Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Macam-Macam Ibadah : Adz-Dzabhu (Menyembelih Hewan)


Dalil Adz-Dzabhu (penyembelihan) adalah firman Allah :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ | لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (Al-An’am: 162-163)

Dan dalil dari As-Sunnah (hadits) :

لعن الله من ذبح لغير الله

“Allah melaknat orang-orang yang menyembelih untuk selain Allah.”

Perkataan penulis : Dan dalil sembelihan (adz-dzabhu) adalah Firman Allah: [قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ] Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku,  ibadat(sembelihan)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” Yang dimaksud dengan  sembelihan adalah menyembelih binatang sebagai bentuk qurban , sembelihan udh-hiyah dan sembelihan hadyu.

Sembelihan dilakukan untuk beberapa hal:

Jenis pertama : dilakukan untuk beribadah kepada Allah, niat si penyembelih untuk mengagungkan Allah yang kepada-Nyalah sembelihan tersebut diperuntukkan, sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada-Nya. Jenis ini dilakukan hanya untuk Allah semata. Jika ia mendekatkan diri (taqarrub) dengan mempersembahkan sembelihan kepada seorang penguasa atau yang lain berarti ia telah melakukan syirik. Tanda-tandanya, sembelihan tersebut disembelih di depannya, yakni darah ditumpahkan ketika orang tersebut hadir. Perbuatan semacam ini merupakan jenis pengagungan yang menunjukkan bahwa niatnya untuk mendekatkan diri kepada orang tersebut. Begitu juga jika sembelihan itu dipersembahkan untuk para wali atau jin -seperti yang dilakukan oleh sebahagian orang jahil di beberapa tempat- termasuk juga perbuatan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, wal ‘Iyadzubillah. [Lihat Fathul Majid (hal 146)]

Jenis yang kedua: Penyembelihan yang dilakukan untuk menghormati tamu atau untuk pesta pernikahan. Hal ini diperintahkan dalam syariat Islam, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Rasulullah pernah bersabda kepada Abdur Rahman Bin ‘Auf :

أولم ولو بشاة

“Buatlah pesta pernikahan walaupun dengan menyembelih seekor kambing.”

Dan juga dalam kisah seorang sahabat Anshar yang dikunjungi oleh Rasulullah bersama Abu Bakar dan Umar . Ketika ia pergi untuk menyembelih hewan beliau bersabda: “Jangan engkau sembelih kambing yang sedang menyusui!” Kemudian ia sembelih hewan tersebut untuk mereka. Rasulullah mendiamkan perbuatan tersebut. [ Hadits dikeluarkan oleh Muslim (no 2038) lihat Jaami’ul Ushul (4/691)]

Jenis yang ketiga yaitu sembelihan untuk dimakan atau untuk diperdagangkan. Hal ini pada dasarnya bertujuan untuk mengambil suatu manfaat yang hukumnya mubah (boleh). Firman Allah Ta’ala:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَاماً فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ | وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.” [ Yasin : 71-72]

Maka Allah menganugrahkan kepada kita hewan-hewan tersebut untuk dimakan. [Lihat Taisirul Azizil Hamid (hal 190-191) , Syarah Al-Ushuluts Tsalaatsah karya Syeikh Ibnu Al-‘Utsaimin]

Firman-Nya : [قُلْ إِنَّ صَلاَتِي] (katakanlah bahwa shalatku) yakni semua shalatku. [وَنُسُكِي ] (sembelihanku) yakni semua sembelihanku yaitu seluruh ibadah atau sembelihan yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala berupa sembelihan ketika haji, sembelihan ‘Idul Adha dan aqiqah. Hal ini merupakan penetapan tauhid dalam ibadah.

Firman-Nya: [وَمَحْيَايَ] (hidupku) urusan kehidupanku dan apa yang aku kerjakan dalam hidupku. Firman-Nya: [وَمَمَاتِي] (matiku) urusan kematianku dan apa yang datang setelahnya. Hal ini merupakan penetapan tauhid rububiyah.

Firman-Nya: [لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ] (untuk Allah Rabb sekalian alam) hanya khusus untuk Allah Sang Pencinta, penguasa, pengatur alam ini. Alam adalah segala sesuatu selain Allah. Firman-Nya: [لاَ شَرِيكَ لَهُ] (tidak ada sekutu bagi-Nya) yakni tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah sebagaimana tidak adanya sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan dan pengaturan.

