Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Ketiga]


السواك - siwak - gosok gigi

السواك

Pada posting sebelumnya telah kita ketahui beberapa adab lainnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an diantaranya, Tentang apa yang seharusnya dikatakan jika terlupa akan ayat Al-Qur’an, Kewajiban Menghayati Al-Qur’an dan Bolehnya Membaca Al-Qur’an baik dalam keadaan duduk, berdiri, berjalan maupun ketika berbaring dan ketika di atas kendaraan. Selanjutnya, kita akan melanjutkan pembicaraan dalam bab ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat yang membuahkan amal yang shalih.

7. Tidak menyentuh Al-Qur`an kecuali dalam keadaan suci

Dalil akan hal tersebut adalah firman Allah ta’ala :

لا يمسه إلا المطهرون

“ Tidaklah ada yang menyentuhnya selain kaum yang suci “ ( Al-Waqi’ah : 79 )

Dan larangan menyentuh Al-Qur`an kecuali bagi seseorang yang telah bersuci dengan tegas disebutkan pada sebuah kitab yang ditulis oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Amru bin Hazm, dan pada kitab tersebut tercantum :

أن لا يمس القرآن إلا طاهر

“Dan janganlah seseorang menyentuh Al-Qur`an kecuali dia dalam keadaan bersih/suci” [Diriwayatkan oleh Malik didalam Al-Muwaththa’ eliau ( 468 ). Kitab ini adalah kitab yang dituliskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Amru bin Hazm bagi penduduk Yaman tentang sunnah-sunnah, permasalahan warisan, dan pembayaran diyat. Ibnu Abdil Barr berkatan tentang kitab ini : Kitab ini adalah kitab yang populer dikalangan ulama dan ketenaran kitab ini telah mencukupkan dari sanad periwayatannya ( At-Tamhid 17 / 396 ) cet. Daar Ath-Thayyibah. Al-Albani telah menshahihkan hadits ini didalam Al-Irwa’ ( 122 ), dan beliau menyebutkan bahwa Imam Ahmad telah menjadikannya sebagai hujjah dan Ishaq bin Rahawaih juga menshahihkannya ( 1 / 158 ) cet. Al-Maktab Al-Islami.]

Masalah : Apakah boleh membawa mushaf Al-Qur`an jika menggunakan pembungkus (kantung) [‘Ilaqah, dengan dikasrah, seperti ungkapan ‘ilaqah as-saif – pedang- dan as-sauth – cambuk -. Yang dimaksud dengan ‘ilaqah as-sauth adalah sesuatu yang dipergunakan untuk menaruh cambuk didalam perjalanan. Demikian pula dengan ‘ilaqah al-qadh – bejana – , mushhaf dan al-qauus – cerek – dan lain sebagainya. A’laqa as-sauth, al-mushhaf, as-saif wa al-qadh maknanya adalah membuat gantungan bagi barang-barang tersebut.] atau diantara kain bagi seorang yang berhadats?

Jawab : Iya, diperbolehkan membawa Al-Qur`an dengan menggunakan pembungkus/kantung, karena yang seperti itu tidak termasuk menyentuh.[Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah no.557 (4/76)] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

ومن كان معه مصحف فله أن يحمله بين قماشه. وفي خرجه وحمله، سواء كان ذلك القماش لرجل أو امرأه أو صبي وإن كان القماش فوقه أو تحته ، والله أعلم

“Dan barang siapa yang membawa mushaf , maka sebaiknya dia membawanya diantara kainnya, yang terletak pada pelananya maupun barang bawaannya. Dan tidak dibedakan apakah kain tersebut teruntuk bagi kaum laki-laki , wanita ataukah anak kecil dan walau kain tersebut berada diatasnya atau dibawahnya, wallahu a’lam.”[Fatwa An-Nisa` halaman 21 terbitan Daar Al-Qalam.]

