Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Kedua]


جواز قراءة القرآن في حجر الحائض والنفساء

Pada posting sebelumnya telah kita ketahui beberapa adab yang berkaitan dengan Al-Qur’an diantaranya, Memperhatikan Ikhlas ketika mempelajari dan membaca Al-Qur’an, Mengamalkan Al-Qur’an, Selalu mengingat dan memperbaharui bacaan Al-Qur’an. Kali ini kita akan melanjutkan pembicaraan dalam bab ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat yang membuahkan amal yang shalih.

4. Janganlah anda mengatakan : Saya telah lupa – ayat atau surah Al-Qur`an – akan tetapi katakanlah : Saya telah terlupakan, terjatuh hafalanku atau dilupakan.

Dalil akan hal itu, ada pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah –radhiallahu ‘anha -, beliau berkata :

 سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلاً يقرأ في سورة بالليل فقال: يرحمه الله، لقد أذكرني آية كذا وكذا كنتُ أُنسيتها من سورة كذا وكذا . وفي رواية عند مسلم : … لقد أذكرني آية كنت أُسقطتها من سورة كذا وكذا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendengar seseorang yang membaca sebuah surah didalam Al-Qur`an pada waktu malam, lalu beliau bersabda : “Semoga Allah merahmatinya, sungguh dia telah mengingatkan aku akan ayat ini dan ayat ini, yang sebelumnya saya telah terlupakan bahwa ayat tersebut berada pada surah ini dan surah ini“. Pada riwayat Muslim lainnya : “… Sungguh dia telah mengingatkan aku sebuah ayat yang saya telah jatuhkan penyebutannya dari surah ini dan surah ini”[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari ( 5038 ) dan Muslim ( 788 )]

وفي حديث ابن مسعود قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  بئس مالأحدهم يقول نسيت آية كيت وكيت، بل هو نُسي

Dan pada hadits Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “alangkah buruknya seseorang diantara mereka yang mengatakan : Saya telah lupa ayat ini dan ayat ini, tetapi sesungguhnya dia telah terlupakan “[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari ( 5039 ) danMuslim ( 790 )].

An-Nawawi mengatakan: “Pada hadits tersebut, menunjukkan tercelanya perkataan : lupa akan ayat ini, dan celaan ini sifatnya suatu yang makruh, dan perkataan : saya terlupakan bukan suatu yang tercela. Adapun larangan mengatakan : saya lupa ayat ini , dikarenakan mengandung sikap memudah-mudahkan dan melailaikan ayat-ayat tersebut. Allah ta’ala berfirman:

أتتك آياتنا فنسيتها

“Dan ayat-ayat Kami telah datang kepadamu lalu kamu melupakannya “

Al-Qadhli ‘Iyadh mengatakan: “Penafsiran yang paling tepat terhadap hadits tersebut bahwa maknanya adalah celaan yang ditujukan pada keadaan si pengucap, bukan pada ucapannya, yakni saya lupa keadaan tersebut, keadaan dalam mengahafal Al-Qur`an lalu diapun lalai hingga melupakannya “[Syarh Muslim ( jilid ketiga – 6 / 63 ), cet. Daar Al-Fikr]

Masalah : Apakah hukum seseorang yang menghafal satu bagian dari Al-Qur`an lantas dia melupakannya ?

Jawab : Al-Lajnah Ad-Da’imah mengatakan : … Tidaklah pantas bagi seseorang yang menghafal Al-Qur`an lalu dia lalai membacanya dan tidak pantas paula dia melalaikan penjagaan Al-Qur`an. Melainkan sepatutnya dia menyediakan suatu waktu bagi dirinya untuk membaca bacaan tertentu setiap harinya yang akan membantu dia menguatkan hafalannya dan menghalanginya dari kelupaan dengan mengharapkan pahala serta faedah dari hukum-hukum yang terdapat didalam Al-Qur`an baik dalam permasalahan aqidah atau muamalah. Akan tetapi siapa saja yang telah menghafal salah satu bagian dari Al-Qur`an lantas dia melupakannya akibat kesibukan atau kelalaiannya, dia tidaklah berdosa. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tentang ancaman bagi yang lupa akan hafalan Al-Qur`an yang telah dihafalnya tidaklah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wabillahit taufiq[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daa`imah lil-Buhuts al-‘Ilmiyah waal-Ifta’ ( 4/ 64 ), cet. Ar-Riasah Al-‘Ammah li-Idaraat Al-Buhuts Al-‘Ilmiyah wa Al-Ifta’ wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyad.].

