Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Rukun Islam (1) : Syahadat


فأركَانُ الإِسلام خَمسةٌ: شَهَادةٌ أَنْ لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله، وإقَامُ الصَّلاةِ، وإِيِتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ، وحَجُّ بَيْتِ اللهِ الحَرَامِ .

فَدَليلُ الشَّهادَةِ قوله تعالى : شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Rukun Islam ada lima: Yakni bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, Mendirikan shalat, menunaikan zakat, shiyam di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah Al-Haram.

Dalil dari syahadat adalah firman Allah : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiada ilah (yang berhak disembah) selain Dia.” (Ali Imran : 18)

Dalil rukun Islam yang lima adalah hadits Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

بـني الإسـلام على خـمـس : شـهـادة أن لا إلـه إلا الله وأن محمد رسول الله ، وإقامة الصلاة ، وإيـتـاء الـزكـاة ، وحـج البيت ، وصـوم رمضان

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilaah yang berhak disembah kecuali Allah semata dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan shaum di bulan Ramadhan.” []

قال الحافظ ابن رجب رحمه الله : (والمراد من هذا الحديث أن الإسلام مبني على هذه الخمس، فهي كالأركان والدعائم لبنيانه، والمقصود تمثيل الإسلام ببنيان، ودعائم البنيان هذه الخمس ، فـلا يثبت البنيان بدونها، وبقية خصال الإسلام كتتمة البنيان، فإذا فقد منها شيء نقص البنيان وهو قائم، لا ينقض بنقص ذلك، بخلاف نقص هذه الدعائم، فإن الإسلام يزول بفقدها جميعًا بغير إشكال وكذلك يزول بفقد الشهادتين، وأما إقام الصلاة فقد وردت أحاديث مقصودة تدل على أن من تركها فقد خرج من الإسلام… وذهب إلى هذا القول جماعة من السلف والخلف … وذهبت طائفة منهم إلى أن من ترك شيئًا من أركان الإسلام الخمسة عمدًا أنه كافر بذلك …)

Al Hafizh Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata: “Maksud dari hadits ini ialah bahwa Islam dibangun di atas lima perkara ini. Maka kelima perkara ini bagaikan bangunan dan pilar bagi bangunan Islam. Dan maksud permisalan Islam dengan bangunan dan pilar bangunan yang lima adalah bahwa bangunan tidak akan berdiri kokoh jika tidak mempunyai tiang penyangga.  Dan cabang Islam yang lain merupakan penyempurna bangunan tersebut. Jika salah satu cabang tersebut tidak ada maka bangunan tersebut akan berkurang namun masih tetap berdiri, tidak akan runtuh dengan kekurangan  tersebut. Berbeda jika yang kurang tersebut adalah penopangnya. Dan tidak perlu diragukan, Islam seseorang akan  runtuh semuanya jika salah satu rukun tersebut tidak ada. Begitu juga Islam seseorang akan lenyap bila tidak bersyahadat atau tidak mendirikan shalat. Dalam hadits yang berkaitan dengan hal tersebut disebutkan bahwa barangsiapa meninggalkannya berarti telah keluar dari Islam. Sejumlah ulama salaf dan khalaf memilih pendapat ini. Sebahagian dari mereka berpendapat: “Barangsiapa meninggalkan salah satu dari rukun Islam dengan sengaja berarti ia telah kafir…” []

Rukun pertama ialah Syahadat, maknanya adalah keyakinan yang kuat. Dan yang mengungkapkannya adalah lisan.  Sehingga Syahadat ialah keyakinan yang kuat yang diungkapkan oleh lisan. Keyakinan ini disebut syahadat (persaksian), untuk  menjelaskan bahwa syahadat harus dibarengi dengan keyakinan yang kuat.

Syahadat (persaksian) harus disertai dengan melihat atau mendengar objek yang disaksikan. Tatkala keyakinan yang dikehendaki harus kuat maka hal itu diungkapkan dengan lafazh yang menunjukkan kemantapan yaitu syahadat. Ini merupakan hikmah dari perkataan: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada ilaah yang berhak disembah kecuali Allah semata dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah, tidak digunakan kata i’tiqaad (tapi syahadat). Dipilihnya lafazh syahadat bukan lafazh i’itiqaad sebagai penegasan sehingga apa yang engkau yakini seolah-olah engkau melihatnya dan yang engkau lihat berarti engkau saksikan. Inilah makna syahadat أَنْ لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله.

