Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Keenam]


17. Batasan yang disukai dalam mengkhatamkan Al-Qur`an.

زينوا أصواتكم

زينوا أصواتكم

Kebiasaan ulama salaf telah berbeda didalam memberi batasan penghitungan waktu mengkhatamkan Al-Qur`an. Diantara mereka ada yang menghatamkan Al-Qur`an selama dua bulan, sebulan, sepuluh malam, seminngu, dan inilah yang paling banyak dilakukan. Imam Nawawi mengatakan dalam Al-Adzkar[Lihat pada kitab Al-Adzkar hal. 153], “Dan diantara mereka ada yang menghatamkan Al-Qur`an kurang dari tiga hari. Dan diantara mereka juga ada yang menghatamkan Al-Qur`an pada setiap malam jum’at. Dalam hal ini telah ada kisah yang sangat masyhur dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

قال لي : رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرأ القرآن في شهر، قلت إني أجد قوة، حتى قال: فاقرأه في سبع ولا تزد على ذلك

”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, “Bacalah Al-Qur`an itu pada satu bulan.” Aku berkata : ”Sesungguhnyaa saya mampu kurang dari itu (sebulan).” sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda: ”Maka bacalah Al-Qur`an itu dalam satu minggu, dan janganlah kurang dari seminggu itu.” [HR. Al-Bukhari no. 5054]

Maka sebagian dari mereka menjadikan satu minggu itu sebagai batasan yang paling minimal untuk menghatamkan Al-Qur`an. Dan sebagian dari (para ulama) menjadikan tiga hari sebagai batasan tercepat dalam menghatamkan Al-Qur`an berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, bahwasannya beliau berkata :

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم ( اقرأ القرآن في شهرٍ) قال: إن بي قوة، قال : اقرأه في ثلاثٍ

”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku :”Bacalah Al-Qur`an itu pada satu bulan”. Kemudian Abdullah bin Amr berkata :”Sesungguhnya aku bisa lebih kuat dari itu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Bacalah olehmu pada tiga hari.” [HR. Abu Dawud no.1391. Al-Albani berkata : Hadits ini hasan shahih]

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwasanya mengkhatam Al-Qur`an tidak mempunyai batasan tertentu, akan tetapi disesuaikan dengan kerajinan dan kekuatan. Dikarenakan telah diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Bahwa beliau menghatamkan Al-Qur`an hanya dalam semalam. Dan telah diriwayatkan juga hal itu dari beberapa ulama salaf. Ibnu Muflih [Al-Adab Asy- Syar’iyah (2/282)] berkata : ”Pendapat yang terpilih menurut kami – Mazhab Hanabilah – sebagaimana pendapat yang terpilih oleh An-Nawawi : Bahwa batasan mengkhatam Al-Qur`an berbeda menuruti orang yang membacanya. Maka barangsiapa yang memiliki bakat kemampuan untuk menganalisa detail hakikat dan kandungan makna, hendaknya dia membatasinya sesuai dengan ukuran pencapaian pemahaman atas apa yang dibacanya. Begitu juga dengan orang yang sibuk menyebarkan ilmu, atau menyelesaiakan pertikaian ditengah-tengah kaum muslimin atau kesibukan-kesibukan lainnya yang berkenaan dengan urusan agama dan kemaslahatan umum kaum muslimin. Seharusnya dia membatasi sesuai dengan ukuran yang mana tidak menyebabkan pengabaian tujuan sebenarnya yang hendak dia capai dan tidak juga meninggalkan kesempurnaannya. Adapun selain dari mereka yang disebutkan diatas, maka hendaknya dia memperbanyak bacaan yang memungkinkan baginya tanpa menyebabkan kebosanan atau membacanya dengan terburu-buru.[Al-Adzkar hal.154]

