Tafsir Surat 001 Al-Fatihah : (05) Tafsir Ayat Kedua


TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

  • Ayat Pertama:

“بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ”

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.”

Tafsir ayat ini sudah dipaparkan ketika kita membahas tentang basmalah, silahkan bisa dirujuk di Silsilah Materi Kajian Tafsir No: 5 (Pembahasan ini menyusul insya Allahadmin).

  • Ayat Kedua:

“الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

___________________________________

“الْحَمْدُ للّهِ”

  • Makna al-hamdu

Dalam bahasa Arab, kata al-hamdu berarti: pujian yang sempurna [Al-Muharrar al-Wajîz karya Ibn ‘Athiyyah (I/66) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/205)]. Fungsi penambahan huruf alif dan lam dalam kata ini adalah untuk menunjukkan adanya makna istighrâq (pencakupan segala jenis pujian). Jadi, hanya Allah jalla wa ‘azza sajalah yang berhak mendapatkan segala jenis pujian; sebab Dialah pemilik nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji [Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/138), Tafsîr al-Qurthubi (I/205), ad-Dur al-Mashûn karya as-Samîn al-Halabi (I/37), Tafsîr Ibn Katsîr (I/131), Tafsîr Sûrah al-Fâtihah (hal 39) dan Adhwâ’ al-Bayân karya asy-Syinqîthi (I/47)].

Karenanya, kita dapatkan bahwa di antara redaksi doa yang dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ”.

Ya Allah, milik-Mu-lah pujian seluruhnya.” [H.R. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim].

Kata al-hamdu bukanlah sembarang pujian, namun merupakan pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta terhadap yang dipuji. Kita mengagungkan Allah karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Dan kita juga mencintai Allah, sebab limpahan kenikmatan-Nya yang tak terhitung jumlahnya.

Adapun pujian yang kosong dari pengagungan dan rasa cinta, tidaklah dinamakan al-hamdu, namun dinamakan al-mad-hu (sanjungan). Terkadang kita dapatkan ada yang menyanjung orang lain, dan motifnya adalah: harapan untuk mendapatkan harta duniawi dari yang disanjungnya. Seperti peminta-minta yang menyanjung orang kaya supaya diberi uang, atau bawahan yang berkarakter ABS (Asal Babe Seneng), yang selalu menyanjung-nyanjung atasannya karena mengincar kenaikan pangkat atau penambahan gaji. Ada pula yang menyanjung orang lain, dikarenakan rasa takut akan kelalimannya. Seperti para penyair yang menyampaikan puisi-puisi pujian di hadapan para penguasa; karena khawatir jika tidak melakukannya akan disiksa oleh mereka. Semua sanjungan di atas tidak dinamakan al-hamdu.

Sedangkan pujian seorang mukmin kepada Allah, maka pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta [Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma, oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimîn (hal. 14)].

  • Mengapa kita memuji Allah?

Ketika menjelaskan makna kalimat alhamdulillâh Imam ath-Thabari (w. 310 H) memaparkan mengapa kita harus memuji Allah tabaraka wa ta’ala, “Makna alhamdulillâh adalah: syukur murni hanya untuk Allah, bukan untuk sesembahan lain-Nya atau makhluk-Nya. Sebab Allah telah melimpahkan kepada para hamba-Nya kenikmatan yang tidak mungkin terhitung jumlahnya. Dia telah mencurahkan rezeki duniawi, serta kenikmatan hidup padahal Allah tidaklah berkewajiban melakukan itu semua. Dia juga telah menyehatkan tubuh kita sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan pada-Nya dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bukan hanya itu, Allah juga mengajak dan memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekekalan di kampung keabadian; surga-Nya. Maka hanya Allahlah yang berhak mendapatkan segala pujian di awal dan di akhir.” [Tafsîr ath-Thabari (I/135)].

  • Kemampuan untuk memuji Allah adalah nikmat

Pujian seorang hamba terhadap Rabb-nya merupakan salah satu nikmat Allah paling besar untuk para hamba-Nya. Bahkan, nikmat tersebut lebih besar dibandingkan nikmat-nikmat Allah lainnya, seperti rezeki, keselamatan, kesehatan, tempat tinggal, keturunan dan yang semisal berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya [Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr, karya Syaikh Abdurrazzâq al-Badr (I/256)]. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ”.