Kemudian di sini ada masalah lain. Dalam hadits dua kalimat syahadat dijadikan satu rukun, tidak dua rukun, لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ  satu rukun dan  مُحَمَّدًا رَسُولُ الله rukun yang lain, sebab isi persaksiannya berbeda. Jawaban untuk masalah ini ada dua:

  1. Pertama, dua kalimat syahadat ini adalah dasar sah tidaknya suatu amalan, karena suatu amalan tidak diterima dan dikatakan sah kecuali dengan dua perkara: (1) Ikhlas karena Allah, (2) Mengikuti cara Rasulullah. Jika terdapat keikhlasan berarti (لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ) telah terealisasi dan jika sesuai dengan cara Rasulullah berarti (مُحَمَّدًا رَسُولُ الله) juga telah terealisasi. Apabila dua kalimat syahadat tersebut merupakan asas diterimanya amal maka sudah tepat bila dijadikan satu rukun.
  2. Kedua, bahwa Rasulullah adalah penyampai berita dari Allah Ta’ala. Maka persaksian kerasulan beliau merupakan  kesempurnaan kalimat syahadat (لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ). Seakan-akan yang kedua menyempurnakan yang pertama. Adapun rukun-rukun yang lain akan dibicarakan nanti –insya Allah– ketika penulis menyebutkan dali-dalilnya.

Perkataan penulis: Dalil syahadat ialah Firman Allah Ta’ala: [شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ] “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak  disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

Penulis, mulai menyebutkan dalil-dalil untuk rukun-rukun ini.

Ayat yang dibawakan penulis sebagai dalil untuk syahadat, adalah sebuah ayat agung yang menunjukkan betapa pentingnya syahadat, karena merupakan sebuah persaksian yang sangat agung. Persaksian yang teragung adalah persaksian tauhid, karena yang bersaksi adalah Allah dan para malaikat bahwa [لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ] tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata.

Makna [شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ]  ialah menetapkan, memberitahukan dan mengabarkan, semua itu semakna dengan kata syahadat.

Firman-Nya [وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ] yang dimaksud  dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang dapat menerangi dan menghidupkan hati. Yang dimaksud ulul ‘ilmi ialah para nabi dan ulama.

Firman Allah Ta’ala: [وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ]  merupakan dalil yang jelas mengenai fadhilah ilmu dan ulama, karena Allah menyebutkan mereka secara khusus dan tidak menyebutkan manusia lain. Kalaulah ada derajat yang mendekati derajat mereka atau yang lebih baik dari mereka, tentunya Allah menyebutkannya. Allah menyebutkan mereka secara khusus dan persaksian  mereka disertakan dengan persaksian para malaikat, maka ayat tersebut dapat dipakai sebagai dalil yang menunjukkan fadhilah ilmu, hal itu dapat dilihat dari dua sisi:

  1. Allah menyebutkan ahli ilmu secara khusus dengan tidak menyebutkan manusia yang lainnya. Allah Ta’ala menyebutkan diriNya yang suci [شَهِدَ اللّهُ] “Allah bersaksi” dan para malaikat-Nya yang bukan dari jenis manusia, kemudian tidak menyebutkan manusia selain ahli ilmu (para ulama). Kalaulah sekiranya ada manusia yang lebih baik atau yang menyamai derajat mereka tentunya Allah telah menyebutkanntya.
  2. Allah Ta’ala menyertakan syahadat mereka dengan syahadatNya. Ini merupakan pengangkatan derajat mereka, yang mana mereka menyaksikan uluhiyah Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah.

Firman-Nya: [قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ] Yang menegakkan keadilan. Al-qisth ialah bersikap adil dalam berkata, berbuat dan menetapkan hukum. [قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ] adalah keadaan yang sudah menjadi suatu kelaziman. Yakni Allah menyatakan bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah yang keadaannya sebagai penegak keadilan. Kemudian kembali menyebutkan tauhid untuk kedua kalinya dalam firman-Nya: [لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ]  “Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s