Rukun Kedua : Shalat | Rukun-Rukun Shalat


RUKUN-RUKUN SHALAT

Shalat mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan, maka batallah shalat tersebut. Berikut ini penjelasannya secara terperinci:

1. Berniat.
Yaitu niat di hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

إنما الأعمال بالنيات

“Sesunggunnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksanakan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan, tidak mengapa kalau niat itu sedikit lebih dahulu dari keduanya.

2. Membaca Takbiratul Ihram.
Yaitu dengan lafazh: [الله أكبر] (Allahu Akbar). Hal ini berdasarkan  sabda Rasulullah:

مفتاح الصلاة الطهور و تحريمها التكبير و تحليلها التسليم

“Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih)

3. Berdiri bagi yang sanggup ketika melaksanakan shalat wajib.
Hal ini berdasarkan firman Allah :

حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

Dan berdasarkan sabda Rasulullah kepada Imran bin Hushain:

صلِّ قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب

“Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR. Al-Bukhari)

4. Membaca surat Al-Fatihah tiap rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)

5. Ruku’.
Hal ini berdasarkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj : 77)

Juga berdasarkan sabda Nabi kepada seseorang yang tidak benar shalatnya:

… ثمّ اركع حتّى تطمئنّ راكعا

“… kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan ruku’. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Bangkit dari ruku’.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah terhadap seseorang yang salah dalam shalatnya:

ثم ارفع حتّى تعتدل قائما

“… kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. I’tidal (berdiri setelah bangkit dari ruku’).
Hal ini berdasarkan hadits tersebut di atas tadi dan berdasarkan hadits lain yang berbunyi:

لا ينظر الله إلى صلاة رجلٍ لا يقيم صلبه بين ركوعه و سجوده

“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

8. Sujud.
Hal ini berdasarkan firman Allah yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah:

ثمّ اسجد حتّى تطمئنّ ساجدا

“Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

9. Bangkit dari sujud.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

ثمّ ارفع حتّى تطمئنّ جالسا

“Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dengan tuma’ninah. “ (HR. AI-Bukhari dan Muslim)

10. Duduk di antara dua sujud.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah

لا ينظر الله إلى صلاة رجلٍ لا يقيم صلبه بين ركوعه و سجوده

“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

11. Tuma’ninah ketika ruku’, sujud, berdiri dan duduk
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada seseorang yang salah dalam melaksanakan shalatnya:

حتّى تطمئنّ

“Sampai kamu merasakan tuma’ninah. “ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pada saat ruku’, sujud dan duduk. Sedangkan i’tidal pada saat berdiri. Hakikat tuma’ninah itu ialah bahwa orang yang ruku’, sujud, duduk atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yang cukup untuk membaca:

سبحان ربّى العظيم

Satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunnah hukumnya.

12. Membaca tasyahhud akhir serta duduk.
Adapun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud yang bunyinya: Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah:

السلام على الله السلام على جبريل و ميكائيل

“Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail”

Maka bersabdalah Rasulullah:

لا تقولوا هكذا، فإنّ الله هو السلام. ولكن قولوا: التَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ وَ الصَّلَوَاتُ وَ الطَّييِبَاتُ، السلام عليك أيّها النّبيّ و رحمة الله و بركاته، السلام علينا و على عباد الله الصالحين، أشهد أن لا إله إلاّ الله و أشهد أنّ محمّدا عبده و رسوله

“Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca: “Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR. An-Nasai Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih)

Dan sabda Rasulullah:

إذا جلس أحدكم فليقل : التّحيّات لله و الصلوات و الطّيّبات

“Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyahhud), hendaklah dia mengucapkan: “Segala penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i dan yang lainnya, hadits ini shahih dan  diriwayatkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim)

Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun.

13. Membaca salam.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

مفتاح الصلاة الطهور و تحريمها التكبير و تحليلها التسليم

“Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih)

14. Melakukan rukun-rukun shalat secara berurutan.
Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan janganlah is sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

صلّوا كما رأيتموني أصلّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya,  maka batallah shalatnya.

Sumber : Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Dapatkan E-Book dan Ceramah Tentang Sholat pada halaman ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s