Andaikan setiap hamba mendapatkan kenikmatan dari Allah, ia mengucapkan alhamdulillâh; niscaya apa yang ia berikan (berupa pujian terhadap Allah) lebih utama dibandingkan apa yang ia terima (berupa kenikmatan Allah tersebut).” [H.R. Ibn Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani].

Andaikan ucapan kita alhamdulillâh merupakan nikmat dari Allah, bahkan merupakan kenikmatan yang paling besar, berarti ini pun menuntut kita untuk memuji Allah atas kenikmatan besar yang dilimpahkan-Nya tersebut.

Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H) berkata,

“ماَ قَالَ عَبْدٌ قَطّ: الْحَمْدُ للهِ؛ إِلاَّ وَجَبَتْ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ بِقَوْلِهِ الْحَمْدُ للهِ، فَمَا جَزَاءُ تِلْكَ النِّعْمَةِ؟ جَزَاؤُهَا أَنْ يَقُوْلَ: الْحَمْدُ للهِ، فَحَازَ أُخْرَى، وَلاَ تَنْفَدُ نِعَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”.

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan alhamdulillâh melainkan itu dianggap sebagai suatu kenikmatan untuknya. Lantas bagaimanakah kita membalas kenikmatan tersebut? Balasannya adalah dengan mengucapkan kembali alhamdulillâh. Sehingga ia mendapatkan kenikmatan kembali. Dan kenikmatan Allah tidak ada habisnya.” [Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr (hal. 17)].

Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk senantiasa memuji-Nya, amien.

  • Allah memuji diri-Nya sendiri dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri mereka sendiri

Imam Ibn al-’Arabi (w. 543 H) menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya dan memulai kitab suci-Nya dengan pujian terhadap-Nya. Namun, Dia tidak mengizinkan para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri, bahkan dalam al-Quran Allah melarang kita untuk melakukan tindakan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya,

“فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”.

Artinya: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Allah ta’ala juga melarang untuk mendengarkan dan ‘ge er‘ dengan pujian orang lain pada kita, serta memerintahkan kita untuk menolak pujian tersebut. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ”.

Artinya: “Andaikan kalian melihat orang-orang yang suka memuji; maka tebarkanlah debu di muka mereka.” [Dalam Tafsîr-nya (VI/409), Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa para pemuji yang dicela dalam hadits di atas adalah: mereka yang memuji orang lain di hadapannya, dengan pujian yang pada hakikatnya tidak ada dalam diri yang dipujinya, dengan tujuan meraup kepentingan duniawi darinya, atau menjerumuskannya ke dalam sifat sombong. Adapun memuji orang lain lantaran adanya sifat-sifat terpuji dalam dirinya, dengan tujuan untuk memotivasi agar meneruskan sifat terpuji tersebut, juga memberi semangat pada orang lain agar mencontohnya; maka ini tidak tercela. Itu semua kembali kepada niat masing-masing. “Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan“. QS. Al-Baqarah: 220]. (H.R. Muslim dari al-Miqdâd).

Mengapa Allah memuji diri-Nya dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri? Ada tiga jawaban yang disebutkan para ulama:

  1. Sebagaimana telah maklum bahwa dalam agama Islam, kita diperintahkan untuk memuji Allah. Bagaimana cara memuji-Nya? Di ayat inilah Allah mengajari kita cara memuji-Nya; yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn“. Jadi Allah memuji diri-Nya dengan tujuan mengajari kita bagaimana cara kita memuji-Nya.
  2. Ayat tersebut sebenarnya bermakna perintah dari Allah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya. Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Ucapkanlah alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn!”.
  3. Memuji diri sendiri terlarang karena menyebabkan tumbuhnya kesombongan dalam jiwa, padahal para hamba adalah makhluk yang lemah dari segala sisinya, sehingga tidak berhak untuk sombong sama sekali. Adapun Allah ta’ala, Dia adalah dzat yang berhak memperoleh segala macam bentuk pujian; karena Dia memiliki kesempurnaan dari segala sisi [Lihat: Ahkâm al-Qur’ân (I/24-25) dan periksa pula: Tafsîr ath-Thabari (I/139), serta Tafsîr al-Qurthubi (I/207-209)].

