Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Macam-Macam Ibadah : Tawakkal Kepada Allah


Dalil tawakkal adalah firman Allah:

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. 5:23)

Dan firman Allah:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65:3)

Perkataan penulis: Dalil tawakkal adalah Firman-Nya: وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ  Dan hanya kepada Allah hendaknya lazmu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”  (Al-Maidah : 23)

Makna asal (التوكل) at-tawakkul adalah (الاعتماد) al-i’timaad (bersandar). Kamu katakan: “Aku bertawakkal kepada Allah” artinya aku bersandar kepada-Nya. Hakikat tawakkal adalah seorang hamba bersandar kepada Allah dengan penyandaran yang benar untuk kemaslahatan agama dan dunia dengan melakukan sebab yang dibolehkan syariat. Jadi, tawakkal terkomposisi dari : i’tiqad (keyakinan), penyandaran diri dan amalan.

Adapun i’tiqad ialah seorang hamba mengetahui bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, apa yang dikehendaki Allah akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi. Allah Maha Pemberi Manfaat, Yang mendatangkan mudharat, Maha Pemberi dan Yang menahan pemberian.

Kemudian setelah meyakini hal ini hendaklah hati bersandar kepada Rabb serta benar-benar meyakini-Nya.

Setelah itu, barulah ia melakukan tahapan yang ketiga yaitu melaksanakan sebab yang dibolehkan syariat.

Bertawakal kepada Allah ada dua macam:

  1. Bertawakkal kepada-Nya untuk mendapatkan keuntungan berupa rezeki, kesehatan dan lain-lain.
  2. Bertawakkal kepada-Nya untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Jenis yang pertama tujuannya dikehendaki walaupun bukan termasuk ibadah karena hanya untuk mendapatkan keuntungan, namun tawakkal kepada Allah dalam mendapatkan tujuan tersebut adalah ibadah yaitu untuk kemaslahatan agama dan dunia.

Adapun jenis yang kedua, tujuannya adalah ibadah dan jenis tawakkal ini juga merupakan ibadah, tidak ada illatnya sama sekali, karena ia meminta pertolongan kepada Allah atas apa-apa yang diridhai-Nya. Berarti pelakunya telah melaksanakan Firman Allah Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong.” (Al-Fatihah : 5) [Thariiqul Hijratain (hal 336)]

Adapun indikasi bertawakkal kepada selain Allah banyak jenisnya:

I. Tawakkal kepada selain Allah dalam perkara yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah seperti mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan. Perbuatan ini merupakan syirik besar, karena jika bertawakkal kepada Allah merupakan kesempurnaan iman maka bertawakkal kepada selain Allah terhadap hal-hal yang hanya sanggup dilakukan oleh Allah merupakan syirik besar. Jenis inilah yang dimaksud dalam Firman Allah:

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah : 23)

Firman Allah :

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya.” (Huud : 123)

Allah it berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfaal :2-4)

II. Bertawakkal kepada yang hidup dan hadir, seperti raja, menteri dan pemimpin yang diberi Allah kemampuan untuk memberikan harta dan mencegah gangguan. Ini merupakan syirik kecil dikarenakan ketergantungan hatinya dan penyandaran dirinya kepada manusia. Adapun jika berkeyakinan bahwa insan tersebut hanyalah penyebab, hakikatnya Allah-lah yang telah memberikannya melalui perantaraan orang tersebut, hal ini tidaklah mengapa, jika orang tersebut memang mempunyai pengaruh yang besar dalam mendapatkan keinginan itu. Akan tetapi sangat sedikit orang yang terlintas dalam benaknya pemahaman seperti ini. Mereka nyaris menyandarkan dirinya secara total kepada orang tersebut untuk mendapatkan suatu keinginan.

