Bab Thaharah (Bersuci) | MANDI


MANDI
Mandi artinya meratakan air ke seluruh badan dengan niat menghilangkan hadats besar agar dibolehkan mengerjakan ibadah dari yang semula terhalang dengan sebab adanya hadats.

PERINTAH MANDI
Mandi disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah berfirman:

وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

“Dan jika kamu junub maka mandilah” (Al-Maidah: 6)

وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

“(Jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi” (An-Nisa’: 43)

Nabi bersabda:

إذا تجاوز الختانُ الختانَ وجب الغسلُ

“Jika alat kelamin wanita bertemu dengan alat kelamin laki-laki, maka wajiblah mandi. ” (HR. Muslim)

YANG MEWAJIBKAN MANDI
Mandi itu diwajibkan karena beberapa sebab:

1. Junub.
Termasuk keluar mani yang disertai syahwat[1] baik di waktu tidur atau bangun, dari laki-laki atau wanita, begitu juga jima’ yaitu bertemunya dua alat kelamin meskipun tidak keluar mani.

Allah berfirman:

وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

“Dan jika kamu junub maka mandilah” (Al-Maidah: 6)

Nabi bersabda:

إذا التقى الختانان فقد وجب الغسل

“Jika dua alat kelamin bertemu, maka wajiblah mandi. “

2. Berhentinya darah haidh dan nifas.
Allah  berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Sabda Nabi untuk Fathimah binti Abu Hubaisy:

فإذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة و إذا أدبرت فاغسلي و صلّي

“Apabila datang haidh, tinggalkanlah shalat, dan jika selesai haidh, mandilah dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari)

Menurut kesepakatan para sahabat hukum orang nifas sama dengan yang haidh.

3. Mati atau meninggal dunia
Jika seorang muslim meninggal dunia, ia wajib dimandikan berdasarkan perintah Rasulullah agar memandikan putri beliau, Zainab ketika meninggal dunia. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahihain.

Hadits Ummu ‘Athiyah tatkala anak Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam meninggal, beliau bersabda :

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ أَكْثَرَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Mandikanlah dia tiga kali atau lima atau tujuh atau lebih jika kalian melihatnya dengan air dan daun bidara”. (HR. Bukhary-Muslim)

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang orang yang jatuh dari ontanya dan meninggal, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْنِ.

“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan dua baju”. (HR. Bukhary-Muslim).

4. Orang kafir bila masuk Islam.
Orang tersebut diwajibkan mandi, karena perintah Rasulullah kepada Qais bin ‘Ashim agar mandi saat masuk Islam.

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad 5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).

Begitu juga kepada Tsumamah Al-Hanafi [HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dan Abdur Razzaq asalnya dalam kitab Shahihain]

PERBUATAN-PERBUATAN YANG DISUNNAHKAN MANDI
Mandi disunnahkan karena beberapa hal:

1. Mandi untuk hari Jum’at.
Nabi bersabda:

غسل الجمعة واجب على كلِّ محتلم

“Mandi Jum’at itu wajib, bagi setiap orang yang telah bermimpi” (Muttafaq `alaih)

2. Bagi yang memandikan mayit.
Nabi bersabda:

من غسّل ميتًا فليغتسل و من حمله فليتوضّأ

“Barangsiapa memandikan mayat hendaklah ia mandi, dan siapa yang memikulnya hendaklah berwudhu.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya. Hadits ini shahih)

3. Bagi yang ingin ihram.
Bagi yang ingin ihram untuk umrah atau haji disunnahkan baginya mandi, karena Rasulullah mengerjakan hal itu. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit:

أنّه رأى النّبيَّ -صلّى الله عليه و سلّم- تجرّد لإهلاله واغتسل

“Bahwa ia melihat Nabi membuka pakaiannya untuk ihram lalu mandi.” (HR. At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ad-Daruqutni. Hadits ini hasan)

4. Ketika akan masuk Makkah dari wukuf di Arafah.
Berdasarkan perbuatan Nabi, sedang dalil mengenai masuk Makkah diperoleh dari atsar Ibnu Umar:

كان لا يقدم مكّة إلا بات بذي طوى حتّى يصبح و يغتسل و يدخل نهارًا. و يذكر عن النّبيِّ صلّى الله عليه و سلّم أنّه فعله

“Bahwa ia tidak memasuki kota Makkah kecuali bermalam di Dzi Thuwa sampai waktu pagi, kemudian mandi dan masuk kota Makkah pada siang hari. Dan dia menyebutkan bahwa Nabi pernah melakukan seperti itu.” (HR. Muslim)

Dalil sunnah mandi bagi yang akan wukuf di Arafah adalah atsar Ibnu Umar:

كان يغتسل لإحرامه قبل أن يحرم و لدخول مكّة و لوقوفه عشيَّة عرفة

“Ia mandi untuk ihram sebelum melakukan ihram dan ketika hendak masuk kota Makkah, dan ketika akan wukuf di Arafah pada sore harinya.” (HR. Malik, dalam kitab Al-Muwatha’ dan teks aslinya pada Al-Bukhari dan Muslim)

5. Mandi pada dua hari raya.
Para ulama menyatakan sunnah mandi pada dua hari raya, meskipun tidak ada hadits shahih yang menyebutkannya.  Disebutkan dalam kitab Al-Badrul Munir. Semua hadits tentang mandi pada dua hari raya adalah lemah, memang ada  atsar yang cukup baik (jayyid) dari pam sahabat.

Sumber :

– Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.
– Tambahan keterangan dari Situs Darussalaf

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

F o o t n o t e  :

[1] Kalau keluar mani tanpa syahwat seperti karena kedinginan atau sakit maka tidak wajib mandi. Hal ini berdasarkan Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا حَذَفْتَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ. وَفِيْ لَفْظٍ آخَرَ : فَإِذَا رَأَيْتَ فَضْحَ الْمَاءِ فَاغْتَسِلْ. وَفِيْ لَفْظٍ آخَرَ : فَإِذَا فَضَحْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ.

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : Jika kamu memancarkan mani dengan kuat) maka mandilah dari janabah dan jika tidak, maka tidak wajib mandi. Dan dalam lafazh yang lain : “Jika kamu melihat mani yang memancar dengan kuat maka mandilah”. Dan dalam lafazh yang lain : “Jika kamu memancarkan mani dengan kuat maka mandilah”. (HR. Ahmad 1/107, 109, 125, Abu Daud 206 dan An-Nasa`i 1/93 dan dishohihkan oleh Ahmad Syakir dan Syeikh Al-Albany rahimahumullah dalam Al-Irwa` 1/162).

Sisi pendalilan : Yaitu Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam hadits ini mensyaratkan فَضْحُ الْمَاءِ untuk wajibnya mandi sedangkan فَضْحٌ adalah keluarnya air dengan kuat.

Kata Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab : 3/46 فَضْحُ الْمَاءِ adalahدَفْقُهُ (memancar). Dan kata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 1/267 : اَلْفَضْحُ خُرُوْجُهُ عَلَى وَجْهِ الشِّدَّةِ(Keluarnya air mani dengan cara yang kuat).

Ini menunjukkan bahwasanya jika mani keluar tidak dengan syahwat maka tidak wajib mandi, sebab mani itu dapat keluar dengan kuat dan memancar dan hal tersebut tidaklah terjadi kecuali kalau keluarnya dengan syahwat. Ini adalah pendapat Jumhur, Abu Hanifah, Malik dan Ahmad dan dikuatkan oleh Ahli Fiqh zaman ini Syeikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. (Lihat : Nailul Authar 1/258 dan Asy-Syarah Al-Mumti’ 1/386-387.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s