“رَبِّ الْعَالَمِينَ”

  • Makna Rabbul ‘alamin

Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 14)].

Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya.

Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor.

Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya.

Namun Allah ‘azza wa jalla tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/ pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun, ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer saja. Adapun barang-barang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta.

Kata al-’âlamûn maknanya adalah: segala sesuatu selain Allah ta’ala, berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui [Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthuby (I/213-214)].

Andaikan makna al-’âlamûn adalah apa yang tersebut di atas, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allah, betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya.

Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas:

  • Allah sebagai Pencipta alam semesta.

Secara fitrah, seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Dalam Alquran diceritakan,

“وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ”

Artinya: “Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Q.S. Luqman: 25 dan az-Zumar: 38).

Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qasim at-Taimy dalam kitabnya: Al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allah ta’ala.

Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples, lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”.

Seorang ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allah ta’ala,

“أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ”

Artinya: ‘Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui?’ (Q.S. Al-Mulk: 14).

Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku: berapa jumlah mereka, mana yang jantan dan mana yang betina, mana yang bapak, serta mana yang anak?!”

Si ateis tadi pun terperanjat, lalu tertunduk diam seribu kata.

Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allah jalla wa ‘ala Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali!

Seorang ulama abad keempat; Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-’Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau berusaha mengupas keagungan Allah dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau mengajak kita untuk bertafakur dan merenungi keagungan ‘Arsy Allah, para malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya.

Sekadar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan.

Allah menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun!

“اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا”

Artinya: “Allah yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (Q.S. Ar-Ra’du: 2).

Allah juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air!

“وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاء وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ”

Artinya: “Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”. (Q.S. Ar-Ra’du: 4).

Di akhir ayat di atas, Allah menjelaskan buah dari tafakur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allah jalla wa ‘ala.

  • Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta.

Kepemilikan dan kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzalimi, membalas orang yang menzalimi, mengayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allah jalla wa ‘ala [Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-‘Aliy (II/1295-1296)].

Tentunya, ini berbeda dengan kekuasaan manusia yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya, ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikarismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, begitu seterusnya.

  • Allah sebagai pengatur alam semesta.

Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanifah diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanifah berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, ‘Percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya. Tanpa ada seorangpun yang menaikinya?’”

Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!”

“Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!” [Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahawiyyah karya Imam Ibn Abi al-‘Izz (I/135)].

Allah ta’ala berfirman,

“خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى”

Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Q.S. Az-Zumar: 5).

Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan, adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya pemfilteran racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita.

“وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ”

Artinya: “Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21).

  • Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin

Dengan menghayati nama Allah ini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allah ini:

  1. Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allah jalla wa ‘ala; sebab di tangan-Nyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal!
  2. Kita akan terjauh dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan bertafakur akan keagungan ciptaan Allah, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allah! Bukan hanya itu, Allah pulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allah juga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allah pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi.

Pada momen apa sajakah kita diperintahkan untuk memuji Allah (mengucapkan hamdalah)?
[
Penulis menukil dan meringkas pembahasan ini dari buku Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (I/237-242)]

Seperti biasanya, setelah kita berusaha memadukan pembahasan yang bersifat teoritis dengan pembahasan yang bersifat aplikatif, yakni bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, seorang hamba tertuntut untuk senantiasa memuji Allah kapanpun juga; sebab ia selalu berada dalam nikmat Allah di seluruh waktunya, baik nikmat duniawi, maupun nikmat agama. Ditambah lagi, Rabb kita; Allah subhanahu wa ta’ala adalah dzat yang memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat mulia, sehingga Dia berhak untuk mendapatkan pujian di setiap waktu.

