Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Macam-Macam Ibadah : Do’a Sebagai Inti Ibadah


وفي الحديث : الدُّعاء مُخُّ العبادةِ

Dalam hadits disebutkan: “Doa adalah inti ibadah”

والدليل قوله تعالى : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dalilnya juga firman Allah: “Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghaafir : 60)


Perkataan penulis: Dan dalam sebuah hadits disebutkan: “Do’a adalah intinya ibadah.” [Hadits ini dha’if  diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Anas bin Malik, ia berkata “Hadits ini gharib.” Dinyatakan dha’if oleh Al-Albani dalam Takhrij Misykatul Mashaabih (No:2331) dan Dha’if Jami’ Ash-Shaghir (no:3003)-Pent]

Penulis mulai menyebutkan dalil dari setiap jenis ibadah yang telah beliau sebutkan. Penulis membawakan jenis-jenis ibadah yang telah lalu. Dan insya Allah akan kita bahas masing-masing jenis ibadah tersebut sesuai dengan kemampuan, mulai dari defenisinya, pembagiannya atau membawakan dalil sebagai tambahan dari dalil yang telah disebutkan oleh Syeikh.

Beliau memulai dengan jenis yang pertama yaitu do’a. Karena do’a adalah jenis ibadah yang terpenting sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nu’man Bin Basyir bahwa Nabi bersabda:

الدعاء هو العبــادة

“Doa adalah ibadah.”  [Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy (5/426), Ibnu Majah (no 3828), Abu Daud (no 1479), Ahmad 94/267), Al-Bukhary dalam Kitab Al-Adabul Mufrad (no 714), Al Hakim (1/491), berkata At-Tirmidzy hadits hasan shahih.]

Hal ini menunjukkan bahwa do’a adalah jenis ibadah yang terpenting bila ditinjau dari dua sisi:

  1. Rasulullah menyebutnya dengan dhamir munfashil (هو) dan dhamir munfashil menunjukkan penegasan.
  2. Rasulullah menyebut ibadah dengan alif dan laam (العبــادة) seakan-akan beliau mengatakan: [الدعاء هو العبــادة لا غيره] artinya Do’a itu adalah ibadah bukan yang lainnya.

Do’a dalam Al-Qur’anul Karim mempunyai dua makna:

I. Do’a ibadah [دعاء العبادة] , yaitu do’a yang dilakukan untuk melaksanakan perintah-Nya, bahwasannya Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdo’a. Di saat Anda berdo’a kepada Allah sebagai realisasi dari perintah-Nya berarti do’a-mu tersebut  adalah ibadah.

Firman Allah

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” [Ghaafir : 60]

Jika Anda berdo’a kepada-Nya berarti Anda melaksanakan perintah-Nya, jika Anda melaksanakan perintah-Nya berarti  itu adalah ibadah.

II. Do’a mas’alah (permintaan) [دعاء المسئلة], yaitu berdoa kepada Allah untuk dapat meraih manfaat dan menolak mudharat. Kedua jenis do’a ini bernilai ibadah kepada Allah. Barangsiapa berdo’a kepada Allah untuk dapat meraih manfaat dan menolak  mudharat yang merupakan pelaksanaan dari perintah Allah berarti telah menggabungkan do’a ibadah dan do’a mas’alah.

Adapun hadits yang disebutkan oleh penulis [الدُّعاء مُخُّ العبادةِ] do’a itu intinya ibadah. [مُخُّ] Mukh adalah otak, inti atau sesuatu yang membuat berdiri (hidup), yakni bahwa ibadah itu hanya akan berdiri dengan do’a sebagaimana manusia tidak akan berdiri (hidup) kecuali dengan otak. Menunjukkan penghadapan diri kepada Allah dan berpaling dari yang selain-Nya. Hadits ini juga menunjukkan posisi do’a di antara jenis-jenis ibadah lain. Hadits tersebut hadits dha’if [-lihat footnote] namun maknanya shahih, terlebih lagi diperkuat dengan hadits yang telah saya sebutkan di atas, yaitu hadits Nu’man Bin Basyir .

Perkataan penulis: Dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: [وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ] “Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Sisi pengambilan dalil dari ayat tersebut bahwa Allah menamakan do’a sebagai ibadah, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Hina dina sebagai balasan terhadap kesombongan mereka. Dalam  ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan untuk  berdoa dan Dia menjanjikan pengabulannya. Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah bahkan dikategorikan sebagai ibadah yang paling mulia.

Footnote :

Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy (5/425), dan Anas Bin Malik, beliau berkata: “dari sisi ini hadits tersebut gharib , kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ibnu Lahi’ah.

Beliau berkata dalam Kitab At-Taqrib: Ibnu Lahi’ah bertukar hafalannya setelah bukunya terbakar dan riwayat dan Ibnu Mubarak dan Ibnu Wahb dan Ibnu Lahi’ah lebih lurus dari pada riwayat yang lain. Muslim mengeluarkannya dengan disertai beberapa penguat.

Berkata Al-Hafizh dalam Kitab Thabaqatul Mudallisin, berkata Ibnu Hibban dalam Kitab Al-Majruhin: dia adalah seorang yang shaleh hanya saja is melakukan tadlis dan perawi dhaif. Dalam hadits terdapat ‘an-‘anah Walid Bin Muslim yang  melakukan tadlis yang jelek.

Hadits tersebut didhlfkan oleh Al-Mundziry dalam Kitab Al-Targhib 92/482) hadits tersebut diriwayatkan dengan ”  ruwiya” sebagaimana yang is pakai dalam istilahnya.dalam pendahuluan. Lihat An-Nahjus Sadid Fi Takhrii Ahaditsi Taisiril Azizil Hamid (hal 83).

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s