Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Keempat]


11. Merupakan sunnah, membaca isti’adzah dan basmalah ketika memulai membaca Al-Qur`an.

فضل القرأن

فضل القرأن

Termasuk sunnah, membaca isti’adzah (ta’awwudz) sebelum membaca Al-Qur`an sebagaimana firman Allah :

فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An-Nahl : 98).

. ومن السنة ما رواه أبو سعيد الخدري قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا قام من الليل كبر ثم يقول: سبحانك اللهم وبحمدك وتبارك اسمك، وتعالى جدك، ولا إله غيرك ثم يقول:  لاإله إلا الله ثلاثاً، ثم يقول: الله أكبر كبيراً ثلاثاً  أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه ثم يقرأ

Juga dari hadits yang diriwayatkan Abu Said al Khudri yang mengatakan: “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat malam, beliau bertakbir kemudian membaca : (Maha Suci Engkau, ya Allah, segala puji bagimu, maha suci namaMu, maha tinggi keagunganMu, dan tiada ilah selainMu). Kemudian membaca : (Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau) sebanyak tiga kali, kemudian membaca : (Allah Maha Besar) tiga kali, kemudian membaca: (Aku berlindung kepada Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui dari syetan yang terkutuk, dari godaannya, dari kesombongannya, dan pengaruhnya)[*] kemudian baru membaca surah (Al-Qur`an) [HR. Abu Daud ( 775 ), Al-Albani mengatakan: Shahih. Ibnu Katsir mengatakan: Hadit sini telah diriwayatkan oleh para penulis As-Sunan yang empat. At-Tirmidzi mengatakan: Hadist ini yang paling populer dalam pembahasan ini . ( Tafsir Al-Qur`an Al-‘Adzhim 1 / 13 ). Cet. Maktabah Al-Harmiy].

Dari ayat dan hadits diatas dapatlah kita ketahui dua sighat al-isti’adzah, yaitu:

  1. A’udzu billahi min asy-syaithan ar-rajiim [أعوذ بالله من الشيطان الرجيم]
  2. A’udzu billah as-samii’ al-‘aliim min asy-syaithan ar-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. [أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه]
  3. [أعوذ بالسميع العليم من الشيطان الرجيم] A’udzu bis-samii’ al-‘aliim min asy-syaithan ar-rajiim  [Telah dijelaskan oleh Abu Daud tentang bentuk kalimat ta’aawudz pada no.785 dan Imam Al-Albaniy belum menshahihkan riwayat ini, dan Syeikh Utsaimin memberikan syahid (penguat terhadapnya) dalam Syarh Al-Mumti’ ‘ala matni Zaad Al-Mustaqani’ yang menujukkan atas shahihnya riwayat ini menurut beliau. Lihat Asy-Syarh (3/71) terbitan Mu`asasah Aasaam.]

Dan disunahkan bagi orang yang membaca al-Qur`an untuk mengamal sighat isti’adzah yang pertama dan juga yang berikutnya.

Faedah Isti’adzah: Untuk menjauhkan syaithan dari hati-hati manusia, disaat seseorang membaca kitabullan hingga seseorang mencapai tadabbur Al-Qur`an dan dapat memahami maknanya, dan mengambil manfaat dari Al-Qur`an tersebut. Karena akan ada perbedaan jikalau anda membaca Al-Qur`an dengan hati khusyu’ dan disaat anda membaca Al-Qur`an sementara hati anda yang lalai. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Utsaimin rahimahullah.[Asy-Syarh Al Mumti’ (3/71)]

Adapun membaca basmalah ketika memulai membaca Al-Qur`an merupakan amalan yang sunnah saja. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata:

بينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم  بين أظهرنا، إذ أغفى إغفاءة. ثم رفع رأسه متبسماً. فقلنا: ما أضحكك يا رسول الله! قال:( أنزلت عليَّ آنفاً سورةٌ) فقرأ ( بسم الله الرحمن الرحيم)  إنا أعطيناك الكوثر. فصل لربك وانحر. إن شانئك هو الابتر

“Pada suatu hari setelah shalat dzhuhur, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada disisi kami dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah mengantuk lalu beliau mengangkat kepala beliau dan tersenyum. Lalu kami bertanya kepada beliau, “Apa yang menyebabkan anda tertawa, wahai Rasulullah?”  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surat yang mulia” , kemudian beliau membaca

“Sesunguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-kautsar – telaga disurga. Maka shalatlah kepada Rabb-mu dan berkurbanlah. Sesungguhnya yang membencimu adalah orang yang terputus “ (Al-Kautsar), al-hadits”.[HR.Muslim (400)]

Pertanyaan : Telah menjadi kebiasaan kaum muslimin ketika selesai membaca Al-Qur`an mereka mengucapkan “Shadaqallahul ‘Adziim” apakah ini ada dalilnya yang shahih?