Hanya saja, ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus, agar seorang hamba memuji Allah saat itu. Di antara momen tersebut:

1. Setelah makan dan minum.

Allah ta’ala berfirman,

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ”.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah: 172).

Di antara bentuk syukur kepada Allah atas makanan yang dikaruniakan-Nya: memuji Allah ta’ala setelah makan, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

“إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا”.

“Sesungguhnya, Allah akan meridhai hamba-Nya jika selesai makan ia memuji-Nya, atau setelah minum ia memuji-Nya.” (H.R. Muslim dari Anas bin Malik).

Redaksi hamdalah atau pujian pada Allah setelah selesai makan ada beberapa macam. Antara lain:

  • Alhamdulillâhi hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi, ghaira makfiyyin, wa lâ muwadda’in, wa lâ mustaghnâ ‘anhu rabbunâ.

Dalilnya: hadits yang disampaikan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ، وَلَا مُوَدَّعٍ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبُّنَا”.

“Sesungguhnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai mengangkat hidangan, beliau membaca, ‘Alhamdulillâhi hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi, ghaira makfiyyin, wa lâ muwadda’in, wa lâ mustaghnâ ‘anhu rabbunâ (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi, yang tidak tertolak, tidak ditinggalkan dan tidak dibuang (bahkan dibutuhkan). (Dialah) Rabb kami).’(H.R. Bukhari).

  • Alhamdulillâhilladzî ath’amanî hâdzâ wa razaqanîhi min ghairi haulin minnî wa lâ quwwatin.

Dalilnya: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ”؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ”.

“Barangsiapa makan suatu makanan lalu ia membaca, ‘Alhamdulillâhilladzî ath’amanî hâdzâ wa razaqanîhi min ghairi haulin minnî wa lâ quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, tanpa adanya daya dan kekuatan dariku)’; niscaya akan diampuni dosanya yang telah lampau dan yang akan datang.” (H.R. Abu Dawud dan sanad-nya dinilai sahih oleh al-Hakim). Adapun Syaikh al-Albany menyatakan hadits ini hasan [Lihat: Irwâ’ al-Ghalîl (VII/48 no. 1989)].

Catatan:

Masih ada redaksi hamdalah sesudah makan lainnya yang berlandaskan hadits sahih. Banyak di antaranya telah disebutkan oleh Imam an-Nawawy dalam kitabnya al-Adzkâr [(hal. 339-342)]. Adapun redaksi yang masyhur di kalangan banyak kaum muslimin yang berbunyi: “Alhamdulillahilladzî ath’amanâ wa saqanâ wa ja’alanâ minal muslimîn”, redaksi ini disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan yang lainnya. Hanya saja hadits ini dinilai lemah oleh Imam adz-Dzahaby [Dalam kitabnya; Mîzân al-I’tidâl (I/228) beliau berkomentar bahwa hadits ini “gharîb munkar” (ganjil dan mungkar)] dan Syaikh al-Albany [Lihat catatan kaki beliau atas kitab Misykât al-Mashâbîh karya at-Tibrîzy (II/1216 no. 4204)]; dikarenakan sanad-nya bermasalah [Lihat: Nail al-Authâr bi Takhrîj Ahâdîts Kitâb al-Adzkâr karya Syaikh Salim al-Hilaly (I/527)].

2. Ketika shalat, terutama saat i’tidal (berdiri setelah ruku’ sebelum sujud).

Banyak redaksi hamdalah untuk momen ini, di antaranya:

a. Rabbanâ wa lakal hamdu hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi.

Dalilnya: apa yang diceritakan Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqy,

كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ: “سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ”. قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: “رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ”. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: “مَنْ الْمُتَكَلِّمُ؟”، قَالَ: “أَنَا”، قَالَ: “رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ”.

“Suatu hari kami shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat mengangkat kepalanya setelah ruku’, beliau membaca, “Sami’allôhu liman hamidah (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya)”.

Seorang makmum menimpali, “Rabbanâ wa lakal hamdu hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi (Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian yang banyak, baik dan diberkahi)”.

Selesai shalat beliau bersabda, “Siapakah yang mengucapkan bacaan tadi?”.

