Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (4) : Shiyam (Puasa)


Dalil shiyam adalah firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertatiwa.” (QS. 2:183)

Perkataan penulis: dan dalil shaum adalah firman Allah : [يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ] “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Shaum adalah menahan diri dari hal yang dapat membatalkannya sebagai bentuk ibadah (ta’abbud)  kepada Allah yang dimulai sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Kita katakan sebagai bentuk ibadah (ta’abbud) karena kadang kala manusia menahan diri dari makan dan minum karena sakit atau berupa pantangan dan yang semisalnya, (bukan dalam rangka ketaatan).

Banyak faidah yang agung dan fadhilah yang besar dalam beribadah kepada Allah Ta’ala dengan shaum. Meninggalkan syahwat sebagai pendidikan untuk mengendalikan diri. Mengendalikan nafsu untuk membiasakan kesabaran dan ketabahan, agar dapat merasakan nikmat Allah, juga bermanfaat untuk kesehatan yang merupakan penolong yang kuat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Shaum mendatangkan pahala yang besar, jika hal itu dapat dibayangkan oleh orang yang shaum niscaya akan melambung kegirangannya dan akan berharap satu tahun itu seluruhnya bulan Ramadhan.

Allah menyerupakan kewajiban shaum atas umat Islam seperti kewajiban shaum bagi umat-umat sebelum kita, Dia berfirman: [كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ] (sebagaimana yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu). Yaitu penyamaan hukum wajibnya, bukan penyamaan (cara) yang diwajibkan. Maknanya sebagaimana Allah telah mewajibkan shaum atas mereka, shaum tersebut juga diwajibkan kepada kita. Bukan berarti tata cara shaum yang telah diwajibkan kepada kita seperti shaum yang telah  diwajibkan kepada umat sebelum kita. Karena shaum yang diwajibkan kepada kita mempunyai cara tersendiri sehingga turunlah firman Allah :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.  Kemudian sempurnakanlah shiyam itu sampai malam”  [Al-Baqarah : 187]

Dan sunnah juga telah menjelaskan makna tersebut sebagaimana yang telah saya isyaratkan sebelumnya. [Tafsir Ibnu Katsir (1/306), Tafsir Ath-Thabary Tahqiq Mahmud Ahmad Syakir. (3/409).]

Shaum kita berbeda dengan shaum umat terdahulu maksudnya ialah shaum satu bulan penuh dengan cara yang sudah diketahui mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari adalah shaum yang dikhususkan untuk umat ini. Firman-Nya: [لعل] kata la’alla untuk ta’lil maknanya agar shaum  tersebut menjadi perisai untukmu dari adzab Allah Ta’ala caranya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dan tak diragukan lagi bahwa puasa adalah salah satu sebab utama munculnya taqwa, jika dilaksanakan sesuai dengan tuntutan syariat. Namun jika ada kekurangan dalam melaksanakan kewajiban dan adab puasa, kemungkinan tidak akan dapat menghasilkan sifat takwa dan perbaikan.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s