Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Kelima]


14. Disunnahkan membaguskan suara ketika membaca Al-Qur`an dan larangan membaca menyerupai orang bernyanyi.[1]

زينوا أصواتكم

زينوا أصواتكم

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bara’ radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata :

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ { والتين والزيتون } في العشاء، وما سمعت أحداً أحسن صوتاً منه أو قراءة

”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca [والتين والزيتون] pada shalat ‘isya’. Tidaklah saya mendengar seorang pun lebih bagus suaranya atau bacaannya dari beliau.”[HR. Al-Bukhari no.769]

Adapun tentang disunnahkannya membaguskan suara ketika membaca, beberapa hadits-hadits shahih telah menerangkannya, diantaranya, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لم يأذن الله لشيء ما أذن لنبي أن يتغنى بالقرآن

”Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu sebagaimana Allah mendengarkan Nabi-Nya melagukan Al-Qur`an “[HR. Al-Bukhari no.5023 dan Muslim no. 7920]

Ibnu Katsir mengatakan : ”Maknanya adalah bahwa Allah tidak mendengar sebagaimana Allah mendengar bacaan Nabi yang mana beliau mengeraskan bacaannya dan membaguskannya. Hal ini disebabkan pada bacaan para Nabi terkumpul suara yang bagus karena kesempurnaan ciptaan mereka serta rasa khusyu’ yang sempurna. Inilah tujuan dari hal itu semua. Allah mendengar suara seluruh hamba-Nya, yang taat maupun yang ingkar.” [Fadhaail Al-Qur`an hal.179,180]

Imam Ahmad mengatakan : “Seorang qari’ sepatutnya membaguskan suara bacaan Al-Qur`annya, membacanya dengan penuh penghayatan, dan mentadaburinya, dan inilah makna sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “TidaklahAllah mendengarkan sesuatu sebagaimana Allah mendengarkan Nabi-Nya melagukan Al-Qur`an” [Al-Adab Asy-Syar’iyah (2/297)]

Dalil yang lain adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ليس منا من لم يتغن بالقرآن

”Bukan golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur`an.” [HR. Abu Daud (1469) Al-Albani berkata “shahih”]

Juga dari hadits Al-Barra’ bin ‘Azib yang berkata: ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

زينوا أصواتكم بالقرآن

”Perbaguslah suara kalian dengan bacaan Al-Qur`an!”[HR. Abu Daud (1468) Al-Albani berkata “shahih”]

Yang dimaksud membaguskan suara disini yaitu memperindah, menghayati, dan khusyu’ ketika membacanya. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Katsir.[Fadhaail Al-Qur`an hal. 190]

ولما استمع النبي صلى الله عليه وسلم إلى قراءة أبي موسى الأشعري قال له : لو رأيتني وأنا استمع لقراءتك البارحة ! لقد أوتيت مزماراً من مزامير آل داود .وفي رواية عند أبي يعلى زيادة قال أبو موسى:  أما أني لو علمت بمكانك لحبرته لك تحبيراً

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar bacaan Abu Musa Al Asy’ary, beliau mengatakan kepadanya: “Seandainya engkau menyaksikanku disaat saya mendengar bacaanmu semalam ! Sungguh engkau telah diberi keindahan suara sebgaiman keindahan suara Daud.” [HR.Muslim (793) dan Al-Bukhari (5048) syarat yang kedua darinya saja.]

Pada salah satu riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la terdapat tambahan dari eprkataan Abu Musa: “ Sekiranya saya mengetahui keberadaan Anda, niscaya saya memperbagusnya untuk anda”. [Lihat Fathul Baari 8/711]

Perkataan Abu Musa menunjukkan bolehnya berusaha membaguskan suara ketika membaca Al-Qur`an, akan tetapi perkataan bukan ini berarti mengeluarkan bacaan Al-Qur`an dari ketentuannya yang disyariatkan, seperti berlebihan memanjangkan bacaan, menyambung ayat tanpa jeda, dan berlebih-lebihan sampai terjadi lahn dalam bacaannya. Yang demikian ini sama sekali tidak disyariatkan. Imam Ahmad membenci membaca Al Qur’an dengan bacaan yang lahn, bahkan beliau mengatakan : ”Yang seperti itu bid’ah.” [Al-Adab Asy-Syar’iyah (2/301)]

