Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Macam-Macam Ibadah : Insti’anah


Dalil isti’anah adalah firman Allah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah : 5)

Di dalam hadits disebutkan:

إذا استعنت فاستعن بالله

“Jika engkau meminta hendaklah engkau meminta kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahih)

Perkataan penulis : dalil isti’anah (memohon pertolongan) adalah firman Allah: “Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami meminta tolong.”

[الاستعانة] Isti’anah adalah meminta pertolongan. Karena dalam bahasa arab, lafazh yang ditambah dengan huruf alif [ا], sin [س] dan taa’ [ت] bermakna meminta. Jika dikatakan : [استعان] isti’anah maka bermakna meminta pertolongan, [استغاث] istighasah bermakna meminta bantuan, [استخبر]  istakhbara artinya mencari berita.

Isti’anah ada beberapa jenis:

Jenis Pertama: Isti’anah kepada Allah yang mengandung perendahan diri yang sempurna dari seorang hamba kepada Rabbnya, disertai dengan kepercayaan, penyandaran diri kepada-Nya dan isti’anah jenis ini hanya untuk Allah, yang mengandung tiga hal yaitu:

  1. Merendahkan diri kepada Allah.
  2. Percaya kepada Allah.
  3. Bersandar kepada Allah.

Tiga hal ini hanya untuk Allah Barangsiapa meminta pertolongan (isti’anah) kepada selain Allah dengan ketiga jenis ini berarti is telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. [Lihat Madaarijus Salikin (1/74-75)]

Seorang hamba yang tidak mampu meraih kemaslahatan untuk dirinya dan menolak kemudharatan atas dirinya, tidak ada yang mampu menolongnya untuk mendapatkan kemaslahatan agama dan dunianya kecuali Allah semata, dan ini merupakan realisasi dari perkataan [لا حولا ولا قوة إلا بالله] maknanya tidak akan berpindah seorang hamba dari satu kondisi kepada kondisi yang lain dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah Ta’ala. Ini adalah kalimat yang sangat agung dan salah satu dari perbendaharaan jannah.

Seorang hamba memerlukan pertolongan Allah dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya dan bersabar dalam  menerima segala takdir-Nya, ini diperlukan ketika ia hidup di dunia. Ia juga butuh pertolongan saat mati dan setelah mati ketika  berada di alam barzakh dan di hari kiamat, sebab tidak ada yang dapat menolongnya kecuali Allah semata. Jika seseorang telah melaksanakan semua jenis isti’anah ini maka Allah akan menolongnya. [Lihat Jami’ul Ulum Wal Hikam karya Ibnu Rajab penjelasan hadits No. 19]

Jenis Kedua: Isti’anah (minta bantuan) kepada makhluk dalam perkara yang mereka sanggupi. Maknanya engkau meminta orang lain untuk membantumu atau menolongmu. Syaratnya, harus dalam suatu perkara yang dia sanggupi. Jika perkara tersebut adalah perkara yang baik maka si penolong mendapatkan pahala karena ia telah melakukan kebaikan.  Allah berfirman :  [وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى ] “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa” [Al-Maaidah : 2]. Namun jika hal itu berupa perbuatan dosa maka hukumnya haram. Allah berfirman : [وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ] “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [Al-Maaidah : 2]

Jenis ketiga: Isti’anah kepada orang mati atau orang hidup tentang perkara yang ghaib dan tidak dia sanggupi, ini adalah perbuatan syirik . Karena jika ia meminta pertolongan kepada mayit atau orang hidup untuk suatu perkara yang jauh dan ghaib yang tidak disanggupi olehnya, berati ia berkeyakinan bahwa mayit atau orang tersebut mempunyai kekuasaan di jagat raya dan bersekutu dengan Allah dalam mengaturnya.

Jenis keempat: Isti’anah dengan amalan yang disukai oleh syariat. Jenis ini disayariatkan dalam Islam. Dalilnya adalah firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah : 153] Meminta pertolongan dengan kesabaran dan shalat adalah perkara yang disukai dalam syariat. [ Lihat Syarah Ushul Ats-Tsalaatsah karya Syeikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin]

Firman-Nya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

Dalam ayat ini terkumpul dua perkara besar yang merupakan poros Ibadah. Firman Allah: [إِيَّاكَ نَعْبُدُ] terlepas dari kemusyrikan, dan firman Allah: [إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ] terlepas dari daya dan upaya. Didahulukannya ma’mul (إِيَّاكَ) mempunyai faedah sebagai pembatas sebagaimana yang telah lalu penjelasannya.  Artinya [لا نعبد إلا إياك ولا نستعين إلا بك] Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu dan kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu.

Syeikh Abdur Rahman As-Sa’di berkata: “Mendahulukan kata ibadah dari kata isti’anah adalah mendahulukan yang umum dari yang khusus. Dan karena urgensi mengedepankan hak Allah daripada hak hamba-Nya. Disebutkannya isti’anah setelah ibadah padahal isti’anah itu sendiri termasuk ibadah karena seorang hamba membutuhkan pertolongan Allah dalam melaksanakan semua ibadah. Kalau saja ia tidak ditolong oleh Allah niscaya ia tidak dapat melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.” [Tafsir Ibnu Sa’dy (1/28-29)]

Di dalam hadits disebutkan:

إذا استعنت فاستعن بالله

“Jika engkau meminta hendaklah engkau meminta kepada Allah.” (H.R At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahih)

Perkataan penulis “dan dalam hadits disebutkan: [إذا استعنت فاستعن بالله] Jika engkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah.” [Jami’ At-Tirmidzy (7/219-Tuhfah) Ahmad (1/293) . Al-Hafizh Ibnu Rajab mempunyai syarah yang panjang tentang hadits ini yang sudah dicetak dalam juz yang tipis]

Ini adalah potongan dari hadits Ibnu Abbas yang merupakan sebuah hadits yang sangat agung dan sangat berharga. Awal hadits tersebut adalah:

احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك

“Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu dan jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu.”

Maknanya: Jagalah batasan dan perintah-perintah Allah, niscaya engkau akan dibimbing-Nya ke manapun engkau melangkah.

وإذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله

“Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah.”

Maknanya: Hendaklah engkau membatasi permintaanmu hanya kepada Allah, sebab barangsiapa meminta pertolongan kepada selain Allah akan sesuatu yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah berarti ia adalah seorang musyrik.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s