Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (1) : Makna Syahadat


ومعناها : لا معبودَ حَقٌ إِلا اللهُ وحدَه. “لا إِلـهَ” نافيًا جميعَ ما يُعبدُ من دونِ الله . “إِلا اللهُ” مُثْبِتًا العبادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شريكَ له في عبَادَتِهِ، كما أنهُ ليس له شريكٌ في مُلْكِهِ .

وتفسيرُها الذي يوضحها قوله تعالى : وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ  إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ  وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

وقوله تعالى : قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maknanya adalah: “Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah semata.” Kalimat [لا إِلـهَ] laa ilaaha menafikan seluruh apa yang disembah selain Allah. Sedangkan kalimat [إِلا اللهُ] illallah menetapkan peribadatan hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam kerajaan-Nya.

Dan dalil yang menjelaskannya adalah firman Allah : “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu” [Az-Zukhruf : 26-29]

Dan juga firman Allah : “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” [Ali Imran : 64]

Perkataan penulis:  Maknanya, yakni makna syahadat [ لا إله إلا الله – lailaaha illallah] adalah: [لا معبودَ حَقٌ إِلا اللهُ وحدَه] “Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah semata.”.

[لا إله – Laa ilaaha] Tidak ada ilaah artinya [لا معبود – laa ma’buda] tiada sesembahan. Kata [إله – ilaah] sesembahan bermakna [مألوه – ma’luh] yang disembah berasal dari kata [ألِهَ –aliha, يألَهُ –ya’lahu, إلهة – ilahah] artinya [ عبد –‘abida] (menyembah), [ يعبد –ya’budu] (sedang menyembah), [ عبادة – ‘ibaadah] (penyembahan). [ التأله -At-Ta-alluh] penyembahan dalam bahasa arab bermakna [ التعبد –ta’abbud] peribadahan.

Kata [لا – Laa] di sini sebagai [نافية للجنس – nafiyatun lil jinsi] atau dalam beberapa kitab nahwu disebut[ لا التبرئة – laa at-tabrri’ah]. Jika dikatakan: [ لا إله إلا الله – lailaaha illallah] artinya berlepas diri dari segala sesembahan selain Allah.

Kata [إله – ilaah] adalah isim yang dinafikan oleh laa dan khabarnya mahdzuf (tidak disebutkan).

Para ahli nahwu memperkirakan kalimat yang terhapus/tidak disebutkan tersebut dengan kata [موجود –maujud] (yang ada). Perkiraan dengan kalimat ini tentunya tidak benar, jika dikatakan: [ لا إله موجود إلا الله – laa ilaaha maujud illallah] (tidak ada sesembahan yang ada melainkan Allah). Karena kenyataannya banyak ilah yang diibadahi selain Allah seperti pepohonan, bebatuan, manusia dan lain-lain*. Firman Allah

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Luqman : 30]

Kesimpulannya, perkiraan kata yang mahdzuf adalah kata [موجود –maujud] tidaklah benar.

Yang benar, perkiraan kalimat tersebut adalah: [ لا إله حق إلا الله –laa ilaaha haqqun] (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah)  atau [ لا إله معبود بحق إلا الله-laa ilaaha ma’buda bi haqqin] (tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah).

Kata [إلا -illaa] (kecuali)  sebagai pembatas, Lafzhul Jalalah [الله] merupakan badal (pengganti) dari dhamir mustatir yang terdapat pada khabar [لا –laa]. Khabar laa jika kita katakan [لا إله معبود بحق] atau [لا إله حق] di dalamnya terdapat dhamir mustatir dan Lafdzul Jalaalah sebagai badal (pengganti) dhamir tersebut.

Demikianlah I’rab dari Kalimatul Ikhlash (kalimat syahadat). Saya menyinggung permasalahan ini agar para penuntut ilmu paham bahwa ketika mendapatkan dalam buku nahwu yang memperkirakan khabar dengan kata ‘maujud‘ adalah salah. [Sebahagian berpendapat bahwa kalimat tersebut adalah kalimat yang sernpurna tidak membutuhkan khabar. Laa ilaaha = mubtada’, illallaah = khabar. Lihat Risalah Attajrid Fi I’rabi Kalimatit Tauhid karya Syeikh Ali Al-Qary yang wafat 1014]

Perkataan penulis: kalimat [لا إله – laa ilaaha] menafikan seluruh yang disembah selain Allah, sedangkan kalimat [إلا الله –illallah] menetapkan peribadatan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana tidak ada sekutu bagi Nya di dalam kerajaan-Nya.

