoritas ulama . [Lihat Madarijus Salikin 2/259]

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s