5. Wajib menghayati kandungan Al-Qur`an

Sekian banyak nash-nash syara’ yang mengharuskan penghayatan kandungan ayat-ayat Al-Qur`an Al-‘Aziz. Beberapa diantaranya telah dikemukakan sebelumnya. Dan juga pada firman Allah ta’ala :

أ فلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيراً

“Apakah mereka tidak memikirkan Al-Qur`an. Sekiranya Al-Qur`an datangnya dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan perselisihan yang sangat banyak “ (An-Nisaa` : 82 )

Ibnu Sa’diy mengatakan : “Allah ta’ala memerintahkan untuk menghayati Kitab-Nya yaitu dengan menelaah makna-makna yang terkandung didalamnya, memikirkannya lebih mendalam, tentang hal-hal yang prinsipil serta perkara-perkara yang mengikutinya dan hal-hal yang berkaitan erat dengan hal itu. Dikarenakan penghayatan akan Kitabullah merupakan kunci pembuka bagi setiap ilmu dan pengetahuan, dan akan menghasilkan setiap kebaikan dan setiap ilmu akan dapat disadur dari Kitab-Nya. Dan dengan penghayatan ini akan menambah keimanan didalam hati, dan akan mengokohkan pohon keimanan tersebut. Dan dengan itu, akan diketahui Siapakah Ar-Rabb Al-Ma’buud – yang disembah dengan haq – , beserta sifat-sifat-Nya yang sempurna dan sifat-sifat yang kurang mesti dijauhkan dari-Nya. Dan dengan itu juga, akan dikenali jalan yang akan mengantarkan kepada-Nya, sifat kaum yang meniti jalan tersebut, dan balasan pahala bagi mereka setelah tiba dihadapan-Nya. Dan juga akan dikenali musuh Al-Qur`an, musuh Al-Qur`an yang sebenarnya, dan jalan yang akan mengantarkan kepada siksa, dan sifat kaum yang berada diatas jalan tersebut, serta apa saja yang ditimpakan bagi mereka disaat sebab-sebab datangnya adzab ada pada mereka. Dan setiap kali seorang hamba semakin menelaah kandungan Al-Qur`an, maka akan bertambah ilmu, amal dan keyakinannya. Oleh karena itulah Allah ta’ala memeritahkan hal itu, menganjurkanya dan Allah ta’ala telah mengabarkan, bahwa inilah maksud dengan diturunkannya Al-Qur`an, sebagaimana firman Allah ta’ala :

كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولو الألباب

“Inilah Kitab yang Kami telah turunkan kepada engkau , kitab yang penuh berkah, agar supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan agar supaya orang-orang yang berpikir merenunginya “ ( Shad : 29 ) [Taisir Al-Karim Ar-Rahman fii Tafsir Kalam Al-Mannan ( 2 / 112 ) cet. Ar-Riasah Al-‘Ammah li-Idaraat Al-Buhuts Al-‘Ilmiyah wa Al-Ifta’.]

