Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Ketujuh] – Selesai


21. Disunnahkan untuk sujud ketika membaca ayat-ayat as-sajadah.

زينوا أصواتكم

زينوا أصواتكم

Dalam Al-Qur`an al-Karim terdapat sekitar lima belas ayat-ayat as-sajadah, disunnahkan bagi seseorang yang membaca Al-Qur`an, apabila dia melewati ayat-ayat as-sajadah untuk sujud dan berdzikir sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Dan hendaklah dia membaca,

اللهم احطط عني بها وزراً، واكتب لي بها أجراً، واجعلها لي عندك ذخراً

“Ya Allah buanglah dariku dosa-dosa, dan tetapkanlah untukku pahala dan jadikalah pahala itu sebagai tabungan disisi-Mu”. At-Tirmidzi menambahkan ,

وتقبلها مني كما تقبلتها من عبدك داود

“Dan terimalah sujudku ini disisi-Mu sebagaimana Kau menerimanya dari Daud disisi-Mu”.[HR. At-Tirmidzi no. 3424, Ibnu Majah no. 1053 dan lafazh ini adalah lafazh riwayat beliau, Al-Albany berkata hadits ini hasan pada no.872/1062]

Atau hendaklah ia mengucapkan:

سجد وجهي لمن خلقهُ وشقَّ سمعه وبصره بحوله وقوته

“ Yaa Allah, telah sujud wajahku kepada yang menciptakannya dan yang menempatkan pendengaran dan penglihatannya dengan segala daya dan kekuatannya “

Atau mengucapkan:

اللهم لك سجدت، وبك آمنت، ولك أسلمت، سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره، تبارك الله أحسن الخالقين

“Ya Allah hanya kepada-Mu aku bersujud dan hanya kepada-Mu aku beriman serta hanya kepada-Mu aku memohon keselamatan, serta sujud kepada Allah yang telah menciptakan bentuknya, memberikan pendengran serta penglihatan, Tabarakallahu ahsanul Khaaliqin”.[HR. Abu Daud no.1414 dan lafazh ini milik beliau dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albany no.1255, dan diriwayatkan juga oleh Ahmad no.23502, An-Nasaa`i no.1129, dan At-Tirmidzi no.3425]

Akan tetapi hal ini bukan merupakan perkara yang wajib, namun sekedar sunnah saja. Jadi apabila dilakukan maka akan mendapat pahala dan tidak mengapa jika meninggalkannya. Tetapi tidak sepantasnya bagi orang yang beriman untuk meninggalkan dan lalai amalan-amalan ini. Adapun dalil yang menunjukan bahwa hal itu hanyalah sunnah saja tidak sampai kederajat wajib adalah bacaan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak sujud ketika membaca ayat-ayat as-sajadah. Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Yasar dari Zaid bin Tsabit ia berkata:

قرأت على النبي صلى الله عليه وسلم والنجم فلم يسجُد فيها

“Saya membacakan surat An-Najm dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak sujud ketika melalui ayat-ayat sajadah”.[HR. Al-Bukhari no.1037 dan Muslim no.577, Ahmad no.21081, At-Tirmidzi no.576 dan An-Nasaa`i no.960 Abu Daud no.1404]

Dan begitu pula yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika beliau sedang berkhuthbah diatas mimbar pada hari Jum’at dan beliau membaca surat an-Nahl kemudian beliau sujud ketika membaca ayat sajadah. Pada jum’at berikutnya, dan ketika beliau membaca An-Nahl, dan sewaktu berada pada ayat as-sajadah, beliau berkata:

يا أيها الناس إنا نمر بالسجود فمن سجد فقد أصاب ومن لم يسجد فلا إثم عليه ولم يسجد عمر-رضي الله عنه- . وزاد نافع عن ابن عمر -رضي الله عنهما- إن الله لم يفرض علينا السجود إلا أن نشاء

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya kita telah melewati ayat-ayat sajadah ketika membaca Al-Qur’an, barang siapa yang melakukan sujud tilawah maka akan mendapat pahala dan bagi yang tidak melakukanya tidak ada dosa baginya”. Dan Nafi’ dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu menambahkan, “Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan kepada kita untuk sujud at-tilawah ketika kita membaca ayat-ayat sajadah kecuali jika kita menginginkannya”.[HR. Al-Bukhari no.1077]

Masalah: Apakah sujud at-tilawah ketika membaca Al-Qur`an itu diharuskan padanya syarat-syarat sebagaimana sujud ketika shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta harus dengan bersuci dan menghadap kiblat dan selainya?

