Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Landasan Pertama | Bagaimana Anda Dapat Mengenal Tuhan Anda?


  فإذا قيل لك: بم عرفت ربك؟ فقل: بآياته ومخلوقاته. ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر ومن مخلوقاته السماوات السبع والأرضون السبع ومن فيهن وما بينهما، والدليل قوله تعالى

Jika ditanyakan kepadamu: Melalui apakah engkau mengenal Rabbmu? Katakanlah: Melalui ayat-ayat dan makhluk-makhluk-Nya. Di antara ayat-ayat-Nya adalah adanya siang dan malam, matahari dan bulan. Di antara makhluk-makhluk-Nya adalah tujuh langit dan tujuh bumi beserta seluruh yang ada di dalamnya dan yang berada di antara keduanya. Dalilnya adalah firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dan tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. 41:37)

وقوله تعالى : إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan Firman Allah : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf : 54)


Perkataan penulis  “jika ditanyakan kepadamu: “Dengan apa engkau dapat mengenal Rabbmu?” ini merupakan pertanyaan kedua setelah pertanyaan pertama: Siapa Rabbmu? . Dalil apa yang engkau pakai untuk mengenal Rabbmu? Maka jawablah: “dengan ayat-ayat dan makhluk-makhluk-Nya.” Maka ini (ayat & makhluk) adalah bukti yang menunjukkan bahwa Dia yang telah menciptakanku dan Dia yang telah memberiku rezeki dan Dia-lah sesembahanku, tiada sesembahan yang berhak untuk aku sembah selain Dia.

[الآية] Dari segi bahasa memiliki banyak arti, di antaranya bermakna [البرهان] burhan (keterangan) dan [الدليل] dalil. Ayat Allah ada dua macam:

1. [آيات شرعية] Ayat-ayat syar’iyyah: Maksudnya adalah wahyu yang dibawa para rasul, yang demikian itu adalah ayat-ayat Allah. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an).” [ QS. Al Hadid ayat 9]

Jika ditanyakan kepadamu, “bagaimana wahyu dapat dijadikan dalil keberadaan Allah ?” . Jawabnya dari dua sisi:

Pertama, Wahyu yang dibawa para rasul adalah wahyu yang sudah tersusun rapi dan sempurna serta tidak saling berlawanan. Allah Ta’ala menjelaskan tentang Al-Qur’anul Karim:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan adanya pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An Nisa’ ayat 82]

Al-Qur’anul Karim merupakan dalil tentang adanya Rabb Yang Maha Agung. Yang demikian itu adalah dalil dari ayat-ayat syar’iyah.

Kedua, Ayat-ayat syar’iyah ini berfungsi untuk menegakkan kemaslahatan hamba dan merupakan jaminan untuk mendapatkan kesejahteraan agama dan dunia seorang hamba. Allah telah menetapkan syariat untuk kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya yang menjamin semua kemaslahatan kita. Tiada satu permasalahanpun melainkan pasti ada pemecahannya dalam syariat, baik yang diisyaratkan secara gelobal maupun secara terperinci.

2. [آيات كونية ] Ayat-ayat kauniyah yaitu para makhluk, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.

Penulis berkata: “maka katakanlah dengan ayat-ayat (tanda-tanda) dan makhluk-Nya.” Jika kita tafsirkan “ayat-ayatNya” dengan ayat-ayat syar’iyah dan ayat-ayat kauniyah; maka perkataan beliau: “makhluk-makhluk-Nya” masuk ke dalam perkataan: “ayat-ayat-Nya.” karena makhluk adalah termasuk ayat kauniyah.

Berarti perkataan penulis termasuk [باب عطف ] bab athaf , memasukkan perkara yang khusus kepada yang umum dengan menitik beratkan kepada perkara yang khusus. Makhluk disebutkan secara khusus, padahal mahkluk sudah termasuk dalam ayat-ayat (tanda-tanda), karena makhluk adalah sesuatu yang dapat diketahui oleh siapa saja, yang alim maupun yang jahil.

Adapun jika perkataan penulis “ayat-ayatNya” ditafsirkan dengan ayat-ayat syar’iyah saja maka kita menafsirkan makhluk dengan ayat-ayat kauniyah yang berarti termasuk dalam [باب عطف المغاير] bab athaf mughaayir. Secara eksplisit maksud dari ucapan Syeikh adalah ayat-ayat kauniyah bukan ayat ayat syar’iyah. Hal ini berdasarkan kepada ucapan beliau: “Di antara ayat-ayatNya adalah siang dan malam, matahari dan bulan. Di antara makhluk makhluk-Nya adalah tujuh lapis langit dan bumi yang tujuh lapis dan apa yang ada di antara keduanya.” Beliau menyebutkan secara khusus ayat-ayat kauniyah, karena hal tersebut dapat dipahami oleh orang yang alim maupun yang jahil sebagaimana yang telah dijelaskan tadi.