Jawab : Tidak ada dalil untuk mengucapkan “Shaqallahul ‘Adziim” ketika selesai membaca Al-Qur`an. Walaupun ini amalan sebagian besar kaum muslimin, akan tetapi amalan mayoritas bukanlah dalil bahwa amalan tersebut benar. Allah ta’ala berfirman :

وما أكثر الناس ولو حرصت    بمؤمنين

“ Dan tidaklah sebagian besar kaum manusia , walaupun engkau berupaya , akan beriman “ (Yusuf: 103 )

Demikian pula ada pendapat yang sangat mengesankan dari Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

لا تستوحش طرق الهدى لقلة أهلها،   ولا تغتر بكثرة السالكين الهالكين

“Janganlah engkau merasa kesepian dengan jalan-jalan petunjuk hanya karena sedikitnya yang mengikuti jalan tersebut. Dan janganlah engkau terpedaya dengan banyaknya orang-orang yang meniti jalan kebinasaan.”

Akan tetapi sesungguhnya dalil menguatkan pendapat yang menolak penutupan bacan Al-Qur`an dengan ucapan ini. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dan selain mereka dari hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu beliau berkata:

: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (اقرأ عليَّ)، قال قلت آقرأ عليك القرآن وعليك أنزل؟ قال:( إني أشتهي أن أسمعه من غيري)، قال فقرأت النساء حتى إذا بلغتُ { فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيداً } قال لي : (كفَّ أو أمسك). فرأيت عينيه تذرفان

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacakanlah –Al-Qur`an- untukku” Ibnu Mas’ud berkata: “ Saya bertanya: Akankah saya membacakan Al-Qur`an untukmu sedangkan kepadamu Al-Qur`an itu diturunkan?” Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku suka untuk mendengarkan Al-Qur`an dari orang lain”. Ibnu Mas’ud berkata: “ Maka saya pun membacakan surat An-Nisaa` hingga saya sampai pada ayat:

“Dan Bagaimanakah jikalau Kami mendatangkan bagi masing-masing umat seorang saksi, dan kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka semua” (An-Nisaa` : 41 )

Beliau berkata kepadaku: “Cukup atau tahan bacaanmu”, dan aku melihat kedua mata beliau meneteskan air”.[HR. Al-Bukhari no.5055 dan lafazh ini lafazh riwayat beliau, Muslim no.800]

Dan demi ayah dan ibuku yang menjadi jaminannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh Ibnu Mas’ud untuk mengucapkan “Shadaqallahul’adzim” dan beliau tidak menetapkan hal itu dan tidak pula dilakukan oleh orang-orang generasi pertama dari umat ini semoga Allah meridhai mereka bahwa mereka tidak pernah mengucapkan hal itu ketika mereka selesai membaca Al-Qur`an. Begitu juga tidak pernah diketahui bahwa Salaf Ash-Shalih yakni orang-orang yang hidup setelah generasi sahabat bahwa mereka telah mengamalkannya. Tidak ada yang dapat dikatakan selain kita bahwa amalan tersebut adalah amalan yang muhdats – diada-adakan – dan tidak ada sunnah yang membolehkan dzikir ini.

Al-Lajnah Ad-Daimah berfatwa: “ Seseorang mengatakan “shadaqallahul’adzim “ ucapan ini pada dasarnya adalah ucapan benar. Akan tetapi apabila ia mengucapkannya setelah selesai membaca Al-Qur`an dengan terus menerus, maka ini termasuk perbuatan bid’ah. Dikarenakan bacaan itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa` Ar-Rasyidin sebatas yang kami ketahui, sementara mereka seringkali membaca Al-Qur`an. Dan telah shahih driwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang beramal dengan sebuah amalan yang tidak ada baginya perintah dari kami, maka amalan itu tertolak”. Dan pada riwayat lain: “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang hal tersebut bukan merupakan urusan dari kami, maka tertolak”.[Fatwa no.4310 (4/118) dan kami telah meringkas masalah ini dan menyebarkannya kepada orang-orang yang melakukannya dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Wallahulmusta’an.]