Peringatan : Tidak satupun riwayat tentang adanya do’a khusus yang dipakai ketika menghatamkan Al-Qur`an. Adapun do’a-do’a yang tersebar dikalangan manusia saat ini, maka hal itu tidak mempunyai dalil atas pensyariatannya, dan tidak ada pula ada nash secara marfu’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat dijadikan argumen bagi orang senantiasa berdo’a dengan do’a tertentu ketika mengkhatamkan Al-Qur`an Al-‘Adzhim. Dan do’a yang masyhur yang telah tersebar dikalangan manusia saat ini adalah doa mengkhatamkan Al-Qur`an yang disandarkan kepada Syaikh Al-Islam Ibnu Taymiyah rahimahullah yang sama sekali tidak benar penyandaranya kepada beliau. Sedangkan Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mewasiatkan agar tidak memasukkan do’a ini kedalam fatwa beliau, kaena keraguan beliau terhadap penisbatan doa ini kepada Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah.[Lihat Al-Ajzaa`u Al-Haditsiyah oleh Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid hafidzahullah hal.239]

Masih dalam penjelasan kami berkaitan dengan doa khatam Al-Qur`an , kami akan tambahkan sebuah faedah yaitu kesimpulan yang telah dicapai oleh Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid hafizhahullah dalam risalah beliau yang diberi nama ( Marwiyatu Du’aa’i Khatamil Qur’ani ). Beliau berkata: “Kesimpulannya: Bahwa sesungguhnya hasil yang sarat dengan hikmah pada dua tempat dan terbagi pada dua perkara:

1. Sesungguhnya berdo’a bagi orang yang menghatamkan Al-Qur`an itu diluar shalat, dan pengucapan do’a ketika itu, amalan yang didapati sejumlah atsar dari perbuatan As-Salaf Ash-Shaleh pada generasi awal umat ini. Sebagaimana yang telah dikemukakan didepan dari amalan Anas radhiallahu ‘anhu serta diikuti oleh beberapa tabi’in, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Harb, Abul Harits dan Yusuf bin Musa rahimahumulahu ajma’in. Dikarenakan do’a khatam Al-Qur`an itu termasuk bagian dari do’a yang disyariatkan. Telah pula dikemukakan pendapat Ibnu Al-Qayyim rahimahullah tentang perkara ini: “Tempat ini adalah tempat pengucapan doa yang paling tepat dan tempat dikabulkannya”.

2. Bahwa do’a khatam Al-Qur`an itu ketika dalam shalat, baik ketika bersama imam maupun ketika shalat sendirian yang dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya. Dalam shalat tarawih atau selainnya. Akan tetapi tidak diketahui satupun hadits yang musnad tentang perkara ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu pula dari para sahabat beliau radhiallahu ‘anhu .[Al-Ajzaau Al-Haditsiah (Marwiyatu Du’aa’I Khatam Al-Qur’an) hal.290]

18. Disunnahkan untuk menghentikan membaca Al-Qur`an ketika diserang rasa kantuk.

Dalil permasalahan ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu:

إذا قام أحدكم من الليل، فاستعجم القرآن على لسانه فلم يدر ما يقول، فليضطجع

“Apabila seseorang dari kalian bangun pada malam hari maka Ista’jamal Qur’an (lisannya tidak akan fasih ketika membaca ayat Al-Qur`an) dan ucapannyapun tidak akan baik serta pikirannya masih lemah”. [HR. Muslim no.787]

Makna dari ista’jamal Qur’an adalah kelu lidahnya sehingga tidak akan keluar dari lidahnya itu ungkapan yang baik/fasih. An-Nawawi berkata tentang ini, “Sebab perintah untuk menghentikan bacaan Al-Qur`an ketika diserang rasa kantuk ini telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Aisyah Ummul Mukminin radiallahu ‘anha dimana beliau bersabda:

إذا نعس أحدكم في الصلاة، فليرقد حتى يذهب عنه النوم. فإن أحدكم إذا صلى وهو ناعس، لعله يذهب يستغفر فيسب نفسه

“Apabila seseorang dari kalian mengantuk ketika shalat, hendaklah ia pergi untuk tidur, dan jika salah seorang dari kalian mengantuk sedangkan dia sedang shalat, bisa jadi dia berkehendak untuk beristighfar (memohon ampun kepada Allah) namun malah memaki dirinya”. [HR.Muslim no.786]

Dan ini adalah merupakan pengarahan yang sangat lembut dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena seseorang jika ia dalam keadaan mengantuk, biasanya perkataannya akan tidak beraturan. Sehingga seseorang yang membaca Al-Qur`an atau sedang shalat diperintahkan untuk menahan shalat dan bacaanya, agar supaya dia tidak mendoakan keburukan kepada dirinya sedangkan dia tidak menyadarinya. Dan agar Al-Qur`an terjaga dari perkataan yang keliru dan ucapan yang asing.