Perkataan penulis: “Di antara ayat-ayat-Nya adalah siang dan malam.” Salah satu dalil yang menunjukkan keberadaan Allah Ta’ala dan sifat Rububiah yang tunggal serta sifat uluhiyah-Nya ialah adanya malam dan siang, hal itu dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama: Pergantian siang dan malam yang datang silih berganti dengan pengaturan yang sangat rapi.

Kedua: Perbedaan waktu antara malam dan siang. Jikalau waktu malam tak pernah bertambah selama-lamanya tentunya ini merupakan ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah. Namun dengan bertambahnya waktu malam dan berkurangnya siang pada musim dingin serta berkurang malam pada musim panas dan bertambahnya siang pada musim panas menunjukkkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Malam dan siang merupakan nikmat Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Kalau sekiranya malam berlangsung terus menerus tentunya segala kemaslahatan hamba akan terhambat walaupun mereka diterangi oleh berbagai cahaya lain, karena kesungguhan seorang insan akan mengendur jika malam menjelang dan kemaslahatan manusiapun tidak dapat diwujudkan karena kemaslahatan tersebut hanya dapat dijalankan pada siang hari. Dan jika malam tidak ada tentunya banyak penduduk dunia yang binasa, karena tidak ada waktu malam yang dapat mereka gunakan untuk tidur. Malam juga salah satu nikmat agung dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, karena manusia kembali ke tempat tinggal mereka untuk tidur dan istrahat agar esoknya dapat memulai aktivitas barn dengan semangat baru.

Kesimpulannya, semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Yang Maha Agung, namun manusia sering lalai memikirkannya. Oleh karena itu Allah, sering mengulang-ulang dalam Al-Qur’anul Karim dengan menyebut malam, siang, matahari, bulan, penciptaan langit dan bumi, agar manusia mau mengingat-ingatnya dan tidak lalai serta lupa. Wallahul Musta’an.

Perkataan penulis “matahari dan bulan” yakni salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan keberadaan Allah, sifat kerububiyahan dan ketuhanan yang maha tunggal adalah matahari dan bulan, hal itu dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama, Perputarannya yang terus menerus sejak Allah menciptakan matahari dan bulan hingga Allah menghancurkan alam ini. Matahari terus beredar sebagaimana firman Allah

وَآيَةٌ لَّهُمْ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ  وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” [QS. Yaasiin : 37-38]

Dalam qiraah yang lain dibaca: [لا مُسْتَقَرٍ لَهَا ] -Lihat Tafsir Ibnu Katsir (96/562)- artinya matahari tidak mempunyai tempat yang tetap, ia terus menerus beredar hingga hancurnya dunia dengan izin Allah. Oleh karena itu jika matahari tersebut terbenam di suatu tempat ia akan terbit di tempat lain, dan hal ini tidak bertentangan dengan hadits shahih bahwa Rasulullah bersabda:

إن هذه تجري حتى تنتهي إلى مستقرها تحت العرش فتخرُّ ساجدة … الحديث

“Sesungguhnya matahari ini terus beredar hingga di ujung orbitnya di bawah Arsy kemudian sujud…” [ Hadits riwayat Al-Bukhary (8/542-fath), Muslim (no 159).]

Mungkin saja ketika terbenam ia sujud di bawah Arsy sambil terus beredar di orbitnya. [Lihat Syarah Kitab Tauhid dari shahih Al-Bukhary karya Syeikh Abdullah Al-Ghunaimaan (1/408). Lihat Syarah Sunnah karya Al Bagawy (15/95).]

Kedua, Pengaturan yang sangat rapi, matahari beredar pada orbitnya selama satu tahun. Setiap hari ia terbit dan terbenam pada orbit yang telah ditetapkan oleh penciptanya, tidak pernah keluar dari jalur tersebut. Pada awalnya Allah menampakkan bulan seperti benang, lantas sinarnya terus bertambah sehingga ia sempurna sebagai bulan purnama. Kemudian mengecil hingga kembali seperti bentuk yang semula. Allah berfirman:

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. “ [ QS. Yasin ayat 40]

Yakni tak mungkin matahari terbit di malam hari sehingga ia bertemu dengan bulan. Begitu juga malam tak mungkin mendahului siang sehingga ia datang sebelum waktunya. Dan (كُلٌّ) semuanya yaitu matahari, bulan dan bintang ( فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ) berada di orbitnya, yakni terus berputar mengelilingi orbitnya. Ini semua menunjukkan keagungan Pencipta, Kekuasaan-Nya dan Hikmah-Nya.