Firman-Nya: [وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ] (untuk itulah aku diperintahkan) yakni bahwa keikhlasan dan tauhid adalah kewajiban yang telah diperintahkan Allah kepadaku yang harus aku laksanakan.

Firman-Nya: [وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ] (dan aku adalah orang yang pertama Islam) yakni orang yang paling bersegera patuh dengan syariat Islam karena kesempurnaan ilmu tentang Allah Ta’ala. Yang demikian itu jika kata () yang terdapat dalam ayat tersebut berkaitan dengan kepatuhan. Jika yang kata (أَوَّلُ) berkaitan dengan waktu atau zaman, maka makna [الْمُسْلِمِينَ] adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari umatnya. Dan Allah-lah yang lebih mengetahui maksud ayat yang terdapat dalam kitab-Nya. [Lihat Fathul Qadir karya Asy-Syaukany (2/185), Tafsir Ibnu Sa’ady (2/92), Al-Ilmam Biba’dhi Ayaatil Ahkaam karya Syeikh Muhammad Bin ‘Utsaimin (tafsir ketiga muthawasith hal 76)]

Beliau berkata dalam kitabnya Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin: “Dan maksud ayat ini ialah menunjukkan bahwa perkataan, perbuatan lahir dan batin seorang hamba tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah walau siapapun orangnya. Barangsiapa memalingkannya kepada selain Allah berarti ia melakukan kemusyrikan yang telah diingkari oleh Allah melalui firman-Nya: [وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ] (dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah).  Dan seluruh isi kandungan Al-Qur’an adalah penetapan ke-Esaan-Nya dalam ibadah dan penjelasan tentang tauhid tersebut dan penafian terhadap kesyirikan serta berlepas diri darinya. [Qurratu ‘uyunil Muwahhidin (hal 85)]

Perkataan penulis:  “dan dalil dari sunnah: [لعن الله من ذبح لغير الله]  “Allah melaknat siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah”.”

Hadits ini adalah potongan dari hadits Ali Bin Abi Thalib berkata:

حدثني رسول الله بأربع كلمات : لعن الله من ذبح لغير الله، لعن الله من لعن والديه، لعن الله من آوى محدثًا، لعن الله من غيَّر منار الأرض

“Rasulullah menyampaikan kepadaku tentang empat kalimat: “Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, Allah melaknat siapa yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang menolong ahli bid’ah dan Allah melaknat orang yang merubah batas-batas  tanah. ” [Hadits dikeluarkan oleh Muslim no. 1978]

[اللعن] Laknat ialah mengusir atau menjauhkan dari rahmat Allah.

Sabda beliau [لعن الله] “Allah melaknat” kemungkinan bermakna (khabar) pemberitaan atau bermakna insya’. Jika hadits  tersebut bermakna khabar berarti Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa Allah melaknat siapa saja yang  menyembelih untuk selain Allah. Dan apabila bermakna insya’ maka artinya Rasulullah berdo’a, agar orang yang menyembelih untuk selain Allah dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan makna khabar lebih kuat karena menunjukkan bahwa laknat telah dijatuhkan, berbeda dengan makna do’a sebab dapat dikabulkan dan dapat juga tidak. [ Al-Qaulul Mufiid 1/223]

Sembelihan untuk selain Allah bersifat umum baik untuk malaikat, nabi, wali, penguasa, jin atau yang lainnya. Begitu juga hewannya, baik berupa unta, sapi, kambing, ayam dan lain-lain. Menyembelih hanya untuk Allah merupakan ketaatan yang paling mulia dan ibadah taqarrub yang paling agung. Dalam hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah menyembelih hewan kurban selama sepuluh tahun tinggal di Madinah. [ Hadits dikeluarkan oleh Ahmad (13/ 65-111-Fathul Rabbany) At-Tirmidzy (5/96-Tuhfah) sanad hadits ini shahih]

Dan menyerahkan seratus ekor unta hewan kurban kepada Ka’bah (penduduk Makkah) ketika melaksanakan haji wada’. [ Hadits dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Jabir (no 1218) sebagaimana yang telah lalu]

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s