Faedah : An-Nawawi menyebutkan dalam kitab beliau Al-Adzkar, bahwa beliau berkata: “ Disunnahkan bagi orang yang membaca Al-Qur`an jika ia memulainya dari pertengahan surat hendaklah ia memulainya dari awal kalimat-kalimat saling berkaitan sebagian dengan sebagian lainnya. Demikian pula hendaklah ia berhenti pada tempat berhenti pada kalimat yang berkaitan, atau pada akhir kalimat. Dan janganlah dia bergantung dalam masing-masing tempat berhenti , ketika memulai, atau ketika berhenti pada setiap juz, atau setiab hizb bacaan, atau pada setiap ‘usyr juz. Karena sebagian besar tempat-tempat tersebut berada pada pertengahan kalimat … Kemudian beliau berkata, “ Dan semakna dengan pernyataan ini sesuai dengan perkataan ulama: “ Membaca Al-Qur`an dengan menyempurnakan setiap surat itu lebih utama dari pada sebagian surah pada surah-surah yang panjang. Dikarenakan penyesuaian bacaan ayat telah tersamarkan bagi mayoritas kaum muslimin atau bahkan paling banyaknya diantara mereka dia pada beberapa keadaan dan tempat”.[Al-Adzkar hal.163]

12. Disunnahkan membaca Al-Quran dengan tartil dan makruh membaca al quran secara cepat.

Allah memerintahkan kepada kita untuk membaca Al-Qur`an secara tartil, sebagaimana firman-Nya :

ورتل القرآن ترتيلاً

“ Dan bacalah Al-Qur`an dengan tartil “ (Al-Muzammil : 4 ).

Adapun yang dimaksud dengan tartil dalam membaca adalah membaca dengan teratur dan pelan-pelan serta dengan suara yang jelas tanpa salah. Ibnu Abbas t ketika menjelaskan tafsiran surah ini

ورتل القرآن ترتيلاً

“ Dan bacalah Al-Qur`an dengan tartil “ (Al-Muzammil : 4 ).

Beliau mengatakan, “Membaca Al-Qur`an itu dengan sejelas-jelasnya.” Abu Ishaq mengatakan, “Bacaan yang jelas tidak mungkin terwujud dengan tergesa-gesa ketika membaca, adapun untuk mewujudkannya adalah dengan cara mencermati setiap huruf yang dibaca dan memenuhi hak-haknya (ketentuan-ketentuan hukum qira’ah).”[Lisan Al ‘Arab Karangan Ibnu Mandzur (11/265) cetakan Daar Ash-Shaadir.] Sedangkan faedah yang bisa diambil dari membaca Al-Qur`an dengan cara tartil adalah mengajak kita untuk memahami makna dari ayat-ayat Al-Qur`an tersebut.

Mayoritas para salaf dari kalangan para sahabat maupun yang sesudah mereka, sangat membenci orang yang membaca Al-Qur`an dengan cara terburu-buru. Penyebab ketidak senangan mereka adalah karena kemauan para qari’ untuk membaca dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat adalah merupakan kelalaian, dikarenakan ingin mendapat pahala besar tapi hilang mashlahat yang lebih besar yaitu tadabbur atau mepelajari serta memahami makna dari ayat-ayat Al-Qur`an, mengambil faedah darinya, dan pengaruh bacaan Al-Qur`an yang nampak jelas pada diri qari’ itu sendiri. Tidak diragukan lagi bahwa seseorang yang membaca Al-Qur`an sedangkan dia memikirkan ayat-ayatnya dan menghadirkan atau berusaha memahami makna-maknanya, hal ini jelas lebih baik dari pada orang yang membacanya dengan tergesa-gesa karena ingin cepat menyelesaikan bacaannya atau selesai dan banyak jumlah yang dibaca.

Ibnu Mas’ud memiliki perkataan yang berisikan kritikan beliau terhadap orang yang membaca Al-Qur`an dengan tergesa-gesa, diriwayatkan dari Abi Wail beliau berkata: “Seorang laki-laki datang menjumpai beliau yang dikenal dengan nama Nuhaik bin Sinan, lalu orang tersebut berkata: “ Wahai Abu Abdurrahman Bagaimanakah anda membaca huruf ini, apakah dengan huruf aliif atau dengan huruf yaa` , yaitu pada firman Allah ta’ala: من ماءٍ غير آسن   ataukah dengan: من ماءٍ غير ياسن ?

Dia berkata: “Berkata Abdullah: “Semua ayat-ayat Al-Qur`a telah anda hitung selain ayat ini?”

Dia berkata: “Sesungguhnya aku membaca surah al-mufashshal pada satu raka’at.”

Maka Abdullah berkata: “Ini adalah pemenggalan sebagaimana pemenggalan sebuah sya’ir? Sesungguhnya ada sekelompok kaum yang mereka membaca Al-Qur`an, akan tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Akan tetapi apabila mereka meresapinya dalam hati dan merasakan manfaatnya serta mengambil faedah padanya, barulah mereka berlalu …” [HR. Al-Bukhari no.775 dan Muslim no722 dan lafazh ini adalah lafazh pada riwayat beliau..]

Diriwayatkan dari Abu Jamrah mengatakan: “Aku berkata kepada Ibnu Abbas, Sesungguhnya aku sangat cepat membaca Al-Qur`an dan aku dapat menyelesaikannya dalam tiga hari.” Maka Ibnu Abbas mengatakan, “ Sesungguhnya aku membaca Al-Baqarah dalam semalam dengan mentadaburinya dan mentartilnya, dan aku lebih menyukainya dari pada aku membaca sebagaimana yang engkau katakan “.