Ketiga, Matahari dan bulan memberi manfaat yang sangat banyak. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” [ QS. Yunus ayat 5.]

[Matahari memiliki banyak manfaat yang agung bagi makhluk yang berada di atas bumi, karena sesungguhnya cahaya bulan itu berasal dari matahari. Bagitu juga bagi makhluk yang berada di bawah seperti manusia, hewan, tumbuhan, laut dan lain sebagainya. Kalau sekiranya matahari tidak terbit dan terbenam tentu tidak akan ada malam ataupun siang, dan kegelapan ataupun cahaya tidak akan pernah meliputi alam. Dan dengan peredaran bulan akan tampak jelas bagi para hamba waktu bagi mereka untuk bekerja (bercocok tanam), untuk beribadah dan waktu haji. Dengannya juga dapat dibedakan bulan-bulan dan tahun-tahun, … -tambahan dari naskah di situs islamhouse.com oleh admin-]

Perkataan penulis: “Di antara mahkluk-makhluk-Nya adalah tujuh lapis langit.” Di antara makhluk-Nya yang terbesar yang menunjukkan keagungan dan keesaan-Nya adalah langit yang tujuh lapis, ketinggian dan keluasannya, bentuknya yang bundar serta ciptaan dan bangunannya yang besar.

Perkataan penulis “dan bumi yang tujuh lapis.” Di antara makhluk-Nya yang besar adalah bumi yang tujuh lapis. Allah telah menjadikan bumi terhampar dan ditundukkan bagi para hamba-Nya, menjadikan di dalamnya berbagai jalan, rezeki dan penghidupan. Allah banyak menyebut-nyebut langit dan bumi di dalam Al-Qur’anul Karim dan mengajak hamba-Nya untuk memperhatikan serta memikirkan ciptaan-Nya tersebut. Allah berfirman:

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.” [ QS. Al Jaatsiyah ayat 3]

Firman-Nya:

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. “ [QS. Al Mukmin ayat 57]

Perkataan penulis “dan yang ada di dalamnya” yakni temasuk makhluk-makhluk-Nya yang besar, tiada yang mengetahui kecuali Al-Khaliq At. Yang ada di antard keduanya juga termasuk makhluk-Nya yang besar.

Perkataan penulis “dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: [وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ] “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [Fushshilat : 37]

Walaupun matahari dan bulan termasuk makhluk-Nya yang besar namun tidak dituntut untuk sujud kepada keduanya. Karena kedua mahkluk tersebut adalah makhluk yang diatur dan tunduk kepada Allah. Allah mengatakan [وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ ] tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakannya. Yakni sembahlah Dia semata!

Karena Dia adalah Maha Pencipta dan Maha Agung. Tinggalkanlah peribadatan kepada selain Allah walau bagaimanapun besar bentuknya dan banyak faedahnya, karena memang ia tidak berhak untuk diibadahi. Yang demikian itu adalah hak Penciptanya .

Firman Allah: [إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ]  jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. Yakni sembahlah Dia semata serta ikhlaskanlah niat. [Tafsir Ibnu Sa’dy (4/400)]

Perkataan penulis “dan Firman-Nya: [إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ] “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,”

Ini merupakan berita dari Allah bahwa Dia menciptakan alam ini, menciptakan langit, bumi serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya selama enam hari, dimulai pada hari Ahad dan selesai pada hari Jum’at [1], empat hari untuk menciptakan bumi dan dua hari untuk menciptakan langit, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah :

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَاداً ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ – وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِّلسَّائِلِينَ – ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعاً أَوْ كَرْهاً قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ – فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan  sekutu-sekutu bagi-Nya. (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ [QS. Fushshilat ayat 9-12]

Berarti makna dari Firman Allah : “Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa” Yaitu seluruhnya selesai selama empat hari, bukan empat hari selain dari dua hari yang sebelumnya. Sebab kalaulah demikian berarti penciptaan langit dan bumi menjadi delapan hari. [Lihat kitab Tauhid karya Ibnu Mandah (1/422). Tafsir Ibnu Katsir (7/155). Adhwaaul Bayan (2/616).]

Zhahir ayat ini menunnjukkan bahwa hari (yang disebutkan dalam ayat di atas) sama dengan hari yang kita ketahui, karena Allah Ta’ala menyebutkannya dengan bentuk nakirah, maka harus diartikan dengan makna yang sudah dikenal. Jika Allah kehendaki, Dia dapat menciptakannya dalam sekejap mata, namum Dia mengkaitkan sebab kepada musababnya menurut tuntutan hikmah Allah.

