Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Macam-Macam Ibadah : Berharap Kepada Allah


ودليل الرجاء قوله تعالى

Dalil raja’ (pengharapan) adalah firman Allah:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (QS. 18:110)

Perkataan penulis: Dalil (الرجاء) rajaa’ (pengharapan) adalah firman Allah: [ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً ] Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi : 110]

Pada asalnya (الرجاء) ar-rajaa’ bermakna: Sangat menginginkan atau menunggu sesuatu yang dicintai. Dan (رجاء) rajaa’ mengesankan kerendahan diri dan ketundukan, yang demikian itu hanya untuk Allah Barangsiapa menggantungkan harapannya kepada selain Allah berarti ia telah berbuat syirik. Meskipun Allah menjadikannya sebagai sebab, namun sebab itu sendiri tidak dapat berdiri sendiri, harus ada yang menopangnya dan tiada penghalangnya. Dan harapan tidak dapat dicapai dan tidak akan tetap kecuali dengan kehendak Allah. [ Majmu’ Fatawa (10./256)]

(الرجاء) Ar-Rajaa’ terbagi dua:

  1. (رجاء محمود ) Rajaa’ mahmud (harapan yang terpuji) yaitu seseorang yang berharap agar dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah  menurut bimbingan cahaya dari Allah dan ia mengharapkan pahala dari Allah Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat maka sesungguhnya ia telah mengharapkan maghfirah, ampunan, kebaikan, kemurahan, kemuliaan dari Allah
  2. (رجاء مذموم ) Rajaa’ madzmum (harapan yang tercela) yaitu harapan seseorang yang terus melakukan kesalahan dan dosa lantas ia mengharapkan rahmat dari Allah dengan tidak melakukan amalan. Ini adalah khayalan, angan-angan dan harapan yang semu.

Perbedaan antara harapan dan angan-angan adalah harapan muncul dengan mengerahkan segenap potensi yang disertai dengan tawakkal. Dan angan-angan muncul disertai dengan kemalasan (tidak beramal). Allah  berfirman:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” [Al-Israa’ : 57]

Maksud dari [ابتغاء الوسيلة إليه] Ibtighaail wasilah ilaih: Upaya mendekatkan diri dengan kecintaan, peribadatan, ketaatan maupun dengan bentuk ibadah lainnya.

Adapun makna Firman-Nya: [فَمَن كَانَ يَرْجُو] yakni beramal, meminta dan menunggu. Firman-Nya: [لِقَاء رَبِّهِ] yang dimaksud  dengan liqa’ (berjumpa) adalah melihat langsung yang merupakan pertemuan khusus. Karena pertemuan ada dua  macam:

  • Pertemuan khusus: Untuk orang mukmin, yaitu mendapati keridhaan dan nikmat dari Allah.
  • Pertemuan umum: Untuk semua manusia.

Dalil yang menunjukkan pertemuan umum ini adalah firman Allah dalam surat Al-Insyiqaaq:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحاً فَمُلَاقِيهِ – فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ – فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً – وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً – وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ – فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan  menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” [QS. Al-Insyiqaaq ayat 6-11]

Dari Firman-Nya [فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ] Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, [وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ] Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan pertemuan pada Firman-Nya [فَمُلَاقِيهِ] akan menemuiNya adalah pertemuan umum. Dan ayat yang telah kita sebutkan di atas bermakna:

Barangsiapa menunggu, menginginkan serta menghendaki perjumpaan dengan Allah yakni berjumpa dengan keridhaan dan kenikmatan-Nya maka hendaklah ia beramal shalih dan janganlah ia menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Karena orang yang mengharapkan pahala dari Allah dan takut terhadap siksaan Allah pastilah ia akan beramal shalih dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Para ulama menafsirkan amalan shalih sebagai suatu amalan yang bersih dari riya’ dan sesuai dengan syariat, baik yang wajib maupun yang mustahab (sunnah).

Firman-Nya [وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً] yakni jangan ia menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dalam peribadatan, siapapun orangnya, baik malaikat terdekat, nabi, wali atau juga orang shalih. Firman-Nya [بِعِبَادَةِ رَبِّهِ] mengisyaratkan sebab dilarangnya perbuatan syirik. (Yakni), sebagaimana Allah Ta’ala yang telah menciptakan kamu dan memeliharamu, tidak ada seorang pun yang membantu-Nya dalam menciptakanmu maka sudah sepantasnya ibadah hanya dipersembahkan untuk-Nya semata dan tiada sekutu bagi-Nya. [Qaulul Mufid (2/230)]