Jawab : Sujud tilawah ketika membaca Al-Qur`an tidak ada diharuskan adanya suatu permulaan dan penutup. Ini adalah Sunnah yang telah ma’ruf dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan diamalkan oleh seluruh ulama As-Salaf. Dan telah menjadi pernyataan resmi pada imam yang populer. Dengan demikian amalan ini bukanlah sebuah shalat, sehingga tidaklah disyaratkan pada amalan ini syarat-syarat shalat. Bahkan diperbolehkan dikerjakan walau tanpa thaharah/bersuci, sebagaimana halnya Ibnu Umar yang melakukan sujud tanpa mesti bersuci, akan tetapi dengan melakukan syarat-syarat shalat jauh lebih utama. Dan sepatutnya hal itu tidak terabaikan kecuali karena adanya udzur. Inilah pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah.[Al-Fatawa no 23/165]

Faedah Pertama : Disunnahkan untuk sujud tilawah bagi orang yang mendengarkan bacaan Al-Qu’an dengan baik dan tidak bagi orang yang mendengarnya sambil lewat. Karena ada perbedaan antara keduanya. Bahwa orang yang mendengarkan Al-Qu’an dengan seksama adalah orang yang diam pada sesuatu untuk mendengarkannya, sedangkan yang satunya adalah seseorang yang mendengar bacaan sambil berlalu. Walaupun diantara kedua orang ini sama-sama mendengarkan bacaan Al-Qu’an. Akan tetapi yang kedua ini yakni orang yang medengar sambil berlalu hanya melewati tempat dimana ada orang yang sedang membaca Al-Qur`an atau yang lainnya. Kemudian orang yang membaca Al-Qur`an itu sujud sewaktu membaca ayat as-sajadah, dan pada keadaan ini, disunnahkan seseorang yang menyimak bacaan Al-Qur`an untuk turut sujud namun tidak bagi yang mendengarnya sambil lalu..

Dikarenakan orang yang mendengarkan dengan seksama dihukumi seperti membaca Al-Qur`an sedangkan orang yang berlalu tidak. Hal ini lebih jelas lagi dalam firman Allah ta’ala kepada Musa dan Harun alaihimassalam

قد أُجيبت دعوتكما فاستقيما

“Dan doa kalian berdua telah dikabulkan maka berlaku luruslah” (Yunus : 89)

Sedangkan yang berdoa hanyalah Musa, hanya saja ketika Harun mengaminkan doa Musa, maka beliaupun menempati hukum seorang yang berdoa dan tercakup dalam ayat diatas.[Lihat Asy-Syarah Al-Mumti’ Oleh Asy-Syaikh Utsaimin 4/131-133]

Faedah: Tidak sepantasnya hanya mencukupkan dengan dzikir yang disunnahkan dibaca pada sujud tilawah, bahkan diwajibkan utnuk membaca dzikir sebagaimana bacaan sujud dalam sahalat. (سبحان ربي الأعلى ) Dan inilah yang utama. Kemudian bagi orang yang sujud hendaklah dia membaca dzikir sesuai yang dikehendakinya. Bahkan sebagian ulama mengkategorikan pembatasan itu termasuk perkara al-muhdats ( bid’ah ).[Lihat Tashhih Ad-Du’a oleh Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, hal.293 certakan Daar Al-‘Ashimah, Maktabah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah. Cetakan pertama tahun 1419H]

22. Makruh mencium mushaf dan menempelkannya di antara dua mata.

Sungguh orang yang tidak memiliki pengetahuan akan mengatakan, “Mengapa dibenci mencium mushaf dan menempelkannya diantara dua mata, padahal hal itu dalam rangka mengagungkan dan mensucikan Kalamullah?”

Maka kita jawab : Bahwasannya mencium mushaf dan meletakkannya di anta dua mata atau dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan cara mendekatkan diri kepada Allah terhenti pada shahihnya suatu dalil yang tidak ada dalil lain yang bertentangan dengannya. Dan kami menolak amalan mencium mushhaf sebagai bentuk pengagungan kepada Allah dan Kalamullah dan juga sebagai manifestasi pengagungan kami terhadap Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan telah kita ketahui dari periwayatan yang tidak diragukan lagi bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ماليس منه فهو رد

”Barang siapa yang membuat perkara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, maka dia tertolak.” Maksudnya perbuatan tersebut dikembalikan kepada pelakunya.

