Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (5) : Haji


ودليلُ الحج قوله تعالى

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِناً وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan dalil haji adalah firman Allah : “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dan semesta alam.” (Ali Imran : 97)

Perkataan penulis: Dan dalil haji adalah firman Allah : “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dan semesta alam.” (Ali Imaran : 97)

Haji adalah menuju Makah dengan tujuan untuk melaksanakan manasik haji pada waktu yang telah ditentukan. Firman-Nya [وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ], kata على untuk menunjukkan makna wajib. Yang dimaksud manusia adalah anak keturunan Adam baik yang mukmin maupun yang kafir. Karena Allah berfirman [عَلَى النَّاسِ] Wajib Atas Manusia, maka haji itu Wajib baik atas mukmin maupun kafir. Dan ayat ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir juga mendapat kewajiban untuk melaksanakan perintah-perintah sebagaimana yang telah disebutkan dahulu.

Makna [حِجُّ الْبَيْتِ] adalah menetapkan tujuan ke Ka’bah untuk melaksanakan manasik haji.

Firman Allah: [مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً] yakni bagi siapa yang sanggup untuk menempuh perjalanan untuk sampai kepadanya. Yang dimaksud dengan [السبيل] adalah jalan, jika seseorang mempunyai kesanggupan dan mampu untuk menempuh perjalanan ke baitullah, maka ia wajib melaksanakan haji.

Sesungguhnya Allah Maha Kaya atas sekalian alam, yakni Allah mempunyai banyak kebaikan dan tidak membutuhkan siapapun dari makhlukNya. Barangsiapa meninggalkannya padahal kewajiban telah jatuh kepadanya dia melakukan kekafiran. Jika ia meninggalkannya karena ingkar terhadap kewajiban tersebut maka ini adalah kufur akbar yang mengeluarkannya dari Islam, namun jika ia meninggalkannya tanpa mengingkari kewajiban tersebut, maka para ulama berpendapat bahwa orang ini jatuh dalam kufur asghar yaitu kekafiran yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Penyebutan kalimat kafir untuk sebahagian amal yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam banyak disebutkan dalam nash-nash syariat.[Ini adalah salah satu pendapat. Sebahagian lain berpendapat bahwa barangsiapa meninggalkan salah satu dari rukun Islam dengan sengaja maka ia telah kafir sebagaimana yang telah kita singgung. Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab penjelasan untuk hadits ketiga.]

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

اثنتان في الناس هما بهم كفر : الطعن في النسب، والنياحة على الميت

“Ada dua jenis kekafiran yang terdapat pada manusia: Mencela nasab (keturunan) dan meratapi mayat.” [Hadits riwayat Muslim (no 121).] Yakni keduanya termasuk perbuatan kufur dan akhlak jahiliyah.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s