III. Bersandar kepada orang lain untuk melakukan suatu tugas yang disanggupi sebagai penggantinya. Hal ini dibolehkan sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’. Namun janganlah ia bersandar kepadanya dalam meraih hasil dari tugas yang ia wakilkan, namun hendaklah bertawakal kepada Allah agar urusan tersebut dapat berjalan dengan lancar, baik ia sendiri yang melakukannya maupun penggantinya. Oleh karena itu jangan engkau katakan: “Tawakkaltu ‘ala fulan” (aku bertawakkal kepada si fulan). Tapi engkau katakan: “Wakkaltu fulaanan” (aku mewakilkan kepada si fulan). Rasulullah pernah mewakilkan kepada ‘Ali Bin Abi Thalib untuk menyembelih sisa unta pada haji wada’ [Lihat buku Taisiril Azizil Hamid (hal 497). Hadits tentang Beliau mewakilkan kepada Ali dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Jabir (no. 1218).], mewakilkan urusan sedekah kepada Abu Hurairah [Hadits ini diriwayatkan oleh Shahih Al-Bukhary (4/487-fath).], beliau juga mewakilkan urusan pembelian hewan korban kepada ‘Urwah Bin Al-Ja’d. [Hadits ini diriwayatkan oleh Shahih Al-Bukhary (6/632-Fath)]

Firman Allah :

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah : 23)

Firman-Nya: (وَعَلَى اللّهِj) hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Lafazh ini berfaedah sebagai pembatasan. Menurut ilmu balaghah salah satu cara untuk membuat kalimat pembatas adalah dengan mendahulukan kata yang seharusnya berada di belakang Asal kalimat tersebut adalah تَوَكَّلُواْ عَلَى اللّهِ.

Firman-Nya: (فَتَوَكَّلُواْ) ini adalah perintah yang menunjukkan wajib hukumnya bertawakkal yakni bersandar kepada Allah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Ayat tersebut menunjukkan kewajiban bertawakkal. Dan amalan ini termasuk salah satu jenis ibadah.

Firman-Nya (إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ) yakni jika engkau beriman kepada Allah maka bertawakkallah kepada-Nya. Ibnul Qayyim berkata:

فجعل التوكل على الله شرطاً في الإيمان فدل على انتفاء الإيمان عند انتفائه فمن لا توكل له لا إيمان له

“Bertawakkal kepada Allah menjadi syarat keimanan, artinya seseorang belum disebut beriman apabila tidak bertawakkal, barangsiapa tidak bertawakkal kepada Allah berarti ia tidak beriman kepada-Nya. [Lihat Madarijus Saalikin (2/129).]

Firman-Nya:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq : 3)

Penulis mencantumkan dua ayat yang berkaitan dengan tawakkal. Biasanya beliau hanya mencantumkan satu dalil saja. Seakan-akan beliau menginginkan bahwa dalil pertama tentang kewajiban bertawakkal dan perintah untuk bertawakkal, sementara yang kedua menerangkan tentang ganjaran orang yang bertawakal kepada Allah. Zhahirnya demikian, Allahu A’lam.

Firman-Nya: (فَهُوَ حَسْبُهُ) yakni mencukupkannya. Barangsiapa dicukupkan Allah maka semua urusannya akan mudah dan tidak menginginkan apa yang ada pada orang lain. Hal ini menunjukkan betapa agung dan besar fadhilah tawakkal. Sehingga dalam firman Allah Ta’ala disebutkan: (وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ) Allah tidak menyebutkan kalimat (فَهُوَ حَسْبُهُ) untuk jenis ibadah apapun kecuali ibadah tawakkal.

Di antara fadhilah tawakkal: Allah Ta’ala menjadikannya sebagai sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Allah lig berfirman:

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal” (Ali Imran : 159)

Dan menjadi bukti kebenaran Islam seorang yang bertawakkal, Allah berfirman:

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ

Dan berkata Musa: “Wahai kaumku jika engkau beriman kepada Allah maka bertawakallah kepada-Nya jika engkau termasuk orang-orang yang beragama Islam” (Yunus : 84)

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

توكلت على الله توكلاً

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s