Laki-laki tadi menjawab, “Saya”.

Beliau menjelaskan, “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba siapakah yang menulisnya pertama kali”. (H.r. Bukhari).

b. Allôhumma rabbanâ lakal hamdu mil’us samâwâti wa mil’ul ardhi wa mil’u mâ syi’ta min syai’in ba’du.

Dalilnya: apa yang dikisahkan Ibnu Abi Aufa,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ: “سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ”.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengangkat punggungnya ketika bangkit dari ruku’, beliau membaca: “Sami’allôhu liman hamidah. Allôhumma rabbanâ lakal hamdu mil’us samâwâti wa mil’ul ardhi wa mil’u mâ syi’ta min syai’in ba’du (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya. Ya Allah, Rabb kami, punya-Mu lah segala pujian seluas langit dan bumi serta seluas apapun selainnya sesuai kehendak-Mu)”. (H.r. Muslim).

Dan masih ada redaksi lain yang berlandaskan hadits sahih[1].

3. Setelah shalat.

Jumlahnya boleh 33 kali, juga boleh 10 kali[2].

Dalilnya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”؛ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ”.

“Barang siapa bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, dan ini berjumlah 99 kali, lalu menutupnya di hitungan ke seratus dengan: “Lâ ilâha Ilallôhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr”; niscaya dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan”. (H.r. Muslim).

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ. يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا، وَيَحْمَدُ عَشْرًا، وَيُكَبِّرُ عَشْرًا؛ فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ، وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ. وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ، وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ؛ فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَان. فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ؟ قَالَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ يَعْنِي الشَّيْطَانَ فِي مَنَامِهِ فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أَنْ يَقُولَهُ وَيَأْتِيهِ فِي صَلَاتِهِ فَيُذَكِّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ أَنْ يَقُولَهَا”.

“Ada dua amalan, yang jika senantiasa dijaga seorang muslim; niscaya ia akan masuk surga. Keduanya mudah, namun yang mengamalkannya sedikit. (Amalan pertama): bertasbih setiap selesai shalat 10 kali, bertahmid 10 kali dan bertakbir 10 kali, semuanya berjumlah 150 di lisan, namun tertulis 1500 pahala di timbangan. (Amalan kedua): Bertakbir sebelum tidur 34 kali, bertahmid 33 kali serta bertasbih 33 kali; semuanya berjumlah 100 di lisan, namun tertulis 1000 pahala di timbangan.

Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitungnya dengan tangannya.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, jika kedua amalan tersebut ringan, mengapa yang mengamalkannya sedikit?”.

“Sebab setan mendatangi salah satu kalian sebelum tidur dan membuatnya mengantuk sebelum membaca dzikir tersebut. Juga mendatanginya saat shalat lalu mengingatkannya dengan (berbagai) urusan sebelum ia sempat untuk mengucapkan dzikir tersebut”.

Hadits riwayat Abu Dawud dan isnad-nya dinilai sahih oleh Imam an-Nawawy[3]. Adapun Syaikh al-Albany menyatakan hadits ini sahih[4].

4. Di awal khutbah, pelajaran, serta di awal buku dan yang semisal.

Dalilnya: apa yang disebutkan Abdullah bin Mas’ud:

“عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ”.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami khutbah al-hajah (pembuka urusan) dengan mengucapkan: “Alhamdulillâh, nasta’înuhu wa nastaghfiruh, wa na’ûdzu bihi min syurûri anfusinâ, man yahdillâhu fa lâ mudhilla lah, wa man yudhlil fa lâ hâdiya lah, wa asyhadu al lâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosûluh (Segala puji bagi Allah. Kami mohon pertolongan, ampunan dan perlindungan pada-Nya dari kejahatan diri kami. Barang siapa dikaruniai hidayah dari Allah, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)…”. (H.r. Abu Dawud).[5]

5. Saat mendapat kenikmatan atau terhindar marabahaya, baik itu berkenaan dengan diri sendiri maupun orang lain.

Di antara dalilnya: hadits Abu Hurairah:

“أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ بِإِيلِيَاءَ بِقَدَحَيْنِ مِنْ خَمْرٍ وَلَبَنٍ فَنَظَرَ إِلَيْهِمَا فَأَخَذَ اللَّبَنَ قَالَ جِبْرِيلُ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ”.