Faedah : Sepatutnya bagi orang yang membaca Al-Qur`an untuk berhenti ketika dia sudah mulai menguap mengantuk. Karena apabila dia meneruskan bacaanya dikhawatirkan akan keluar kata-kata atau suara yang mengganggu dan menggelikan. Untuk itu hendaklah ia menjaga dan mensucikan Al-Qur`an dari hal itu.

19. Disunahkan untuk menyambung bacaan Al-Qur`an dan tidak sepotong-sepotong.

Ini adalah adab yang disunahkan bagi orang yang membaca Al-Qur`an untuk mengamalkan adab ini. Disaat dia telah memulai membaca Al-Qur`an agar tidak memotongnya kecuali pada perkara-perkara yang mendesak, sebagai bentuk adab kepada Kalamullah, untuk tidak memotong bacaan Al-Qur`an karena perkara duniawiyah. Oleh karena itu dilarang memotong bacaan Al-Qur`an hanya karena urusan dunia. Sungguh merupakan perkara yang mengherankan dari sebagian orang yang menunggu shalat di Masjid dengan membaca Al-Qur`an, akan tetapi dengan mudah mereka memotong/menghentikan bacaan mereka berulang kali, hanya karena urusan duniawiyah. Sungguh syaithan tidak pernah menginginkan kebaikan kepada kaum Muslimin selama-lamanya.

Dan saya akan menyertakan pemaparan kami diatas dengan atsar yang diriwayatkan oleh tabi’in yang mulia yaitu Nafi’, beliau berkata:

كان ابن عمر رضي الله عنهما إذا قرأ القرآن لم يتكلم حتى يفرغ منه، فأخذت عليه يوماً، فقرأ سورة البقرة حتى انتهى إلى مكان قال: تدري فيم أنزلت؟ قلت: لا . قال :أنزلت في كذا وكذا.ثم مضى

“Apabila Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma sedang membaca Al-Qur`an, maka ia tidak akan berbicara sampai ia menyelesaikan bacaannya. Dan beliau membaca surah Al-Baqarah pada suatu hari hingga berhenti pada satu tempat dan berkata, “Tahukah kamu kepada siapa ayat ini diturunkan?”. Aku berkata, “Tidak”. Kemudian beliau menjelaskan, “Ini diturunkan pada ini dan ini kemudian beliau meneruskan bacaanya”.[HR.Al-Bukhari no.4526]

Itulah kebiasaan Ibnu Umar beliau tidak memotong bacaan Al-Qur`annya kecuali dengan tujuan dan bermaksud untuk menyampaikan ilmu, dimana hal itu merupakan sebuah ibadah pula.

20. Disunnahkan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah) ketika membaca ayat-ayat tasbih, atau meminta perlindungan ketika membaca ayat-ayat tentang azab dan memanjatkan do’a ketika membaca ayat-ayat rahmat.

Dijelaskan didalam hadits Hudzaifah disaat beliau mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hudzaifah berkata:

ثم افتتح آل عمران فقرأها، يقرأ مترسلاً، إذا مرَّ بأية تسبيح سبح، وإذا مرّ بسؤال سأل، وإذا مرّ بتعوذ تعوذ…الحديث

“ … – setelah beliau memulai shalat dengan takbir dan membaca iftitah kemudian membaca al-fatihah -, lalu beliau membaca surah Ali Imran dan membacanya dengan tartil. Ketika beliau membaca ayat-ayat tasbih maka beliaupun bertasbih, jika membaca ayat-ayat do’a maka beliaupun berdo’a dan jika beliau membaca ayat-ayat ta’awwudz beliaupun berta’awwudz … al-hadits”. [HR. Muslim no. 727]

An-Nawawi berkata: “Bacaan-bacaan tersebut merupakan sunnah yang dianjurkan bagi orang yang membaca Al-Qur`an baik dalam shalat maupun diluar shalat.[Syarah Muslim Jilid 2 (2/52)]

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s