Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Keempat]


3. Makruh hukumnya mengucapkan salam hanya dengan kalimat ‘Alaikas salam

Beberapa hadits-hadist shahih yang menjelaskan tentang perkara ini.  Diantaranya hadits yang telah diriwayatkan oleh Jabir bin Salim Al-Hujaimiy radhiallahu ‘anhu.

أنه قال: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: عليك السلام. فقال:  لا تقل عليك السلام، ولكن قل : السلام عليك. وعند أبي داود بلفظ: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: عليك السلام يا رسول الله. قال: لا تقل عليك السلام، فإن عليك السلام تحية الموتى

Bahwasannya ia berkata: “Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan ‘Alaika as-salam”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu mengatakan ‘Alaika As-Salam, akan tetapi katakanlah As-salaamu ‘Alaika.[HR.At-Tirmidzi no. 2722 beliau berkata hadits hasan shahih]

Dan Abu Daud meriwayatkan dengan lafazh, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Alaika As-Salam Wahai Rasulullah: “ Beliau bersabda: “Janganlah kamu mengatakan ‘Alaika As-Salam, karena sesungguhnya ‘Alaika As-Salam itu untuk orang yang telah mati”.[Sunan Abu Daud hadits no.5209. Al-Albaniy berkata hadits ini shahih.]

Hadist-hadits diatas menunjukan kepada makruhnya mengucapkan salam dengan kalimat ‘Alaika As-Salam. Dan sebagian ulama merinci pembagian dalam penjelasan ini dan kami telah merasa cukup dengan keterangan hadits yang sudah terang dan jelas.

4. Disunahkan mengulangi salam sampai tiga kali apabila salam itu disampaikan kepada jama’ah yang banyak, atau ketika ragu apakah mereka mendengar salamnya.

فعن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم، كان إذا تكلم بكلمة أعادها ثلاثاً، وإذا أتى قوم فسلم عليهم سلم عليهم ثلاثاً

Diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara, maka beliau mengulangnya sampai tiga kali, dan jika beliau mendatangi sekelompok kaum, maka beliau mengucapkan salam sampai tiga kali. [HR. Al-Bukhari no.6244]

Imam An-Nawawi berkata: – (setelah hadits ini) – “Perkara ini berlaku ketika jama’ahnya sangat banyak”. [Maksudnya adalah sebagian mereka ada yang belum mendengar dan dimaksudkan agar salam itu terdengar (Ibnu Hajar mengatakan ini dalam Fathul Baari 11/29) dan perkataan An-Nawawi ini ada dalam Riyadhus Shalihin Bab Kaifiyah Salam hal.291 Penerbit Daarul Ilmi Al-Kutub, cetakan ke duabelas th.1409 H]

Dan Ibnu Hajar menambahkan: “Yaitu apabila disangka bahwa salam itu belum didengar, maka boleh untuk mengulangi salam dua atau tiga kali dan tidak diperbolehkan lebih dari tiga kali” [Fathul Baari hadits no.6244 (11/29) Lihat juga tentang perkara ini pada kita Zaadul Ma’ad (2/418) Penertbit Muasasah Ar-Risalah].

5. Disunnahkan untuk mengeraskan suara ketika memberi salam, begitu pula sebaliknya.

Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk tentang mengucapkan salam dengan suara yang keras, begitu juga bagi orang yang menjawabnya. Bagi yang mengucapkan salam dengan suara pelan tidak akan mendapatkan pahala, kecuali pada keadaan yang dikcualikan sebagaimana akan disebutkan nantinya. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Al-Adab karya beliau, atsar Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu.

عن ثابت بن عبيد قال: أتيت مجلساً فيه عبد الله بن عمر فقال: إذا سلَّمت فأسمع فإنها تحية مباركة طيبة

Dari jalan Tsabit bin Ubaid, dia berkata: “Saya mendataagi sebuah majlis dan didalamnya terdapat Ibnu Umar dan ia berkata, “Jika kamu mengucapkan salam, maka perdengarkanlah, karena sesungguhnya salam engkau akan mendatangkan keberkahan dan kebaikan”.[Al-Adab Al-Mufrad hadits no.1005. Al-Albani mengatakan: shahih sanadnya, demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Hajar (11/18). Shahih Adab Al-Mufrad hal.385]

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Bahwa diantara petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau senantiasa memperdengarkan jawaban salam kepada yang mengucapkan salam kepada beliau”. [Zaad Al-Ma’ad (2/419)]

Ibnu Hajar berkata: “Perintah untuk menyebarkan salam merupakan argumen bahwa salam dengan suara lirih tidaklah cukup, melainkan disyaratkan untuk dikeraskan, sedikitnya mesti memperdengarkan awal salam dan jawabannya dan tidak cukup hanya sebatas isyarat dengan tangan atau selainnya.”

An-Nawawi berkata: “Minimal ucapan salam hingga dikatakan telah menunaikan Sunnah pengucapan salam adalah dengan mengeraskan suara, sehingga yang diberi salam mendengarkan ucapan salam tersebut. Apabila dia tidak mendengar salam tadi, maka tidaklah dikatakan telah mengucapkan salam, dan tidak diwajibkan menjawab salam baginya. Dan sedikitnya jawaban salam yang wajib adalah dengan mengeraskan suara hingga terdengar oleh orang yang mengucapkan salam. Apabila dia tidak mendengarnya, maka kewajiban menjawab salam belum terpenuhi.” [Al-Adzkar hal.304, 355. Dan beliau telah banyak mengutip, disebabkan banyaknya orang-orang yang menggampangkan dalam menjawab salam, maka jika seorang muslim tidak memperhatikannya ia akan mendapat dosa karenanya]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s