“Saat malam kejadian isra’ di Elia (Palestina) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan dengan dua buah mangkok; pertama berisi khamr dan yang kedua berisi susu. Beliau pun melihat keduanya, lalu mengambil mangkok yang berisi susu.

Malaikat Jibril pun berucap, “Segala puji bagi Allah Yang telah memberimu petunjuk kepada fitrah. Andaikan engkau mengambil khamr; niscaya umatmu akan sesat”. (H.r. Bukhari dan Muslim).

6. Ketika memakai pakaian baru.

Dalilnya: hadits Abu Sa’id al-Khudry:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ إِمَّا قَمِيصًا أَوْ عِمَامَةً، ثُمَّ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ”.

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian baru, beliau menyebutkannya, entah itu baju atau sorban, lalu membaca, “Allôhumma lakal hamdu Anta kasautanîhi, as’aluka min khoirihi wa khoiri mâ shuni’a lah, wa a’ûdzubika min syarrihi wa syarri mâ shuni’a lah (Ya Allah, kepunyaan-Mu lah segala pujian. Engkau yang telah memberiku pakaian ini. Aku memohon pada-Mu kebaikan pakaian ini dan tujuan pembuatannya, serta aku memohon perlindungan pada-Mu dari keburukannya dan keburukan tujuan pembuatannya)”. (H.r. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Imam an-Nawawy[6]).

7. Saat bersin.

Bersin merupakan salah satu nikmat besar Allah atas para hamba-Nya, dengan bersin seorang hamba bisa mengeluarkan sesuatu dalam hidung yang jika dibiarkan bisa berbahaya bagi tubuh. Karena itulah, ketika bersin, seorang hamba diperintahkan untuk memuji Allah dengan mengucapkan hamdalah.

Dalilnya: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ”، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: “يَرْحَمُكَ اللَّهُ” فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ: “يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ”.

“Jika salah satu kalian bersin ucapkanlah, “Alhamdulillah”. Temannya hendaklah mengatakan, “Yarhamukallôh (Semoga Allah merahmatimu)”. Jika temannya membalas demikian, hendaknya ia mengucapkan “Yahdîkumullôhu wa yushlihu bâlakum (Semoga Allah mengarunikan padamu petunjuk dan memperbaiki hatimu)”. (H.r. Bukhari dari Abu Hurairah).

8. Ketika melihat orang lain mendapatkan cobaan baik dalam hal duniawi maupun agama.

Cobaan duniawi contohnya: cacat, buta, tuli dan yang semisal. Cobaan agama contohnya: tenggelam dalam kemaksiatan, bid’ah dan yang semisal.

Dalilnya: hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا”؛ لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ”.

“Barang siapa melihat orang yang mendapatkan cobaan lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî mimmabtalâka bihi, wa faddhalanî ‘alâ katsîrin mimman kholaqo tafdhîlâ (Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkanku dari cobaan yang menimpamu, serta  memuliakanku dibanding banyak makhluk-Nya)”; niscaya ia tidak akan diuji dengan cobaan tersebut”. (H.r. Tirmidzy dan dinyatakan hasan oleh beliau dan Syaikh al-Albany).

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

Artikel www.Tunasilmu.com


[1] Lihat antara lain dalam: Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam min at-Takbîr ila at-Taslîm Ka’annaka Tarâha karya Syaikh al-Albany (hal. 136-138).

[2] Lihat: Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah ‘alâ al-Adzkâr an-Nawawiyyah, karya Ibn ‘Allân (III/47-48).

[3] Sebagaimana dalam kitabnya; al-Adzkâr (hal. 112).

[4] Lihat: Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb (I/320 no. 603).

[5] Lihat takhrîj hadits ini dan berbagai pembahasan seputarnya dalam Khutbah al-Hâjah karya Syaikh al-Albany.

[6] Lihat: Al-Adzkâr (hal. 46).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s