Dari Imam Ahmad ketika ditanya sejumlah riwayat yang menerangkan masalah ini, beliau mendiamkannya Al Qadhi berkata didalam kitab Jami’ Al-Kabir mengenai riwayat ini: Bahwa sesunguhnya diamnya Imam Ahmad terhadap masalah itu, walau terkandung pengkultusan dan pemuliaan, karna semua cara mendekatkan diri kepada Allah tidak diperbolehkan beranalogi didalamnya dan tidak disenangi perbuatan tersebut walaupun terkandung pengagungan kecuali dengan berhenti pada dalil. Tdakkah anda memperhatikan bahwa Umar ketika melihat Hajar Aswad beliau berkata :

لا تضر ولا تنفع، ولولا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قبَّلك ما قبَّلتك

Tidaklah engkau mendatangkan mudharat dan tidak juga manfaat, seandainya bukan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menciummu niscaya saya tidak akan menciummu.

Demikian pula yang dilakukan Muawiyah ketika thawaf, beliau mencium semua rukunya. Hal ini lalu diingkari oleh Ibnu Abbas, beliau berkata: “Tidak ada sesuatupun pada rumah ini yang harus dihormati.” Beliau mengatakan : “Sesungguhnya ini – kembali kepada – Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maka beliau mengingkari tambahan atas perbuatan yang telah dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam“.[Al-Adab Asy-Syar’iyah oleh Ibnu Muflih]

Ketika Ibnu Musayyab melihat sesorang memanjangkan ruku`nya dan sujud setelah shalat fajar, maka beliau melarangnya, lalu orang tersebut mengatakan : ”Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena mengerjakan shalat?” Dia menjawab : ”Tidak, akan tetapi adzab itu karena menyelisihi sunnah.” [At-Tamhid oleh Ibnu Abdil Barr. (20/104) Cetakan Daar Ath-Thayyibah]

Al-Lajnah Ad-Daimah berfatwa : “Kami tidak mengetahui adanya dalil yang mensyariatkan utnuk mencium Al-Quran, adapun Al-Quran itu diturunkan untuk dibaca, dipelajari, dan beramal dengannya.”[Al-Fatawa no. 8852 juz 3 hal 122]

23. Makruh menaggantungkan ayat-ayat di dinding dan selainnya.

Telah tersebar dibanyak rumah-rumah sebagian orang menggantung atau menggambar surat-surat atau ayat-ayat Al-Quran, baik di dinding maupun di ruangan serta di lorong-lorong rumah. Diantara mereka ada yang menggantungnya dalam rangka mencari berkah, dan ada yang hanya sekedar menjadikannya sebagi hiasan. Dan sebagian mereka memperindah tempat perdagangan mereka dengan ayat-ayat yang bersesuaian dengan perdagangan. Diantara mereka juga ada yang menggantungkan ayat-ayat Al-Qur`an itu pada kendaraan mereka baik dalam rangka untuk digunakan sebagai penangkal ataupun dalam rangka mencari berkah dan sebagian mereka juga menggantungkan ayat-ayat Al-Qur`an pada kendaraannya dalam rangka untuk mengingat dan menghafal.

Al-Lajnah Ad-Daa`imah telah menyatakan sebuah fatwa yang sangat panjang tentang perkara ini, intinya mereka menyatakan terlarang untuk menggantungkan ayat-ayat Al-Qur`an pada dinding atau tembok atau pada tempat-tempat perdagangan dan lain-lainnya. Kesimpulan yang dapat diambil dari fatwa yang panjang itu adalah sebagi berikut :

  1. Bahwasannya menggantungkan ayat-ayat Al-Qur`an pada dinding atau selainnya merupakan bentuk penyimpangan dari fungsi diturunkannya Al-Qur`an sebagai petunjuk, nasihat yang baik, serta menjaga dengan membacanya.
  2. Bahwasannya hal itu merupakan penyelisihan terhadap Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah Khulafa Ar-Rasyidin.
  3. Dan larangan ini dalam rangka mencegah pelakunya dari perbuatan syirik dan menjadikan sebagai wasilah kesyirikan berupa penangkal dan jimat walaupun hal itu diambil dari al Quran.
  4. Bahwasannya al Quran diturunkan untuk dibaca dan bukan untuk di ambil sebagai pencari keuntungan dalam perdagangan.
  5. Sesungguhnya dalam perbuatan ini akan menempatkan ayat-ayat Allah sebagai penguji dan merusaknya disaat memindahkanny dari satu tempat ketempat lainnya dan lain sebagainya..

Kemudian Al-Lajnah Ad-Daa`imah berfatwa : “Secara umum, hendaklah kita menutup pintu-pintu keburukan dan mengikuti para Imam yang telah diberi petunjuk dari generasi pertama yang mana mereka menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kebaikan dan menyelamatkan aqidah kaum muslimin, dan menyelamatkan seluruh hukum agama mereka dari perbuatan bid’ah yang tidak diketahui akhir keburukanya.” [Al-Fatawa no.2078 (4/30-33). Dan kami menasehatkan untuk amembaca fatwa ini karena didalamnya terdapat banyak faedah]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s