Firman-Nya [ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ ] kemudian istiwa’ di atas Arsy. Arsy ialah atap yang menaungi seluruh makhluk. Dalam ayat tersebut terdapat penetapan istawa-nya Allah di atas Arsy  sesuai dengan keagungan dan kemulian-Nya. Dalil yang menunjukkan bahwa Allah istiwa’ di atas Arsy sangat banyak untuk dihitung dan kaum muslimin telah sepakat tentang perkara tersebut.

Firman-Nya : [يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً ] artinya masing-masing saling menutupi. Gelap, akan pergi jika cahaya datang dan cahaya akan pergi jika kegelapan datang, yang satu mengikuti yang lainnya. [حَثِيثاً] artinya dengan cepat tidak terlambat. Jika yang satu pergi maka yang lain datang, jika yang satu datang maka yang lain pergi.

Firman Allah [وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ] “dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada  perintah-Nya.”

Merupakan athaf kepada kata “samaawaat” yakni Allah menciptakan langit, matahari, bulan dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya yaitu tetap berada pada orbitnya karena tunduk kepada Allah Ta’ala.

Firman-Nya: [أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ ] Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Yakni bahwa hanya Allah saja yang mempunyai hak penciptaan dan perintah. Allah mempunyai hak penciptaan yang merupakan sumber dari semua makhluk. Allah mempunyai hak perintah yang mencakup syariat-syariat dan kenabian. Penciptaan mengandung hukum-hukum kauniyah qadariyah, perintah mengandung hukum-hukum diniyah syar’iyah dan pembalasan di kainpung akhirat.

Firman-Nya: [تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ] (Maha suci Allah, Rabb semesta alam)

Yakni Yang Maha Agung, Maha Tinggi dan Yang mempunyai banyak kebaikan. Dzat yang Maha suci yang mempunyai  sifat-sifat agung dan sempurna dan memberikan berkah-Nya kepada yang lain dengan menganugerahkan berbagai  kebaikan. Seluruhberkah yang ada merupakan tanda-tanda (keluasan) rahmat Allah.

Footnote :

[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah memegang tangannya seraya bersabda:

“خلق الله التربة يوم السبت، وخلق الجبال فيها يوم الأحد، وخلق الشجر فيها يوم الاثنين، وخلق المكروه يوم الثلاثاء، وخلق النور يوم الأربعاء، وبث فيها الدواب يوم الخميس، وخلق آدم بعد العصر يوم الجمعة، أخر الخلق في آخر ساعة من الجمعة فيما بين العصر إلى الليل “

“Allah Ta’ala menciptakan tanah pada hari sabtu, menciptakan gunung diatasnya pada hari ahad, menciptakan pepohonan pada hari senin, menciptakan hal-hal yang makruh pada hari rabu, menciptakan cahaya pada hari rabu kemudian mengembang biakkan hewan pada hari kamis lalu menciptakan Adam setelah Ashar pada hari jumat dan makhluk terakhir kali diciptakan pada jam-jam  terakhir dari hari Jumat yaitu antara ashar dan malam. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim ( no 2789), An-Nasa’i dalam Kitab Al Kubra (no 11010), Ahmad (14/82).

Hadits tersebut adalah hadits ma’lul yang dicela oleh sebahagian dari imam-imam hadits, seperti Sakhkhawy dan lain-lain. Al-Bukhary berkata: “yang shahih adalah hadits mauquf dari Ka’ab Al-Akhbar. Hadits tersebut juga bertentangan dengan Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Allah menciptaka lanlgit dan bumi selama enam hari. Al-Albany menyebutkannya dalam kitab Ash Shahihah (no 1833) dan menjelaskan bahwa hadits tersebut shahih dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, karena tujuh hari tersebut bukanlah enam hari yang ada dalam  Al-Qur’an. Hadits tersebut menceritakan secara rinci tentang tahapan yang Allah ciptakan di atas bumi dan hari-hari tersebut lebih banyak dari pada hari yang ada di Al-Qur’an dan tidak saling bertentangan. Penggabungan ini sebagaimana  yang ditunjukkan dalam Hadits yang dikeluarkan oleh An-Nasa’i dalam Kitab Al Kubra (6 / 427) dari jalan Al-Akhdhar Bin ‘Ijan yang di-tsiqahi oleh Ibnu Ma’in, Al-Bukhary, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan lain-lain . lihat ah kembali hadits ini dan lihat kitab Al Mukhtashar Al-Uluw karya Al Albany (no 111), Misykat (no 5734), di dalam majalah syar’iyah wa Dirasata al ilsamiyah (Terbitan Universitas Kuwait) edisi XIX tentang artikel tentang hadits Turbah.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s