Asy-Syaikh Taqiyuddin mengatakan : ”Membaca al Qur’an dengan cara melagukannya/lahn seperti nyanyian adalah makruh yang bid’ah sebagaimana disinyalir dalam perkataan Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, dan para imam selain mereka.” [Al-Adab ( 2 / 302 )]

15. Menangis ketika membaca al Qur’an atau ketika mendengarnya.

Kedua hal ini telah disebutkan didalam As-Sunnah. Yang pertama sesuai dengan hadits riwayat Abdullah bin Syuhair radhiallahu ‘anhu, bahwasannya beliau berkata:

أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يصلي، ولجوفه أزيز كأزيز المرجل، يعني يبكي

”Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang shalat, dan dari dalam tenggorokan beliau terdengar suara mendesis seperti berdesisnya periuk. Ternyata beliau sedang menangis.” [Syarh As-Sunnah oleh Al-Baghawiy (729) Muhaqqiq berkata, “Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Asy-Syamaail, dan Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’I dan sanadnya kuat” (3/245) terbitan Al-Maktab Al-Islami]

Abdullah bin Syadad mengatakan : “Aku mendengar Umar radhiallahu ‘anhu tersedu-sedu, sedangkan aku berada di shaf terakhir, beliau (Umar radhiallahu ‘anhu) membaca :

إنما أشكو بثي وحزني إلى الله

“Sesungguhnya saya mengadukan kegundahan dan kesedihanku kepada Allah” (Yusuf : 86 ). [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam Shahih beliau secara mu’allaq, dan menempatkannya pada judul bab. Idzaa Bakaa Al-Imam fii Ash-Shalat. Ibnu Hajar : “Atsar ini diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dari Ibnu ‘Uyainah dari Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad, beliau telah mendengar Abdullah bin Syaddad hadits ini dan menambahkannya: Pada shalat shubuh” ( Fathul Baari 2 / 241, 242 )]

Yang kedua (menangis ketika mendengar) adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : “Bacakanlah Al-Quran untukku!” Lalu aku berkata : “Ya Rasulullah, aku membaca al Qur’an untukmu sedangkan Al-Qur`an diturunkan kepadamu?” Beliau berkata : “Ya.” Maka aku membaca surat an Nisa’, dan ketika aku sampai pada ayat :

فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيداً

“Dan bagaimanakan apabila Kami mendatangkan kepada masing-masing umat seorang saksi dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka” (An-Nisaa` : 41 ), beliau berkata: “Cukup!”. Kemudian beliau berpaling dan kedua mata beliau bercucuran air mata.” [HR. Bukhari no. 5050]

Adapun yang sebagian orang lakukan pada hari ini berupa teriakan, ratapan, dan menangis keras-keras, maka ini telah keluar dari jalan yang lurus. Akan tetapi jangan sampai setiap orang menyangka bahwa kami menempatkan hukum ini secara umum, sekali-kali tidak ! Bahkan kami katakan, diantara mereka ada yang benar, tapi ada juga yang tidak seperti itu. Yang sangat mengherankan pada diri orang-orang yang berlebih-lebihan tersebut, bahwa mereka mencurahkan ibarat demi ibarat ketika mendengarkan doa imam ketika membaca doa qunut, akan tetapi air mata boleh dikatakan tidak keluar sama sekali dari lekuk mata mereka ketika mendengarkan Kalamullah dan ayat-ayat-Nya ! Kami katakan kepada mereka yang berlebih-lebihan ini: Hendaknya kalian memperhatikan,bahwa sesungguhnya manusia yang paling sempurna keadaannya adalah mereka yang Allah sifatkan dalam firmannya :

الله نزل أحسن الحديث كتاباً متشابهاً مثانى تقشعر منه جلود الذين يخشون ربهم ثم تلين جلودهم وقلوبهم إلى ذكر الله

“Dialah Allah yang telah menurunkan perkataan yang paling baik, yakni sebuah Kitab yang serupa ayat-ayatnya lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka akan gemetar karenanya dan menjadi tenang dan hati mereka akan kembali mengingat Allah” (Az-Zumar : 23 ).