Dalam riwayat lainnya Ibnu Abbas berkata: “Jika kamu memang mesti melakukannya dengan demikan (cepat), maka hendaklah kamu membacanya dengan bacaan yang dapat didengar oleh telingamu dan dipahami hatimu.”[Dikeluarkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Fadhaail Al Qur’an hal.236. Muhaqqiq berkata, “Isnadnya Shahih. Dan Al-Baihaqy menambahkan dalam Asy-Sya’bi dari hadits Syu’bah. Dan berkata Muhaqqiq Al-Fadhaail, sanadnya shahih. Lihat al-Hasyiah hal.237.]

Ibnu Muflih mengatakan: “ Ahmad berkata: Saya menyukai bacaan Al-Qur`an yang mudah dan saya membenci bacan Al-Qur`an dengan cepat. “

Harb berkata: “ Saya bertanya kepada Ahmad tentang bacaan Al-Qur`an dengan cepat, dan beliau tidak menyukainya, kecuali apabila lisan orang tersebut seperti itu. Ataukah dia tidak dapat membacanya perlahan. Lalu ada yang bertanya: Apakah seperti itu berdosa?

Beliau menjawab: Adapun tentang dosanya, saya tidak berani untuk mengomentarinya “[Al-AdabAsy-Syar’iyah ( 2 / 297)]

Masalah: Manakah yang lebih utaman bagi seseorang yang membaca Al-Qur`an, membacanya dengan tenang dan tadabbur ataukah membacanya dengan cepat, namun tanpa mengabaikan sedikitpun huruf-huruf dan harat-harakatnya ?

Jawab: Apabila bacaan yang cepat tersebut tidak sampai mengabaikan aturan qira’ah, sebagian ulama telah mengutamakan bacaan dengan cepat seperti itu dengan harapan banyaknya pahala yang akan diperolehnyadenganbanyaknya bacaan Al-Qur`an. Sementara sebagian ulama lainnya lebih mengutamakan bacaan yan tartiil dan tenang.

Ibnu Hajar mengatakan: “ Pendapat yang tepat, bahwa masing-masin baik itu bacaan yang cepat dan juga bacaan yang tartil memiliki keutamaan tersendiri. Dengan syarat bahwa bacaan yang cepat tersebut tidak sampai mengabaikan hak huruf-huruf bacaan beserta harakat-harakatnya, sukun serta hal-hal wajib lainnya. Jadi tidak ada halangan dalam mengutamakan slaah satu diantara keduanya atau menyatakan keduanya sama dalam hal keutamaan. Karena seseorang yang membaca Al-Qur`an dengan tartil dan menelaah ayat demi ayat, layaknya seseorang yang mendermakan sebuah permata yang sangat bernilai. Dan yang membaca dengan cepat layaknya seseorang yang mendermakan beberapa permata dengan harga yang senilai. Terkadang nilai permata yang satu melebihi nilai permata yang banyak dan terkadang malah sebaliknya “[Fathul Baari ( 8 / 707 )]

13.Disunnahkan memanjangkan bacaan Al-Qur`an.

Hal ini shahih keterangannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas radhiallahu ‘anhu ditanya tentang bacaan Al-Qur`an Rasulullah, maka Anas menjawab : ”Beliau memanjangkannya, kemudian membaca basmallah, maka beliau memanjangkan bismillah, memanjangkan ar-rahman, dan memanjangkan ar-rahim.”[HR. Al-Bukhari no.5145]

====
Footnote :

[1] Hamzihi : hamaza asy-syaithan al-insaana hamazan, maknanya: meniupkan didalam hatinya perasaan was-was. Hamzaah asy-syaithan : Adalah segala was-was yang terbersit didalam hati seorang manusia. ( Lihat Lisan Al-‘Arab 5 / 426 ), bahasan: همز.

Nafkhihi: an-nafkhu maknanya adalah keangkuhan. Pada sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Saya berlindung dari hamzihi, wa nafkhihi wa naftsihi , … dikarenakan seorang yang angkuh merasa tinggi hati dan menyatukan hawa nafsu dan kehendaknya yang dia sombongkan. ( Lisan Al-‘Arab 3 / 64 ), bahasan: نفخ

Naftsihi: Sedangkan an-naftsu, penafsiran kalimat ini didalam hadits diatas adalah sya’ir. Abu ‘Ubaid mengatakan: Dan an-naftsu ditafsirkan sebagai sya’ir dikarenakan seumpama sesuatu yang dilontarkan yang ada padanya seperti juga halnya dengan ruqyah. ( Al-Lisan 2 / 196 ) bahasan: نفث

Artikel Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim dipublikasikan kembali oleh tigalandasanutama.wordpress.com dengan penambahan text arab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s