Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Kedelapan]


12. Dilarang mengucapakan salam kepada ahli Kitab

Kita telah dilarang melalui lisan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah untuk memulai mengucapkan salam kepada kepada ahli kitab, beliau bersabda: [لا تبدؤُوا اليهود والنصارى بالسلام . فإذا لقيتم أحدهم في طريق فاضطروه إلى أضيقه] “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani apabila kalian bertemu dengan salah seorang diantara mereka dijalanan maka desaklah dia kebagian jalan yang lebih sempit”.[HR. Muslim no.2167]

Setelah larangan yang jelas ini tidak seorangpun diperkenankan memberi komentar.

Masalah : Apabila kita membutuhkan mereka apakah diperbolehkan memberikan salam kepada Ahli Kitab ?

Jawab : Hadits diatas telah jelas menunjukkan larangan mengucapkan salam kepada mereka, akan tetapi jika hal itu sangat dibutuhkan maka hendaklah menyapa mereka selain dengan ucapan salam, mungkin dengan mengucapkan selamat pagi, selamat sore dan lainnya.

Ibnu Muflih mengatakan Asy-Syaikh Taqiyuddin mengatakan : “Apabila dia menyapanya dengan selain ucapan salam yang membuat mereka senang, maka ini tidaklah mengapa.” [Al-Adab Asy-Syar’iyah 1 / 391 )]

An-Nawawi berkata, “Abu Said – Yakni Al-Mutawalli – berkata: “Apabila seseorang berkeinginan untuk mengucapkan salam kepada seorang kafir dzimmi, dia boleh melakukannya selain ucapan salam, dapat dilakukannya dengan mengatakan : Hadaakallah – semoga Allah memberimu petunjuk – atau An’amallahu shabaahaka – semoga Allah memberikan kenikmatan kepadamu dipagi hari ini -. Saya berkata ( An-Nawawi ): “ Pendapat yangdiutarakan oleh Abu Said tidak mengapa baginya jika diperlukan, dengan mengatakan: – shubihta bil-khair -semoga pagi anda  baik, atau – as-sa’adah – pagi yang tenang atau – al-‘afiyah – dengan kesehatan atau – as-surur– semoga Allah menggembirakan kamu pada pagi ini atau mengatakan semoga Allah memberikan kesenangan dan nikmat padamu pada pagi hari ini atau dengan mengatakan yang lainnya yang semisal dengan ini.

Adapun jika tidak diperlukan, pendapat yang terpilih untuk tidak mengucapkan sesuatu kepadanya. Karena hal itu akan membuat ia senang dan menampakkan sikap persahabatan, sedangkan kita diperintahkan untuk bersikap dan berbicara tegas kepada mereka dan melarang kita untuk bergaul dan menampakkannya. Wallahu a’lam.[Al-Adzkar hal.362-367]

13. Menjawab salam kepada ahli Kitab dengan mengucapkan Wa’alaikum

Diterangkan pada hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا :وعليكم] “Apabila seorang ahli kitab memberikan salam kepadamu maka jawablah dengan mengatakan wa’alaikum”. [HR. Bukhari (6258) dan Muslim (2163)]

Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita tentang tata cara menjawab salam yang disampaikan oleh Ahli kitab yakni dengan mengatakan Wa’alaikum”.

Masalah : Apabila kita mendengar ahlil kitab mengucapkan salam kepada kita dengan mengatakan “Assalamu ’alaikum”, dengan lafazh yang jelas apakah kita harus menjawab dengan ucapan, “Wa ’alaikum”, untuk mengamalkan hadits ini atau dengan mengatakan Wa ’alaikum salam?

Jawab : Sebagian ulama berpendapat apabila kita telah memastikan lafazh salam tersebut dan tidak diragukan lagi, maka sepatutnya bagi kita untuk memjawab salam tersebut. Mereka berpendapat: Inilah makna sebenarnya dari keadilan, sedangkan Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan melakukan perbuatan terpuji.[Ahkam Ahli Dzimmah (1/345-346) Ramadi lin-Nasyri, cetakan pertama tahun 1418H, dan lihat fatawa al aqidah oleh ibnu ‘Utsaimin hal.235-236. Dan As-Silsilah  Ash-Shahihah oleh Al- Albani (2/327-330).]

