Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (1) : Muhammad Rasulullah


ودليل شهادة أن محمدًا رسولُ اللهِ قوله تعالى :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله : طاعته فيمـا أمـر ، وتصديقه فيما أخبر، واجتنابُ ما عنه نَهى وَزَجَرَ، وأنْ لا يُعْبَدَ اللهُ إِلا بما شَرَعَ

Dalil syahadat Muhammad Rasulullah adalah firman Allah : “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (At-Taubah : 128)

Makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah mentaati segala perintahnya, membenarkan seluruh kabar yang beliau bawa, menjauhi segala yang beliau larang, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan syari’at yang beliau bawa.

Perkataan penulis: dan dalil syahadat Muhammad Rasulullah adalah firman Allah [لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ] “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. “

Ayat ini adalah dalil atas syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Dalam ayat tersebut juga terdapat penjelasan bahwa Allah, telah memberi kenikmatan kepada umat ini dengan mengutus seorang rasul yang mulia dan menyebutkan bahwa rasul tersebut “dari kaum mereka sendiri” yang sudah mereka ketahui kejujuran dan nasabnya, sehingga dengan mudah mereka duduk bersamanya serta mendengar wejangan dan ucapannya karena beliau bukan orang asing di kalangan mereka.

Firman-Nya [عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ] asal kata [العنت] bermakna [المشقة-masyaqqah] yaitu penderitaan. Makna [عَزِيزٌ عَلَيْهِ] yaitu terasa berat olehnya setiap penderitaan yang kamu alami,karena Rasulullah diutus dengan agama yang lurus dan mudah.

Tatkala Rasulullah membacakan kepada sahabat beliau Firman Allah [وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً] “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Ali Imran: 97). Berkata Al-Aqra’ bin Habis: “Apakah kewajiban tersebut untuk setiap tahun wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah pun diam. Dan diamnya beliau adalah sebagai rahmat untuk umat ini. Karena (dalam lanjutan riwayat tersebut disebutkan bahwa-ed) beliau bersabda: “Seandainya saya menjawab ‘iya’, tentunya akan menjadi wajib.”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim No. 1334].

Dengan demikian haji akan menjadi wajib dilaksanakan setiap tahun bagi yang sanggup untuk menempuh perjalanan. Tentunya hal ini akan menjadi beban dan pemaksaan sesuatu yang tidak disanggupi oleh seorang hamba. Namun dengan rahmat Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, ibadah haji tidak diwajibkan terhadap hamba-Nya kecuali hanya sekali dalam seumur hidup.

Firman-Nya [حَرِيصٌ عَلَيْكُم – sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu] yakni sangat menginginkan kamu mendapat hidayah dan menyelamatkan kamu dari api neraka. Rasulullah adalah seorang yang paling antusias untuk memberikan petunjuk kepada umatnya.

Firman-Nya [بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ – amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min]  yakni rasa santun dan kasih sayang diberikan khusus terhadap orang-orang mukmin. Adapun hidayah ditujukan kepada semua manusia, siapa yang dikendaki Allah mendapatkannya maka orang tersebut akan mendapat hidayah dan siapa saja yang Dia sesatkan maka orang tersebut pasti sesat. Rasulullah sangat ingin memberikan petunjuk kepada paman beliau Abu Thalib, namun Allah tidak menghendakinya dan Allah berfirman: [إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ] “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” [Al-Qashash : 56] [Kisah Rasulullah bersama pamannya dikeluarkan oleh Al-Bukhary (8/506-Fath) dan Muslim (no 39/26)]

Perkataan penulis: [ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله : طاعته فيمـا أمـر ، وتصديقه فيما أخبر، واجتنابُ ما عنه نَهى وَزَجَرَ، وأنْ لا يُعْبَدَ اللهُ إِلا بما شَرَعَ] dan makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah mentaati perintahnya, membenarkan seluruh kabar yang beliau bawa, menjauhi dan mencela segala yang beliau larang dan tidak menyembah Allah kecuali dengan syari’at yang beliau bawa.

Tidak akan sempurna syahadat seseorang yang meyakini bahwa Muhammad itu rasulullah kecuali dengan empat hal ini. Apa yang diperintahkan Rasulullah haruslah ditaati. Perintah tersebut ada yang berhukum wajib dan ada yang istihbab (sunnah). Nash-nash yang ada menunjukkan bahwa perintah yang wajib harus dilaksanakan dan perintah yang mustahab/anjuran dianjurkan untuk dikerjakan tapi bukan suatu keharusan. Ini merupakan hikmah diutusnya Rasulullah. Allah berfirman: [وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ] “Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seijin Allah.” [An-Nisaa’ : 64]

Rasulullah harus ditaaati karena beliau memerintahkan apa yang diperintahkan Allah, mensyariatkan apa disayariatkan Allah Ta’ala. Firman Allah [إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ] “Sesungguhnya hukum hanyalah milik Allah”. [Yusuf :40]. Banyak -orang-orang teledor dalam melaksanakan syahadat ini. Mereka mengucapkannya setiap kali shalat dan adzan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, namun tidak merealisasikan syahadat tersebut dalam setiap amalan dan aktivitasnya Allah berfirman : [وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا] “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr : 7]

Perkataan penulis [وتصديقه فيما أخبر] (membenarkan apa yang beliau beritakan) yakni hendaklah kita membenarkan setiap berita yang dibawa oleh Rasulullah.  Barang siapa mendustakannya berarti ia tidak melaksanakan syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah, karena kewajibannya adalah untuk membenarkan beliau sebab beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Maka berita beliau mutlak kebenarannya.

