Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Kedua | Mengenal Dinul Islam


الأصل الثاني : معرفة دين الإسلام بالأدلة

وهو الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والخلوص من الشرك

وهو ثلاث مراتب : (الإسلام) و (الإيمان) و (الإحسان)، وكل مرتبة لها أركان

Landasan Kedua : Mengenal Dienul Islam Dengan Dalil-Dalilnya.

Dan ia adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid (memurnikan ibadah hanya bagi-Nya) dan tunduk kepada-Nya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.

Islam terdiri dan tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan. Dan masing-masing tingkatan memiliki rukun-rukun.

Perkataan penulis: Landasan kedua ialah mengenal dienul Islam dengan dalil-dalilnya. Setelah penulis selesai membicarakan landasan yang pertama yaitu pengenalan seorang hamba terhadap Rabnya dan menelitinya dengan penelitian yang akurat disertai dalil-dalil yang cukup, selanjutnya beliau berpindah kepembahasan kedua yaitu mengenal dienul Islam.

[الدين] Dien dari segi bahasa mempunyai beberapa makna:

  1. [الطاعة والانقياد ] Tunduk dan patuh. [يقال : دان له دينًا وديانة] Dikatakan daana lahu, diinan, diyanatan. Artinya merendahkan diri dan mentaati.
  2. [ما يتدين به الإنسان] Agama yang dipeluk oleh seseorang. [يقال : دان بكذا] Dikatakan: daana bikadza, artinya mengambilnya sebagai agama dan beribadah dengan tuntunan agama tersebut.

Makna yang kedua mencakup makna yang pertama, sebab barangsiapa yang memeluk suatu agama maka ia akan tunduk dan patuh kepada peraturannya. [Lihat definisi kata [دين] dalam buku Ma’ajimul Lughah, dan lihat buku Nubdzatu Fil ‘Aqidah Al- Islamiyah (hal 5).]

Dienul Islam adalah agama yang dengannya Allah mengutus Nabi-Nya. Dia menjadikan Islam sebagai agama yang terakhir, yang telah Dia sempurnakan untuk sekalian hamba dan sebagai penyempurna nikmat-Nya kepada hamba. Penjelasan tentang masalah ini telah disebutkan sebelumnya.

Penulis telah mengisyaratkan dengan perkataannya: (mengenal Islam dengan dalil-dalilnya) Dalam mengenal Islam harus disertai dengan dalil-dalilnya baik dari Al-Qur’an maupun dari sunnah. Maka wajib bagi seorang insan untuk mengetahui dalil yang berkaitan dengan ibadah yang ia lakukan kepada Allah, agar ia benar-benar mengetahui tentang urusan agamanya. Karena yang demikian itu menjadi sebab istiqamahnya seorang hamba ketika menghadapi pertanyaan di dalam kubur dengan taufik dari Allah Ta’ala. Masalah ini telah dibahas di awal buku.

Perkataan penulis “dan ia adalah” yakni agama Islam yang dengannya Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya berdiri di atas tiga landasan:

  • Pertama: [الاستسلام لله بالتوحيد] Al-istislaam lillahi bit tauhid (tunduk kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya).
  • Kedua: [الانقياد لله تعالى بالطاعة ] Al-inqiyad lillahi Taala bith thaa’ah (patuh kepada Allah dengan mentaati-Nya).
  • Ketiga: [البراءة من الشرك ومن أهل الشرك ] Al-baraa’atu minasy-syirki wamin ahli syirk (membebaskan diri dari syirik dan pelaku syirik).

Tiga landasan ini merupakan pedoman dasar agama Islam. Adapun landasan pertama yaitu [الاستسلام لله] Al-istislaam lillah (tunduk kepada Allah) maknanya merendahkan dan menghinakan diri kepada Allah Ta’ala, karena menurut bahasa diantara makna [أسلم] aslama ialah taat dan tunduk. Dan ini disebutkan dalam Firman-Nya:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya” [Az-Zumar : 54]. Seseorang dikatakan muslim karena ketundukan anggota badannya untuk mentaati Rabbnya. [Lihat Lisanul ‘Arab dari kata  (سلم) salima]

Perkataan penulis [بالتوحيد] bit tauhid yakni mencakup tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Jadi maknanya tunduk dan merendahkan diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya dalam rububiyah dan uluhiyah.

Kedua: [الانقياد لله تعالى بالطاعة ] Al-Inqiyad lillahi Taala bith thaa’ah,  patuh kepada Allah dengan mentaati-Nya, yang mencakup semua perintah dan larangan. Mentaati perintah dengan cara melaksanakannya dan mentaati larangan dengan cara meninggalkannya.

Ketiga: [والخلوصُ من الشرك] Khulush Minasysyirki yakni berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Tidak akan sempurna Islam seseorang hingga ia berlepas diri dari orang-orang musyrik dan dari perbuatan syirik. Janganlah ia mengikuti keyakinan mereka, baik dalam perkataan ataupun dalam perbuatan, tidak bergabung bersama mereka dalam satu tempat, tidak menyerupai mereka serta tidak meniru adat dan kebiasaan mereka sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu.

Allah  berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” [Al-Mumtahanah : 4]

Perkataan penulis: dan dia tiga maraatib (tingkatan). Yakni agama Islam itu ada tiga tingkatan: Islam, iman dan ihsan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Umar Bin Khaththab yang akan datang insya Allah.

[والمراتب : جمع مرتبة، والمرتبة والرتبة: هي المنـزلة، والمكانة، ورتب الشيء ترتيبًا : أثبته وجعله في مرتبته، أي منـزلته] Maraatib adalah bentuk jamak dan kata martabah atau rutbah yang artinya manzilah (derajat) dan makaanah (tingkatan). Rattaba syaian tartiban artinya menetapkan dan meletakkan pada tempatnya. [Lihat kitab Al-Waafi Mu’jamul wasith Lughatul ‘Arabiyah hal. 222]

Perkataan penulis: masing-masing tingkatan memiliki rukun-rukunArkaan bentuk jamak dari rukun yaitu sisi suatu benda yang terkuat dan benda tersebut tidak dapat berdiri dan sempurna kecuali dengan adanya sisi tersebut.

Arkaan bentuk jamak dari rukun yaitu sisi suatu benda yang terkuat dan benda tersebut tidak dapat berdiri dan sempurna kecuali dengan adanya sisi tersebut.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s