Yakni bahwa kalimat yang agung ini mengandung penafian dan itsbat (penetapan), maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya ilaah Yang Maha Tunggal yaitu hanya Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sebagaimana Firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilaah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [Al-Anbiyaa’ : 25]

Dan Firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” [An-Nahl : 36]

Dalam ayat ini terdapat penetapan bahwasanya uluhiyah hanyalah hak Allah Ta’ala dan perintah meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Selain Allah tidaklah patut disebut ilaah. Adapun peribadatan kepada ilaah yang ada selain Allah adalah kebatilan yang paling batil. Allah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. ” [Luqman : 30]

Kalimat [لا إله إلا الله – laa ilaaha illallah] mencakup dua rukun. Pertama, kata [لا إله] yang merupakan penafian. Kedua, kata [إلا الله] yang merupakan penetapan. Jika hanya penafian saja belum disebut tauhid, begitu juga jika hanya penetapan saja. Oleh karena itu dua hal tersebut harus ada.

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata:

( والإله هو الذي يطاع فلا يعصى، هيبة لـه وإجلالاً، ومحبة وخوفًا، ورجاءً وتوكلاً عليه، وسؤالاً منه، ودعاء له ، ولا يصلح ذلك كله إلا لله عز وجل، فمن أشرك مخلوقًا في شيء من هذه الأمور التي هي من خصائص الإلهية كان ذلك قدحًا في إخلاصه في قوله : ” لا إله إلا الله “، ونقصًا في توحيده، وكان فيه من عبودية المخلوق بحسب ما فيه من ذلك. وهذا كله من فروع الشرك …

Ilaah adalah yang ditaati dan tidak didurhakai atas dasar penghormatan dan pengagungan, kecintaan dan perasaan takut, harapan dan tawakkal, memohon dan berdo’a kepada-nya, semua itu hanya boleh ditujukan kepada Allah. Barangsiapa menyertakan makhluk dalam salah satu dari perkara yang merupakan kekhususan Ilahi berarti kemurniaan syahadatnya telah cacat dan tauhidnya telah berkurang. Dan berarti juga telah beribadah kepada makhluk sesuai dengan kadar perbuatannya tersebut. Ini semua termasuk cabang- cabang syirik… [Kalimatul Ikhlas (hal 23-24)]

Sebagaimana halnya tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam kerajaan-Nya, juga tiada sekutu bagi-Nya di dalam peribadatan. Sebab kezhaliman yang terbesar adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam kerajaan-Nya dan dalam peribadatan. Oleh karena Allah Ta’ala mencela orang yang mengingkari uluhiyah-Nya meski mereka mengakui rububiyah-Nya. Sebab tauhid rububiyah adalah dalil bagi tauhid uluhiyah sebagaimana yang telah lalu.

Perkataan penulis: “dalil yang menjelaskannya adalah…”.

Yakni beliau tidak menyerahkan penjelasannya kepada siapapun kecuali kepada Al-Qur’an, yaitu firman Allah

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ  إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ  وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.

Ibrahim Khalilur Rahman berlepas diri dari tuhan-tuhan yang disembah oleh kaumnya, berarti beliau juga berlepas diri dari penyembahnya. Ibrahim ‘alaihis salam berlepas diri dari syirik dan pelakunya walaupun mereka adalah karib kerabatnya sendiri seperti ayahnya, kaumnya yakni penduduk kota Babilonia dan raja mereka yang bernama Namrud.

Firman-Nya: [إِنَّنِي بَرَاء]  yakni aku berlepas diri. [مِّمَّا تَعْبُدُونَ] yakni dari patung dan berhala.

Kalimat [إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ] seseunguhnya aku berlepas diri apa yang engkau sembah, sebanding dengan kalimat [لا إله] (tidak ada ilah). Maka makna kalimat [لا إله] semakna dengan kalimat [إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ] yang merupakan kalimat yang berisi penafian.

[إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي] kecuali Rabb yang menciptakan aku. Makna [فَطَرَنِي] ialah yang telah menciptakanku, kalimat ini sema-kna kalimat [إلا الله].

Kemudian nabi Ibrahim menyebutkan perkara yang lebih memperkuat aqidah yang lurus ini. [فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ] karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku. huruf siin dalam kata tersebut berfungsi sebagai penegas, makna [سَيَهْدِينِ] adalah memberiku taufiq dan menunjukiku kepada jalan yang lurus.

[وَجَعَلَهَا] dhamir (kata ganti) kembali kepada kalimat tauhid yang diambil dari [إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ  إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي]. Kalimat agung ini adalah kalimat tauhid yang kekal diwariskan kepada anak keturunannya.

Dalil yang menunjukkkan bahwa kalimat tersebut tetap kekal sampai anak cucu beliau adalah Firman Allah:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”  [Al-Baqarah : 132]

Firman-Nya [لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ] “supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu“, yakni semoga mereka meninggalkan perbuatan syirik dan melaksanakan kalimat tauhid tersebut.

Barangsiapa tidak mengetahui makna kalimat tauhid dan tidak melaksanakan konsekuensinya berarti ia telah jatuh ke dalam dosa syirik. Oleh karena itu Allah berfirman: [وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ] Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.

Ayat ini adalah ayat yang penting dalam masalah aqidah yang menunjukkan beberapa faidah berikut:

Pertama: Ayat ini merupakan dalil wajibnya berlepas diri dari perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. Dari ayat ini dapat juga kita menyimpulkan point yang ketiga yang baru saja disebutkan oleh Syeikh yaitu berlepas diri dari syirik dan pelakunya.