Dan orang yang paling sempurna adalah orang yang keadaannya seperti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu yang tangisannya mendesis seperti berdesisnya periuk.

Akan tetapi jika ada yang berdalih/beralasan bahwasannya sebagian orang terdahulu mereka pingsan bahkan meninggal ketika dibacakan kepada mereka Al-Qur`an atau mereka mendengarkan bacaannya. Dan jawaban atas alasan ini adalah bahwa sesungguhnya kami tidak mengingkari cerita itu dari sebagian generasi terdahulu seperti tabi’in dan generasi setelah mereka, akan tetapi tidak diketahui apakah para sahabat semoga Allah meridhainya melakukannya. Dan sebab dari itu, karena yang menyentuh – hati mereka – adalah sesuatu yang kuat , dan menghantam tempat yang sangat lemah yakni hati mereka, sehingga tidak mampu menahannya, maka terjadilah apa yang terjadi. Mereka adalah orang-orang yang benar dari apa yang mereka hayati, dan mereka juga diberi udzur.

Ibnu Muflih berkata: “Keadaan ini seringkali terjadi pada Imam baik dari sisi ilmu maupun amal – yaitu syaikh Imam Ahmad – yakni Yahya bin Al-Qahthan. Imam Ahmad berkata, “Apabila seseorang mampu menahannya maka niscaya Yahya akan sanggup menahannya. Dan hal itu juga telah terjadi pada selain mereka. Di antara mereka ada yang benar pada keadaan mereka dan ada juga yang selain itu. Dan saya bersumpah, bahwa yang berlaku jujur diantara mereka sungguh dia mendapatkan kedudukan yang agung. Karena jika bukan disebabkan hati yang hidup dan mengetahui makna yang dibacanya serta kedudukannya, serta menghadirkan makna yang dibacanya tersebut lalu diresapi, hal itu tidak akan tercapai. Akan tetapi keadaan generasi awal jauh lebih sempurna. Dimana seseorang akan mencapai segala yang mereka capai, bahkan lebih agung lagi, bersamaan dengan keteguhan hati mereka serta kekuatan sanubari mereka. Semoga Allah meridhai mereka semua.[Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 2 / 305 )]

Faedah : Disunnahkan meminta untuk dibacakan Al-Qur`an dari Qari’ yang baik bacaannya (tajwidnya) lagi bagus suaranya. Hal ini akan semakin jelas dengan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Qur`an. Ibnu Mas’ud mengatakan : “Nabi berkata kepadaku : “Bacakanlah (Al-Qur`an) untukku!” Aku berkata : “Aku membaca Al-Qur`an untukmu sedangkan Al-Qur`an diturunkan kepadamu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabsa : “Aku senang jika aku mendengarnya dari selainku.” [HR. Al-Bukhari no.5056]

Adapun Ibnu Mas’ud adalah sahabat yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang diri beliau : ”Barang siapa yang hendak membacakan Al-Qur`an dengan jelas lagi merdu sebagaimana ketika Al-Qur`an diturunkan, maka hendaklah dia membacanya sebagaimana Ibnu Ummi ‘Abdin membacanya.”

Ibnu Mas’ud termasuk salah satu dari empat sahabat yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk mengambil Al-Qur`an dari mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Mintalah bacaan Al-Qur`an dari empat orang, Abdullah Ibnu Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabbal!”[HR. Ahmad dalam Musnadnya (35) muhaqqiq berkata, “sanadnya hasan (1/211) terbitan Muasasah Ar-Risalah.]