Perkataan penulis [واجتنابُ ما عنه نَهى وَزَجَرَ] (menjauhi dan mencela segala yang beliau larang). Ini adalah landasan ketiga yang banyak dilalaikan oleh orang banyak, sehingga mereka melakukan apa yang dilarang Rasulullah baik perkataan dan perbuatan mereka dalam ibadah, muamalah, akhlak dan etika. Hal ini menunjukkan kelemahan iman mereka. Kita memohon kesejahteraan kepada Allah.

Islam telah membedakan antara perintah dan larangan. Perintah disesuaikan dengan kesanggupan mukallaf  (orang yang dibebani perintah) sedangkan larangan tidak dikaitkan dengan kesanggupan bahkan wajib harus patuhi. Berdasarkan,sabda Rasulullah [ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأْتوا منه ما استطعتم …] Jika aku melarang kalian sesuatu maka jauhilah dan jika aku memerintahkan kalian maka laksanakanlah sesuai dengan kemampuan kalian. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary (13/251-Fath). Muslim (no 1334). Lihat penjelasan Al-Hafizh Ibnu Rajab tentang hadits ini dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (no 9)]

Perkataan penulis [وأنْ لا يُعْبَدَ اللهُ إِلا بما شَرَعَ] (tidak menyembah Allah kecuali dengan syari’at yang beliau bawa) adalah perkara keempat yang merupakan rukun dasar dari rukun-rukun ibadah dan agama. Bahwa ibadah tidak didasarkan atas hawa nafsu, juga bukan kebid’ahan maupun ijtihad yang tidak didasari oleh dalil-dalil yang shahih. Sebab ibadah didirikan atas dasar mengikut apa yang dibawa oleh syariat. Ini adalah salah satu landasan agung dari landasan-landasan agama Islam, yaitu agar kita tidak menyembah Allah kecuali berdasarkan syariat yang dibawa beliau, sebagai tambahan untuk landasan agung pertama yaitu agar kita tidak menyembah selain Allah, ini adalah keikhlasan. Yang pertama adalah mengikut rasul yang artinya tidak boleh bagi seseorang menyembah Allah Ta’ala kecuali dengan cara yang telah digariskan oleh syariat. Tidak boleh seseorang mengatakan: “Hal ini disyariatkan atau hukumnya mustahab”, kecuali dengan dalil syar’i. Barangsiapa beribadah dengan sesuatu yang tidak wajib atau mustahab (sunnah) sementara ia berkeyakinan bahwa ibadah tersebut wajib atau mustahab maka orang ini sesat dan mubtadi’ yang telah melakukan bid’ah sayyiah (jelek) bukan bid’ah hasanah (baik) yang sudah disepakati para imam. Karena Allah tidak disembah kecuali dengan sesuatu yang telah diwajibkan atau dianjurkan. [Majmu’ Fittawa (1/160)]

Dalam nash-nash syariat telah disebutkan perintah untuk mengikuti Rasul dan larangan berbuat bid’ah. Allah berfirman: [الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ] “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi”  [Al-A’raaf : 157]

Dan juga Firman Allah : [قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ] “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali Imran : 31]

Firman Allah Ta’ala: [قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً  الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً] “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya.Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [Al-Kahfi : 103-104]

Firman Allah Ta’ala: [فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ] “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” [Al-Qashash : 50]

Dalam sebuah hadits dari Al ‘Irbadh Bin Sariyah bahwa Rasulullah bersabda: [فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة] “Berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin, peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Jauhkanlah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” [Hadits ini diriwayatkan oleh oleh Abu Daud (no 6407), At-Tirmidzy (no 2676), Ahmad (4/126), Ibnu Majah (no 42-44) berkata At-Tirmidzy hadits hasan shahih.]

Melaksanakan sunnah Rasulullah dan mengikuti hadits beliau merupakan jalan keselamatan bagi setiap muslim. Apa yang dilakukan Rasulullah dalam bab ibadah dan ketaatan, maka kita harus mengikutinya. Sebagaimana Firman Allah: [لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ] “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” [Al-Ahzab : 21]

Semua riwayat yang shahih yang berisi sabda-sabda dan ketetapan-ketetapan beliau maka itulah petunjuk beliau yang kita harus beramal dengannya, Rasulullah bersabda: [صلّوا كما رأيتموني أصلّي] “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary (no631) Muslim (no 674)]

Beliau bersabda tentang haji: [لتأخذوا عنّي مناسككم] “Ambillah dariku cara pelaksanaan haji kalian.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (no 1297)]

Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab berkata: “Adapun yang berkaitan dengan perintah mengikuti Rasulullah maka umat ini wajib mengikuti beliau dalam permasalahan aqidah, perkataan dan perbuatan. Semua perkataan dan perbuatan diukur dengan perkataan dan perbuatan beliau, jika sesuai maka dapat diterima dan jika tidak maka harus ditinggalkan, siapapun orangnya. Karena syahadat Muhammad Rasulullah mengandung pembenaran atas apa yang beliau beritakan, mentaati dan mengikuti setiap perkara yang beliau perintahkan. Imam Al-Bukhary meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: [كلّ أمّتي يدخلون الجنّة إلّا من أبى. قالوا : يا رسول الله و من يأبى؟ قال: من أطاعني دخل الجنّة و من عصاني فقد أبى] “Semua umatku akan masuk jannah kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Siapa yang enggan tersebut?” Jawab beliau: “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk jannah dan Barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan (tidak mau masuk jannah).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary (13/249 —Fathul Bari)] [Lihat, “Mu-allafat Asy-Syaikh” Ar-Rasa-il Asy-Syakhshiyyah hal. 106]

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s