Faedah : Bolehnya membawa mushaf dengan meletakkannya pada saku, dan tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk masuk wc dengan membawa mushaf. Akan tetapi dia harus meletakkan mushaf pada tempat yang sesuai dengannya dalam rangka mengagungkan kitabullah dan menghormatinya. Akan tetapi jika terpaksa masuk ke wc dan takut mushhaf tersebut akan dicuri jika ditinggal di luar, boleh baginya masuk wc dengan membawa mushaf dengan alasan darurat.[Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah no.2245 (4/40)]

8. Boleh membaca Al-Qur`an dari hafalannya bagi orang yang berhadats kecil.

Adapun orang-orang yang junub, maka tidak diperkenankan baginya membaca Al-Qur`an dalam keadaan bagaimanapun. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ali radhiallahu ‘anhu yang mengatakan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرئنا القرآن ما لم يكن جنبا

“Dahulu Rasulullah biasa membacakan kepada kami ayat-ayat Al-Qur`an selama beliau tidak dalam keadaan junub.” [HR. Ahmad (627), dan pentahqiqnya mengatakan : ”Sanadnya hasan”, dan meyebutkan perkataan Al-Hafidz : ”Yang benar, dia itu pada tingkatan hasan yang dapat dipakai sebagai hujjah.” Lihat Al-Musnad Imam Ahmad cetakan Muasasah Ar-Risalah halaman 61, 62. HR. At-Tirmidzi (131) dan beliau mengatakan : ”Hadits hasan shahih.”]

Jika hadatsnya hanya sekedar hadats kecil, maka boleh membaca Al-Qur`an melalui hafalannya, hal ini sesuai dengan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ketika beliau menginap dibibi beliau Maimunah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkta,

حتى إذا انتصف الليل- أو قبله بقليل، أو بعده بقليل- استيقط رسول الله صلى الله عليه وسلم، فجلس يمسح النوم عن وجهه بيده. ثم قرأ العشر الآيات الخواتم من سورة آل عمران. ثم قام إلى شن معلقة فتوضأ منها فأحسن وضوءه

“Hingga ketika sampai pada pertengahan malam kurang atau lebih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga lalu beliau duduk dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan beliau, kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali Imran, lantas beliau bangun dan menuju ketempat air yang tergantung lalu berwudhu` darinya dan membaguskan wudhu`nya”. [HR. Al-Bukhari (183) dan Muslim (673)]

Bacaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , setelah beliau terbangun dari tidur dan belum berwudhu’ adalah dalil diperbolehkannya membaca Al-Qur`an bagi orang yang berhadats kecil seperti kencing, buang air besar, atau tidur. Sedangkan yang lebih utama dan sempurna adalah membaca Al-Qur`an dalam keadaan suci dari hadats.

Tidak ada celaan maupun pengingkaan bagi seseorang yang membaca Al-Qur`an dalam keadaan seperti ini. Bahkan celaan tertuju bagi orang yang mengingkari masalah ini dan kepada orang-orang yang menolak sunnah yang shahih yang menerangkan perkara ini. Diriwayatkan didalam Al-Muwaththa` karya Imam Malik bahwa

كان في قوم وهم يقرءون القرآن، فذهب لحاجته ثم رجع وهو يقرأ القرآن، فقال له رجل: يا أمير المؤمنين أتقرأ القرآن ولست على وضوء؟  فقال له عمر: من أفتاك بهذا أمسيلمة ؟

Umar bin Khaththab sedang berada pada suatu kaum dan mereka sedang membaca Al-Qur`an. Kemudian beliau buang hajat dan kembali lalu membaca Al-Qur`an. Maka berkatalah salah seorang diantara mereka : “Wahai Amirul Mu`minin, apakah engkau membaca Al-Qur`an sedangkan engkau tidak berwudhu’?”, maka Umar mengatakan : “Siapakah yang memberimu fatwa seperti itu? Apakah Musailamah?” [Al-Muwaththa` (469).]

Masalah : Apakah boleh bagi orang yang berhadats kecil membaca Al-Qur`an dari mushaf?

Jawab : Al-Lajnah Ad-Daimah dalam salah satu jawabannya mengatakan : “Tidak diperbolehkan bagi orang yang sedang junub membaca Al-Qur`an sampai dia mandi. Baik membaca dengan mushaf maupun dari hafalannya. Juga tidak boleh baginya membaca Al-Qur`an memakai mushaf kecuali setelah suci secara sempurna dari hadats besar maupun kecil.[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daa`imah (5/328), fatwa no. 8859.]

Masalah : Manakah yang lebih utama, membaca Al-Qur`an dari hafalan atau dengan mushaf?

