Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Dia Yang Menciptakanmu, Dialah Yang Berhak Untuk Kau Ibadahi


والرَّبُّ هو المعبودُ . والدليل قوله تعالى

Kata Ar-Rabb (الرَّبُّ) juga bermakna (المعبودُ) Al-ma’bud (sesembahan).

Dalilnya adalah firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ – الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.  Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah : 21-22]

قال ابن كثيرٍ رحمه الله تعالى : الخالقُ لهذه الأشياء هو المُسْتَحِقُّ للعبادةِ

Ibnu Katsir berkata: “Pencipta segala sesuatu itulah yang berhak untuk diibadahi.”

Perkataan penulis: Kata Ar-Rabb (الرَّبُّ) juga bermakna (المعبودُ) Al-ma’bud (sesembahan). Dalilnya adalah firman Allah : [يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ] “Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa” [Al-Baqarah : 21-22]

(المعبودُ) Al-Ma’buud artinya satu-satunya yang berhak disembah. (المعبودُ) Al-Ma’buud tidak termasuk salah satu dari makna  (الرَّبُّ) Ar-Rabb. Sebab jika diartikan seperti itu berarti setiap yang disembah selain Allah juga dikatakan Rabb, tentunya ini adalah arti yang tidak benar. Dan Penulis tidak bermaksud demikian, tetapi yang beliau kehendaki ialah Rabb yang bermakna sesuatu yang berhak untuk disembah. Kemudian setelah mencantumkan ayat dari surat Al Baqarah tersebut, beliau menyebutkan ucapan Ibnu Katsir yaitu: “Sang Pencipta segala sesuatu adalah Dzat yang berhak untuk disembah.” Dalil yang menunjukkan bahwa Ar-Rabb adalah dzat yang berhak untuk diibadahi ialah firman Allah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa .”

Kata “يَا أَيُّهَا النَّاسُ” merupakan seruan untuk semua makhluk baik yang kafir maupun yang mukmin.

Firman-Nya: “اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ” yakni taatilah Rabb kalian dengan keimanan, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dengan kecintaan dan  pengagungan.

Firman-Nya: “الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ” yakni yang telah mengadakan kamu dari tiada menjadi ada dengan ukuran yang tepat dan penciptaan yang akurat kemudian Dia memeliharamu dengan memberikan berbagai kenikmatan dan Dia telah menciptakan orang-orang sebelum kamu.

“لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ” yakni agar engkau mendapat ketaqwaan. Taqwa ialah perisai yang dapat memeliharamu dari azab Allah dengan cara melaksanakan  perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya.

Firinan-Nya: “الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً ” yang telah menjadikan untukmu bumi yang terhampar. Yakni disediakan terhampar agar kamu dapat tinggal di atasnya, dapat mendirikan bangunan, bertani, dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan manfaat-manfaat lainnya.

Firman-Nya: “وَالسَّمَاء بِنَاء ” langit sebagai atap. Yakni Dia jadikan untukmu langit sebagai atap tempat tinggalmu serta menurunkan berbagai manfaat darinya untuk kebutuhan utamamu, diantaranya menciptakan matahari, bulan dan bintang.

Firman-Nya: “وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ” dan menurunkan air dari langit. Yang dimaksud dengan langit ialah awan sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ahli tafsir. Disebut langit karena awan tersebut berada di atas. Setiap yang tinggi dikatakan langit. Air adalah hujan. Air yang turun dari langit merupakan suatu unsur kehidupan yang menghidupi segala sesuatu yang ada di atas muka bumi, baik menghidupkan tanaman secara langsung maupun melalui sungai dan danau. Atau air yang mengalir di bawah bumi sehingga air tersebut berkumpul di dalam perut bumi. Firman Allah :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. [QS. Al Anbiya’ ayat 30]

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. [QS. Al Mukminun ayat 18]

Firman-Nya: “فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ ” serta mengeluarkan hasil bumi sebagai rezeki untukmu. Yakni berbagai hasil bumi. Hasil bumi yaitu segala yang dihasilkan dari dalam bumi seperti bibit, sayuran dan yang dihasilkan pepohonan berupa buah-buahan.

Firman-Nya “فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً ” karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Yakni tandingan atau sekutu yang engkau sembah.

Firman-Nya “وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ” padahal kamu mengetahui. Yaitu kamu mengetahui bahwa sekutu tersebut tidak sama dengan Allah Ta’ala dan kamu juga mengetahui bahwa hanya Allah saja yang berhak untuk disembah.

Dalam ayat di atas digabungkan antara perintah untuk beribadah kepada Allah semata dengan larangan beribadah kepada selain Allah.

Ibnu Abbas dalam mengomentari Firman-Nya “فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً” berkata: “(الأنداد) Al-Andaad ialah syirik yang lebih samar dari pada semut yang berada di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Misalnya, seseorang mengucapkan: “Demi Allah dan demi kehidupanmu ya fulan”, “demi hidupku”, “jika tidak ada anjing ini tentunya kami sudah kemalingan”“jika tidak ada bebek di rumah ini tentunya pencuri sudah masuk.”. Dan seperti ucapan seseorang kepada temannya: “Atas kehendak Allah dan atas kehendakmu”, “tidak karena Allah dan fulan.” jangan kamu jadikan si fulan sebagai tandingan karena semua itu adalah perbuatan syirik.” [Dikeluarkan oleh Abi Hatim dalam tafsirnya (1/62). Beliau berkata dalam TaisirAl Azizil Hamid (hal 587) sanadnya bagus. Adapun ucapan Ibnu Abbas: “jangan kamu jadikan si fulan seperti itu “. mungkin berdasarkan bahasa Rabi’ah yang menggantikan mashub menjadi sukun.]