Sedangkan menurut pendapat ulama yang lain, dan ini  pendapat yang terpilih, bahwasannya, hendaklah kita menjawab salam ahlu Kitab dengan mengamalkan hadits shahih dan yang jelas dengan jawaban: wa’alaikum.[Lihat Fatawa Al-Lajnah ad-Daa`imah (3/312) fatwa no.11123.]

14. Bolehnya memberi salam kepada sebuah majlis yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum kafir.

Pembolehan ini dapat disadur dari perbuantan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Bukhari dan Muslim dan selainnya meriwayatkan: “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  suatu saat menungangi seekor keledai dengan pelana yang terbuat dari beludru. Dan beliau membonceng dibelakang beliau Usamah bin Zaid. Saat itu beliau hendak menjenguk Sa’d bin ‘Ubadah di Bani al-Haarits bin Al-Khazraj – dan kejadian tersebut sebelum perang Badar-. Hingga beliau melintasi sebuah majlis yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum musyrikin para penyembah berhala dan juga kaum Yahudi. Dan diantara mereka terdapat Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan pada majlis tersebut juga terdapat Abdullah bin Rawahah. Dan ketika majlis tersebut terkena semburan debu, Abdullah bin Ubay menutup hidungnya dengan pakaian jubahnya, kemudian dia berkata : Janganlah kalian menyebabkan kami berdebu. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  turun kehadapan mereka  dan mengjaak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah dan membacakan Al-Qur`an kepada mereka … al-hadits “[HR. Al-Bukhari (6254 ) dan Muslim ( 1798 )]

Memulai salam kepada sekumpulan kaum yang terdapat didalamnya kaum muslimin dan kaum kafir, disepakati pemboleannya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[Syarh Shahih Muslim jild 6 ( 12 / 125 )].

Hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits yang melarang memulai salam kepada Ahli Kitab . Karena hadits itu berkaitan apabila yang diberi salam adalah kafir dzimmi atau kepada sekumpula Ahli Kitab. Adapun disini, majlis tersebut terdapat kaum msulimin, olehnya itu diperbolehkan pengucapan salam kepada suatu majlis yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum musyrikin dengan niat salam tersebut hanya kepada kaum muslimin.

Ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Kami bermualah dengan kaum Yahudi dan Nashrani dan kami juga mendatangi kediaman mereka dan disekeliling mereka terdapat kaum muslimin, bolehkah kami mengucapkan salam kepada fmereka ? Beliau menjawab: Boleh, dan anda meniatkan salam tersebut hanya kepada kaum muslimin[Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 1 / 390 )].

An-nawawi mengatakan: “Apabila seseorang melewati skeumpulan orang yang berbaur antara kaum muslimin datau seorang muslim dan kafir , maka sunnahnya adalah mengucapkan salam kepada mereka dan meniatkan salam tersebut kepada kaum muslimin atau muslim tersebut.”[Al-Adzkar karya An-Nawawi hal. 367]

Masalah : Apakah ketika memberi salam kepada sekelompok orang yang bercampur padanya muslim dan kafir dengan mengucapkan: ‘Assalamu’ala man ittaba’al huda” – keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk -?

Jawab : “Tidak boleh mengatakan demikian kepada sekumpulan orang yang didalamnya terdapat kaum muslimin dan kafir , akan tertapi ucapkanlah salam kepada mereka dengan meniatkan salam tersebut untuk kaum muslimin sebagaimana penjelasan di atas. Semakna  dengan penjelasan ini, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Utsaimin :”Apabila kaum Muslimin dan Nashrani berkumpul, hendaklah mengucapkan salam “Assalamu ’alaikum” dengan maksud untuk kaum musliminnya[Fatawa Al-Aqidah hal 237. cetakan Daar Al-Jiil.]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s