Jawab : Terdapat perbedaan pendapat diantara ulama tentang hal ini. Sebagian mereka mengutamakan membaca Al-Qur`an dari hafalan dari pada membaca melalui mushaf. Ulama lainnya menolak pendapat ini, mereka mengatakan : “Sesungguhnya membaca melalui mushaf lebih utama, karena dengan begitu berarti mencermati Al-Qur`an. Akan tetapi pendapat ini didukung oleh atsar-atsar yang tidak shahih. Ulama lainnya lagi merinci permasalahan ini.

Ibnu Katsir mengatakan :

وقال بعض العلماء : المدار في هذه المسألة على الخشوع، فإن كان الخشوع أكثر عند القراءة عن ظهر قلب، فهو أفضل، وإن كان عند النظر في المصحف أكثر، فهو أفضل، فإن استويا، فالقراءة نظراً أولى، لأنها أثبت، وتمتاز بالنظر إلى المصحف.

”Sebagian ulama mengatakan, inti perkara ini adalah masalah kekhusyu’an. Jika membaca Al-Qur`an melalui hafalan lebih khusyu’, maka ini yang utama. Sedangkan jika membaca dengan mushaf lebih khusyu’, maka inilah yang utama. Jika membaca dengan hafalan sama khusyu’nya dengan membaca menggunakan mushaf, maka membaca melalui mushaf lebih utama. Karena akan lebih cermat dan mendapatkan kelebihan dengan melihat mushaf.

Abu Zakariya An-Nawawi rahimahullah dalam kitab At-Tibyan mengatakan : “Zhahir perkataan dan amalan ulama Salaf dapat dipahami dengan perincian ini.” [Fadhail Al-Qur`an hal. 212. Pentahqiq : Abu Ishaq Al-Huwaini, cetakan Maktabah ibnu Taimiyah.]

Ibnul Jauzi mengatakan : “Sudah sepantasnya bagi orang-orang yang memiliki mushaf untuk membaca setiap hari ayat-ayat yang mudah agar tidak menjadikan Al-Qur`an terabaikan.” [Al-Adab Asy-Syar’iyah Ibnu Muflih (2/285) cetakan Muasasah Ar-Risalah.]

9. Bolehnya Membaca Al-Qur`an bagi perempuan yang sedang haidh maupun nifas.

Hal ini dikarenakan tidak dijumpai dalil yang menunjukkan secara langsung tentang pelarangannya, akan tetapi harus membaca dengan tanpa menyentuh mushaf. Al-Lajnah Ad-Daimah menyatakan : “Adapun bagi perempuan haidh maupun nifas, tidak mengapa membaca Al-Qur`an dengan tanpa menyentuh mushaf. Ini menurut pendapat yang paling shahih dari para ulama, dikarenakan tidak tsabitnya dalil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perempuan haid maupun nifas untuk membaca Al-Qur`an.” [FatawaAl- Lajnah Ad-Daa`imah no. 3713 (74/4)]

10. Disunnahkan membersihkan mulut sebelum membaca Al-Qur`an dengan siwak.

Yaitu dalam rangka beradab dengan Kalamullah. Maka sesungguhnya seorang qari’ ketika menghendaki untuk membaca Kalamullah, sangat baik baginya jika membarsihkan dan membuat harum mulutnya dengan siwak atau dengan apa saja yang bisa dipakai untuk membersihkan mulut.

Tidak ada keraguan bahwa hal ini merupakan perilaku penuh adab terhadap kalamullah. Rasulullah mencontohkan hal ini sebagaimana dalam hadits Hudzaifah yang menyatakan :

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام للتهجد من  الليل يشوصُ فاه بالسواك

“Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun untuk shalat tahajjud pada malam hari, beliau membersihkan mulut beliau dengan siwak.” [HR. Al-Bukhari (1136), Muslim (255), Ahmad (22802), An-Nasa’I (2), Abu Dawud (55), Ibnu Majah (286), dan Ad-Darimiy (685).] [Lihat Al-Adzkar Imam An-Nawawi hal. 160.]

Artikel Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim dipublikasikan kembali oleh tigalandasanutama.wordpress.com dengan penambahan text arab.

Artikel Terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s