Tafsir Ibnu Abbas tersebut menunjukkan wajibnya menjauhi ucapan-ucapan yang berbau syirik walaupun tidak bermaksud demikian dan syirik kecil sangat samar, sangat sedikit orang yang menyadarinya. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah bagaimana cara membersihkannya? Rasulullah menjawab: “Ucapkanlah:

اللهم إنا نعوذ بك أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلمه

“Ya Allah! Kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui dan kami meminta ampun kepada-Mu atas perbuatan syirik yang tidak kami ketahui.” [Dikeluarkan oleh Ahmad (4/403), Ath-Thabrany dalam Kitab Al-Ausath dan Al-Kabir sebagaimana dalam Al Jami’ (10 /223) dari jalan Abu Ali Al-Kaahily dan Abu Musa. Berkata Al-Mundziri(1/76): (riwayatnya dari Abu Ali dapat dipakai sebagai hujjah dalam shahih. Menurut Inbu Hibban Abu Ali Tsiqah dan aku tidak melihat seorang pun yang mencelanya). Begitu juga dalam Majma’ Az-Zawaaid.  Hadits tersebut dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib (hal 91, no 33). Lihat buku An-Nahjus Sadid (hal 222).]

Ucapan Ibnu Abbas,  “Ini semua adalah perbuatan syirik.” Yakni syirik kecil atau besar tergantung kepada maksud yang ada dalam hati si pembicara dari lafazh-lafazh tersebut. [Lihat Qaulul Mufid (2/323).]

Ayat ini merupakan dalil aqli yang Allah pakai untuk menyanggah perbuatan orang-orang musyrik yang mengambil tuhan-tuhan selain-Nya. Al-Qur ‘anul Karim menyebutkan dua dalil aqli untuk menyanggah ilah-ilah yang disembah orang-orang musyrik.

Dalil pertama: Jika kalian telah mengakui bahwa Allah yang menciptakan kalian, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan mengatur seharusnya kalian telah mengakui keesaan-Nya. Karena yang mempunyai sifat seperti ini hanyalah ilah yang berhak untuk disembah.

Sementara yang lain hanyalah makhluk yang dituhankan, yang tidak kuasa memberikan manfaat dan mudharat terhadap dirinya sendiri apalagi orang lain. Allah berfirman:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?,” maka mereka akan menjawab: “Allah” Maka katakanlah: “Mengapii kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [ QS. Yunus ayat 31]

Ini adalah kontradiksi yang terjadi pada orang-orang musyrik, mereka mengetahui bahwa perkara tersebut merupakan kekhususan bagi Allah Ta’ala, artinya mereka mengakui hak ibadah tersebut dan tuhantuhan lain yang mereka sembah tidak memiliki kekhususan apapun.

Dalil kedua: Tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak mempunyai alasan apapun untuk disembah. Sebagaimana firman Allah :

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئاً وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرّاً وَلَا نَفْعاً وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتاً وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوراً

Kemudian mereka mengambil ilah-ilah selain Dia (untuk disembah), yang tidak menciptakan sesuatu apapun, bahkan mereka sendiripun diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa’atan dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [QS. Al-Furqan ayat 3, lihat Tafsir Ibnu Sa’dy (1/43). Nubdzatu Fil ‘Aqidah Al-Islamiyah (hal 2).]

Sebagaimana yang telah kita singgung dalam pembicaraan di atas.

Perkataan penulis “Ibnu Katsir berkata…”

Ibnu Katsir adalah Al’Allamah Al-Muhaddits Al-Mufassir Al-Muarrikh Ismail Bin Umar Bin Katsir Abu Fida’. Lahir pada tahun 700 Hijriyah atau setelah itu di kota Damaskus dan besar dalam keadaan yatim. Beliau dianugerahi kejeniusan yang luar biasa. Beliau menyibukkan diri dengan ilmu hadits dan belajar fiqh serta menulis dalam bidang tersebut. Beliau belajar dari Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, mencintai dan memujinya. [Lihat Bidayah Wannihayah (14/135 dan seterusnya)]

Beliau mempunyai kitab tafsir yang terkenal Tafsir Ibnu Katsier, juga Al-Bidayah Wa An-Nihayah dalam ilmu tarikh, Jami’ul Masaanid Was Sunan, Irsyadul Faqih Wa Ma’rifati Adillati wat Tanbih, semuanya telah dicetak. Beliau wafat pada tahun 774 Hijriyah. [Lihat Bidayah Wan nihaayah (14/31) lihat Kitab Fahris Albidaayah Wannihaayah karya Muhammad Al Asyqar (hal 52). Al Badrut Thali’ 91 /153)]

Perkataan penulis “Pencipta segala sesuatu, Dialah yang berhak untuk diibadahi.” Perkataan Ibnu Katsir berkaitan tatkala beliau menafsirkan ayat berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”

Ungkapan Ibnu Katsir di dalam tafsirnya agak berbeda dengan ungkapan Syeikh, namun maknanya sama, yaitu ayat-ayat yang telah disebutkan menunjukkkan bahwa Pencipta segala sesuatu dan yang mengadakan sesuatu yang belum ada dengan tanpa ada contoh sebelumnya, hanya Dia-lah yang berhak untuk diibadahi. Karena selain Allah Yang maha Tinggi dan Suci adalah makhluk, yang dipelihara dan yang diatur.

Setelah menjelaskan wajibnya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, beliau mulai menjelaskan tentang jenis-jenis ibadah yang disyariatkan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya agar dilaksanakan dengan menyebutkan dalil-dalilnya. Adapun makna ibadah telah disebutkan  keterangannya terdahulu.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s