Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Ketiga]


2. Sifat Salam

  1. Paling utama : [السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ] Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  2. Kemudian berikutnya : [السلام عليكم ورحمة الله] Assalamu ’alaikum warahmatullah.
  3. Dan yang selanjutnya : [السلام عليكم] Assalamua’alaikum.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

أن رجلاً مر على رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في مجلس فقال: السلام عليكم، فقال:عشر حسنات . فمر رجل آخر فقال: السلام عليكم ورحمة الله ، فقال: عشرون حسنة . فمر رجل آخر فقال:السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، فقال: ثلاثون حسنة

bahwasannya seseorang melewati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang duduk dalam majelis, maka laki-laki itu berkata : ”Assalamu ’alaikum!” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Dia telah mendapatkan sepuluh kebaikan.” Kemudian seorang laki-laki lain berlalu sambil berkata :”Assalamu ‘alaikum warahmatullah” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Dia telah mendapatkan dua puluh kebaikan.” Kemudian berlalu laki-laki yang lain dan berkata : ”Assalamua ’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “ia telah mendapatkan tiga puluh kebaikan” [HR. At-Tirmidzi no.2689 dan beliau berkata :”Hadits hasan shahih gharib”, dan diriwayatkan Al-Bukhari dalam adabul mufrad no 986, dan albani berkata :”Hadits ini shahih.” Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad no.19446, dan Ad-Darimi no.2640.]

Adapun sifat dari menjawab salam sama seperti ucapan orang yang memberikan salam atau dengan yang lebih baik berdasarkan firman Allah

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها

“Dan apabila kalian disalami, maka jawablah dengan ucapan salam yang lebih baik atau balasnya dengan salam yang semisalnya. Sesungguhnya Allah akan menghitung sgala sesuatu “  (An-Nisaa’ :26 ).

Dan hendaklah menjawab salam dengan bentuk yang plural (jamak) atau yang lebih sempurna walaupun hanya kepada satu orang saja, dengan ucapan [وعليكم السملام ورحمة الله وبركاته] “wa’alaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh “.

Pertanyaan : Apabila seorang yang memberikan salam telah mengucapkan salam dengan sempurna yakni sampai pada kalimat wabarakatuh, apakah disyariatkan untuk memberikan tambahan setelahnya ketika menjawab salam untuk memenuhi zhahir ayat “Biahsana minha” – yang lebih baik dari salam tersebut – seperti dengan menambahkan kalimat “wamagfiratuhu wa ihsaanuhu “ serta lain sebaginya?

Jawab : Setelah kalimat wa barakatuh tidak ditmabahkan sesuatupun ketika menjawab salam walaupun orang yang memberikan salam mengucapkannya sampai kalimat wa barakatuh. Walaupun sebagian ulama memandang baik akan hal ini (memberikan tambahan setelah wa barakatuh -ed) berdasarkan zhahir ayat, akan tetapi mengikuti sunnah itu lebih utama. Ibnu Abdil Barr berkata, “Ibnu Abbas dan Ibnu Umar berkata, “Hentikan ucapan salam itu pada kalimat al-barakah, sebagaimana penjelasan Allah ta’ala tentang hamba-Nya yang shaleh. Allah berfirman:

رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت

“ Rahmat Allah dan barakah-Nya kepada kalian wahai penghuni rumah “ ( Hud : 73).

Keduanya tidak menyukai seseorang yang menambahkan ucapan salam setelah kalimat wa barakatuh.” [At-Tamhid (5/293)]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s