Ulama As-Salaf dari generasi sahabat –radhiallahu ‘anhum – dan generasi setelahnya telah mempraktikkan hal itu dalam amal perbuatan mereka. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Abdirrahman, beliau berkata :

حدثنا من كان يقرئنا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، أنهم كانوا يقترئون من رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر آيات، فلا يأخذون في العشر الأخرى حتى يعلموا ما في هذه من العلم والعمل . قالوا: فتعلمنا العلم والعمل

Telah menceritakan kepada kami salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membacakan Al-Qur`an kepada kami , bahwa mereka – para sahabat – mengambil bacaan Al-Qur`an dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak sepuluh ayat, dan mereka tidaklah mengambil sepuluh ayat berikutnya sebelum mereka mengetahui kandungan ilmu dari ayat-ayat ini kemudian mengamalkannya. Mereka berkata : Maka kami mempelajari ilmu Al-Qur`an dan mengamalkannya[Al-Musnad ( 22971 )].

Dan pengecualian dari itu juga, dengan hadits yang diriwyatkan oleh Malik di dalam Al-Muwaththa’ beliau dari jalan Yahya bin Sa’id, bahwa beliau berkata : Saya dan Muhammad bin Yahya bin Hibban pernah duduk , lalu Muhammad memanggil seseorang, dan mengatakan : Kabarkanlah kepadaku apa yang telah engkau dengan dari bapakmu. Orang itu berkata : Bapaku telah mengabarkan kepadaku bahwa dia telah mendatangi Zaid bin Tsabit, lalu berkata kepadanya : Bagaiman pendapatmu mengenai seseorang yang membaca Al-Qur`an dalam tujuh hari. Zaid berkata : Suatu yang baik, namun saya membacanya dalam setengah buan atau dalam waktu sepuluh hari lebih saya sukai daripadanya, dan tanyakan kepadaku mengapa demikian ?. Dia berkata : Saya bertanya kepada engkau ? Zaid mengatakan : Agar saya dapat menghayatinya dan memahaminya[Al-Muwaththa’ Malik ( 320 ) ( 1 / 136 ) cet. Daar Al-Kitab Al-‘Arabi].

6. Bolehnya membaca Al-Qur`an sambil berdiri, berjalan, berbaring dan diatas kendaraan.

Dalil akan hal itu adalah firman Allah ta’ala :

الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم

“Mereka yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri dan duduk, Dan dalam keadaan berbaring” (Ali Imran : 191 )

Dan firman Allah ta’ala :

لتستوا على ظهوره ثم تذكروا نعمة ربكم اذا استويتم عليه وتقولوا سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون

“Supaya kamu duduk diantara punggungnya kemudian kalian ingat nikmat Rabb kalian, apabila kalian telah duduk diatasnya. Dan suapaya kalian mengucapkan : [سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون] Maha suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya” (Az-Zukhruf : 13 – 14 )

Dan As-Sunnah juga telah menerangkan hal ini seluruhnya. Dari hadits Abdullah bin Mughaffal –radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari penaklukan Makkah, dimana beliau sedang membaca surah al-Fath diatas tunggangan beliau “[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari ( 5034 ) dan Muslim ( 794 )]

Dan dari hadits Aisyah Ummul mukminin –radhiallahu ‘anha – beliau berkata : Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersandar di kamarku dan saya dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca Al-Qur`an “[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari ( 297 ) dan Muslim ( 301 )]

Adapun bagi seorang yang sedang berjalan, dapat dianalogikan kepada seseorang yang sedang berada diatas kendaraan dan keduanya tidak ada perbedaan.

Faedah : Pada hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur`an di kamar seorang wanita yang tengah haidh atau nifas. Dan yang dimaksud dengan bersandar disini adalah meletakkan kepala dikamar. Ibnu Hajar mengatakan : Pada hadits ini menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur`an didekat tempat yang najis, sebagaimana dikatakan oleh an-Nawawi. [Fathul Baari ( 1 / 479 )].

Artikel Ensiklopedia Adab dan Akhlak Muslim dipublikasikan kembali oleh tigalandasanutama.wordpress.com dengan penambahan text arab.

Artikel Terkait :

Adab-Adab Berkaitan dengan Al Qur’an [Bagian Pertama]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s