Maka wajib atas seorang hamba untuk merealisasikan harapannya dan tidak menggantungkannya melainkan kepada Allah. Jangan ia gantungkan harapannya hanya dengan mengandalkan kekuatan dan perbuatannya ataupun makhluk lain. Dalam sebuah atsar dari All Bin Abi Thalib disebutkan:

لا يرجو عبد إلا ربه، ولا يخاف إلا ذنبه

“Tidaklah seorang hamba itu mengharap kecuali kepada Rabb-Nya dan tidaklah ia takut kecuali terhadap dosanya” [Hilyatul Auliya’ (1/75-76)]

وعن أنس – رضي الله عنه – أن النبي دخل على شاب وهو في الموت فقال :  كيف تجدك؟  قال : أرجو الله يا رسول الله، وأخاف ذنوبي. فقال رسول الله  : لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن إلا أعطاه الله ما يرجو وآمنه مما يخاف

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik bahwa Rasulullah pernah menjenguk seorang pemuda yang mendekati kematiannya, beliau bertanya: “Apa yang sedang kamu rasakan?” Jawabnya: “Wahai Rasulullah aku hanya mengharapkan Allah dan takut akan dosaku.” Rasulullah bersabda: “Dalam kondisi seperti ini, tiada berkumpul dalam hati seorang hamba dua hal tersebut kecuali Allah-akan memberikan apa yang ia harapkan dan memberikan keamanan dari apa yang dia takutkan.” [ Hadits ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzy (no 983) dan Ibnu Majah Ibnu ((no 4261). Hadits ini dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah. (2/420)]

Hendaknya seorang insan mengetahui, semakin kuat harapannya dan keinginannya untuk mendapatkan fadhilah, rahmat Allah dan kemudahan urusannya, semakin akan dipenuhi keperluannya, diperkuat ibadahnya dan diberikan kebebasan dari (penguasaan) selain Allah. Namun jika ia menggantungkan harapannya kepada makhluk, maka hatinya akan berpaling dari beribadah kepada Allah dan akan menjadi hamba bagi selain Allah sesuai dengan tingkat ketergantungan harapannya kepada makhluk tersebut serta akan merendahkan dirinya dan tunduk kepada selain Allah” [LihatMajmu’Fatawa (10/256-267)]

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah perkataan yang sangat bagus dan bermanfaat, sengaja saya menukilnya di sini agar bisa diambil manfaatnya oleh para pembaca. Beliau berkata: “Ketahuilah bahwa amalan hati kepada Allah ada tiga macam: Mahabbah (kecintaan), al-khauf (rasa takut) dan ar-raja’ (harapan) dan yang terkuat adalah mahabbah (kecintaan) karena itulah hakikat yang dimaksud dan akan tetap bertahan di dunia dan di akhirat.  Berbeda dengan khauf (rasa takut), perasaan ini akan hilang di akhirat nanti. Allah berfirman:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [QS. Yunus ayat 62]

Maksud khauf di sini adalah teguran dan pencegahan dari penyimpangan. Mahabbah adalah perjalanan yang ditempuh seorang hamba untuk menemui kekasihnya. Walaupun dalam kondisi lemah maupun kuat ia tetap menempuh jalan tersebut. Dan perasaan khauf akan mencegahnya agar tidak keluar dari jalan tersebut. Dan rajaa’ merupakan  pembimbingnya. Ini adalah landasan yang agung yang wajib diperhatikan oleh setiap hamba, karena ibadah tidak akan didapatkan kecuali dengan tiga hal tersebut. Dan setiap orang hendaklah menghambakan diri kepada Allah, jangan  kepada yang lain.

Jika dikatakan kdpadamu: Terkadang seorang hamba tidak memiliki mahabbah yang mendorongnya untuk menemui  kekasihnya, bagaimana cara menggerakkan hati tersebut?

Jawabnya, ada dua cara:

  • Pertama: Dengan sering mengingat-Nya. Karena dengan sering mengingat-Nya, hati akan terkait kepada yang kita cintai.
  • Kedua: Dengan mempelajari nikmat-nikmat-Nya, karena apabila seorang hamba mengingat nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya -(seperti ditundukkannya langit, bumi dan apa yang ada di dalamnya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan nikmat lain yang telah dicurahkan baik yang lahir maupun yang batin)- pasti akan muncul perasaan mahabbah tersebut. Begitu juga khauf akan muncul ketika kita mengetahui ayat-ayat ancaman, celaan, hari diperlihatkannya amalan-amalan, perhitungan dan lain-lain. Dan juga ar-rajaa’ dapat muncul dengan mengetahui kemulian, kemurahan dan ampunan Allah.” [ Majmu’ Fatawa (1/95-96)]

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s