Bab Thaharah (Bersuci) | Wudhu Orang Udzur Dan Cara Bersuci Bagi Orang Yang Sakit


WUDHU ORANG YANG UDZUR

Al-Ma’dzur adalah orang yang sering-sering keluar hadats yang dapat membatalkan wudhu seperti beser (sering-sering kencing) atau sering kentut atau wanita yang istihadhah yang keluar darahnya bukan pada hari-hari haidh atau nifas. Orang-orang seperti ini dianjurkan —sambil terus berobat— berwudhu pada setiap masuk waktu shalat, shalat mereka ini dianggap sah meskipun mereka menunaikannya dalam keadaan udzur. Alasannya adalah sabda Nabi kepada Fathimah binti Hubaisy yang sering istihadhah dan banyak mengeluarkan darah:

ثمّ توضّئي لكلّ صلاة

“Berwudhulah kamu setiap kali mengerjakan shalat.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan lainnya. Hadits ini shahih) Begitulah diqiyaskan hukum orang yang udzur lainnya.

CARA BERSUCI ORANG YANG SAKIT

  1. Orang yang sakit diwajibkan bersuci dengan air, dia berwudhu dari hadats kecil atau mandi dari hadats besar.
  2. Jika tidak bisa bersuci dengan menggunakan air, karena ia lemah, atau khawatir bertambah sakit atau menyebabkan sembuhnya lama maka hendaknya ia tayamum.
  3. Cara tayamum yaitu hendaknya memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah yang suci satu kali, lalu mengusapkannya ke mukanya, kemudian mengusapkannya ke kedua telapak tangannya secara bergantian, jika ia tidak bisa tayamum sendiri hendaknya orang lain yang mentayamumkan, ia tepukkan kedua tangannya ke tanah yang suci lalu ia usapkan ke muka dan dua telapak tangan orang yang sakit tersebut. Demikian pula jika orang yang sakit tersebut tidak bisa wudhu sendiri hendaknya orang lain yang mewudhukannya.
  4. Dibolehkan tayamum dengan menggunakan debu yang terdapat di dinding atau dari tempat suci yang lainnya yang memiliki debu jika dinding tersebut diolesi dengan benda selain dari jenis tanah seperti cat, maka tidak boleh digunakan kecuali jika ada debunya disitu.
  5. Jika pada dinding atau benda lainnya tidak terdapat debu, maka tidaklah mengapa ia diberi debu dan diletakkan di sapu tangan atau tempat lain seperti bejana, kemudian ia tayamum dari tempat tersebut.
  6. Jika ia bertayamum untuk suatu shalat, kemudian tiba waktu shalat yang lain ia masih dalam keadaan suci, maka ia shalat dengan tayamumnya yang pertama, tanpa hams bertayamum lagi, karena ia memang masih dalam keadaan suci, dan tidak ditemui hal-hal yang dapat membatalkannya. Namun mustahab (disunnahkan) untuk bertayamum pada setiap akan shalat.
  7. Wajib bagi yang sakit untuk membersihkan badannya dari najis (kotoran-kotoran), jika tidak mampu membersihkannya, maka ia shalat sebagaimana adanya, dan shalatnya sah tanpa harus mengulanginya.
  8. Wajib bagi yang sakit untuk membersihkan pakaiannya dari najis, melepas pakaian tersebut dan menggantinya dengan pakaian yang bersih (suci), jika ia tidak mampu, hendaknya ia shalat sebagaimana adanya, dan shalatnya sah tanpa harus mengulanginya.
  9. Wajib bagi yang sakit untuk shalat di atas tempat yang suci, seandainya kasur yang ditempati terkena najis, hendaknya kasur itu dicuci atau diganti dengan kasur yang bersih atau diberi alas/sprei yang bersih, jika tidak mampu, hendaknya ia shalat di tempat yang ada/seadanya, shalatnya sah tanpa harus mengulanginya.

Sumber : Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s