16. Disunnahkan untuk mengeraskan bacaan Al-Quran jika tidak mendatangkan mafsadah.

An-Nawawi mengatakan dalam kitab Al-Adzkar : ”Sejumlah atsar tentang keutamaan menjahrkan (mengeraskan suara) dan mensirrkan (membaca dengan suara yang sangat pelan) ketika membaca Al-Qur`an. Para ulama mengatakan : Untuk menyelaraskan kedua hadits tersebut, bahwasannya membaca dengan sirr akan menjauhkan seseorang dari sifat riya’. Dan ini lebih utama ketika seseorang khawatir akan terjatuh kepada hal itu. Apabila tidak ditakutkan akan terkena sifat riya’, maka mengeraskan suara itu lebih utama, dengan syarat, tidak mengganggu orang lain yang mungkin sedang shalat, tidur, atau selainnya.” Mengeraskan bacaan Al-Qur`an ini merupakan amalan yang sangat besar karena akan memberikan manfaat kepada orang yang mendengarnya dan akan memantapkan hati orang yang membacanya serta akan dapat menyatukan segala keinginannya untuk memikirkan Al-Qur`an dan pendengarannya tertuju kepada bacaan Al-Qur`an. Dan bacaan itu dapat mengusir kantuk serta akan menambahkan sifat rajin dan giat. Apabila salah satu dari sekian niat ini menyertai bacaan Al-Qur`an dengan keras, maka membaca dengan jahr lebih utama.[Al-Adzkar halaman 162.]

Akan tetapi ada baiknya bagi kami untuk mengisyaratkan kepada suatu perkara yang penting, yaitu bahwa seseorang yang menjaharkan bacaan Al-Qur`an sepatutnya memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya seperti orang yang sedang shalat, atau orang yang sedang membaca Al-Qur`an dan atau orang yang sedang tiduragar jangan sampai mengganggu mereka dengan bacan yang diekraskan tersebut..

Telah diriwayatkan oleh Abu Said radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang I’tikaf di masjid. Lalu beliau mendengar orang orang membaca Al-Qur`an dengan suara yang keras. Lalu beliau menyikap tabir dan mengatakan,

ألا كلكم مناجٍ ربهُ فلا يؤذين بعضكم بعضاً، ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة . أو قال :  في الصلاة

“Ketahuilah, sesungguhnya masing-masing kalian itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya, maka janganlah kalian sebagian diantara kalian mengganggu sebagian lainnya, dan janganlah sebagian dari kalian mengeraskan bacaannya hingga mengganggu bacaan sebagian yang lain “. Atau dengan tambahan beliau bersabda : ”Ketika sedang shalat.” [HR. Abu Dawud no.1332, Al-Albani mengatakan :”Hadits ini shahih.”]

Catatan penting : Tidak boleh bagi seorang perempuan membaca Al-Qur`an dengan jahar, sementara ada laki-laki lain (bukan muhrim) didekatnya. Karena dikhawatirkan akan mendatangkan fitnah kepada wanita tersebut. Syariat Islam telah mengutamakan sadd adz-dzaraa’i – yakni menutup segala wacana – yang akan mengantarkan kepada suatu yang haram.[Fatwa Al-Lajnah ad-Daa`imah no.5413. (4/127)]

Faedah: Seahrusnyalah seseorang mengucapkan dan melnatunkan bacaan Al-Qur`an agar memperoleh pahala. Adapun sebagian kecil kaum muslimin yang membaca Al-Qur`an tanpa menggerakkan kedua bibirnya (yakni membaca dalam hati. pent) tidak akan mendapatkan keutamaan membaca Al-Qur`an.

Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah dalam salah satu fatwa beliau, mengatakan: “Tidak mengapa seseorang memandang Al-Qur`an tanpa membacanya dengan tujuan tadabbur, menelaah dan memahami maknanya. Akan tetapi dia tidak tergolong sedang membaca Al-Qur`an dan tidak mendapatkan pahala keutamaan membaca Al-Qur`an kecuali apabila dia melafazhkan bacaan Al-Qur`an walau dia tidak memperdengarkan orang-orang yang berada disekitarnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an, sesugguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi para pembacanya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim . Yang dimaksud oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ para pembacanya “, adalah mereka mengamalkannya sebagaimana yang terdapat pada dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur`an maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi, dan Ad-Darimi dengan sanad shahih. Seseorang itu tidak termasuk membaca Al-Qur`an jika tanpa melafazhkannya. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh ulama. Wallahu waliyyut-taufik.[Majalah Al Buhuts Al-Islamiyah no.51. Tahun 1418H hal.140.]

Footnote :

[1] Yang dimaksud menyerupai orang bernyanyi yaitu yang mirip dengan nyanyian, dan pada zaman kita sekarang ini, sebagian imam masjid kebanyakan seperti ini, sedang mereka ada yang mengetahui dan ada yang tidak, dan kamu akan terbuai oleh khayalan ketika mendengar bacaan mereka.

Sumber : Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s