Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (2 & 3) : Shalat dan Zakat


ودليلُ الصلاةِ والزكاةِ وتفسيرُ التَّوْحِيدِ قوله تعالى :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Dalil shalat dan zakat serta penjelasan tentang tauhid adalah firman Allah : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5)

Perkataan penulis : dalil shalat, zakat dan tafsir tauhid adalah Firman Allah [وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ] “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5).

Sebagaimana yang telah diterangkan penulis, ayat yang mulia ini menunjukkan tiga perkara:

Perkara pertama : tentang wajibnya shalat. Yang demikian itu diambil dari Firman-Nya [وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ] mendirikan shalat.

Perkara kedua : [وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ] tunaikan zakat. Karena fi’il (kata kerja) [يقيموا] di-‘athaf-kan kepada fi’il [ليعبدوا] yang dimasuki laamul amri. Jadi di dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk mendirikan shalat dan perintah untuk menunaikan zakat.

Perkara ketiga: Yaitu tafsir tauhid dari firman Allah Ta’ala: [وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ] Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Mereka diperintahkan untuk mengesakan Allah dalam ibadah. Kesimpulan ini dapat diambil dari kalimat qashr (pembatas) yaitu istitsnaa’ ba’da nafyi (pengecualian setelah penafian) dalam kalimat [وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ]. Kemudian ditambah lagi dengan perintah untuk ikhlas yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, yakni dari firman-Nya: [وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ] dan ini merupakan makna dari syahadat [لا إله إلا الله] maknanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, dan tidak sempurna pengakuan ini kecuali dengan mengesakan Allah dalam ibadah.

Sedangkan kata ganti (dhamir) dalam FirmanNya [وَمَا أُمِرُوا] “Padahal mereka tidak disuruh“, maksudnya adalah orang-orang kafir yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu dalam firman Allah

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ # رَسُولٌ مِّنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفاً مُّطَهَّرَةً  # فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ   # وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (Al-Qur’an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 1-5)

Dan pada ayat ini terdapat dalil -sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ahli ushul- yang menjelaskan bahwa orang-orang kafir juga termasuk dalam perintah untuk beriman dan melaksanakan rukun Islam, karena Allah memerintahkan mereka untuk mengesakan Allah dalam beribadah, memerintahkan mereka untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat padahal pada saat perintah tersebut diberikan mereka masih berada dalam kekafiran. Ini menunjukkan bahwa orang kafir pun diperintahkan untuk beriman.

Seperti halnya jika waktu shalat zhuhur telah masuk sementara seseorang sedang berhadats maka dia tetap diperintahkan untuk mengerjakan shalat. Dan shalatnya tidak sah kecuali jika ia berwudhu. Begitu juga orang kafir, mereka diperintahkan untuk mengerjakan shalat, haji, zakat, walaupun mereka masih kafir. Namun, jika ia mengerjakannya maka amalannya tidak sah sehingga ia beriman. [Lihat kitabku Syarah Waraqaat hal 97]

Firman-Nya: [وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ] “dan yang demikian itulah agama yang lurus“. [القيمة] Al-qayyimah adalah sifat muqaddar (tersembunyi) dan taqdirnya (perkiraannya): [وذلك دين الملة القيمة] -allahu a’lam-. Makna [القيمة] AL-Qayyimah ialah [المستقيمة] Al-Mustaqiimah (lurus).

Shalat adalah beribadah kepada Allah dengan rangkaian perkataan dari perbuatan dan tata cara khusus yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. Pada ayat di atas disebutkan lafadz [[وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ]] “dan mendirikan shalat“, dan maksud dari mendirikan shalat ialah beribdah kepada Allah ta’ala dengan mengerjakannya dengan istiqamah dan menyempurnakan pelaksanaannya dengan mengerjakannya pada waktunya dan sesuai tatacara yang diperintahkan.  Dengan melakukan semua rukun shalat dan wajibnya, antusias untuk melaksanakan sunnah fi’liyah maupun sunnah qauliyah. Inilah makna dari iqamush shalat (menegakkan shalat).

Oleh karena itulah Allah tidak menyebutkan shalat dalam Al-Qur’an kecuali dengan sebutan mendirikan, kontinuitas dan menjaganya. Allah tidak mengatakan: [يا أيها الذين آمنوا صلوا] “Wahai orang-orang yang beriman shalatlah kalian”, atau [إن الذين يصلون] “sesungguhnya orang-orang yang sedang shalat” atau [المصلين] “orang-orang yang shalat”. Namun Allah mengatakan: [وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ] dan dirikanlah shalat, [وَالْمُقِيمِينَ الصَّلاَةَ] dan orang-orang yang mendirikan shalat, [الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ] yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, [وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ] Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.. Ini menunjukkan bahwasanya ada perkara lain yang diinginkan yang bukan sekedar shalat,  yaitu menegakkan shalat (iqamush shalah)

Salah satu hasil ibadah shalat adalah menjadi penghubung antara hamba dengan Rabbnya. Shalat membawa ketenangan jiwa, kesejukan hati, bimbingan kepada kebaikan, pencegah dari pebuatan keji dan mungkar. Allah berfirman:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Al-Ankabut : 45]

Rasulullah bersabda:

جعلت قرة عيني في الصلاة

“Kesenanganku diperoleh dalam shalat.” [Hadits riwayat An-Nasa’i (4/61), Ahmad (3/285) dan lain-lain hadits shahih]

Adapun zakat adalah suatu kewajiban yang berkaitan dengan harta yang diberikan kepada golongan tertentu untuk tujuan tertentu. Untuk golongan tertentu misalnya orang-orang fakir dan untuk tujuan tertentu misalnya digunakan untuk fi sabilillah.

Salah satu buah dari membayar zakat ialah sebagai pembersih jiwa orang-orang kaya dari sifat bakhil dan membersihkan jiwa si fakir dari sifat iri dan dengki terhadap orang-orang kaya. Dan untuk memenuhi kepentingan Islam dan kaum muslimin, sebagai pembersih harta dan itu menghasilkan pengaruh baik bagi negara dan rakyatnya.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s