Kedua: Ayat ini menunjukkan keutamaan seorang yang mewariskan hidayah dan nilai-nilai keshalihan kepada anak-anaknya. Seorang insan hendaklah memperhatikan perkembangan anaknya, mendidik mereka dan mewariskan kepada mereka hidayah dan nilai-nilai keshalihan, karena Ibrahim ‘Alaihis shalaatu wa salaam menetapkan kalimat ini pada anak cucu yang lahir setelah belia.

Ketiga: Pada ayat ini terdapat dalil bahwa di antara tanda-tanda yang menunjukkan kesempurnaan akal dan benarnya pemahaman seseorang ialah ia mengikuti petunjuk (hidayah) walaupun bertentangan dengan keluarga, kaum dan penduduk negerinya.

Perkataan penulis:  Firman Allah [قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ] “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun”.

Ini adalah ayat lain yang menerangkan tentang tafsir kalimat syahadat.

Firman Allah [قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ]”Hai Ahli Kitab, marilah”  yakni mari dan kemarilah.

Firman Allah: [إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء] ‘kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama‘ ulama tafsir berkata: “Al-Kalimat As-Sawaa’ adalah Al-Kalimat Al-‘Aadilah (kalimat yang adil). Setiap kalimat ‘aadilah disebut kalimat sawaa’.

Firman Allah: [إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ] “kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu” , yakni  kami dan kamu sama-sama berpegang dengan satu kalimat ini.

Firman Allah [أَلاَّ نَعْبُدَ] “bahwa tidak kita beribadah” ini adalah penafian seperti pada kalimat [لا إله] tiada ilaah. Sedangkan kalimat [إِلاَّ اللّهَ] adalah penetapan.

Firman Allah: [وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً] “dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun” , ini merupakan penjelasan bahwasanya ibadah tidak sempurna kecuali dengan meninggalkan syirik. Karena apabila seseorang beribadah kepada Allah lalu ia menyekutukan-Nya dalam ibadah tersebut dengan sesuatu yang lain berarti ia tidak merealisasikan makna yang dituntut dalam ibadah. Karena yang ditunut dalam ibadah ialah pengesaan terhadap Allah Ta’ala dalam ibadah sebagaimana yang ditunjukkan dalam kalimat ikhlas.

Firman-Nya: [وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ ال] “dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah”, ini adalah konsekuensi dari kalimat ikhlas tersebut. Maknanya, tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb yang ditaati selain Allah dan melazimkan ketaatan dirinya kepada selain Allah karena hal ini belum memenuhi makna ibadah.

عن عدي – رضي الله عنه وأرضاه – أنه لما تلا عليه الرسول  قوله تعالى : اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ ، قال : يا رسول الله، لسنا نعبدهم. قال : “أليسوا يحلون ما حرم الله فتحلونه ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه، قال : بلى، قال : فتلك عبادتهم”

Diriwayatkan dari ‘Ady (dahulunya beragama nasrani-ed) ketika Rasulullah membacakan Firman Allah Ta’ala: [اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ] “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah”, ‘Adiy berkata: “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah menyembah mereka!” Rasulullah bersabda: “Bukankah rahib-rahib tersebut menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah lantas kalian ikut menghalalkannya lalu mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah lantas kalian ikut mengharamkannya?” Ia menjawab: “Benar!” Kata Rasulullah. “Demikianlah peribadatan kalian.”

Dengan demikian maka ayat tersebut menunjukkan konsekuensi dari kalimat ikhlas yaitu tidak mengambil Rabb atau pembuat syariat selain Allah Barangsiapa mengambil selain Allah Ta’ala sebagai pembuat syariat berarti ia telah menyembahnya di samping menyembah Allah Ta’ala. Dia telah meng-athaf-kan (menyambung) firman-Nya [وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ ال] “dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah” dengan kalimat yang lalu (yaitu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun). Karena hal tersebut termasuk salah satu konsekuensi syahadat yaitu mengesakan Allah dalam pensyariatan, tiada hukum melainkan apa yang telah disyariatkan Allah Ta’ala, sebagaimana Firman-Nya [إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ] “tiada hukum kecuali hanya milik Allah”.

Firman Allah : [فَإِن تَوَلَّوْاْ] “Jika mereka berpaling”,  yakni jika mereka tidak mengindahkan dan enggan untuk tunduk kepada kalimat agung ini, [فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ]  maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”, yakni umumkan kepada mereka bahwa kalian adalah orang-orang muslim dan berlepas diri dari mereka dan kesyirikan mereka.

Footnote:

* Lihat penjelasan tentang ini pada pembahasan kaidah dalam memahami Tauhid dan Syirik pada bagian bentuk-bentuk ibadah orang kafir dan musyrikin yang didakwahi oleh Rasulullah.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

One comment on “Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (1) : Makna Syahadat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s